Home / Urban / SANG PETARUNG / 2. Menemui istri

Share

2. Menemui istri

Author: mic.assekop
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-22 10:42:15

Lantas Aliyev berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang padat dan sibuk.

Menyaksikan banyak orang dengan berbagai urusan masing-masing.

Tidak ada yang berubah sejak lima tahun lalu. Kecuali ada beberapa saja.

Semua terlihat indah dan memikat. Tapi dari semuanya, tidak ada yang ingin dia temui, kecuali istrinya, Leila.

Meskipun dia sudah dicampakkan oleh istri, mertua, dan iparnya, namun dia masih menyimpan harapan untuk kembali lagi bersama istrinya.

Rindu itu tidak bisa disembunyikan dan cinta itu tidak bisa dimusnahkan.

Leila adalah permata hatinya selama beberapa tahun terakhir. Wanita itu tidak mungkin dia lupakan selama-lamanya.

Setelah lebih dari tiga puluh menit berjalan, akhirnya dia pun tiba di sebuah rumah tua dan jelek milik Keluarga Tasumov.

Segala kenangan pahit tidak mungkin bisa terlupakan. Semua kejahatan mereka dan perlakuan tak pantas itu jelas masih tersimpan dalam ingatannya.

Dulu dia dianggap rendahan dan tidak dipandang sedikit pun, namun sekarang semuanya sudah berubah.

Ada misi dan impian besar yang harus segera diwujudkan. Maka sekarang adalah waktunya.

Meski begitu, rupanya Aliyev tidak mendapat sambutan baik sama sekali oleh orang rumah.

Zaur membuka pintu dengan wajah heran dan memberengut, lalu berkata, “Kau menantu sialan, kenapa kau datang ke sini lagi?!”

Kalau dulu Aliyev cenderung pendiam dan lemah, kini dia lebih berani dan percaya diri. “Aku ingin menemui istriku.”

Zaur membuang pandangannya. “Leila bukan lagi istri mu!”

“Dia masih istriku!” jawab Aliyev tegas. “Setiap enam bulan aku selalu mengirim uang untuknya selama lima tahun. Terkadang aku mengirimkan makanan dan pakaian juga untuknya.”

“Semua itu tidak berguna sama sekali!” tepis Zaur sambil tersenyum tipis. “Pemberian mu sia-sia. Itu bukan nafkah dari seorang suami, melainkan hanya hadiah percuma yang berasal dari orang tak dikenal.”

Segala pengorbanan dari Aliyev selama beberapa tahun belakangan tak dianggap rupanya.

Jangan mendapatkan kata terima kasih, dia justru menerima olokan yang tak pantas.

Zaur kemudian menatapnya dengan tajam sambil menyeringai. “Sejak dulu kau bukan bagian dari keluarga ini lagi!”

Namun, dengan tegas Aliyev membantah. “Belum ada kata cerai dari kami berdua. Kami memang terpisah untuk sementar waktu. Sedangkan aku tetap bekerja dan memberi nafkah untuk Leila.”

“Hahaha. Kau sudah gila rupanya. Aku harus memakai bahasa seperti apa supaya kau bisa mengerti.”

Tidak lama berselang, Emina tiba di ambang pintu. Melihat kehadiran Aliyev, dia pun terperangah. “Kau? Menantu benalu itu? Ngapai kau ke sini lagi? Kami pikir kau sudah mati.’

Aliyev tidak hirau saat dia mendapat perlakuan buruk. Justru dia tetap sopan dan baik. “Ya aku masih ada, Bu. Kalian apa kabar di sini?”

Namun Emina tak menggubris pertanyaan itu. Matanya tetap jahat seperti dulu. Penilainnya belum pernah berubah sama sekali.

Sama seperti istriya, Zaur pun sama, tetap menganggap Aliyev hanyalah bekas menantu yang menyusahkan dan tidak pernah bisa diandalkan selamanya.

Kehadiran Aliyev saat ini cuma mengingatkan kembali akan luka yang pernah ada.

Kedatangan Aliyev tak lebih hanya sebatas membuka lembaran ingatan yang sebenarnya hampir mereka lupakan.

“Aku membawakan pakain bagus dari Gloristan untuk kalian,” kata Aliyev sambil tersenyum. “Juga aku berikan untuk istriku dan Omar. Ambillah.”

Melihat itu, Emina kaget. Putih matanya melebar. Mulutnya sedikit menganga.

Emina tahu bahwa harga pakaian tersebut tidak lah murah.

Tapi bagaimana bisa pria menyedihkan ini bisa membawa barang berharga sementara dulu bahkan dia saja tidak pernah bisa membelinya?

Tidak hanya itu. Sebenarnya yang paling mengherankan bagi Zaur dan Emina adalah kenapa sekarang tubuh Aliyev besar dan berotot.

Berbanding terbaik saat Aliyev pergi dari rumah ini lima tahun lalu.

Tubuh itu memang berubah signifikan, tetapi wajahnya nyaris tidak ada perubahan, kecuali brewok yang lebat itu saja.

“Ibu, terimalah pemberian dariku ini.” Aliyev menyerahkan bungkusan itu.

Emina tak bisa menolaknya. Dia tahu bahwa untuk mendapatkan empat pakaian ini Zaur mesti bekerja keras sebagai kuli atau pedagang paling tidak selama empat bulan penuh.

Perlahan Emina melirik wajah suaminya, menunggu kalimat persetujuan bahwa hadiah ini memang pantas diterima.

Hanya saja Zaur diam beberapa detik. Berpikir cepat.

Dan sejurus kemudian Emina pun tidak bisa berkata tidak. “Aku ambil bungkusan itu. Tidak baik menolak pemberian dari orang lain. Siapa pun. Apalagi orang ini pernah menumpang selama tiga tahun di rumah kita.”

Mendapat perintah demikian, sontak Emina merampas bungkusan di tangan Aliyev dengan cepat seperti monyet menyuri pisang karena kelaparan.

Tanpa mengucapkan kata terima kasih Emina segera masuk ke dalam rumah.

Aliyev masih terpancang di depan pintu. Dia tahu etika. Jika belum disuruh masuk, dia tidak akan masuk,

“Ayah, bisakah aku bertemu dengan istriku.”

“Jangan panggil aku ayah!” sergah Zaur menyeringai.

“Baiklah. Pak, bisakah aku bertemu dengan istriku.”

“Jangan juga sebut dia istri mu sebab putriku bukan istri mu lagi.”

Dalam hati dan pikiran Aliyev pribadi sejatinya Leila tetap istrinya.

“Baiklah. Aku ingin bertemu Leila. Di mana dia sekarang?”

“Untuk apa kau bertemu dengan dia? Kalian sudah tidak punya hubungan apa pun.”

“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padanya. Termasuk masa depan keluarga kecil kami nantinya.”

Mendengar itu, Zaur berontak. “Omong kosong! Sudah ku bilang kau tidak perlu bicara apa pun dengan Leila karena kalian bukan lagi suami istri.”

Aliyev menghela napas berat. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat. Dia paham bahwa pembicaraan ini tidak akan berlangsung baik.

Dia cuma ingin tahu di mana keberadaan istrinya. Itu saja.

“Apakah Leila ada di rumah? Kalau ada, izinkan aku bicara dengannya.”

Tiba-tiba Emina datang lagi. Dia buru-buru menjawab. “Leila sedang tidak ada di rumah. Begini, kalau kau ada sesuatu lagi untuk kami, nanti kau bisa bertemu dengan Leila. Apa kau membawa sesuatu?”

Aliyev tersenyum ramah dan berkata. “Tentu saja. Aku membawa sesuatu untuk kalian.”

Mendadak biji mata Emina menghijau. Dia semangat kalau mendengar uang, hadiah, atau semacamnya.

“Aliyev, memangnya apa yang kau bawa selain pakaian bagus tadi untuk kami?”

Kemudian Aliyev menjawab, “Katakan saja apa yang kalian minta. Nanti akan aku belikan.”

Mendengar itu, Emina dan Zaur saling tatap.

Apa mereka tidak salah dengar?

“Serius? Apa saja?” Emina menganga lalu membekap mulutnya sendiri. Matanya masih hijau.

Aliyev mengangguk takzim. “Ya, apa saja.”

Tidak seperti istrinya yang cepat terpengaruh, Zaur mengoles dagu dan berpikir keras. Dia masih belum percaya kalau pria rendahan ini punya banyak uang. 

Mustahil.

Zaur memandangi Aliyev dari atas ke bawah berkali-kali. Terus memandanginya dengan penuh rasa curiga.

Dia membatin, Apa aku sedang bermimpi?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • SANG PETARUNG   26. Taktik jitu

    Raidov sudah mendominasi dua ronde sebelumnya, artinya dia cuma butuh lima menit lagi mempertahankan dominasi lalu bisa keluar sebagai pemenang, dan tidak terlalu banyak memikirkan strategi yang tidak begitu penting.Namun, itu semua hanya berada di dalam kepala Raidov sebab selama dua ronde sebelumnya Aliyev memang sengaja membuat Raidov tampil ganas. Pada awalnya dia bermain rapat dan selalu menjaga posisi, kemudian sengaja berada pada out of position guna mengetahui seberapa kencang serangan yang akan diterima.Dan setelah paham seperti apa permainan lawannya, maka di ronde terakhir ini dia tahu apa yang mesti dilakukan, yakni segera menuntaskan laga melalui cara yang biasanya Raidov kalah. Aliyev sudah mengkalkulasikan kapan dia mesti bertahan dan kapan mesti menyerang.“Rupanya kemampuan mu hanya segitu saja ya?!” cetus Raidov sambil meninju kedua tangannya dan siap bertempur kembali. “Pecundang!” ejeknya sombong.Ketika ronde tiga telah dimulai Raidov pun berjalan cepat dengan k

  • SANG PETARUNG   25. Si kidal ganas

    Aliyev gesit, cepat menutupi wajahnya dengan punggung tangannya. Serangan barusan memang kuat tapi pertahanan Aliyev lebih tangguh.Raidov langsung mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan balasan cepat dari Aliyev. Dia tidak menyangka kalau serangan kilat barusan dapat ditangkis secara sempurna oleh Aliyev. Dan dia pun tidak tahu kapan lagi dapat momentum bagus seperti tadi di tiga menit selanjutnya.Ketika mereka berdua sudah berada di posisi dadan kuda-kuda awal, mereka pun kembali siap dengan taktik dan serangan selanjutnya.Aliyev memberikan serangan kejut yang lumayan keras lewat tinjuan dan sepakan meskipun semuanya dapat diatasi dengan baik oleh Raidov.Setelah menyerang, Aliyev segera langsung bergeser ke kanan dengan tujuan lawannya kehilangan jalur serangan lurus, dengan kata lain Aliyev tidak mau terlalu lama berdiri sejajar dengan lawannya untuk menghalangi serangan balasan mendadak.Raidov mengganas memasuki menit tiga karena dia ingin segera menyelesaikan laga

  • SANG PETARUNG   24. Perlawanan si kidal

    Minggu malam di Arena MMA Holystan. Ribuan penonton memadati kursi penonton dan siap menyaksikan para jagoan mereka bertarung. Dua laga dilakoni cukup seru dari berbagai kelas lalu tibalah kini masuk pertarungan kelas berat.Bagi sebagian besar orang laga ini tampak kurang menarik karena menyajikan petarung di peringkat dua belas melawan seorang petarung debutan. Meski demikian, Tom menjanjikan pada para penonton bahwa laga ini tak kalah seru jika dibandingkan dengan perebutan sabuk juara. Alasannya adalah Aliyev sang pendatang baru. Tom memberi tahu bahwa HolyMMA telah menemukan petarung baru yang siap merebut sabuk juara nantinya. Publik pun bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya Aliyev dan mengapa Tom begitu menjagokan nya. Semua penonton pun berdiri saat Aliyev keluar dari lorong menuju oktagon, menyaksikannya dengan penuh antusias. Sebelumnya mereka melihat Aliyev di TV dan media sosial, kini mereka melihatnya secara langsung. Para penonton berkomentar : “Badannya lebih b

  • SANG PETARUNG   23. Tetap sama seperti dulu

    Aliyev melanjutkan, “Aku akan mengalahkannya di ronde tiga. Tidak ada alasan kenapa aku bisa kalah darinya. Jika aku kalah, maka aku sangat tidak layak berada di kompetisi ini.”Sang peringkat dua belas semakin kepanasan dan karena tidak mau terus-terusan dipermalukan akhirnya Raidov mengambil mic dan berkata, “Sebelum kau mengalahkanku di ronde tiga, aku yang akan menghabisi mu di ronde pertama. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa menang melawan mu di ronde pertama. Ingat itu baik-baik.”Aliyev senyum dan menjawab dengan santai, “Dengarlah. Dia akan mengalahkanku pada ronde pertama. Jika itu benar-benar terjadi, dipastikan aku akan keluar dari kompetisi ini. Tom, catat omongannya.”Maka dengan penuh penghormatan Tom menjawab, “Baik. Kita semua menjadi saksi bahwa Aliyev menang di ronde tiga atau Raidov menang di ronde pertama.”Raidov tidak mau kalah mental, jadi makanya dia berdiri dan meneriaki para wartawan agar segera bertanya padanya.Namun sayangnya tidak ada satu pun ada

  • SANG PETARUNG   22. Pertarungan psikologi

    Ini adalah hari konferensi pers perdana Aliyev di HolyMMA.Sebagai pendatang baru, Aliyev dianggap kuda hitam medioker bukan hanya oleh media setempat, tapi juga oleh lawannya.Raidov mengambol mic lalu bicara walaupun belum ada wartawan yang melempar pertanyaan. Dia bicara dengan sangat sombong.“Peringkat dua belas Heavyweight melawan pendatang baru? Yang benar saja?! Hei Tom, ayolah! Apakah pertandingan ini bakal ada penontonnya nanti?”Tom yang menugaskan dirinya secara khusus dalam sesi wawancara ini cuma senyum saat menyaksikan betapa congkaknya Raidov. Tom saat ini berada di tengah-tengah antara Raidov dan Aliyev, menjadi penengah antara dua petarung dan wartawan yang ingin bertanya.Raidov mengangkat kakinya di atas meja lalu berkoar lagi. “Masih ada banyak lawan lemah yang pantas untuk pria asing ini, Tom. Bukankah kau punya petarung peringkat tiga puluhan untuk melawannya? Kenapa harus yang peringkat dua belas? Jujur bagiku ini terasa penghinaan bagiku!”Meskipun sampai saat

  • SANG PETARUNG   21. Tugas besar dari sang guru

    Omar benar-benar keterlaluan. Setelah kalah judi puluhan ribu dolar, dia pun pergi meninggalkan Holystan karena takut bakal dikejar-kejar oleh Aliyev.Dia melanggar perjanjian yang telah disepakati. Maka tidak ada lagi soal bisnis Gym yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. Semua hanya omong kosong yang dibangun Omar.Mengetahui bahwa Omar cuma menipunya, Aliyev sempat melakukan pencarian namun tidak berhasil, Omar meninggalkan Holystan tanpa jejak apa pun. Aliyev tidak terlalu mempermasalahkan uang lima ratus ribu dolar yang dibawa kabur. Bukan itu. Tapi masalahnya adalah saat ini semua keluarga Tasumov benar-benar meninggalkannya.Kecuali mungkin istrinya, Leila. Itu pun masih berupa kemungkinan sebab Leila tampaknya serius untuk mengakhiri hubungan ini jika Zukhov telah menyampaikan ucapan lamaran nantinya.Aliyev duduk di balkon apartemen mewahnya, memperhatikan keindahan kota dari atas, melihat dunia dari cara pandang berbeda seperti layaknya lima tahun lalu.Saat itu dia tida

  • SANG PETARUNG   20. Gloristan dan Kartu Hitam

    Seperti apa yang diprediksi oleh Aliyev bahwa petarung sombong ini sulit menang bukan karena dia tidak jago tetapi karena kesombongannya. Banyak cerita di dunia ini yang sombong pada akhirnya kalah, binasa, dan hina.Jago saja tidak lah cukup. Karakter. Karakter juga perlu. Menanamkan sifat rendah

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • SANG PETARUNG   9. Memberi hormat

    “Ya ya ya. 13-0, bisa saja. Tapi pertarungan melawan anak SD! Hahaha.”“Mungkin lebih parah dari itu. Siapa tahu anak TK.”Ejekan dan hinaan pun mulai berlamburan.Kini semua mata tertuju pada Aliyev, termasuk para pendaftar lainnya.Mereka semua memandangi Aliyev dengan beragam penilaian. Ada yang

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • SANG PETARUNG   16. Menonton MMA

    Omar menagih janji pada Aliyev sesuai dengan apa yang kemarin-kemarin pernah disampaikan bahwa Aliyev bakal mengeluarkan dana satu juta dolar untuk usaha Gym kecil-kecilan.Tepat di depan hotel tempat Aliyev tinggal Omar menagih janji itu. “Lelaki yang dipegang adalah omongannya. Jika kau bukan lel

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • SANG PETARUNG   19. Petarung sombong vs Petarung rendah hati

    Pukulan itu pas dan tidak meleset sedikit pun.Namun Boyxev menjerit kesakitan karena dia yang kena pukul.Tom masih mengepalkan tangan dan siap meninju Boyxev untuk ke dua kali, namun Aliyev langsung mencegahnya.“Tom, tahan diri mu. Tidak usah buat keributan lagi. Kau adalah bagian dari acara ini

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status