Share

40. Percuma

Author: HaniHadi_LTF
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-13 14:13:23

"Mas, beneran, ada orang," ucap Nilna sedikit cemas.

"Diam," kata Renji cepat. "Kamu salah dengar. Ini hanya akalanmu saja karena tak mau aku ajak lagi 'kan?"

"Aku dengar," balas Nilna. Suaranya gemetar. "Itu suara perempuan. Itu..."

Renji tak menggubris dengan langsung membungkam mulut Nilna dengan ciumannya, lalu merengkuh Nilna sambil mengeluarkan aksinya kembali.

"Aku bilang diam. Kita nggak pasangan selingkuh, kenapa bingung." Jarak makin mengikis. Bibir Renji telah disatukan kembali ke
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   220. Setelah melewati semuanya

    “Anaya… jangan takut… ini Daddy…”Suara Reyhan pelan, berusaha menenangkan.Ayaka berdiri beberapa langkah, tangannya menggantung kaku. Wajahnya hancur. Mata yang tadi penuh harap kini hanya menyisakan kepedihan yang nyata.“Dia… takut sama aku…” bisiknya lirih.Tidak ada yang langsung menjawab.Nilna menunduk. Dadanya kembali sesak. Tangannya refleks memegang ujung baju Reyhan, mencari pegangan.“Aku cuma mau gendong…” suara Ayaka bergetar. “Cuma sebentar…”Reyhan tidak menjawab. Ia hanya mengusap punggung Anaya pelan, fokus menenangkan anaknya.Tangis itu benar-benar reda. Namun, wajah kecil itu masih terlihat tegang, seolah menyimpan sisa ketakutan yang belum hilang.Ayaka mundur selangkah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.“Ini… salah aku…” ucapnya pelan. “Semua salah aku…”Nini yang sejak tadi diam, akhirnya maju satu langkah. Wajahnya tidak lagi sekadar tegang. Ada amarah lama yang ikut terangkat.“Sekarang baru sadar?” suaranya tajam.“Nini…” Sammy, suami Nini, mencoba mena

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   219. Mengadu

    Nama itu membuat Nilna ikut menoleh. Dunia seolah berhenti lagi. Pria itu… memang Renji. Masa lalu yang seharusnya sudah selesai.Di sampingnya… Keysha sedang menggendong bayinya.Reyhan melangkah maju tanpa sadar.“Renji.”Suara itu membuat pria tersebut berhenti. Ia menoleh. Mata mereka bertemu. Beberapa detik tidak ada yang bergerak.Keysha ikut menoleh, lalu sedikit terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depan mereka.Suasana langsung berubah canggung.Nilna berdiri di belakang Reyhan. Tubuhnya sedikit kaku. Tangannya refleks memegang lengan Reyhan.Nini memandang Rea seolah bertanya.Arjun mengernyit. " Dia Renji yang pernah menikah dengan Nilna." Seolah paham maksud tatapan Nini, Arjun menjelaskan.Reyhan mendekat satu langkah lagi. Tatapannya turun ke bayi di gendongan Keysha. Anak lelaki itu tenang. Matanya yang biru, terbuka, menatap sekitar dengan polos.“Ini…” suara Reyhan serak. “Anak kalian?”Renji tidak langsung menjawab.Keysha mengeratkan tangannya di gendongan ba

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   218. Bahagia atau...

    Kedua wanita itu salin menggenggam tangan sambil tersenyum tanpa sadar, sampai akhirnyaa mereka salin melepaskan diri dan canggung hinggah kendaraan sampai di rumah sakit. “Dok, tolong… istri saya muntah dan lemah,” suara Reyhan terdengar khawatir begitu pintu klinik terbuka. Langkahnya panjang, napasnya belum beraturan. Tubuh Nilna terkulai lemah dalam gendongannya. Kepalanya terayun pelan setiap kali Reyhan bergerak, membuat jantung pria itu semakin tidak tenang. Seorang perawat berlari menghampiri. “Bawa ke ruang periksa, cepat.” Arjun langsung membuka jalan. “Sini, lewat sini!” Kursi roda didorong tergesa. Reyhan menurunkan Nilna dengan hati-hati, meski tangannya masih enggan melepas. Jari-jarinya sempat menahan pipi wanita itu, seolah memastikan ia benar-benar masih bernapas. “Nilna… dengar aku… kita sudah sampai,” bisiknya “Mas… jangan panik… aku masih sadar.” Suara Nilna pelan, hampir tenggelam oleh bunyi roda brankar yang bergerak cepat. Lampu putih UGD berderet di ata

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   217 . Giliran

    .“Ibu sudah belajar bahagia,” lanjut Nilna, napasnya masih belum sepenuhnya stabil. “Sekarang... giliran kalian.”Arjun mengernyit. “Maksud kamu?”Nilna tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Perlahan. Lalu tanpa aba-aba, ia meraih tangan Rea... dan tangan Arjun.Keduanya terkejut.“Nilna...” bisik Rea.Namun Nilna tidak berhenti. Ia menyatukan kedua tangan itu. Menggenggamnya kuat, seolah tidak ingin mereka saling menjauh lagi.“Kalian juga harus bahagia,” ucap Nilna. Kalimat itu sederhana, tapi seperti sesuatu yang berarti di antara mereka.“Jangan hidup setengah-setengah cuma karena masa lalu,” lanjut Nilna. “Daddy... Mommy...”Kata itu membuat Rea tersentak.“Jadilah suami istri yang beneran.”Sunyi mendadak menekan. Tidak ada yang langsung menjawab.Arjun menatap tangan yang kini tergenggam dengan tangan Rea. Jari-jarinya kaku. Seolah belum tahu harus menerima atau melepaskan.Rea menunduk. Air mata jatuh satu per satu. Namun kali ini bukan karena luka lama. Ada r

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   216. Bahagia?

    “Apa yang kamu maksud dengan kalimat barusan, Nini?”Suara Arjun pecah lebih dulu. Serak, bergetar, seperti menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam. Tangannya masih mengepal sejak sosok itu muncul. Sorot matanya tak lepas dari perempuan yang berdiri di ambang pintu.Nini.Perempuan itu melangkah masuk perlahan. Wajahnya tidak lagi seperti dulu yang penuh luka. Ada senyum tipis, tenang, bahkan hangat. Di sampingnya, seorang pria muda berdiri tegap, satu tangan memeluk bahunya, seolah menjadi sandaran yang nyata. Dalam gendongannya, seorang bayi laki-laki terlelap, wajahnya merah muda, napasnya halus.Kontras sekali dengan keguncangan Arjun.“Lama ya, Mas,” ucap Nini pelan.Nilna membeku. Kata itu... Mas. Cara menyebut itu terlalu akrab. Terlalu dalam.Reyhan menatap bergantian. Ke Arjun. Ke perempuan itu. Lalu ke bayi dalam gendongan. Ada sesuatu yang mulai ia pahami, tapi belum sepenuhnya jelas.Arjun melangkah satu langkah maju. Kakinya sempat goyah, namun ia paksa berdiri tegak.

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   215.Permintaan maaf

    “Apa maksudnya… kita bisa bersama?”Suara Nilna serak. Tidak keras, tapi memotong keheningan yang sejak tadi menekan dada semua orang. Matanya menatap Arjun tajam. Air mata masih menggantung, belum jatuh, seolah menunggu jawaban yang tepat sebelum akhirnya luruh.“Maksud Daddy apa?” lanjutnya, lebih tegas. “Kami ini… saudara, kan?”Kalimat itu langsung membuat Reyhan menegang.“Nilna... ”“Jangan!” potong Nilna cepat. Tatapannya masih terkunci pada Arjun. “Jelaskan dulu. Jangan bilang hal seperti itu… seolah semuanya baik-baik saja.”Arjun tidak langsung menjawab. Ia menatap Nilna lama. Tatapan yang penuh sesuatu.....penyesalan, rindu, juga kelegaan yang penuh.Rea melangkah satu langkah ke depan.“Sayang.…” Panggilan itu lembut. Hangat. Namun justru membuat Nilna semakin tidak nyaman.“Jangan panggil aku seperti itu dulu,” bisik Nilna.Rea terdiam.“Kalau semua ini benar…” lanjut Nilna, suaranya bergetar lagi, "aku dan dia…” ia melirik Reyhan sekilas, “…itu salah.”Reyhan menutup m

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   31. Aneh

    "Aku berangkat kerja dulu," kata Renji. "Hari ini aku makan di luar saja biar kamu nggak repot. Mami juga tak ada di rumah. Kamu tak usah masak. Simpan saja buat besok."Nilna berdiri mematung. Rasa aneh saja tiba- tiba lelaki itu bersikap baik.Renji merogoh saku, lalu menyelipkan uang ke telapak

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   30. Mau nikah

    "Nilna.... "Suara itu datang dari balik pintu kamarnya. Tidak keras. Tidak juga memerintah. Justru terlalu tenang.Nilna tersentak. Tubuhnya langsung menegang. Gunting di tangannya terangkat sedikit, refleks. Jantungnya berdegup tak beraturan, seolah setiap detik bisa meledak."Nilna...." ulang Re

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   29. Pisau

    "Memang kenapa aku tak boleh pulang lagi? Ini rumaku."Nilna sontak menoleh, kaget. Ternyata bukan Reyhan yang datang kembali, tapi Renji."Ternyata kamu sudah sadar dan bisa enak tiduran di kamar ini." Suara Renji terdengar datar.Nilna berdiri refleks. "Kamu nggak suka aku sudah sadar? Begitu? La

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   23. Arjun Residence

    "Kenapa rasanya sesakit ini?" jerit hati Nilna setelah masuk kamarnya dan menelungkupkan dirinya di bantal. Air mata sudah tak lagi dapat ia bendung. Bantal itu segera basah, menyerap isak yang tak lagi bisa ia tahan. Bahunya bergetar hebat, napasnya naik-turun tak beraturan. Setiap tarikan napas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status