Se connecterObsesi dan kegilaan memicu ledakan energi terakhir Vicky.Dia menyeret kakinya yang patah melewati badai salju, merangkak sedikit demi sedikit dengan darah mengalir menuju pintu keluar garasi bawah tanah gedung Cakrawala Investama.Dia menunggu selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan. Hanya sesekali meminum lelehan salju cair yang kotor.Dia tidak punya rencana. Dia hanya tahu dirinya harus bertemu Wina. Sekali lagi, dia akan merendahkan diri, bahkan menjilat sepatunya. Apa pun akan dia lakukan.Pada malam keempat, saat salju turun dengan lebat, sebuah mobil lapis baja hitam yang diapit oleh dua SUV hitam, muncul dari pintu keluar.Vicky langsung menerjang.Dia melemparkan dirinya ke depan, jatuh berlutut tepat di depan mobil itu.Bug!Suara lututnya membentur aspal beku bergema.Rem pun berdecit.Vicky berlutut di lumpur es yang kotor. Dia mulai membenturkan dahinya ke tanah.Bug. Bug. Bug.Darah berwarna merah menyala, bercampur dengan salju abu-abu di bawah wajahnya."Wina, kumoh
Sebulan setelah pernikahan dibatalkan.Kehidupan Vicky berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.Dekrit pengucilan Ferdian, itu berarti tidak ada seorang pun di dunia mafia kota itu yang mau menyentuhnya. Bukan penyelundup atau bandar judi, bahkan bukan pula kelompok jalanan kelas bawah. Dia adalah racun.Dia tenggelam dalam hutang. Dana penggelapan senilai tiga koma dua triliun yang dia coba alirkan dari usaha patungan yang goyah, ditambah denda dan pelanggaran kontrak yang tak terhitung jumlahnya. Kerajaan kecilnya yang berupa studio film dan kebun anggur kini hanyalah cangkang kosong yang sudah disita oleh para kreditur.Selena yang sebelumnya selalu bergantung padanya dan membujuk dengan rayuan "Vicky, Sayang ..." menghilang begitu saja saat berita itu tersebar. Dia menggunakan kepercayaan terakhir pria yang sedang putus asa itu untuk menguras empat ratus delapan puluh juta terakhir dari rekening luar negeri pribadi Vicky.Setelah itu, dia melarikan diri ke luar negeri.Sebelum pesaw
Api di perapian batu besar di kediaman pribadi Ferdian bergemuruh, mengusir hawa dingin malam yang pekat. Aku duduk terbungkus jubah tebal, rambutku masih basah setelah mandi air hangat yang membersihkan kotoran dan hawa dingin jalanan. Di pergelangan tanganku, zamrud dan gelang berlian nenekku telah kembali ke tempatnya semula.Dokter keluarga baru saja selesai membalut lututku yang lecet dan pergi dengan tenang.Ferdian berjalan mendekat dengan secangkir minuman panas yang mengepul di tangannya. Dia menyodorkannya ke tanganku. Cokelat panas, bukan susu. Dia duduk di sampingku di sofa kulit besar, menarikku dan selimut kasmir di bahuku ke dalam kehangatannya yang kokoh.“Tim hukum sudah siap,” katanya. Suaranya terdengar pelan di dekat telingaku. “Begitu juga para manajer keuangan.”Aku menyesap minuman itu, kehangatan manis itu menenangkanku. Pikiranku yang kini mulai jernih dan dingin kembali fokus.“Tampilkan mereka di layar.”Ferdian memberi isyarat. Sebuah monitor besar yang terp
Keheningan kembali tercipta. Kemudian, terdengar suara rendah dan serak yang mencerminkan kekerasan yang tak terkendali. “Sepuluh menit. Katakan di mana lokasinya.”“Gang belakang. Festival film.” Aku memberitahu persimpangan jalannya.“Bertahanlah. Aku segera datang.”Sambungan telepon terputus.Di kejauhan, dari ruang ganti yang hangat dan kering, aku masih bisa mendengar suara tawa Vicky yang samar.Sembilan menit.Aku menghitung setiap menitnya, rasa sakit di lututku berdenyut terus-menerus, membuatku tetap tersadar.Kemudian, suasana malam itu seolah terbelah.Bukan dengan sirine, tetapi dengan suara deru mesin berperforma tinggi yang tidak seharusnya ada di jalanan sekitar karpet merah. Suara ban berdecit, pagar pembatas logam berderit protes karena terhantam.Lampu depan yang berjumlah puluhan seolah menembus hujan, berasal dari konvoi SUV lapis baja berwarna hitam pekat. Mereka membentuk lingkaran sempurna yang mengintimidasi, menghalangi semua akses.Kendaraan terdepan adalah
Batu zamrud itu memantulkan cahaya lampu panggung yang menyilaukan. Cincin itu adalah penghubungku ke dunia sebelum adanya Vicky, pada keluarga yang kupilih untuk disembunyikan demi melindungi seorang pria yang menganggapku hanya sebagai pajangan semata.Jari-jarinya mencengkeram erat cincin itu."Tiga."Seluruh tubuhku gemetar. Aku mencengkeram telapak tanganku hingga terasa basah."Dua.""Aku akan melakukannya."Kata-kata itu terasa seperti abu.Senyum Vicky penuh kemenangan. Dia memasukkan kembali cincin itu ke saku dan menepuk pipiku. "Anak baik. Sekarang cepatlah, dia akan segera tampil."Aku berjalan ke kamar mandi terdekat, mengunci pintu. Aku menatap bayanganku di cermin yang tampak pucat, basah kuyup, dan mata cekung yang kosong.Selama lima tahun, aku selalu menyembunyikan jati diriku yang asli. Aku telah mengubur Wina Aldrian, putri dari Hengky Aldrian, pria yang bahkan para bos mafia lain menyebutnya sebagai "Sang Hantu", hanya untuk menjadi bayangan Wina yang pendiam. Kupi
Tas itu jatuh ke dalam genangan air. Resletingnya sedikit terbuka.Di dalamnya, aku bisa melihat gaun satin putih murahan. Sebuah gaun yang seharusnya dikenakan untuk para figuran latar belakang dengan ujung yang sudah berserabut.Suara Mario terdengar datar. “Tuan Vicky masih bermurah hati. Nona Selena membutuhkan asisten untuk memegangi ekor gaunnya di karpet merah malam ini. Kau lakukan tugas itu, kau pakai ini, setelah itu semua kartumu akan aktif besok pagi. Dan, posisi pengantin itu tetap tersedia buatmu.”Dia ingin aku memegangi ekor gaun dari wanita yang sudah merampas gaunku, bahkan mengenakan gaun murahan itu?Itu adalah penghinaan publik yang terencana.Aku menatap tas itu lalu beralih ke Mario, tubuhku gemetar tetapi punggungku tetap tegak.“Katakan pada Vicky, matilah saja.”Ekspresi Mario berubah muram. Dia melangkah lebih dekat, menunjukku dengan jarinya. “Dasar wanita bodoh. Kau pikir kau itu masih nyonya rumah? Kau bukan apa-apa. Tanpa Tuan Vicky, kau akan makan dari t
Suasana menjadi hening.Keheningan yang biasanya terjadi tepat sebelum tembakan dilepaskan.Tangan Vicky yang masih berada di gaun Selena, terhenti seketika.Dia berbalik perlahan. Lensa kacamata desainer yang dia gunakan tidak dapat menyembunyikan sedikit pun hinaan yang dingin di sorot matanya.“W







