ログインSetelah berhari-hari melakukan diskusi, akhirnya pihak penyelenggara HolyMMA pun memutuskan bahwa pertarungan perebutan sabuk antara Zukhov dan Aliyev bisa dilaksanakan sesegera mungkin.Jadwal yang cocok adalah di Holy165 dan tepatnya dilaksanakan dua bulan lagi. Ini dilakukan waktu tersebut dirasa ideal sebab mereka baru menjalani pertarungan sehingga mereka bisa ada cukup waktu untuk pemulihan dan latihan.Sebelum jadwal ini dipastikan, Tom telah melapor terlebih dahulu pada Aliyev guna mengetahui apakah Aliyev setuju, dan Aliyev menjawab bahwa dirinya setuju untuk segera menghadapi Zukhov dalam perebutan sabuk juara divisi Heavyweight.Aliyev mengundang Tom berkunjung ke apartemen miliknya siang hari itu.“Tom, masyarakat telah mengetahui pengumuman dari jadwal tersebut. Aku melihat mereka sangat antusias. Bagaimana menurut mu?” Aliyev kemudian menyeruput kopi hitamnya.Tom yang tadinya melihat pemandangan indah Negeri Holystan kini mengalihkan pandangannya ke arah Aliyev yang sed
Aliyev terperanjat saat namanya disebut dan yang menyebut barusan adalah Zukhov. Tidak hanya Aliyev, begitu pula Tom dan semua penonton di sana, kaget saat Zukhov menantang Aliyev pada laga perebutan sabuk berikutnya nanti. Zukhov melanjutkan, “Aku menonton pertandingan dia minggu lalu. Kelihatannya dia biasa-biasa saja. Tapi aku melihat dia adalah petarung yang berbeda. Penilaian diriku tidak mungkin keliru. Jadi siapa pun kalian yang berada di HolyMMA, pertemukan lah antara aku dan Aliyev!”Tantangan itu datang langsung dari Zukhov sang Penghancur. Tom dan Aliyev sejatinya memang mengharapkan laga tersebut, tapi tidak secepat itu juga. Tom memperkirakan paling tidak tahun depan walaupun bisa diusahakan lebih cepat. Namun nyatanya Zukhov yang malah memberikan tantangan tersebut, membuat nama Aliyev semakin tinggi di mata orang-orang. Zukhov mengedarkan pandangan ke semua orang dan kembali berkata, “Jadwalkan lah pertarungan kami. Maka seluruh pasang mata di dunia akan tertuju pa
Inilah yang biasa dilakukan oleh Aliyev ketika tidak bertanding atau pun latihan, yakni menyaksikan pertandingan MMA peserta lain untuk mempelajari setiap apa saja yang ada di sana setiap detiknya.Kalau pertandingan kecil saja dia tonton, apalagi yang bertarung saat ini adalah Zukhov, pria yang katanya akan menjadi calon suami dari Leila. Sebelumnya Aliyev sudah menonton semua pertarungan Zukhov sebanyak dua puluh empat laga secara total semenjak dia menggeluti MMA Profeisonal.Dengan dua puluh satu kemenangan dan tiga kekalahan, menjadikannya sebagai petarung yang berada di rangking teratas sekaligus pemegang sabuk juara. Jarang ada petarung yang mampu mencapai keduanya.Ada dari mereka yang bisa melekatkan sabuk di pinggang saja, atau sebaliknya, hanya berada di rangking pertama saja. Nah Zukhov berbeda. Dia pemegang sabuk sekaligus menempati rangking teratas kelas Heavyweight di HolyMMA.Aliyev kurang puas menyaksikan Zukhov dari layar ponselnya. Kini dia akan menyaksikan secara l
Zaur yang berada di depan televisi malah menyeringai marah saat melihat menantu sialan itu menang tak terkira. “Kok bisa dia menang?! Banyak orang bisa menilai siapa lah yang pantas menang. Tapi aneh, seperti ada yang aneh.”Emina mencebik malas dan berkomentar pedas, “Aku rasa dia tidak pantas menang. Sungguh menyebalkan melihat dia bisa menang. Awas kalau kau ketemu dengan Zukhov. Ya aku ingin mantan menantu tak berguna ini nanti bisa bertemu dengan Zukhov. Aku tidak sabar menunggunya.”Tidak ada kebanggaan dan rasa segan untuk Aliyev atas apa yang terjadi saat ini. Kemenangan itu sama sekali tidak membuka pintu hati dari Keluarga Tasumov buat Aliyev. Tidak sedikit pun.Bagi Zaur dan Emina, Aliyev tetaplah sama seperti halnya dahulu, yaitu tidak berguna dan tidak bernilai.Bagi mereka kemenangan ini tidak lain hanyalah berita kosong yang tidak perlu dibesar-besarkan.Bahkan meskipun satu dunia menyanjungnya namun mereka tetap menganggapnya rendah.Emina berkata dengan malas, “Dia pi
Raidov sudah mendominasi dua ronde sebelumnya, artinya dia cuma butuh lima menit lagi mempertahankan dominasi lalu bisa keluar sebagai pemenang, dan tidak terlalu banyak memikirkan strategi yang tidak begitu penting.Namun, itu semua hanya berada di dalam kepala Raidov sebab selama dua ronde sebelumnya Aliyev memang sengaja membuat Raidov tampil ganas. Pada awalnya dia bermain rapat dan selalu menjaga posisi, kemudian sengaja berada pada out of position guna mengetahui seberapa kencang serangan yang akan diterima.Dan setelah paham seperti apa permainan lawannya, maka di ronde terakhir ini dia tahu apa yang mesti dilakukan, yakni segera menuntaskan laga melalui cara yang biasanya Raidov kalah. Aliyev sudah mengkalkulasikan kapan dia mesti bertahan dan kapan mesti menyerang.“Rupanya kemampuan mu hanya segitu saja ya?!” cetus Raidov sambil meninju kedua tangannya dan siap bertempur kembali. “Pecundang!” ejeknya sombong.Ketika ronde tiga telah dimulai Raidov pun berjalan cepat dengan k
Aliyev gesit, cepat menutupi wajahnya dengan punggung tangannya. Serangan barusan memang kuat tapi pertahanan Aliyev lebih tangguh.Raidov langsung mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan balasan cepat dari Aliyev. Dia tidak menyangka kalau serangan kilat barusan dapat ditangkis secara sempurna oleh Aliyev. Dan dia pun tidak tahu kapan lagi dapat momentum bagus seperti tadi di tiga menit selanjutnya.Ketika mereka berdua sudah berada di posisi dadan kuda-kuda awal, mereka pun kembali siap dengan taktik dan serangan selanjutnya.Aliyev memberikan serangan kejut yang lumayan keras lewat tinjuan dan sepakan meskipun semuanya dapat diatasi dengan baik oleh Raidov.Setelah menyerang, Aliyev segera langsung bergeser ke kanan dengan tujuan lawannya kehilangan jalur serangan lurus, dengan kata lain Aliyev tidak mau terlalu lama berdiri sejajar dengan lawannya untuk menghalangi serangan balasan mendadak.Raidov mengganas memasuki menit tiga karena dia ingin segera menyelesaikan laga







