LOGIN"Hei! Apa yang telah Anda lakukan dengan mobil saya?" hardik Peter menggelegar bagaikan petir di siang bolong. Mata elang Peter
menatap tajam ke arah gadis itu. "Maaf Tuan, saya sedang buru-buru, dan sedang tidak fokus saat ini, saya akan mengganti semua kerugian Anda, Tuan." Ujarnya sambil menangis lalu menyerahkan kartu namanya kepada Peter lalu kembali masuk ke dalam mobil dan berlalu dari situ. "Hei ... apa yang sedang Anda lakukan, Nona? Saya tidak butuh butuh kartu nama Anda!" Namun terlambat sang gadis telah pergi dari jalanan itu. Peter malah asyik menatap kepergian mobilnya. Sang pria seakan terhipnotis dengan gadis itu. Dia kembali sadar saat salah satu pengendara di belakang mobilnya mulai membunyikan klakson karena lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi warna hijau. "Tuan! Ayo segera jalankan mobil Anda!" teriak orang itu. Peter menatap tajam ke arahnya lalu mulai masuk ke dalam mobilnya. Dia pun mulai bertanya-tanya dalam hatinya, "Siapakah gadis itu sebenarnya? Berani-beraninya dia pergi sebelum aku selesai bicara!" geramnya, lalu memasukkan kartu nama wanita itu ke dalam saku jasnya. Lalu kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemennya. Sesampai di apartemen, Peter segera menelpon sang asisten, Leon untuk membawa mobilnya yang rusak itu ke bengkel. Ternyata Peter sengaja tidak mempermasalahkan mobilnya yang rusak karena pelakunya adalah perempuan. Mahluk yang paling dia harus hindari saat ini. Di Kediaman Prins, Farah akhirnya sampai di rumahnya. Dia lalu berteriak. "Mami! Opa dan Oma dimana, Mi?" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Lalu tiba-tiba dari arah ruang keluarga terdengar suara sang kalek, "Cucu Opa! Kamu sudah pulang, Farah? seru Opa Tom lalu merentangkan tangannya menyambut kedatangan cucu perempuannya. "Opa!" lirih Farah lalu menghambur masuk ke dalam pelukan kakeknya. "Opa, kata Mami, 0pa dan Oma sedang sedang sakit? Tapi aku lihat, ini Opa sehat-sehat saja." seru Farah senang. Mereka pun melangkah menuju ke ruang keluarga dimana Oma Tania sedang menunggu mereka. "Oma Desi? Oma sakit apa? ucapnya sambil memeluk neneknya yang terlihat sedikit lemas itu. "Oma langsung sembuh saat melihatmu, cucuku," sahut sang nenek. "Oma dan Opa baru pulang berobat di rumah sakit, Farah." Mami Dira menjelaskan kepada putrinya. Lalu tiba-tiba Papi Zack muncul, "Farah, Kamu sudah pulang?" tutur sang ayah senang melihat anak gadisnya. "Sudah, Pi. Baru saja." jawabnya sopan. Lalu memberi salam kepada ayahnya. "Lho, Farah. Kamu tidak mau memeluk papi? Masa hanya Opa dan Oma saja yang ingin kamu peluk?" tukas Tuan Zack kepada anak gadisnya. "He-he-he, Papi. Tumben minta peluk dari aku," sahut Farah namun dia tetap memeluk sang ayah. Tuan Zack lalu membalas memeluk putrinya dengan perasaan sedih. "Sebentar lagi, kamu akan menjadi istri orang, Farah. Itu artinya kamu akan tinggal jauh dari Papi." gumamnya sedih dalam hati. "Farah, ada baiknya kamu ganti baju dulu deh. Setelah itu kita akan makan siang bersama. Papi, Mami dan juga Oma dan Opa akan ngobrol denganmu." Kali ini Nyonya Dira yang angkat bicara. "Baiklah, Mi. Aku ganti baju dulu." ujarnya lalu melangkah menuju ke dalam kamarnya. Saat Farah telah masuk kamar, Opa Tom dan Oma Desi langsung menatap tajam ke arah anaknya, Tuan Zack. "Zack, tolong jelaskan kepada Ayah dan Bunda kenapa kamu tidak setuju jika Farah akan dijodohkan dan menikah dengan anak dari Keluarga Jacob?" "Saya tidak suka melihat ayahnya Peter!" jawab Tuan Theo dengan nada tegas. "Hah? Kenapa kamu membenci ayahnya. Ayo jelaskan, Ayah mau dengar apa alasanmu tidak menyukai ayahnya Peter?" ujar Opa Tom tak kalah tajamnya kepada anaknya, Tuan Zack. "Yang namanya Si Theo Jacob itu, sangat sombong, Ayah! Sok berkuasa!" ujar Tuan Zack tak suka. "Lho Zack bukannya dulu kamu dan Theo adalah teman akrab saat kalian masih kuliah dulu? Kenapa sekarang saat kalian sudah tua malah bertengkar seperti itu?" tanya Opa Tom lagi. "Ya, karena dia sok belagu! Makanya aku tidak menyukainya!" tukas Papi Zack. "Perkataanmu sungguh tak beralasan, Zack! Pokoknya Ayah tegaskan sekarang, jika Keluarga Besar Prins akan menerima lamaran perjodohan dari Keluarga Jacob. Dan awas saja kamu mempengaruhi Farah untuk menentang perjodohan ini! Ayah tidak akan segan-segan membekukan perusahaanmu! Putrimu dan juga istrimu, akan tinggal bersama Ayah dan Bunda. Kamu akan hidup sendiri dan menjadi gelandangan!" ancam Opa Tom yang dibalas anggukan oleh Oma Desi. "Apa-apaan sih, Ayah!" kesal Tuan Zack. Tentu saja dia tidak mau hal itu sampai terjadi. Apalagi ayahnya telah mengangkat akan membekukan perusahaanya dan memisahkannya dengan anak dan istrinya. "Makanya, jika kamu tidak mau itu terjadi. Menurutlah kepada istrimu dan jangan membantah!" Kali ini Oma Desi yang angkat bicara dengan tegas. Sementara Nyonya Dira terlihat tersenyum penuh kemenangan karena ayah dan ibu mertuanya yang terus membelanya. Dia tersenyum mengejek kepada suaminya yang saat ini sedang terpojok. Tak berapa lama setelah itu, Farah keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Dia pun langsung menuju ke ruang makan. Di meja makan telah duduk kedua orang tuanya dan juga kakek dan neneknya. "Farah, sini kamu duduk di samping Opa," tutur Opa Tom kepada cucunya. "Iya, Opa." ucap Farah lalu duduk di sebelah kakek dan neneknya. Mereka pun makan siang dalam diam. "Oma dan Opa, yang banyak makannya, ya?" tutur Farah kepada keduanya. "Iya, Farah." jawab keduanya serentak. Setelah selesai makan seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga karena ada yang ingin disampaikan oleh Opa Tom. "Farah, bagaimana dengan kuliahmu. Apakah lancar?" tanya Oma Desi memulai pembicaraan. "Kuliah ku lancar kok, Oma. Jika tidak ada halangan, aku akan di wisuda bulan depan," jawabnya sopan. "Wah tidak terasa, sebentar lagi cucu Opa akan menamatkan kuliah dan menjadi seorang sarjana. Jangan lupa, jika nanti kamu wisuda, kasi tahu kami. Agar Oma dan Opa bisa datang di acara wisudamu, nanti." sergah Opa Tom. "Iya ... Oma, Opa. Pasti aku akan memberitahukan kepada Oma dan Opa kapan aku akan di wisuda. Aku juga ingin Oma dan Opa hadir saat aku di wisuda," ucap Farah sambil tersenyum. Kedatangan Oma Desi dan Opa Tom di rumahnya, sedikit banyak membuat Farah melupakan apa yang telah dilakukan oleh Reza kepadanya. Lalu Opa Tom memulai pembicaraan serius tentang perjodohan. Sementara Tuan Zack hanya bisa pasrah karena takut dengan ancaman Ayahnya. "Farah ..." ucap sang kakek. "Iya, Opa. Ada apa?" "Opa mau ngobrol sesuatu kepadamu." "Boleh Opa. Jika boleh tahu Opa mau ngomongin tentang apa?" tanyanya sopan. "Ini menyangkut masa depanmu, Farah." sergah Oma Desi. "Apa itu, Oma?" tanyanya lagi karena penasaran. "Opa yang akan mengatakan semuanya sebagai perwakilan keluarga," tutur Oma Desi sambil memberi isyarat kepada suaminya untuk melanjutkan obrolan serius itu. "Begini, Farah. Beberapa hari lalu keluarga dari sahabat Oma dan Opa ingin melamarmu menjadi menantu keluarga mereka." ujar sang mami. "Ma ... maksud Mami, aku dijodohkan?" tanya Farah kaget. "Iya, Farah. Oma dan Opa kenal baik dengan calon keluarga besan kita. Oma dan Opa harap kamu tidak menolaknya." ujar Opa Tom dingin. "Ta ... tapi, aku kan baru selesai kuliah, Opa." lirihnya mencoba untuk protes. "Justru karena kamu sudah lulus kuliah, Oma dan Opa ingin melihatmu menikah, Farah. Opa ingin sekali menggendong cicit darimu," ucap Opa Tom sedih. "Oma juga tidak tahu sampai kapan umur Oma dan Opa. Kamu sangat berharap kamu tidak menolak perjodohan ini," seru sang nenek sambil mulai menitikkan air mata. Farah segera menghampiri kakek dan neneknya nya lalu berkata, "Oma, Opa kok ngomongnya begitu, sih. Aku nggak suka mendengarnya," lirihnya sambil mulai memeluk kakek dan neneknya secara bergantian. "Oma hanya berkata jujur, cucuku," serunya lagi. "Benar apa yang dikatakan Oma, Farah." "Tapi ... Oma, Opa. Tidak ada satu manusia pun yang tau kapan ajal menjemput," tukas Farah sedih. Tiba-tiba kebimbangan melandanya. "Apakah aku menerima saja perjodohan itu? Agar Oma dan Opa bisa semakin sehat?" gumamnya dalam hati. Tuan Zack yang mendengar semuanya hendak membuka suara namun dengan cepat, istrinya menatap tajam ke arahnya. Mengisyaratkan agar dia tutup mulut dan tidak berbicara. Setelah memilah-milah dengan berbagai pertimbangan dalam hatinya, akhirnya Farah pun mulai angkat bicara, "Oma, Opa ... aku akan menerima perjodohan itu asalkan Oma dan Opa berjanji kepadaku untuk selalu sehat dan tidak sakit-sakitan lagi." harap farah kepada kedua kakek dan neneknya. "Benarkah yang kamu katakan itu, Farah?" tanya kakek dan neneknya bergantian, dengan wajah berbinar. Karena mereka berpikir tadinya, jika cucunya akan menolak perjodohan itu. "Iya ... Oma, Opa. Tapi Oma dan Opa jangan lupa dengan apa yang aku katakan tadi," serunya mengingatkan kakek dan neneknya.Kehidupan Farah dan Peter semakin berwarna setelah kelahiran putra pertama mereka, Jovan Jacob. Jovan, yang kini berusia empat tahun, adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai bagi keluarga kecil ini. Peter dan Farah telah menempuh banyak perjalanan indah bersama, akan tetapi ada kabar baik yang membuat mereka semakin berbahagiaFarah hamil anak kedua, seorang bayi perempuan yang rencananya akan mereka beri nama Feifelin Jacob.Suatu pagi yang cerah, Farah dan Peter duduk di teras belakang rumah mereka sambil menikmati secangkir teh. Farah memandang ke arah Jovan yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya di taman. Dia mengusap perutnya yang semakin besar dengan penuh kasih sayang. "Mas Peter, rasanya tidak sabar menunggu kehadiran Feifelin. Aku yakin dia akan membawa lebih banyak kebahagiaan dalam hidup kita," ujar Farah dengan senyum lembut.Peter menggenggam tangan Farah, menatapnya dengan penuh cinta."Aku juga, Sayang. Jovan pasti akan menjadi kakak yang luar biasa. Aku bisa
Pagi yang cerah di Pantai Ancol, Jakarta Utara. Menjadi tempat yang bagus dan latar belakang sempurna untuk ulang tahun ketiga Jovan Jacob, putra dari Peter dan Farah. Langit biru yang cerah dan angin sepoi-sepoi menambah semaraknya suasana di pantai indah itu. Peter dan Farah memilih tema pantai untuk merayakan momen spesial bagi putra mereka kali ini. Semua persiapan telah dilakukan dengan cermat. Meja-meja telah dipenuhi berbagai jenis camilan dan es krim beraneka rasa sementara beberapa badut Dufan yang disewa oleh Peter juga sudah bersiap dengan atraksi mereka.Di tepi pantai, Farah sibuk mengatur dekorasi terakhir sambil memastikan Jovan yang berlari-lari di sekitar tetap aman. "He-he-he! Mas Peter, kamu sudah pasang balon-balon itu dengan benar?" teriak Farah sambil tertawa melihat suaminya berusaha mengikat balon-balon warna-warni ke tiang-tiang."Sudah, Sayang! Lihat saja, Jovan sangat senang," jawab Peter sambil menunjuk ke arah putranya, Jovan yang sedang bermain dengan
Farah merasakan nyeri yang semakin intens di perutnya. Dia berbaring di kamar, mencoba mengatur napasnya, namun kontraksi yang datang silih berganti membuatnya sulit untuk tenang. Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Peter, yang sudah beberapa hari ini siaga di rumah, segera mendekatinya. "Farah, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja? Kontraksinya semakin sering, ya?" tanya Peter dengan nada cemas.Farah mengangguk, wajahnya menahan sakit. "Sepertinya sudah saatnya, Mas Peter. Aku perlu ke rumah sakit sekarang," ujarnya sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat.Peter mengangguk cepat, "Baik, aku akan menyiapkan mobil dengan segera. Jangan khawatir, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Sang suami lalu dengan cepat mengambil tas yang sudah mereka siapkan sebelumnya dan membantu Farah berdiri. Dengan hati-hati, Peter menuntun Farah menuju ke mobil dan memastikan dia duduk nyaman di kursi penumpang.Setibanya di rumah sakit, mereka segera disambut oleh bidan dan dokter spesiali
Ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat kembali menjadi tempat berkumpulnya keluarga dan kerabat dekat untuk merayakan momen istimewa dalam hidup Farah dan Peter. Kali ini, mereka merayakan acara tujuh bulanan kehamilan Farah, sebuah tradisi yang sarat makna dan harapan baik bagi calon ibu dan bayinya. Pagi itu, ballroom telah di dekorasi dengan nuansa tradisional yang elegan. Warna-warna emas dan putih mendominasi, memberikan kesan anggun dan sakral. Meja-meja dihias dengan bunga melati dan mawar putih, sementara di tengah ruangan terdapat panggung kecil yang didekorasi dengan kain batik dan payung tradisional. Di panggung itu, terdapat kursi yang disiapkan untuk Farah dan Peter, tempat mereka akan menjalani serangkaian prosesi.Farah mengenakan kebaya modern berwarna emas dengan sentuhan bordir yang rumit, sementara Peter mengenakan batik berwarna senada. Mereka tampak serasi dan penuh semangat menyambut acara yang penuh doa dan harapan ini.Sekitar pukul sepuluh pagi, para ta
Pada suatu sore yang cerah di Kota Jakarta, Farah dan Peter tengah bersiap-siap menyambut para tamu undangan yang akan hadir di acara baby shower untuk menyambut kelahiran Baby Jovan. Acara tersebut diadakan di sebuah ballroom megah di hotel bintang lima ternama di Jakarta Pusat. Ballroom tersebut dihiasi dengan elegan, menampilkan dekorasi berwarna biru dan putih, simbolisasi akan kelahiran anak laki-laki yang mereka nantikan, Baby Jovan Jacob.Farah mengenakan gaun maternity berwarna biru pastel yang anggun, dengan pita putih besar di bagian pinggang. Peter, di sisi lain, tampil gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu. Wajah mereka tampak berseri-seri, senyuman tak pernah lepas dari wajah keduanya. Peter menggenggam tangan Farah erat-erat, memberikan dukungan penuh kepada istrinya.Saat jam menunjukkan pukul enam sore, tamu-tamu mulai berdatangan. Pintu ballroom terbuka lebar, menyambut para kerabat dan partner bisnis Peter. Tamu pertama yang datang adalah Tuan Rahez dan istriny
Farah dan Peter sedang berdiri di depan toko perlengkapan bayi yang baru saja mereka temukan di pusat perbelanjaan mewah di kawasan Jakarta Selatan. Udara sore yang sejuk dan matahari yang masih bersinar lembut menemani langkah mereka memasuki toko yang penuh dengan barang-barang imut dan pernak-pernik bayi. Pintu kaca toko berderit ringan saat Peter menariknya terbuka, dan mereka berdua disambut oleh aroma segar bedak bayi yang menguar di seluruh ruangan istimewa itu.Farah menggandeng lengan Peter sambil tersenyum lebar. "Sayang, lihat! Ada banyak pilihan tempat tidur bayi di sini. Aku ingin memilih yang terbaik untuk Jovan," ucapnya dengan antusias.Peter mengangguk, matanya juga mulai berkeliling meneliti berbagai barang yang ada. "Iya, sayang. Kita perlu memastikan semuanya siap sebelum Jovan lahir. Aku akan mulai mencari cat dinding untuk kamar bayi kita," jawab Peter sambil melepaskan tangannya dari genggaman Farah dan berjalan ke arah rak-rak yang penuh dengan kaleng-kaleng c







