Short
Menjadi Bayangan Kembaranku, Aku Selalu Mendapatkan Sisa

Menjadi Bayangan Kembaranku, Aku Selalu Mendapatkan Sisa

작가:  Eternity완결
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10챕터
2.7K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Saat memilih perhiasan untuk pernikahan kami, Landon tetap membeli dua buah dan membiarkan saudari kembarku, Selly, memilih lebih dulu. Yang satu adalah gelang bertatahkan batu rubi dari sebuah lelang di Silia. Yang satunya lagi adalah gelang batu oniks hitam keluaran biasa, model yang dijual di hampir setiap toko perhiasan di pusat perbelanjaan. Untuk pertama kalinya, aku bergerak lebih cepat daripada Selly. Aku menunjuk gelang rubi itu. "Kali ini, boleh aku yang pilih lebih dulu?" Landon mengusap puncak kepalaku dengan sikap penuh kasih yang biasa dia lakukan setiap kali ingin membuatku menurut. "Selly selalu keras kepala soal kualitas. Kalau bukan yang terbaik, dia nggak bakal mau. Kamu 'kan nggak terlalu peduli soal beginian, Lena. Lagian, yang satunya juga nggak jelek." Aku tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di dalam hatiku yang tiba-tiba terdiam. Di keluargaku sendiri, Selly selalu mendapat bagian pertama, tempat duduk terbaik, dan kamar dengan pemandangan paling indah. Ibuku selalu berkata Selly pantas mendapatkan yang terbaik karena dia lebih mampu menjaga nama baik Keluarga Bernadi. Ayahku menyebutnya sebagai keputusan yang masuk akal. Begitu pula dengan pernikahan. Keluarga Bernadi dan Keluarga Mardana sudah lama berjanji akan menikahkan salah satu putri mereka dengan pewaris Keluarga Mardana, bahkan jauh sebelum kami berdua mengerti apa itu cinta. Semua orang mengira putri itu pasti Selly. Namun, Selly sudah menunjukkan sikapnya dengan sangat jelas. Dia lebih memilih mempertahankan kebebasan dan citra sempurnanya di mata publik daripada menjadi Nyonya Keluarga Mardana. Karena itulah Landon beralih kepada putri Keluarga Bernadi yang lain. Aku sudah mengenal Landon selama 20 tahun. Di dunianya, posisiku selalu berada di belakang Selly. Aku menatap gelang oniks hitam yang tergeletak di atas meja, lalu mendorongnya kembali. "Selly saja yang ambil dua-duanya. Aku nggak jadi pilih." Aku tidak mau lagi menjadi pilihan sisa. Tidak akan lagi.

더 보기

1화

Bab 1

Landon mengernyit.

"Lena, gelang itu nggak pantas buat saudarimu."

Aku menatap matanya tanpa mengalihkan pandangan.

"Kalau begitu, kenapa gelang itu pantas buat aku?"

Dia terdiam sesaat, lalu tersenyum.

"Waktu kalian masih kecil, semua orang bilang kamu cuma bayangan Selly. Rubi terlalu mencolok buat kamu. Warna hitam lebih cocok. Tenang dan sederhana."

Bayangan.

Aku dan Selly memang saudara kembar. Namun, sejak kami lahir, semua orang memperlakukanku seperti salinan buram yang tidak pantas berdiri di sampingnya. Selly selalu menjadi yang terbaik di sekolah. Sementara aku belajar sampai mata terasa perih, tetapi nilaiku tetap biasa-biasa saja. Aku membawakan tasnya, merapikan gaunnya, dan selama sepuluh tahun mendengar orang-orang memanggilku "bayangan".

Aku sudah berkali-kali bilang kepada Landon kalau aku benci sebutan itu. Setiap kali, dia selalu menjawab, "Baik. Aku nggak bakal mengatakannya lagi." Namun, setiap kali Selly ada di dekatnya, kata itu selalu keluar lagi dari bibirnya, setajam pisau yang menusuk tanpa suara.

Aku menatap Landon dengan tenang. "Kita putus saja."

Landon tersenyum seolah-olah sedang membujuk anak kecil.

"Sudahlah. Kalau kamu nggak suka gelang itu, kita pilih yang lain. Jangan asal bilang putus. Pernikahan kita tinggal seminggu lagi."

"Aku nggak asal bicara."

Selly mendorong gelang rubi itu ke arahku. "Lena, pakai saja punyaku. Kamu sebentar lagi menikah. Jangan bikin Landon kelihatan buruk cuma gara-gara masalah sepele."

Landon langsung menghentikannya.

"Aku membeli gelang itu memang untuk kamu. Lena nggak cocok pakai perhiasan seperti itu. Kalau kasih ke dia, cuma bakal sia-sia."

Jadi, sejak awal memang tidak pernah ada pilihan.

Landon sudah menyiapkan yang terbaik untuk Selly. Sementara aku hanya diminta menunggu sisa yang masih pantas diberikan.

Aku menarik tanganku, lalu berbalik hendak pergi.

Landon mengikutiku sambil mengembuskan napas panjang.

"Baiklah. Aku akan mengajakmu belanja. Kamu bebas pilih apa pun yang kamu mau. Sekarang puas?"

Kami baru saja sampai di lantai bawah, tepat di area butik-butik mewah, ketika Selly berhenti di depan konter parfum.

"Aku mau coba parfum baru yang aroma cedar. Sepertinya cocok dipakai saat jamuan makan malam yayasan."

Landon langsung mengangguk.

"Baik, kita ke sana dulu. Lena bisa menunggu."

Selly mencoba berbagai parfum sampai dia tidak bisa menentukan pilihan. Akhirnya Landon membeli keduanya, lalu menyodorkan kepadaku parfum yang tidak lebih dulu dipilih Selly.

"Nih. Kamu juga dapat hadiah. Selera Selly memang bagus. Harusnya kamu senang."

Aku tidak menerima kantong belanja itu. Aku tidak ingin memegang sesuatu yang sudah lebih dulu dipilih, lalu ditinggalkan orang lain.

"Malam ini aku akan pindahin semua barangku dari rumah kamu. Aku nggak akan kembali lagi."

Tangan Landon yang masih mengulurkan kantong belanja langsung membeku. Senyumnya akhirnya menghilang.

"Lena, sudah cukup."

Malam itu juga, sebelum sempat mengemasi satu laci pun, Landon membawa kedua orang tuaku ke rumah Keluarga Mardana.

Ibuku mencengkeram pergelangan tanganku begitu kuat hingga terasa nyeri, lalu menyeretku ke ruang keluarga.

"Kamu sudah nggak waras? Pernikahanmu tinggal seminggu lagi, malah bicara soal putus? Laki-laki seperti Landon itu langka."

Ayahku, Erawan, menghantamkan tongkatnya ke lantai marmer hingga suara benturannya menggema di seluruh ruangan.

"Aliansi antara Keluarga Bernadi dan Keluarga Mardana bukan panggung buat tingkah kekanak-kanakanmu."

Dia mencengkeram daguku dan memaksaku menatap matanya.

"Kamu nggak secantik Selly, juga nggak sepintar Selly. Bisa menikah dengan Keluarga Mardana adalah keberuntungan yang bahkan nggak pantas kamu dapatkan."

Kalau dulu, aku pasti akan menelan semua ucapan itu dan berharap kepatuhanku bisa membuat mereka sedikit berbelas kasihan.

Namun, malam ini aku hanya memandangi mereka tanpa berkata apa-apa.

Landon berdiri di depanku, lalu tertawa pelan untuk mencairkan suasana.

"Tolong jangan bicara seperti itu. Lena anak yang baik. Dia cuma gugup menjelang pernikahan."

Ibuku langsung memandang Landon dengan penuh kepuasan.

"Lihat? Landon masih membelamu. Memangnya kamu bisa menemukan laki-laki sebaik dia di mana lagi?"

Aku hampir tertawa. Semua orang berharap aku merasa bersyukur karena Landon bersedia menikahi perempuan yang sepanjang hidupnya selalu dia tempatkan di posisi kedua.

"Kalau kamu tetap bersikeras ingin membatalkan pernikahan ini, jangan panggil aku Ibu lagi," kata ibuku.

Ruangan langsung sunyi.

Aku menarik napas pelan, lalu mengangguk. "Baik."

Mereka semua tampak lega. Mereka mengira akhirnya aku akan kembali ke tempat yang sudah mereka tentukan untukku.

Aku masuk ke kamar dan mengeluarkan buku sketsa desain kulit lamaku.

Selly selalu menganggap kerajinan tangan itu tidak ada gunanya. Landon pun menyuruhku belajar akuntansi kasino sebagai gantinya. Karena itu, selama bertahun-tahun aku mempelajari perusahaan cangkang, kontrak, pembukuan, dan berbagai cara legal untuk menyamarkan uang hasil bisnis gelap.

Aku sudah bekerja keras. Namun, tidak ada seorang pun yang benar-benar melihatku. Yang mereka lihat hanyalah kenyataan bahwa aku bukan Selly.

Selama lebih dari 20 tahun, aku dipaksa menjalani kehidupan yang sejak awal tidak pernah menjadi milikku.

Aku menelepon Aria, satu-satunya sahabat sejati yang kumiliki. Dia menjalankan studio restorasi barang-barang kulit antik di Savani.

Begitu telepon diangkat, tanpa kusadari air mata sudah mengalir membasahi pipiku.

"Aria, apa kamu masih butuh asisten restorasi?"

Aria terdiam begitu lama sampai aku mengira sambungannya terputus.

"Lena, bukannya kamu bakal menikah beberapa hari lagi?"

"Aku tahu."

"Kamu sudah mencintai Landon sejak kita masih kecil. Kamu bahkan rela meninggalkan sekolah desain demi membantunya, mempelajari semua pembukuannya, dan membiarkan keluarganya menelan seluruh hidupmu. Apa kamu benar-benar mau meninggalkan semua itu?"

Aku memandang gemerlap malam Kota Cago di balik jendela.

"Iya. Aku sudah memutuskan."

Selama beberapa saat, Aria hanya terdengar menarik napas. Kemudian, suaranya berubah tegas.

"Bagus. Kalau begitu aku nggak akan berusaha menghentikanmu. Kursi pesawat paling cepat yang bisa kudapat berangkat larut malam di hari pernikahanmu. Aku juga akan menyiapkan mobil yang menunggumu di dekat hotel."

Aku memejamkan mata sambil tersenyum tipis.

"Kalau begitu, Tuhan memang sudah menentukan hari kepergianku."

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

리뷰

M--G
M--G
kebahagian itu dikejar sendiri.
2026-08-04 13:05:20
0
0
10 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status