แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Olenji
Hari ketika Ardina keluar dari rumah sakit kebetulan adalah hari ulang tahunnya.

Karena merupakan hari besar yang penuh kebahagiaan ganda, Ello rela menggelontorkan banyak uang untuk menyewa hotel paling mewah di seluruh Kota Banda demi merayakan ulang tahun Ardina.

Kemegahan pesta tersebut membuat para tamu yang datang merasa takjub dan cemburu.

Teman-teman Ello juga sudah menyiapkan hadiah ulang tahun untuknya dengan sangat teliti.

Namun, Ardina sama sekali tidak bergairah. Lagi pula, setelah kejadian terakhir kali, dia tidak memiliki kesan baik sedikit pun kepada kelompok teman Ello itu.

Akan tetapi, orang-orang itu tidak berpikir macam-macam, mereka hanya mengira bahwa dia belum bertenaga karena baru saja sembuh dari sakit parah.

Waktu untuk meniup lilin dan memotong kue pun segera tiba.

Ello mendekapnya dari belakang, lalu merangkul tangannya untuk memotong kue bersama sembari bertanya.

"Dina, hari ini hari ulang tahunmu, apa kamu punya permohonan?"

Jika itu di masa lalu, dia pasti akan menggelengkan kepala dan mengatakan tidak ada. Lagi pula, saat itu dia merasa bahwa asalkan pria itu mencintainya, maka semuanya sudah cukup.

Namun sekarang, dia memiliki satu permohonan yang sangat kuat, yaitu pergi meninggalkan pria itu dan tidak akan pernah bertemu lagi dengannya selamanya.

Dia mendongak menatap pria yang sedang memandangnya dengan penuh cinta itu. "Apa pun permohonan yang aku minta, kamu akan mewujudkannya untukku?"

Ello tertegun sejenak, lalu tersenyum makin lembut. "Tentu aja."

Ardina tersenyum, tapi senyuman itu tidak sampai ke matanya. "Kalau begitu, aku memang punya tiga permohonan."

Ello tersenyum memanjakan. "Oke, katakan aja. Apa pun yang kamu mau, pasti aku kasih."

"Permohonan pertama, aku mau lencana yang didapatkan dari hasil pengabdian tiga generasi Keluarga Sardi di militer."

Begitu kalimat itu terlontar, semua orang langsung tersentak kaget.

Lencana itu bukan barang sembarangan. Asalkan membawa lencana itu untuk menemui atasan tertinggi, apa pun permintaan yang diajukan pasti akan dikabulkan.

Karena alasan inilah, Keluarga Sardi selalu menyimpan dan menjaga lencana itu dengan sangat hati-hati.

Terakhir kali ada seorang tokoh penting yang sangat berpengaruh ingin meminjam lencana tersebut, tapi Keluarga Sardi menolaknya tanpa ragu sedikit pun.

Oleh karena itu, semua orang sangat yakin bahwa Ello tidak akan pernah memberikan lencana itu kepada Ardina.

Namun, hal yang membuat semua orang terkejut adalah Ello sama sekali tidak ragu sedikit pun. Dia langsung menyuruh orang untuk mengambil lencana itu, lalu menyerahkannya kepada Ardina dengan penuh rasa sayang.

Ardina menggenggam erat lencana tersebut, hatinya pun seketika merasa lega.

Dengan adanya lencana ini, dia bisa langsung pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan gugatan cerai secara paksa.

Mulai sekarang dan seterusnya, dia tidak akan memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Ello.

Melihat sudut mata Ardina yang melengkung tersenyum, suasana hati Ello pun ikut menjadi gembira.

"Dina, permohonan yang kedua apa?"

Ardina mendongak menatap para tamu undangan di hadapannya.

Orang-orang itu sedang menatapnya, ada yang wajahnya terkejut, ada pula yang cemburu. Satu-satunya orang yang terlihat tidak selaras adalah Tasya yang berdiri tidak jauh dari sana. Tatapan matanya tertuju lurus ke arahnya dengan wajah yang dipenuhi rasa dengki .…

Namun, pandangan mata Ardina justru melewati mereka dan menatap ke arah yang jauh, seolah sedang melihat negara asing yang akan menjadi tempat tinggal masa depannya nanti.

Detik berikutnya, dia menarik sudut bibirnya. "Permohonan keduaku adalah, aku mau kamu memberikan kunci brankas padaku, seluruh aset yang ada di dalamnya bebas aku kendalikan!"

Begitu ucapan itu selesai dikatakan, gelombang keterkejutan yang dahsyat langsung pecah, seluruh ruangan seketika geger!

Ello adalah kepala Keluarga Sardi. Di dalam brankas itu tidak hanya ada uang tabungannya sendiri, melainkan seluruh kekayaan yang dikumpulkan oleh tiga generasi Keluarga Sardi.

Walaupun pria itu sangat memanjakan istrinya, tidak mungkin dia akan menyerahkan seluruh kekayaan itu begitu saja.

Namun, Ello sama sekali tidak ragu. Dia langsung melepas kunci dari pinggangnya, lalu menyodorkannya lagi kepada istrinya.

Ardina meremas kuat kunci di tangannya.

Dengan adanya uang ini, kehidupannya di luar negeri akan bebas dari kekhawatiran. Sekalipun dihabiskan untuk sepuluh kehidupan pun, jumlah ini sudah lebih dari cukup!

Ello mendekapnya ke dalam pelukan dengan manja. "Dina, sekarang aku udah nggak punya apa-apa lagi, kamu nggak boleh buang aku, ya."

Ardina menarik sudut bibirnya. Baru saja dia hendak membuka mulut, sebuah suara teriakan panik tiba-tiba terdengar dari tengah kerumunan.

"Gawat, ada orang yang pingsan!"

Ello mendongak untuk melihat situasi, tepat pada saat itu dia melihat bahwa orang yang pingsan adalah Tasya.

Raut wajahnya langsung berubah drastis. Dia hendak melangkah maju dengan cepat, tapi untungnya akal sehatnya membuat dia teringat akan sesuatu. Dia berbalik menatap Ardina. "Dina, aku antar dia ke rumah sakit dulu, ya. Kamu bersenang-senanglah di sini. Permohonan terakhirmu, nanti tinggal kamu kasih tahu aku lagi."

"Nggak ada lagi."

Ello tidak mendengar dengan jelas. "Apa?"

Ardina menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa, pergilah."

Ardina tersenyum tipis menatap punggung suaminya yang pergi terburu-buru sambil menggendong Tasya.

Ello, permohonan ketigaku tidak memerlukan bantuanmu lagi untuk diwujudkan.

Karena permohonan itu adalah pergi meninggalkanmu sepenuhnya.

Tinggal tiga hari lagi, aku akan berhasil melakukannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status