เข้าสู่ระบบ"Tuan takut ya?"
Suara Sabrina memecah keheningan kabin mobil tepat saat mereka baru saja mematikan mesin di area parkir sebuah pusat perbelanjaan besar di jantung Jakarta.
"Tidak!" bantah Kael tegas.
Pria itu bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebuah gerakan repetitif yang seolah-olah ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri y
Sabrina mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang tajam memindai layar monitor. Ia memperbesar gambar CCTV pada area pintu masuk gudang pelabuhan utara yang ternyata berlokasi di area dermaga tua Pelabuhan Merak. Di sana, ia tidak hanya melihat struktur bangunan tua yang kusam, melainkan sebuah anomali atmosferik yang luput dari pandangan mata awam. Ada distorsi udara yang samar, sebuah efek pelangi tipis yang membiaskan cahaya matahari pagi di sekitar ventilasi gudang."Bukan... itu bukan uap air," bisik Sabrina dengan napas tertahan. Sebagai ahli kimia murni, ia mengenali fenomena itu sebagai refractive index yang tidak wajar akibat pelepasan uap kimia korosif dalam konsentrasi tinggi.
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Nyonya Maureen, menyapu lembut wajah Sabrina yang masih terlelap. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra itu, Sabrina tampak begitu tenang, wajahnya yang damai membuat siapa pun akan teringat pada sosok putri tidur dalam dongeng lama. Tidak ada sisa kemarahan atau isakan pilu yang tadi malam menghancurkan jiwanya; yang tersisa hanyalah kecantikan yang rapuh di tengah badai yang belum usai. Di sudut ruangan, Nyonya Maureen berdiri memperhatikan cucunya dan gadis itu dengan tatapan sayu."Kasihan sekali. Gadis itu pasti selalu merasa terancam," kata sang nenek, suaranya parau oleh usia dan rasa prihatin. Kael hanya diam. Ia
“Victor, dengar aku baik-baik.” Suara Kael terdengar rendah namun tajam, memotong keheningan di dalam panic room yang dipenuhi deretan monitor keamanan. Ia berdiri di dekat meja kontrol sambil memegang telepon satelit dengan erat.“Tarik semua tim Alpha dari sektor timur,” lanjutnya tegas. “Pindahkan mereka ke jalur utama sekarang juga. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun di area ini.” Dari seberang sambungan terdengar suara samar sang kepala keamanan. Kael melanjutkan tanpa memberi jeda.“Pantau setiap pergerakan. Jika ada kendaraan atau orang asing yang mendekat, laporkan padaku sebelum mereka melewati pagar kedua.”Ia berhenti sebentar, menatap layar yang menampilkan halaman rumah besar itu.“Dan Victor,” tambahnya dingin. &l
"Apa maksud Bang Ganda tentang operasi pembersihan itu?" Suara Sabrina memecah keheningan yang menyesakkan, matanya menatap tajam ke arah Kael yang masih menggenggam ponselnya yang sudah gelap. Kael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu ek seolah sedang menimbang beban rahasia yang selama ini ia pikul sendiri."Ada bagian dari sejarah keluarga kita yang sengaja dikubur agar kau bisa tidur dengan nyenyak setiap malam.""Jangan gunakan kalimat klise itu lagi," potong Sabrina cepat, nada suaranya meninggi. "Ayahku tertahan di perbatasan, dan musuhmu menggunakan namanya sebagai senjata. Aku bukan seperti Aliz, anak kecil yang hanya bisa kau beri dongeng sebelum tidur. Katakan yang sebenarnya!"
Kael meletakkan gelas air hangat yang masih mengepul itu ke meja kayu di samping mereka. Suasana hening di dalam panic room membuat suara gesekan gelas dan meja terdengar begitu nyaring. Perlahan, Kael meraih kedua tangan Sabrina, menggenggamnya dengan jemari yang masih terasa dingin. Tatapannya yang tadi sempat melunak kini berubah menjadi sangat serius, mengunci manik mata Sabrina yang masih basah."Aku tidak akan membohongimu dengan kata-kata manis," ucap Kael pelan namun tajam. "Selama nama O'Shea masih melekat pada silsilah ini, ancaman akan selalu mengintai dari bayang-bayang. Aku tidak bisa menjanjikan kedamaian yang kau impikan, tapi aku bisa menjanjikan perlindungan mutlak selama aku masih bernapas." Sabrina merasa dunianya yang selama ini ia susun dengan logika sederhana kini benar-benar hancur berantakan. Ia harus menerima fakta pahit bahwa pria yang ia cintai bukan sekadar CEO sukses, melainkan target permanen dari dendam masa lalu."Ken
Denging panjang memekakkan telinga setelah dentuman itu meledak. Sabrina mematung. Selama beberapa saat, dunianya kehilangan warna dan suara. Ia hanya menatap nanar pada sosok yang terkapar di lantai, sementara getaran hebat mulai menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya. Asap mesiu masih mengepul, mengaburkan pandangan sejenak. Namun, begitu kabut itu menipis, Sabrina jatuh terduduk. Di depannya, sosok pria yang mengenakan jaket yang sangat mirip dengan milik kakaknya tergeletak bersimbah darah. Wajahnya hancur terkena peluru, namun postur dan pakaian itu benar-benar menyerupai Ganda."T-tidak... Bang Ganda..." bisik Sabrina dengan bibir gemetar. Air mata langsung luruh membasahi pipinya. Ia merangkak mendekat, hendak menyentuh tubuh yang sudah tak bernyawa itu, merasa dunianya runtuh seketika. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kain jaket tersebut, langkah kaki yang tegas dan berat bergema di lorong marmer. Sabrina mendongak dan menemuk
"Maafkan aku karena harus merepotkanmu dengan urusan ini, Sab," bisik Kael. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Sabrina. "Selesaikan ini dengan cepat, lalu segera susul aku. Kita bertemu di kantor. Aku tidak suka bekerja sendirian."&n
"Kael, bisakah kau bantu aku membenarkan posisi dudukku? Pinggangku rasanya kaku sekali karena tidak boleh menggerakkan kaki kanan ini sama sekali. Sakitnya sampai ke saraf tulang belakang," rintih Gladis dengan suara yang sengaja dilemahkan, serak dan penuh permohonan.&
Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol terasa begitu panjang bagi Sabrina. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu flat berbunyi ritmis, menciptakan gema di antara dinding-dinding putih yang pucat. Ia berjalan
Malam di Surabaya kian larut, namun udara di dalam kabin sedan mewah itu terasa jauh lebih berat daripada kelembapan di luar sana. Kael mencengkeram kemudi dengan presisi yang kaku. Matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang memantulkan pendar lampu merkuri, sementara pikirannya entah







