Share

116. JADI ANEH?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-03-30 15:29:58

            Sisa ketegangan dari pertemuan dengan Adrian di rooftop lounge kemarin sore seolah menguap begitu saja saat aroma kopi arabika yang baru digiling memenuhi ruang kerja Kael.

            Pagi itu, kantor O’Shea Group tampak jauh lebih tenang. Tidak ada lagi desakan dokumen dari pihak Jerman yang harus ditandatangani segera. Semuanya sudah selesai, setid

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Goodnovel Awesomegirl
alahhh thorrr saja jerr akhirkan bab dgn tanda tanya gituuu.....aku ngak bisa kerja tau kalau gini...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   229. LEPASKAN AKU!

    Debu kayu yang beterbangan di antara celah cahaya lampu gudang yang temaram mulai menyiksa indra penciuman Sabrina. Ia bisa merasakan gatal yang hebat di pangkal hidungnya, sebuah desakan biologis untuk bersin yang harus ia tekan sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Sementara di luar sana, suara langkah sepatu pantofel Rama terdengar seperti denting lonceng kematian yang semakin mendekat. Setiap derap langkah itu memicu memori masa kecil yang traumatis, saat ia dan Ganda harus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur yang gelap demi menghindari suara gaduh para orang dewasa di masa lalu. Namun, kali ini monster yang mencarinya bukanlah bayangan masa kelam, melainkan pria yang pernah ia percaya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   228. JANGAN BERPIKIR DANGKAL!

    Aroma antiseptik yang tajam menyeruak di lorong rumah sakit berkelas di kawasan Jakarta Selatan, tempat di mana dinding-dindingnya dilapisi marmer dan keheningan adalah komoditas mahal. Ganda duduk di samping Gladis, menatap lurus ke arah pintu ruang spesialis yang masih tertutup rapat."Seharusnya kau tidak perlu mengaku jadi pacarku di depan mama. Itu hanya membuatku semakin menyedihkan. Mereka pasti akan menuntutmu," bisik Gladis, suaranya parau dan jemarinya bertaut gelisah."Menuntut apa?" tantang Ganda begitu santai, menyandarkan punggungnya tanpa beban.Gladis menoleh, menatap pria di sampingnya dengan pandangan nanar. "Kau bukan pekerja serabutan. Kau anak konglomerat. Cepat atau lambat mama pasti akan tahu siapa kau sebenarnya. Dia pasti akan menuntutmu, seperti Kael dulu sebelum akhirnya aku divonis mengidap sindrom ini.""Sudahlah. Jangan berpikir terlalu jauh," sela Ganda datar

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   227. APA MAUMU?

    Di dalam kabin mobil yang kedap suara, satu-satunya hal yang memenuhi telinga Sabrina adalah degup jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ia kembali menatap layar ponsel, menelusuri riwayat panggilan tak terjawab kepada Ganda yang kini jumlahnya sudah tidak masuk akal. Dengan tangan sedikit gemetar, Sabrina mencoba menghubungi sang ayah. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara berat yang akrab menyapa di ujung sana."Ayah tidak tahu, Sayang. Ganda belum menghubungi ayah sejak tadi pagi," jawab Adrian di tengah kebisingan latar belakang bandara. Tampaknya pria itu baru saja tiba di terminal keberangkatan untuk penerbangan ke Singapura. "Ada apa? Suaramu terdengar cemas. Kau perlu bantuan ayah?"Sabrina memaksakan sebuah senyum kecut, meski ia tahu sang ayah tak bisa melihatnya. "Tidak, Yah. Aku masih bisa mengatasinya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   226. DIA TIDAK MAU MENIKAH

    "Kau terlalu serakah. Seharusnya kau ambil satu saja," komentar Nyonya Maureen memecah kesunyian di dalam kabin mobil mewah itu, sesaat setelah mereka baru saja selesai mengantarkan Sabrina kembali ke apartemennya. Nyonya Maureen melirik ronce melati yang masih menggantung di dasbor dengan tatapan jenaka. Ia tahu betul mitos di balik bunga itu, dan ia tahu lebih baik lagi betapa konyolnya sang cucu karena telah mengambil seluruh rangkaian melati pengantin milik orang lain. Namun, Kael hanya diam. Ia tetap fokus pada kemudi, mengarahkan mobil menuju kediaman megah keluarga O’Shea. Wajahnya tidak bersemangat. Tidak ada binar kemenangan meskipun ia baru saja menghabiskan waktu seharian bersama Sabrina."Ayolah! Apalagi yang bisa kubantu?" tanya sang nenek lagi, suaranya melembut. Ia bisa merasakan kegundahan yang memancar dari

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   225. TENTANG PERNIKAHAN

    Bayangan tentang masa kecil bagi Sabrina bukanlah tawa dan canda di meja makan, melainkan tangisan sang ibu yang sering ditinggal oleh ayahnya. Di sudut ingatannya yang paling gelap, ia masih bisa mendengar isak tangis ibunya yang tertahan di balik bantal, sementara ia dan Ganda bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, saling menggenggam tangan seolah dunia akan runtuh jika mereka melepaskannya. Ya. Sabrina tumbuh besar menyaksikan bagaimana pernikahan hanyalah sebuah transaksi atau penjara. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana Ganda harus mengorbankan perasaannya dan terpaksa menikah hanya demi keuntungan bisnis keluarga yang nyaris karam. Baginya, janji suci tak lebih dari sekadar kontrak yang siap dikhianati, dan cinta hanyalah kata manis untuk menutupi dominasi satu pihak atas pihak lainnya.&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   224. AKU TIDAK BERCANDA

    "Jangan katakan padaku kalau kau yang mengambil ini.” Sabrina berucap dengan nada yang bergetar antara tidak percaya dan geli. Ia mengangkat roncean melati tadi dengan ujung jarinya, membiarkan bunga-bunga putih yang mulai layu namun tetap harum itu menggantung di udara kabin mobil yang dingin. Aroma melati yang semula terasa menenangkan, kini mendadak membuat suasana di dalam mobil mewah itu terasa sesak oleh kecurigaan. Kael tetap bergeming. Pandangannya lurus ke depan, mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang sedikit berlebihan. Indikator kecepatan di dasbor menunjukkan angka yang stabil, namun ketenangan wajah Kael sama sekali tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi di balik telinganya yang mulai memerah panas."Kael, aku serius. Kau sudah membuat satu desa panik! Perias itu hampir menangis karena mengira ada roh halus yang menyembunyikannya," tuntut Sabrina lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi."Mungkin itu melati lain. Victo

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   27. IKUT AKU

    “Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   26. CARA MENJADI MANUSIA?

    Kael melangkah mendekat. Bukannya bertanya siapa yang baru saja keluar dari sana, ia justru melakukan hal yang tak terduga. Ia melepas jas navy mahalnya, lalu dengan gerakan kaku namun tegas, menyampirkannya ke bahu Sabrina yang masih bergetar hebat."Tuan... tidak perlu," bisik Sabrina

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   25. ADA APA DENGANMU?

    "Kael, kau dengar aku tidak sih?" Gladis akhirnya meledak. Bahasa formalnya menguap, digantikan nada merajuk yang biasa ia gunakan saat mereka hanya berdua. "Keputusanmu memindahkan si OB itu ke ruanganmu benar-benar konyol. Semua orang di kantor membicarakannya. Mereka akan mengira aku tidak bec

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   24. JANGAN PINGSAN DI KARPETKU

    Kael yang memiliki pendengaran tajam seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia mendongak, matanya yang abu-abu menatap Sabrina dengan penuh selidik.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status