Share

61. SATU SUAP SAJA

Author: A mum to be
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-09 18:27:05

"Jangan berharap banyak. Aku jarang berada di sini," gumam Kael datar.

            Sabrina bangkit dari lantai, merapikan gaun sutra hitamnya yang kini sudah tidak berbentuk. Ia mendekat dengan langkah ragu, mengintip ke dalam lemari pendingin itu. Matanya membelalak. Di sana, tertata rapi barisan air mineral premium, beberapa kotak susu almond, kopi botolan, dan deretan makanan kaleng yang tersusun seperti pr

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   255. KAU MEMBUATKU TAKUT

    "Dalam dunia keluarga kita, garis antara bisnis dan keamanan fisik itu tidak pernah ada," sahut Kael dengan nada yang mendadak sangat dingin. Ia berdiri tegak, bayangannya jatuh menutupi meja kayu ek yang kokoh.Sabrina mendongak, menatap pria itu dengan alis berkerut dalam. “Jangan mengada-ada. Kau pasti mengerjaiku,” ucapnya pura-pura tak percaya walau di dalam hati meragu."Kau pikir saham dan angka di layar itu satu-satunya cara orang menjatuhkan kita?" Kael tertawa hambar, sebuah suara yang tidak memiliki sedikit pun unsur humor. "Kadang, peluru lebih cepat daripada surat gugatan."Sabrina mendengus, mencoba mencairkan suasana yang terasa terlalu berat untuknya. "Wah, kau bicara seolah-olah kau ini bos mafia di film-film. Apa setelah ini kau akan memaksaku memakai rompi antipeluru juga?""Kalau itu bisa membuatmu tetap hidup, aku akan memakaikanmu dua lapis," jawab Kael tanpa ekspresi."Kau berlebihan," gumam Sabrina sambil menyila

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   254. PEMBERONTAK?

    Mobil hitam mewah itu melaju cepat membelah kegelapan pinggiran kota. Lampu depannya menyapu jalanan berliku yang diapit deretan pohon pinus tinggi, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di aspal basah. Sementara Sabrina duduk kaku di kursi penumpang, mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat. Matanya berkali-kali melirik ke arah Kael. Profil pria itu tampak tegang. Rahangnya mengeras, dan sorot mata yang biasanya menyimpan ejekan santai kini berubah tajam dan dingin. Ada aura otoriter yang belum pernah Sabrina lihat sebelumnya.Kecepatan mobil tidak juga berkurang.“Kael… kita tidak perlu ngebut seperti ini,” gumam Sabrina pelan, mencoba menenangkan suasana.Kael tidak menoleh.“Pegang sabukmu dengan benar,” jawabnya singkat.&

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   253. PRIA MURAHAN

    "Ceknya, Mbak. Saya permisi sekarang juga," ucap Sabrina dengan nada ketus yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.Sret! Suara derit kursi yang bergesekan dengan lantai marmer restoran itu terdengar begitu nyaring, membelah kebisingan area lounge yang eksklusif. Sabrina berdiri secara mendadak, membuat beberapa pelayan dan tamu menoleh ke arahnya, termasuk sepasang manusia di meja sudut yang sejak tadi menjadi pusat badai di hatinya. Kael tidak menoleh sedikit pun. Pria itu tetap bersikap acuh tak acuh, justru sengaja tertawa rendah menanggapi candaan manja dari wanita berpakaian minim di hadapannya. Tawa itu terdengar begitu menyakitkan di telinga Sabrina, seperti sembilu yang menyayat tepat di atas luka rasa bersalahnya pagi tadi. Rasa sesak di dadanya memuncak, perpaduan antara cemburu yang membakar dan amarah me

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   252. TAHU DIRI?

    Oh ya ampun! Sabrina merasa pusing tujuh keliling menghadapi pria di dekatnya ini. Gadis itu menarik napas lalu mengembuskannya dengan kasar.“Sudah ya. Jangan cari gara-gara!”“Aku tidak cari gara-gara,” bantah Kael dengan nada datar namun menuntut, tangannya sudah bersidekap di depan dada. “Sekarang jawab pertanyaanku saja. Lagipula apa tadi? Kau ingin bilang apa?”Sabrina memalingkan wajah, enggan menatap manik mata abu-abu pria itu. “Tidak jadi.”“Jawab saja, Sabrina. Kau tahu aku benci kalimat yang menggantung.” Sabrina hendak melenggang pergi menuju pintu keluar untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut. Namun, dengan gerakan yang lebih cepat, Kae

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   251. SAMA-SAMA KERAS

    “Kalau kau tidak mau menjawab, aku akan tanya pada Mas Teguh.” Sabrina lantas menoleh pada Teguh yang baru saja mengangkat kepala setelah mendengar pernyataan menohok barusan. Orang kepercayaan Kael itu mematung di tempat. Bingung dengan situasi yang menjadikannya terjepit saat ini.“Tanyakan saja padanya!” ujar Kael dengan suara ketus. Matanya menatap Teguh acuh tak acuh.“Mas, tolong jawab pertanyaanku. Si Tua ini tidak punya mulut sepertinya,” desak Sabrina. Teguh jelas terkejut bukan main. Sementara Kael berusaha menahan suaranya agar tak meledak marah.“Maaf, Nona. Saya tidak punya hak untuk ini,” ucap Teguh sembari meringis pelan. Dia menatap Kael dengan wajah yang sudah merah padam. “Tuan, saya permisi dulu.”“Mas Teguh takut ya sama dia?” Teguh hanya tersenyum kecut lalu buru-buru berjalan meninggalkan apartemen itu. Kini yang tersisa hanya Sabrina dan Kael yang saling menatap sinis satu sama lain.“Kau? Beraninya kau berkata tentangku di de

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   250. LAPORAN DARI BERLIN

    Kael baru saja bangkit untuk mendekati monitor interkom ketika rahangnya mendadak mengeras. Di layar digital yang berpendar itu, sosok Teguh berdiri dengan raut wajah tenang sekaligus misterius."Tuan Kael," suara Teguh terdengar tertahan dan sedikit parau melalui speaker interkom. "Maaf mengganggu Anda sepagi ini, tapi ini benar-benar darurat. Saya baru saja mendapat kabar krusial dari Berlin dan ada dokumen fisik yang harus Anda lihat sekarang juga secara langsung. Ini terlalu berisiko untuk dibicarakan melalui sambungan telepon." Sabrina yang masih berdiri mematung di dekat meja makan dengan sisa sandwich di tangannya, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melihat perubahan drastis pada Kael. Binar jahil y

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   58. KENAPA JAUH SEKALI?

    Untuk pertama kalinya, bukan seragam abu-abu kaku dengan kerah tinggi yang Kael lihat. Bukan pula celemek pelayan yang sering kali tampak lusuh karena debu pekerjaan. Di hadapannya kini, Sabrina tampil dalam balutan tunik sederhana berwarna krem yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Ram

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   57. BU NENEK

    Minggu pagi itu, Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat. Langit biru bersih memayungi perjalanan mobil sedan hitam yang meluncur tenang menuju kawasan Jakarta Barat. Di dalam kabin yang kedap suara, Sabrina duduk berdampingan dengan Nyonya Maureen. Ya. Pagi ini, Sabrina men

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   56. OBROLAN MALAM MINGGU

    Malam Minggu di kediaman mewah keluarga O’Shea tidaklah diisi dengan pesta pora atau dentuman musik yang memekakkan telinga. Sebaliknya, suasana tenang yang elegan menyelimuti ruang tengah. Di sana, di atas sofa beledu yang

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   55. TAWARAN DARI GLADIS

    Hujan badai yang menghantam Jakarta sore itu seolah menjadi tirai sempurna untuk sebuah pertemuan yang tidak semestinya terjadi. Gladis memilih sebuah kafe tua di pinggiran kota yang sudah hampir tutup, tempat yang jauh dari jangk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status