Short
Biarkan Aku Terbang Bebas

Biarkan Aku Terbang Bebas

By:  MangoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat berumur 18 tahun, demi mengobati ibunya, Cesya Sarmi menjual dirinya kepada seorang pria yang 10 tahun lebih tua darinya. Belakangan dia baru tahu kalau pria itu adalah penguasa Grup Adam. Pria itu sangat kejam dan ditakuti di dunia bisnis, tapi kepadanya, pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut. Pria itu begitu memanjakannya, hingga membuatnya memiliki ilusi dicintai. Hanya karena ucapan santainya yang menyukai kue dari toko kue di selatan kota, keesokan harinya toko itu langsung dibeli olehnya, khusus untuk membuatkan hidangan manis untuknya saja. Saat dia demam di tengah malam, pria itu meninggalkan rapat lintas negara dan terbang kembali malam itu juga demi mendampingi di sisi tempat tidurnya, serta bolak-balik mengganti handuk es untuknya. Pada hari ulang tahunnya yang ke-20, pria itu membawanya melihat aurora. Di bawah pendar cahaya yang memenuhi langit, pria itu mencium ujung jarinya dan berkata, "Sayang, setiap tahun ke depannya, aku bakal selalu temani kamu." Dia memercayainya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Sampai seorang wanita asing memintanya untuk bertemu.

"Perkenalkan, aku Lisa Meria, mantan pacar Rian Adam. Tujuh tahun yang lalu, dia melamar aku, tapi aku lebih milih karier dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Meskipun selama bertahun-tahun ini kami nggak ada kontak, aku tahu, asal aku kembali, dia bakal berpaling lagi ke aku."

Setelah selesai berbicara, dia mengeluarkan selembar cek dan menggesernya ke depan Cesya. "Aku berencana balikan sama dia, tapi sebelum itu, aku harus membersihkan wanita yang ada di sisinya. Ini ada 50 miliar, buat peliharaan kayak kamu udah lebih dari cukup. Ambil ini, terus pergi dari dia."

Tenggorokan Cesya terasa mencekik, dia tidak pernah tahu riwayat asmara Rian.

Usianya masih muda, sejak lahir dia hanya pernah menyukai pria itu seorang, tapi pria itu pernah menyukai orang lain.

Memikirkan semua hal di masa lalu, dia memberanikan diri untuk berkata, "Udah berlalu bertahun-tahun, Pak Rian mungkin udah lupain kamu ...."

Lisa tertawa, "Kamu mungkin nggak tahu seberapa besar dia mencintai aku waktu itu."

Wanita itu mengeluarkan ponselnya, "Gini aja, kita taruhan."

"Aku bakal kirim pesan sekarang, bilang kalau aku udah balik ke tanah air, mobil aku mogok di jalan, jadi minta dia buat jemput aku."

"Kamu kirim pesan, bilang kalau kamu kena kecelakaan mobil."

"Kita lihat dia bakal balas pesan siapa duluan."

Lisa menatapnya dengan pandangan yakin akan menang, "Kalau dia balas aku duluan, kamu ambil uangnya terus pergi."

"Kalau dia balas kamu duluan, aku mundur."

Berbagai macam emosi terlintas di hati Cesya, gelisah, cemas, ragu, hingga akhirnya semuanya menyatu menjadi sebuah keputusasaan yang nekat.

"Boleh."

Setelah kedua pesan itu terkirim secara bersamaan, detik demi detik terasa sangat menyiksa.

Cesya menatap layar ponsel, pikirannya seperti komidi putar yang menampilkan bayangan masa-masa indah bersama Rian.

Tatapan perhatian dari pria itu saat mengusap perutnya sewaktu dia datang bulan, ciuman lembut yang mendarat di sudut bibirnya di tengah salju yang lebat, serta kemesraan saat pria itu mendekapnya di depan jendela kaca besar saat malam pergantian tahun ....

Adegan demi adegan terbayang sangat jelas di depan mata Cesya, menarik pikirannya melayang makin jauh.

Sampai sebuah nada dering ponsel yang nyaring berbunyi, dia tersentak kaget dan melihat Lisa tersenyum puas, lalu mengangkat telepon serta menekan tombol pengeras suara.

"Alamat."

Suara dingin Rian terdengar melalui pengeras suara, hampir meremukkan gendang telinga Cesya.

Dia menggigit bibirnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih karena mengepal kencang, bahkan napasnya terasa hampir terhenti.

Lisa sangat puas melihat reaksi Cesya.

"Ini repotin kamu nggak? Kamu nggak ada hal penting lain yang harus dilakukan?"

Di ujung telepon hening selama beberapa detik, nada suara Rian masih terdengar datar.

"Nggak ada, alamatnya."

Senyuman di wajah Lisa makin menjadi-jadi, dia mematikan telepon lalu mengirimkan alamatnya dengan santai.

Melihat ponselnya yang sama sekali tidak menunjukkan pergerakan apa pun, pikiran Cesya menjadi kosong seketika, warna merah di wajahnya perlahan memudar.

Cahaya di matanya perlahan meredup, lalu dari tenggorokannya keluar suara yang terbata-bata.

"Dia ... dulu sangat mencintai kamu?"

Lisa tertawa, "Iya dong, perlu aku ceritain gimana cara dia mencintai aku?"

Wanita itu menyebutkannya satu per satu dengan tenang ....

"Dia bawa aku lihat aurora, terus bilang bakal temani aku setiap tahun ke depannya."

"Hanya karena ucapan suka dari aku, dia beli satu toko kue."

"Dia padahal paling benci kucing, tapi gara-gara aku mungut kucing liar ke rumah, dia mengizinkan kucing itu tidur di kamar utama ...."

Tubuh Cesya terasa dingin membeku.

Ternyata, setiap hal yang sudah pria itu lakukan kepadanya, hanyalah cara pria itu mengingat wanita lain melalui dirinya.

"Kalah taruhan harus terima kekalahan, kamu udah harus pergi." Lisa sekali lagi menyerahkan cek itu kepadanya.

"Iya, aku kalah."

Hanya beberapa kata singkat, tapi sudah menguras seluruh tenaga Cesya.

Dia mengangkat tangannya yang terluka dan berdarah karena tancapan kuku untuk menerima cek itu, menutup matanya dengan putus asa, suaranya terdengar sangat mati rasa.

"Aku bakal penuhi keinginan kamu untuk hilang selamanya."

Setelah mendapatkan janji yang diinginkannya, Lisa tidak berlama-lama lagi, dia berbalik dan pergi dengan langkah sepatu hak tingginya.

Dunia kembali menjadi sunyi senyap, bibir Cesya sampai berdarah karena digigit sebelum akhirnya berhasil menelan gejolak emosi di dadanya, lalu menyeret tubuhnya yang lelah keluar dari kafe.

Di luar sedang turun hujan deras, dia berjalan ke dalam hujan seolah tidak merasakan apa-apa.

Dia juga tidak menyadari saat Lisa melintas menyalipnya dengan mobil, wanita itu sengaja menancap gas hingga cipratan air mengenai seluruh tubuhnya.

Kaca mobil diturunkan, dia tersenyum cerah, "Maaf ya, aku cuma merasa, penampilan basah kuyup kayak gini baru cocok buat kamu."

Setelah selesai berbicara, dia tertawa sambil mengendarai mobilnya dan pergi begitu saja.

Hujan terus turun, Cesya yang basah kuyup kembali ke vila dengan berantakan.

Ponselnya berdering, itu adalah panggilan dari dosen kampusnya.

"Cesya, apa kuota pertukaran mahasiswa itu udah dipikirkan? Apa benar-benar mau diserahkan ke orang lain?"

Mendengar nada helaan napas dosennya, kesadaran Cesya yang semula linglung akhirnya menjadi sadar sepenuhnya.

Dia menggelengkan kepala, menatap hujan deras di luar jendela, lalu berkata pelan, "Nggak Bu."

"Aku sendiri yang bakal pergi."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status