Compartilhar

157. TAMU KAEL

Autor: A mum to be
last update Data de publicação: 2026-04-13 15:21:36

            Denting harpa yang mengalun lembut di balairung mewah itu mendadak terasa seperti kebisingan yang mengganggu di telinga Kael. Ponsel di saku jasnya bergetar dengan ritme yang mendesak, memaksa pria itu untuk menarik diri dari tatapan dingin Sabrina. Begitu melihat kontak yang berasal dari rumahnya, dia langsung bergegas.

Kael sedikit menjauh dari meja makan, mencari sudut yang lebih sunyi sebelum mengangkat panggilan te

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   159. PIKIRAN YANG BERISIK

    Bunyi klik logam yang beradu saat kunci pintu berputar menjadi satu-satunya pembatas antara Sabrina dan dunia luar yang mendadak terasa mengancam. Begitu grendel terkunci rapat, seluruh kekuatan yang menyangga tungkai Sabrina menguap begitu saja. Ia membiarkan punggungnya merosot pada permukaan pintu jati yang dingin dan keras, sebuah tekstur kasar yang kini menjadi satu-satunya pegangan nyata bagi tubuhnya yang gemetar hebat. Di dalam dekapannya, Aliz bergerak gelisah."Ma... Mama?" gumam bocah itu pelan. Suaranya serak, khas anak kecil yang dipaksa bangun oleh kegelisahan orang dewasa yang menggendongnya. Sabrina tersentak, segera melonggarkan pelukannya yang tanpa sadar sempat mengerat seperti lilitan ketakutan.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   158. APA AKU BEGITU BURUK?

    "Sayang, apa dia anakmu?" Suara Nyonya Maureen pecah di tengah kesunyian koridor penthouse yang dingin. Wanita tua itu melangkah maju, tangannya yang terbalut sarung tangan renda tipis gemetar saat mencoba menyentuh jemari kecil Aliz yang terkulai di bahu Sabrina. Matanya yang biasanya teduh kini dipenuhi oleh keterkejutan yang nyata, bercampur dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan. Sabrina mematung. Napasnya tertahan di tenggorokan, membuat dadanya terasa sesak. Sebelum ia sempat memilah kata untuk menjawab, Aliz bergerak gelisah dalam gendongannya. Bocah kecil itu mengeluarkan rengekan panjang, menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Sabrina sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas."Maaf, Nyonya. Dia sepertinya sudah sangat mengantuk. Saya harus segera membawanya masuk. Sampai jumpa," ujar Sa

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   157. TAMU KAEL

    Denting harpa yang mengalun lembut di balairung mewah itu mendadak terasa seperti kebisingan yang mengganggu di telinga Kael. Ponsel di saku jasnya bergetar dengan ritme yang mendesak, memaksa pria itu untuk menarik diri dari tatapan dingin Sabrina. Begitu melihat kontak yang berasal dari rumahnya, dia langsung bergegas.Kael sedikit menjauh dari meja makan, mencari sudut yang lebih sunyi sebelum mengangkat panggilan tersebut. "Ya? Ada apa?""Tuan Muda, mohon maaf. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa Nyonya Maureen baru saja tiba di lobi apartemen. Beliau bersikeras ingin menunggu Anda di depan unit sekarang juga." Jantung Kael seolah berhenti berdetak sesaat. Panik, sebuah perasaan yang jarang sekali menghampiri pria setenang dirinya, kini menjalar cepat di bawah kulitnya. Kenapa sang nenek malah menyusulnya?&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   156. KENAPA AKU HARUS PURA-PURA?

    "Aku tidak pernah mengatakan kalau aku sudah menikah dan punya anak. Kenapa aku harus pura-pura?" Ungkapan Sabrina barusan meluncur begitu tenang, namun dampaknya membuat Kael terperangah. Pria itu menatap Sabrina yang masih memegang serbet dengan raut wajah tanpa dosa. Kael merasa seperti baru saja dipukul oleh kenyataan yang ia susun sendiri di kepalanya. Selama ini ia menyiksa dirinya sendiri dengan pikiran bahwa Sabrina telah dimiliki orang lain. Namun, begitu mengetahui yang sebenarnya, Kael menyadari satu hal. Ia telah terjebak dalam asumsinya sendiri. Kael menggeram rendah, suaranya sarat akan rasa frustrasi yang tertahan. "Tapi kau seolah menghindariku?"Kapan?" tanya Sabrina pendek. Ia mengangkat bahu dengan elegan, menatap Kael dengan binar mata ya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   155. MASAKANMU ENAK

    Keheningan yang menyergap ruang makan itu terasa begitu padat. Namun entah bagaimana, tidak lagi terasa mengancam seperti sebelumnya. Sabrina terus menyibukkan diri dengan serbet di tangannya, mengelap permukaan meja kayu yang sebenarnya sudah bersih mengkilap. Ia bisa merasakan tatapan Kael yang tidak lepas darinya. Tatapan yang berat, intens, dan seolah sedang mencoba membaca setiap baris luka yang ia simpan selama tiga tahun ini. Kael akhirnya berdiri. Suara gesekan kaki kursinya di lantai marmer membuat Sabrina sedikit tersentak, memecah kesunyian yang mencekam. Pria itu tidak berjalan menuju pintu keluar, melainkan melangkah perlahan mendekat ke sisi meja tempat Sabrina berada. Langkah Sabrina terhenti. Ia meremas serbet di tangannya saat menyadari jarak di antara me

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   154. APA KAU KEBERATAN?

    "Sayang, apa kau keberatan kalau Kael ada di sini?" tanya Adrian pelaan. Suara sang ayah terdengar tenang, namun tetap membawa otoritas kebapakan yang tidak memberi ruang bagi bantahan kasar. Sabrina mengerjapkan mata, menyadari bahwa semua pasang mata kini tertuju padanya, menanti reaksi. Ia mencuri pandang ke arah Kael. Pria itu tampak sangat serba salah, bahunya kaku dengan sorot mata yang gelisah. Sabrina akhirnya mengulas senyum singkat yang tipis, nyaris transparan, namun tetap terasa tulus sebagai bentuk sopan santun."Tidak masalah," jawab Sabrina pelan seraya melangkah maju untuk meletakkan nampan ke meja. Kael tidak bisa melepaskan pandangannya dari setiap gerak-gerik Sabrina. Malam ini, wanita itu melepaskan topeng profesionalnya. Tak ada setelan kantor yang kaku atau gaun mewah yang membatasi gerak. Sabrina hanya mengenakan kaus oversized berwarna krem dan celana legging hitam yang membalut kaki jenjangnya. Rambut panjangnya dicepol asal

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   72. GANDA GENDENG!!

    "Kita bisa melaporkannya ke kantor polisi sekarang juga. Bukti transaksi digital ini sudah lebih dari cukup untuk menyeretnya ke penjara," ucap Kael dengan nada rendah yang sungguh-sungguh. Matanya menatap tajam, menunggu reaksi Sabrina yang ia harap akan meledak marah.&

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   71. APA LIHAT-LIHAT?

    Suasana di dalam mobil mewah itu mendadak menjadi sangat tipis. Kalimat Kael yang menyebut kata hina masih terngiang di telinga Sabrina, membakar sisa-sisa harga diri yang ia coba kumpulkan sejak pagi.&nb

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   70. TAHU POSISI

    Pagi itu, Sabrina berjalan di koridor kantor dengan punggung tegak, namun tatapannya kosong. Pakaian formal pemberian Kael terasa sangat pas di tubuhnya, tapi ia tidak merasa nyaman memakainya. Di meja kerjanya, Sabrina bekerja de

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   69. BUKAN YANG PERTAMA

    Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status