Share

BAB. 5 Dramatis

last update Last Updated: 2025-09-29 12:03:24

Nyonya Dira merasa senang setelah bertukar pesan dengan sahabatnya, Nyonya Neira. Dia pun segera menghampiri suaminya yang sedang membaca surat kabar favoritnya.

"Papi! Mami ada kabar gembira!" serunya antusias.

"Kabar gembira apa sih, Mi?" ucap Tuan Zack yang tiba-tiba kaget, istrinya menghampirinya.

"Papi berhenti dulu membacanya! Dengerin dulu. Mami mau ngomong serius, nih!" tukas Nyonya Dira yang sangat kesal melihat suaminya yang lebih mementingkan membaca surat kabar langganannya, dari pada mendengar istrinya yang akan menyampaikan sesuatu kepadanya.

Tuan Zack segera menghentikan kegiatannya, mendengar istrinya yang mulai bersenandung ria.

Dia lalu memilih duduk di teras samping rumah mereka.

"Please Mi, berhenti!" ujarnya mencoba menghentikan Omelan istrinya.

"Langsung ke intinya saja. Tadi Mami bilang ada kabar gembira yang hendak Mami sampaikan kepada Papi. Kabar apakah, itu?" tanya Tuan Zack.

"Oh iya. Mami hampir lupa, habis Papi sih, ganggu konsentrasi Mami saja."

"Ya sudah buruan cepat katakan, Mi." cecar Tuan Zack.

"Begini Pi, anaknya Jeng Neira, ingin melamar putri kita, Farah." tuturnya.

"Anak Jeng Neira?" ulang Tuan Zack. Sambil berpikir siapa sebenarnya yang akan dijodohkan dengan putrinya itu.

"Iya Pi, anaknya Jeng Neira dan Tuan Theo. Masa kamu nggak kenal sih, Pi?"

Tuan Zack semakin berpikir dengan keras. Akhirnya dia ingat siapa mereka.

"Apa? Anak Si Theo yang sombong itu. Kamu mau jodohkan dengan putri kita?" kaget suaminya.

"Tidak! Tidak akan, Mi! Papi tidak akan pernah merestuinya! Titik!" hardik Tuan Zack lalu kemudian kembali membaca surat kabar yang ada di tangannya dan mulai mengabaikan istrinya.

"Apa-apaan sih, Papi!" kesal Nyonya Dira.

Dia lalu masuk ke dalam rumah dan mulai menelpon kedua mertuanya.

Mami Dira :

"Halo, Oma."

Oma Desi :

"Halo, Nak. Tumben kamu menelpon. Apa ada yang penting?"

Mami Dira lalu menceritakan kepada ibu mertuanya niat dari Jeng Neira untuk menjodohkan Putranya dengan Farah.

"Peter Jacob, apakah dia cucu dari Tania?"

"Iya, Oma! Tepat sekali." Tapi kok Oma bisa tahu tentang neneknya Peter?"

Oma Desi :

"Beliau teman baik Oma dan Opa dulu, saat kuliah. Jika begitu, kami merestui penuh jika Farah dijodohkan dengan cucunya, Tania."

"Tapi, bagaimana dengan Zack, Oma?"

Oma Desi :

"Kamu tenang saja, besok sore kami akan main ke rumah kalian dan berbicara dengan Zack."

Lalu panggilan telepon itu pun berakhir.

Nyonya Dira akhirnya bisa bernapas lega karena kedua mertuanya ada di pihaknya.

Di sebuah kampus ternama di Jakarta Selatan,

Farah sedang berada di kampusnya untuk menemui salah satu dosen pembimbingnya. Dia lalu dicegat oleh Reza, teman satu kampusnya. Padahal dia hendak pulang ke rumah.

"Farah, tunggu!" Dia pun memutar kepalanya dan menoleh ke arah belakang. Farah sangat mengenal suara itu. Suara laki-laki yang dari dulu dirinya kagumi selama empat tahun, menimba ilmu di kampus ini.

Lelaki yang hanya mampu Farah kagumi di dalam hatinya. Dia cukup malu untuk mengungkapkan perasaannya kepada bintang kampus itu.

Apalagi Reza memiliki begitu banyak penggemar di kampus. Mantan pacarnya bertebaran di mana-mana. Orang-orang kampus mengenalnya dengan sebutan pemain wanita.

Namun entah kenapa Farah sangat mengagumi Reza.

"I ... iya Za, ada apa?" lirihnya sambil menundukkan kepalanya.

"Apakah kamu sibuk? Atau kamu hendak pulang?" tanya Pria itu.

"Aku nggak sibuk kok. Tapi aku mau pulang," ucapnya lagi.

"Bisa kah kita ngobrol sebentar di taman?" rayu Reza sambil menampilkan senyum terbaiknya.

"Boleh deh. Tapi sebentar ya, Za?" jawabnya. Alhasil keduanya saat ini sedang berada di taman yang ada di area kampus itu.

"Kamu mau ngomong apa, Za?" tanya Farah gugup. Karena pria itu menatapnya dari tadi.

"Begini ... kita kan sudah lama kenal sebagai teman satu kampus. Sudah empat tahun kita saling mengenal. Namun entah kenapa akhir-akhir ini, bayangan wajahmu selalu membuat aku tidak bisa tidur setiap malam. Aku menjadi gelisah karenanya." Reza mulai mengeluarkan jurus rayuan gombal, andalannya.

Ternyata Farah mulai terperangkap dalam gombalan maut milik pria itu.

"Farah Matthew, maukah kamu menjadi pacarku?" ucap Reza dengan nada santai.

Farah sangat kaget dengan ucapan dari Reza. Dia menjadi terdiam dan tidak mampu menjawab pernyataan perasaan pria itu kepadanya.

"Za ... bukannya kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Farah mencoba mencari kebenaran dari ucapan pria di sampingnya saat ini.

"Mereka itu hanya aku anggap sebagai persinggahan sementara saja. Tidak ada yang istimewa dari mereka. Akan tetapi hatiku hanya mengarah kepadamu saja," ucapnya terus merayu Farah.

"Bagaimana? Apakah kamu mau menjadi pacarku?" Terjadi jeda sedikit lama diantara keduanya. Reza merasa sudah berada di atas langit ke tujuh. Dia sangat yakin jika Farah menerimanya. Karena Reza tahu jika Farah menyimpan perasaan kepadanya sejak dulu.

Setelah terdiam sejenak. Farah pun mulai angkat bicara,

"Za, sebenarnya ..." lirih Farah hendak menjawab pernyataan cinta Reza kepadanya.

Namun disaat Farah hendak berkata-kata lagi. Tiba-tiba ponselnya berdering dan itu berasal dari ibunya.

"Sebentar Za, Mami menelpon." ucapnya lalu mengangkat panggilan telepon itu.

Farah :

"Halo, Mi."

Mami Dira :

"Farah, apakah urusanmu sudah selesai di kampus?"

Farah ,:

"Sudah kok, Mi. Ini Aku mau pulang kok, sekarang."

Mami Dira :

"Baguslah kalau begitu. Segeralah pulang. Oma dan Opa sedang berada di rumah kita saat ini. Opa sedang sakit."

Farah :

"Apa? Opa sakit? Iya Mi, aku akan segera pulang."

Farah segera mematikan panggilan itu. Dia seketika menjadi panik.

Farah yang sangat menyayangi Oma dan Opanya. Dirinya sangat panik saat ini, dia takut terjadi sesuatu dengan sang opa.

"Za, maaf banget saya harus pulang sekarang. Opa saya sedang sakit keras." serunya lalu bersiap-siap untuk pergi.

"Terus yang tadi aku bilang, bagaimana, Fa?" ucapnya mulai memasang wajah memelas penuh kepalsuan.

"Kapan ada waktu, kita bicara lagi," jawabnya, lalu dengan cepat berlalu dari taman itu.

Sepeninggal Farah. Riuh tepuk tangan teman-teman Reza yang ikut mendengarkan pernyataan cintanya kepada gadis itu. Mereka memuji kelihaian Reza mencoba memperdaya Farah, Si gadis lugu.

"Keren! hebat Lo, Bro! Berani banget ungkapin perasaan Lo kepada cewek kutu buku itu!" tukas salah satu dari mereka.

"Ha-ha-ha. Iya, dong! Ayo buruan, suruh anak-anak kumpulkan setoran ke gue!" tuturnya bangga.

Ternyata, saat Reza mengungkapkan perasaannya kepada Farah. Dia sengaja melakukannya. Reza sedang bertaruh dengan teman-temannya. Padahal kebenarannya, dia tidak benar-benar menyukai Farah.

Para pemain wanita di kampus itu, segera menyetor hasil taruhan mereka kepada Reza.

"Coba tadi Farah, menjawab ungkapan cinta gue ke dia. Miskin mendadak Lo, semua!" tukas Reza bangga sambil mulai menghitung rupiah yang dia dapatkan saat ini.

Akan tetapi tanpa mereka sadari, Farah juga berada di taman itu dan mendengar semua omongan mereka. Dia yang buru-buru hendak pulang tadi. Jadi kelupaan membawa buku yang baru saja dirinya pinjam di perpustakan.

Alhasil Farah lalu kembali ke taman itu dan mendengarkan semua perkataan Reza dan teman-temannya.

Hatinya sangat sakit, mendengar semua penuturan pria itu. Ternyata Reza hanya menjadikannya sebagai bahan taruhan.

Farah pun menangis setelah mendengar semuanya dari mulut Reza dan teman-temannya. Dia segera mengambil buku yang ketinggalan itu dan segera berlalu dari taman.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya. Farah menyetir mobilnya sambil menangis. Hatinya sangat sedih mengetahui kenyataan yang ada.

Tiba-tiba saat lampu merah, karena tidak fokus menyetir. Farah menabrak belakang mobil sport milik seorang pria.

Farah langsung menyadari kesalahannya. Dia lalu turun dari mobilnya. Bersamaan dengan itu. Pria yang menyetir mobil sport itu juga ikut ke luar dari mobilnya.

Pria itu sempat terpesona dengan sang gadis, namun dia mencoba menekan perasaannya.

Terlebih saat dia melihat belakang mobilnya yang telah lecet akibat ditabrak oleh mobil gadis itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 104 Keluarga Adalah Anugerah Terindah Dalam Hidup

    Kehidupan Farah dan Peter semakin berwarna setelah kelahiran putra pertama mereka, Jovan Jacob. Jovan, yang kini berusia empat tahun, adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai bagi keluarga kecil ini. Peter dan Farah telah menempuh banyak perjalanan indah bersama, akan tetapi ada kabar baik yang membuat mereka semakin berbahagiaFarah hamil anak kedua, seorang bayi perempuan yang rencananya akan mereka beri nama Feifelin Jacob.Suatu pagi yang cerah, Farah dan Peter duduk di teras belakang rumah mereka sambil menikmati secangkir teh. Farah memandang ke arah Jovan yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya di taman. Dia mengusap perutnya yang semakin besar dengan penuh kasih sayang. "Mas Peter, rasanya tidak sabar menunggu kehadiran Feifelin. Aku yakin dia akan membawa lebih banyak kebahagiaan dalam hidup kita," ujar Farah dengan senyum lembut.Peter menggenggam tangan Farah, menatapnya dengan penuh cinta."Aku juga, Sayang. Jovan pasti akan menjadi kakak yang luar biasa. Aku bisa

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 103 Ulang Tahun Jovan

    Pagi yang cerah di Pantai Ancol, Jakarta Utara. Menjadi tempat yang bagus dan latar belakang sempurna untuk ulang tahun ketiga Jovan Jacob, putra dari Peter dan Farah. Langit biru yang cerah dan angin sepoi-sepoi menambah semaraknya suasana di pantai indah itu. Peter dan Farah memilih tema pantai untuk merayakan momen spesial bagi putra mereka kali ini. Semua persiapan telah dilakukan dengan cermat. Meja-meja telah dipenuhi berbagai jenis camilan dan es krim beraneka rasa sementara beberapa badut Dufan yang disewa oleh Peter juga sudah bersiap dengan atraksi mereka.Di tepi pantai, Farah sibuk mengatur dekorasi terakhir sambil memastikan Jovan yang berlari-lari di sekitar tetap aman. "He-he-he! Mas Peter, kamu sudah pasang balon-balon itu dengan benar?" teriak Farah sambil tertawa melihat suaminya berusaha mengikat balon-balon warna-warni ke tiang-tiang."Sudah, Sayang! Lihat saja, Jovan sangat senang," jawab Peter sambil menunjuk ke arah putranya, Jovan yang sedang bermain dengan

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 102 Kelahiran Baby Jovan

    Farah merasakan nyeri yang semakin intens di perutnya. Dia berbaring di kamar, mencoba mengatur napasnya, namun kontraksi yang datang silih berganti membuatnya sulit untuk tenang. Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Peter, yang sudah beberapa hari ini siaga di rumah, segera mendekatinya. "Farah, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja? Kontraksinya semakin sering, ya?" tanya Peter dengan nada cemas.Farah mengangguk, wajahnya menahan sakit. "Sepertinya sudah saatnya, Mas Peter. Aku perlu ke rumah sakit sekarang," ujarnya sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat.Peter mengangguk cepat, "Baik, aku akan menyiapkan mobil dengan segera. Jangan khawatir, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Sang suami lalu dengan cepat mengambil tas yang sudah mereka siapkan sebelumnya dan membantu Farah berdiri. Dengan hati-hati, Peter menuntun Farah menuju ke mobil dan memastikan dia duduk nyaman di kursi penumpang.Setibanya di rumah sakit, mereka segera disambut oleh bidan dan dokter spesiali

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 101 Acara Tujuh Bulanan

    Ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat kembali menjadi tempat berkumpulnya keluarga dan kerabat dekat untuk merayakan momen istimewa dalam hidup Farah dan Peter. Kali ini, mereka merayakan acara tujuh bulanan kehamilan Farah, sebuah tradisi yang sarat makna dan harapan baik bagi calon ibu dan bayinya. Pagi itu, ballroom telah di dekorasi dengan nuansa tradisional yang elegan. Warna-warna emas dan putih mendominasi, memberikan kesan anggun dan sakral. Meja-meja dihias dengan bunga melati dan mawar putih, sementara di tengah ruangan terdapat panggung kecil yang didekorasi dengan kain batik dan payung tradisional. Di panggung itu, terdapat kursi yang disiapkan untuk Farah dan Peter, tempat mereka akan menjalani serangkaian prosesi.Farah mengenakan kebaya modern berwarna emas dengan sentuhan bordir yang rumit, sementara Peter mengenakan batik berwarna senada. Mereka tampak serasi dan penuh semangat menyambut acara yang penuh doa dan harapan ini.Sekitar pukul sepuluh pagi, para ta

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 100 Acara Baby Shower

    Pada suatu sore yang cerah di Kota Jakarta, Farah dan Peter tengah bersiap-siap menyambut para tamu undangan yang akan hadir di acara baby shower untuk menyambut kelahiran Baby Jovan. Acara tersebut diadakan di sebuah ballroom megah di hotel bintang lima ternama di Jakarta Pusat. Ballroom tersebut dihiasi dengan elegan, menampilkan dekorasi berwarna biru dan putih, simbolisasi akan kelahiran anak laki-laki yang mereka nantikan, Baby Jovan Jacob.Farah mengenakan gaun maternity berwarna biru pastel yang anggun, dengan pita putih besar di bagian pinggang. Peter, di sisi lain, tampil gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu. Wajah mereka tampak berseri-seri, senyuman tak pernah lepas dari wajah keduanya. Peter menggenggam tangan Farah erat-erat, memberikan dukungan penuh kepada istrinya.Saat jam menunjukkan pukul enam sore, tamu-tamu mulai berdatangan. Pintu ballroom terbuka lebar, menyambut para kerabat dan partner bisnis Peter. Tamu pertama yang datang adalah Tuan Rahez dan istriny

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 99 Mempersiapkan Kamar Bayi

    Farah dan Peter sedang berdiri di depan toko perlengkapan bayi yang baru saja mereka temukan di pusat perbelanjaan mewah di kawasan Jakarta Selatan. Udara sore yang sejuk dan matahari yang masih bersinar lembut menemani langkah mereka memasuki toko yang penuh dengan barang-barang imut dan pernak-pernik bayi. Pintu kaca toko berderit ringan saat Peter menariknya terbuka, dan mereka berdua disambut oleh aroma segar bedak bayi yang menguar di seluruh ruangan istimewa itu.Farah menggandeng lengan Peter sambil tersenyum lebar. "Sayang, lihat! Ada banyak pilihan tempat tidur bayi di sini. Aku ingin memilih yang terbaik untuk Jovan," ucapnya dengan antusias.Peter mengangguk, matanya juga mulai berkeliling meneliti berbagai barang yang ada. "Iya, sayang. Kita perlu memastikan semuanya siap sebelum Jovan lahir. Aku akan mulai mencari cat dinding untuk kamar bayi kita," jawab Peter sambil melepaskan tangannya dari genggaman Farah dan berjalan ke arah rak-rak yang penuh dengan kaleng-kaleng c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status