MasukLantas Aliyev berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang padat dan sibuk.
Menyaksikan banyak orang dengan berbagai urusan masing-masing. Tidak ada yang berubah sejak lima tahun lalu. Kecuali ada beberapa saja. Semua terlihat indah dan memikat. Tapi dari semuanya, tidak ada yang ingin dia temui, kecuali istrinya, Leila. Meskipun dia sudah dicampakkan oleh istri, mertua, dan iparnya, namun dia masih menyimpan harapan untuk kembali lagi bersama istrinya. Rindu itu tidak bisa disembunyikan dan cinta itu tidak bisa dimusnahkan. Leila adalah permata hatinya selama beberapa tahun terakhir. Wanita itu tidak mungkin dia lupakan selama-lamanya. Setelah lebih dari tiga puluh menit berjalan, akhirnya dia pun tiba di sebuah rumah tua dan jelek milik Keluarga Tasumov. Segala kenangan pahit tidak mungkin bisa terlupakan. Semua kejahatan mereka dan perlakuan tak pantas itu jelas masih tersimpan dalam ingatannya. Dulu dia dianggap rendahan dan tidak dipandang sedikit pun, namun sekarang semuanya sudah berubah. Ada misi dan impian besar yang harus segera diwujudkan. Maka sekarang adalah waktunya. Meski begitu, rupanya Aliyev tidak mendapat sambutan baik sama sekali oleh orang rumah. Zaur membuka pintu dengan wajah heran dan memberengut, lalu berkata, “Kau menantu sialan, kenapa kau datang ke sini lagi?!” Kalau dulu Aliyev cenderung pendiam dan lemah, kini dia lebih berani dan percaya diri. “Aku ingin menemui istriku.” Zaur membuang pandangannya. “Leila bukan lagi istri mu!” “Dia masih istriku!” jawab Aliyev tegas. “Setiap enam bulan aku selalu mengirim uang untuknya selama lima tahun. Terkadang aku mengirimkan makanan dan pakaian juga untuknya.” “Semua itu tidak berguna sama sekali!” tepis Zaur sambil tersenyum tipis. “Pemberian mu sia-sia. Itu bukan nafkah dari seorang suami, melainkan hanya hadiah percuma yang berasal dari orang tak dikenal.” Segala pengorbanan dari Aliyev selama beberapa tahun belakangan tak dianggap rupanya. Jangan mendapatkan kata terima kasih, dia justru menerima olokan yang tak pantas. Zaur kemudian menatapnya dengan tajam sambil menyeringai. “Sejak dulu kau bukan bagian dari keluarga ini lagi!” Namun, dengan tegas Aliyev membantah. “Belum ada kata cerai dari kami berdua. Kami memang terpisah untuk sementar waktu. Sedangkan aku tetap bekerja dan memberi nafkah untuk Leila.” “Hahaha. Kau sudah gila rupanya. Aku harus memakai bahasa seperti apa supaya kau bisa mengerti.” Tidak lama berselang, Emina tiba di ambang pintu. Melihat kehadiran Aliyev, dia pun terperangah. “Kau? Menantu benalu itu? Ngapai kau ke sini lagi? Kami pikir kau sudah mati.’ Aliyev tidak hirau saat dia mendapat perlakuan buruk. Justru dia tetap sopan dan baik. “Ya aku masih ada, Bu. Kalian apa kabar di sini?” Namun Emina tak menggubris pertanyaan itu. Matanya tetap jahat seperti dulu. Penilainnya belum pernah berubah sama sekali. Sama seperti istriya, Zaur pun sama, tetap menganggap Aliyev hanyalah bekas menantu yang menyusahkan dan tidak pernah bisa diandalkan selamanya. Kehadiran Aliyev saat ini cuma mengingatkan kembali akan luka yang pernah ada. Kedatangan Aliyev tak lebih hanya sebatas membuka lembaran ingatan yang sebenarnya hampir mereka lupakan. “Aku membawakan pakain bagus dari Gloristan untuk kalian,” kata Aliyev sambil tersenyum. “Juga aku berikan untuk istriku dan Omar. Ambillah.” Melihat itu, Emina kaget. Putih matanya melebar. Mulutnya sedikit menganga. Emina tahu bahwa harga pakaian tersebut tidak lah murah. Tapi bagaimana bisa pria menyedihkan ini bisa membawa barang berharga sementara dulu bahkan dia saja tidak pernah bisa membelinya? Tidak hanya itu. Sebenarnya yang paling mengherankan bagi Zaur dan Emina adalah kenapa sekarang tubuh Aliyev besar dan berotot. Berbanding terbaik saat Aliyev pergi dari rumah ini lima tahun lalu. Tubuh itu memang berubah signifikan, tetapi wajahnya nyaris tidak ada perubahan, kecuali brewok yang lebat itu saja. “Ibu, terimalah pemberian dariku ini.” Aliyev menyerahkan bungkusan itu. Emina tak bisa menolaknya. Dia tahu bahwa untuk mendapatkan empat pakaian ini Zaur mesti bekerja keras sebagai kuli atau pedagang paling tidak selama empat bulan penuh. Perlahan Emina melirik wajah suaminya, menunggu kalimat persetujuan bahwa hadiah ini memang pantas diterima. Hanya saja Zaur diam beberapa detik. Berpikir cepat. Dan sejurus kemudian Emina pun tidak bisa berkata tidak. “Aku ambil bungkusan itu. Tidak baik menolak pemberian dari orang lain. Siapa pun. Apalagi orang ini pernah menumpang selama tiga tahun di rumah kita.” Mendapat perintah demikian, sontak Emina merampas bungkusan di tangan Aliyev dengan cepat seperti monyet menyuri pisang karena kelaparan. Tanpa mengucapkan kata terima kasih Emina segera masuk ke dalam rumah. Aliyev masih terpancang di depan pintu. Dia tahu etika. Jika belum disuruh masuk, dia tidak akan masuk, “Ayah, bisakah aku bertemu dengan istriku.” “Jangan panggil aku ayah!” sergah Zaur menyeringai. “Baiklah. Pak, bisakah aku bertemu dengan istriku.” “Jangan juga sebut dia istri mu sebab putriku bukan istri mu lagi.” Dalam hati dan pikiran Aliyev pribadi sejatinya Leila tetap istrinya. “Baiklah. Aku ingin bertemu Leila. Di mana dia sekarang?” “Untuk apa kau bertemu dengan dia? Kalian sudah tidak punya hubungan apa pun.” “Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padanya. Termasuk masa depan keluarga kecil kami nantinya.” Mendengar itu, Zaur berontak. “Omong kosong! Sudah ku bilang kau tidak perlu bicara apa pun dengan Leila karena kalian bukan lagi suami istri.” Aliyev menghela napas berat. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat. Dia paham bahwa pembicaraan ini tidak akan berlangsung baik. Dia cuma ingin tahu di mana keberadaan istrinya. Itu saja. “Apakah Leila ada di rumah? Kalau ada, izinkan aku bicara dengannya.” Tiba-tiba Emina datang lagi. Dia buru-buru menjawab. “Leila sedang tidak ada di rumah. Begini, kalau kau ada sesuatu lagi untuk kami, nanti kau bisa bertemu dengan Leila. Apa kau membawa sesuatu?” Aliyev tersenyum ramah dan berkata. “Tentu saja. Aku membawa sesuatu untuk kalian.” Mendadak biji mata Emina menghijau. Dia semangat kalau mendengar uang, hadiah, atau semacamnya. “Aliyev, memangnya apa yang kau bawa selain pakaian bagus tadi untuk kami?” Kemudian Aliyev menjawab, “Katakan saja apa yang kalian minta. Nanti akan aku belikan.” Mendengar itu, Emina dan Zaur saling tatap. Apa mereka tidak salah dengar? “Serius? Apa saja?” Emina menganga lalu membekap mulutnya sendiri. Matanya masih hijau. Aliyev mengangguk takzim. “Ya, apa saja.” Tidak seperti istrinya yang cepat terpengaruh, Zaur mengoles dagu dan berpikir keras. Dia masih belum percaya kalau pria rendahan ini punya banyak uang. Mustahil. Zaur memandangi Aliyev dari atas ke bawah berkali-kali. Terus memandanginya dengan penuh rasa curiga. Dia membatin, Apa aku sedang bermimpi?Omar benar-benar keterlaluan. Setelah kalah judi puluhan ribu dolar, dia pun pergi meninggalkan Holystan karena takut bakal dikejar-kejar oleh Aliyev.Dia melanggar perjanjian yang telah disepakati. Maka tidak ada lagi soal bisnis Gym yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. Semua hanya omong kosong yang dibangun Omar.Mengetahui bahwa Omar cuma menipunya, Aliyev sempat melakukan pencarian namun tidak berhasil, Omar meninggalkan Holystan tanpa jejak apa pun. Aliyev tidak terlalu mempermasalahkan uang lima ratus ribu dolar yang dibawa kabur. Bukan itu. Tapi masalahnya adalah saat ini semua keluarga Tasumov benar-benar meninggalkannya.Kecuali mungkin istrinya, Leila. Itu pun masih berupa kemungkinan sebab Leila tampaknya serius untuk mengakhiri hubungan ini jika Zukhov telah menyampaikan ucapan lamaran nantinya.Aliyev duduk di balkon apartemen mewahnya, memperhatikan keindahan kota dari atas, melihat dunia dari cara pandang berbeda seperti layaknya lima tahun lalu.Saat itu dia tida
Seperti apa yang diprediksi oleh Aliyev bahwa petarung sombong ini sulit menang bukan karena dia tidak jago tetapi karena kesombongannya. Banyak cerita di dunia ini yang sombong pada akhirnya kalah, binasa, dan hina.Jago saja tidak lah cukup. Karakter. Karakter juga perlu. Menanamkan sifat rendah hati dan tidak sombong memang tidak gampang. Terlebih pada orang yang sudah mendapatkan kekuatan, uang, popularitas, bahkan kekuasaan.Termasuk para petarung di atas ring. Hebat dan kuat saja tidaklah cukup tetapi mereka juga harus pandai dalam menjaga sikap, apalagi ini adalah zaman media sosial yang setiap orang gampang untuk naik dan gampang pula untuk tenggelam.Si petarung rendah hati yang sudah dianggap pemenang tidak merasa besar kepala. Dia justru menghampiri lawannya tadi yang sombong dan berkata dengan penuh respect, “Ini bukan tentang menang kalah semata, tapi tentang persaudaraan dan kemanusiaan. Terima kasih karena aku telah belajar banyak dari mu.”Mendengar itu, si petarung so
Pukulan itu pas dan tidak meleset sedikit pun.Namun Boyxev menjerit kesakitan karena dia yang kena pukul.Tom masih mengepalkan tangan dan siap meninju Boyxev untuk ke dua kali, namun Aliyev langsung mencegahnya.“Tom, tahan diri mu. Tidak usah buat keributan lagi. Kau adalah bagian dari acara ini dan termasuk dalam salah satu panelis.” Aliyev berusaha menenangkan Tom.Tom kepanasan saat tahu bahwa orang yang hendak berkelahi itu adalah Aliev. Dia tidak menyangka kalau Aliyev rupanya orang yang sedari tadi diolok-olok. Posisi Tom sekitar sepuluh meter dari kursi Aliyev.Keributan seperti ini sudah biasa, jadi makanya orang seperti Tom tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi masalahnya adalah yang ribut ini adalah Aliyev. Wajar dia marah besar dan ingin menghabisi Boyxev.“Pergi kau dari sini!” usir Tom.Boyxev tahu persis siapa Tom. Selain panelis, kadang juri, Tom juga terlibat dalam soal keamanan. Hampir semua orang tahu siapa Tom.Jadi ketika Boyxev diusir oleh Tom, Boyxev tidak b
Tangan kiri Aliyev menangkap kepalan tangan Boyxev!Orang-orang di sana pun terpana. Dari mana Aliyev bisa sadar kalau dia mau dipukul dari belakang?Rupanya Aliyev merasakan getaran mencurigakan yang ada di belakang tubuhnya, lalu sepersekian detik kemudian sama seperti refleks kucing lantas Aliyev segera menangkis serangan itu.Boyxev yang sudah yakin kalau pukulannya pasti kena sontak terperangah. Putih matanya melebar dan mulutnya menganga. Tidak disangka pukulannya bisa ditangkis. Mustahil!Setelah tadi Boyxev ngomel panjang dan sempat mau main pukul, barulah Aliyev mau bersuara. “Silakan cari kursi lain jika kau ingin menonton lebih leluasa. Rata-rata para penonton di sini juga sama seperti mu. Pandangan mereka juga terhalang oleh orang di depannya. Aku pun juga sama. Jadi sebaiknya kau cari kursi lain atau bila perlu masuk sana ke oktagon.”Merasa diejek, Boyxev emosi. Dia menunjuk wajah Aliyev dan membentak, “Bjgn! Kau menyuruhku pindah kursi atau masuk ke oktagon? Sama saja k
“Hei Bro! Menunduk sedikit! Kepala dan badan mu menghalangi pandanganku!” jerit seorang pria pas di belakang Aliyev.Aliyev berdiri dan memutar badannya lalu menjawab, “Tidak bisa. Aku tidak bisa menunduk seperti yang kau minta.” Aliyev tetap sopan dan kalem.Meskipun badannya sangat kekar dan mengerikan, dia tetap kalem dan rendah hati, bicaranya saja sangat santun.Pria bertopi yang merasa pandangannya dihalangi tadi lantas kaget karena orang di depannya ini tidak mau menuruti apa katanya. “Aku tidak bisa melihat dengan leluasa apa yang ada di arena tarung. Apa salahnya kau menunduk sedikit.”Masalanya adalah tubuh Alivey dengan tinggi 190 dan berat tak kurang dari 100 kg itu sulit untuk sedikit membungkuk.Aliyev membalasnya dengan santun, “Jangan salahkan aku, tapi salahkan posisi kursi yang ada. Kalau saja jarak antar kursinya lebih jauh tentu kau akan lebih leluasa. Lagi pula bukankah hampir semua orang menghadapi masalah sama seperti mu.”Aliyev yang saat ini berada agak tengah
Omar menagih janji pada Aliyev sesuai dengan apa yang kemarin-kemarin pernah disampaikan bahwa Aliyev bakal mengeluarkan dana satu juta dolar untuk usaha Gym kecil-kecilan.Tepat di depan hotel tempat Aliyev tinggal Omar menagih janji itu. “Lelaki yang dipegang adalah omongannya. Jika kau bukan lelaki, silakan lupakan omongan mu waktu itu.”Aliyev bukanlah orang yang suka ingkar janji. Jika sudah mengatakan sesuatu maka dia tidak akan mengingkarinya.Kata Aliyev, “Bisnis ini akan tetap jadi milikku. Kau yang akan menjalaninya, Omar, dan kau dapat bayaran dariku. Jadi aku tidak meminjamkan mu uang atau modal.”“Baiklah kalau begitu perjanjiannya. Berapa bayaran yang akan aku terima?”“Kita lihat bagaimana bisnis itu berjalan nantinya. Aku yakin kau tidak akan kecewa.”“Aku minta bayaran besar. Apa kau sanggup?”Pasti Aliyev sanggup membayarnya.Aliyev menyuntikkan dana awal sebesar seratus ribu dolar dengan mengirimkannya ke rekening milik Omar.Ketika melihat uang sebanyak itu, bola m







