MasukDanu melangkah keluar dari ruang rapat dengan wajah mengeras, langkah kakinya menghentak keras, napasnya terengah, amarah memuncak di dadanya. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Persetan!” geramnya pelan, namun cukup keras untuk membuat salah satu karyawan yang melintas berpapasan dengannya melihat dengan tatapan was-was. Danu mengabaikannya. Ia terus berjalan menuju ruang pribadi
Sore itu, kamar kerja kecil di rumah Kamila dipenuhi kertas sketsa yang berserakan di atas meja. Pensil, penghapus, dan spidol warna tergeletak tak beraturan, menjadi saksi keseriusan dua Haniyah dan Kamila.Sejak pagi, Haniyah sudah di antar ke rumah Kamila. Setelah menghabiskan banyak waktu dan pikiran dengan masalah keluarga, kali ini Haniyah berharap bisa fokus pada lomba yang akan diikutinya.Sketsa sudah rampung, Ibu Kamila juga sudah selesai menjahit salah satunya, dan hari ini, harusnya satu desain lagi juga sudah selesai.“Hari ini kita fitting,” ucap Kamila sambil tersenyum lebar, suaranya tak mampu menyembunyikan rasa antusias.Haniyah membalas senyum itu, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia menatap ke arah gantungan baju yang tertutu
Danu tidak bisa menolak saran yang diberikan Haniyah, meski sejatinya dia keberatan dengan pilihan itu. Menunjuk Mahesa sebagai Co-CEO dan harus terus berbagi keputusan dengan pria muda itu tentu akan membuatnya sedikit kesulitan.Tapi saat ini, dia tidak bisa melakukan hal lain selain menerima keputusan Haniyah yang didukung oleh sebagian besar pemegang saham.“Baik, kalau begitu rapat hari ini kita akhiri dengan keputusan mutlak. Perhari ini, Pak Danu akan didampingi Pak Mahesa sebagai Co-CEO dalam pengambilan keputusan dalam hal apapun.Danu kembali ke ruangannya bersama dengan Elvina.Brak!Ia melempar buku di tangannya ke lantai dengan emosi. “Co-CEO? Sungguh ide konyol! Dua kepala untuk satu kapal? Apa dia sengaja melakukan semua ini agar pergerakan kita terbatas?” keluhnya.Elvina mengambil kembali buku yang tergeletak di lantai. “Mungkin begitu Mas, tapi ini jauh lebih baik daripada kita menyerahkan semuanya pada Mahesa dan keluarganya, hanya karena surat wasiat dari almarhum A
Suara gebrakan diatas meja memancing perhatian semua orang. Danu menggeram kesal karena tidak percaya dengan ucapan Haniyah saat itu, bagaimana mungkin Haniyah malah memilih untuk menyerahkan perusahaan pada orang lain?“Apa maksudmu Han? Kamu sudah menyerahkan semua tanggung jawab pada perusahaan ini pada Om, kenapa tiba-tiba kamu mau menyerahkannya pada orang lain?”Haniyah menghela nafas. “Maaf Om, tapi di surat itu jelas yang diminta memimpin adalah saya atau perwakilan dari keluarga Adiguna,” ujar Haniya. “Saya sudah mengatakan sejak awal kalau saya keberatan memimpin perusahaan ini, karena itu saya menyerahkan semuanya pada Om.”“Dan apa sekarang kamu juga masih menolak Haniyah?” tanya salah seorang pemegang saham.Ha
Danu pulang dari Cosmo group tanpa mendapat kepastian, apakah Haniyah akan datang atau tidak ke rapat pemegang saham berikutnya atau tidak. Hal itu membuatnya makin frustasi dan kebingungan. Dia tidak ingin kehilangan Wiryawan Corp, ini satu-satunya sumber penghasilannya. Kalau perusahaan ini harus hancur, setidaknya dia harus mendapat keuntungan dari perusahaan ini. Dia tidak ingin habis-habisan sendiri.Seminggu berlalu.Rahangnya pria itu mengeras, beberapa kali ia mendengus kesal dengan kepalan tangan yang mengerat. Hari ini rapat pemegang saham akan dilaksanakan. Beberapa orang sudah hadir dalam ruang rapat itu, tapi Haniyah masih juga belum muncul.Dia tidak bisa menghubungi nomor Haniyah, karena sepertinya nomornya diblok Haniyah. Sementara Elkan? Pria itu tidak menjawab semua panggilan tak terjawab darinya. Hal itu tentu membuatnya makin stress.“Kalau Haniyah tidak datang, apa itu artinya kita akan kehilangan perusahaan ini Dan?” Elvina yang juga masuk dalam jajaran pemegang
Danu melangkah keluar dari ruang rapat dengan wajah mengeras, langkah kakinya menghentak keras, napasnya terengah, amarah memuncak di dadanya. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Persetan!” geramnya pelan, namun cukup keras untuk membuat salah satu karyawan yang melintas berpapasan dengannya melihat dengan tatapan was-was. Danu mengabaikannya. Ia terus berjalan menuju ruang pribadinya, menahan diri agar tidak menendang sesuatu.Danu menjatuhkan diri ke kursi kerjanya, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menggeleng keras, berusaha menolak mati-matian keberadaan surat itu.Beberapa waktu terakhir ini dia memang sering bermasalah dengan Mahesa. Dari dia yang memergoki banyaknya pengeluaran yang keluar dari perusahaan ke rekening milik Elvina, lalu karena tidak ingin memperpanjang dia a
Mahesa mulai menjalankan rencana pertama beberapa hari kemudian. Rapat ini sebenarnya bukan atas inisiasinya, tetapi memang sudah menjadi jadwal rutin bulanan, apalagi setelah sebelumnya ia membongkar kalau dibawah kepemimpinan Danu, banyak uang perusahaan yang mengalir ke rekening Elvina tanpa alasan yang jelas.Ruang rapat lantai atas dipenuhi suasana tegang. Para pemegang saham duduk melingkar dengan wajah serius, sebagian sibuk membuka berkas-berkas di depan mereka. Sebagian lain hanya diam menikmati pemaparan yang diberikan Danu dan timnya.Pemaparan yang dari bulan ke bulan tidak mengalami kemajuan menurut mereka.Sementara itu Mahesa terlihat lebih tenang, jas hitamnya rapi, sorot matanya penuh wibawa. Ia sudah bersiap untuk menyela sidang yang akan diakhiri oleh Danu.“Sebelum rapat ini diakhiri, boleh saya bicara dulu?” ucapnya.Sebagai salah satu pemegang saham terbesar, jelas suaranya akan didengar. Danu menatapnya tajam, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak.Dengan sik







