ANMELDEN"Aku pikir itu terserah keduanya saja. Sebagai orangtua kita hanya bisa mendukung," ungkap Adrian sambil tersenyum pada Sabrina, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak membeku pasca-pertanyaan di luar dugaan barusan.
Nyonya Maureen mengedarkan pandangannya pada Sabrina dan Kael secara bergantian, mengamati kediaman sejenak sebelum akhirnya ia terkekeh pelan. "Benar juga. Mungkin aku yang terlalu buru-buru. Maklum saj
Suara obrolan para petinggi bisnis dan denting gelas sampanye yang saling beradu di dalam ballroom mewah itu perlahan mulai terasa menjemukan bagi Sabrina. Sejak melangkah masuk melewati pintu ganda berlapis emas tadi, kakinya yang ditopang heels tinggi dipaksa untuk terus berdiri, mengekor di samping sang ayah. Adrian tampak begitu menikmati malamnya, tersenyum lebar sembari menyalami satu per satu rekan bisnis lama maupun baru yang datang menghampiri tanpa putus. Menyadari atensi sang ayah baru saja teralih dari seorang kolega, Sabrina segera memanfaatkan celah itu. Ia menarik sedikit ujung jas formal Adrian, mencoba mendapatkan perhatian penuh dari pria paruh baya tersebut."Aku cap
"Mana? Aku mau lihat!" Sabrina menatap Kael dengan sepasang mata yang menyipit penuh curiga. Telapak tangannya terjulur di atas meja pantry, menuntut benda pipih yang baru saja dijauhkan Kael secara sepihak tadi. Namun, kekasihnya itu pandai berkilah. Kael mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, memanfaatkan keunggulan tingginya sembari mengulas senyum jenaka yang dipaksakan. "Sudahlah. Tidak ada apa-apa. Hanya masalah teknis yang belum selesai. Kau tidak perlu pusing memikirkannya.""Kalau tidak ada apa-apa, kenapa disembunyikan?" desak Sabrina, tidak mau kalah. Ia merangsek maju, mencoba menggapai lengan Kael. Kael yan
Pekikan tertahan dari Sabrina itu refleks membuat Kael menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, membawa SUV hitamnya meluncur pelan menjauhi pembatas gerbang Zona Karnivora. Di luar kaca jendela, macan tutul besar yang sempat menempelkan cakar gempalnya itu melompat turun dengan anggun, kembali melebur bersama rimbunnya semak-semak, meninggalkan jejak napas berembun di kaca mobil yang perlahan memudar seiring laju kendaraan."Wah!!" seru Aliz dari kursi belakang, melompat-lompat kecil di pangkuan Adrian tanpa rasa takut sedikit pun.Kael melirik spion tengah, mengulas senyum tipis yang dipaksakan demi menenangkan suasana. "Iya, Aliz. Dia hanya ingin menyapa saja.""Kael, kau tidak apa-apa?" tanya Sabrina, menyandarkan punggungnya pada jok mobil sembari mengusap dadanya yang naik turun. "Jantungku hampir copot melihatnya tadi."
"Aliz lapar ya? Ikut Opa sebentar yuk, kita lihat burung di sebelah sana sambil cari susu hangat. Mama Sabi sedang lelah." Suara barusan menjadi penanda bahwa Adrian langsung bergerak cepat. Pria paruh baya itu menggendong Aliz yang masih sesenggukan menjauh dari area meja makan, memotong tantrum sang cucu sebelum kalimat polosnya melukai perasaan Sabrina lebih dalam lagi. Adrian menarik napas berat, menyadari bahwa kehadiran Gladis sebagai calon ibu baru di hidup Aliz memang mulai memicu gesekan emosional dan pembagian peran yang membingungkan bagi ingatan balita tersebut. Begitu Adrian dan Aliz menghilang dari pandangan, Kael tidak membuang waktu. Ia langsung berpindah tempat duduk ke kursi lipat di sebelah Sabrina. Tanpa memedulikan gengsi atau suasana terbuka di sekitar perkemahan, tangan k
"Hei, jangan berpikir kalau aku sedang memaksamu atau menuntut sesuatu," ucap Kael dengan nada suara yang mendadak terdengar sedikit terbakar kegugupan. Ia berdeham pendek, mencoba menetralkan debar di dadanya sebelum melanjutkan dengan kalimat yang sedikit terbata-bata. Ia la bahkan meremas lembut kedua tangan Sabrina. "Aku... aku hanya ingin kita bertukar pikiran. Yaa, semacam itulah." Sungguh, di dalam benak Kael saat ini, ada rasa takut yang teramat besar yang mendadak menyergap jiwanya. Kael tahu betul seberapa dalam luka yang tersimpan di dalam diri gadis itu. Ia mendadak cemas jika pertanyaannya barusan justru bertindak seperti pemicu yang membangkitkan kembali trauma masa lalu Sabrina yang ia tahu belum benar-benar pergi sepenuhnya. Namun, alih-alih meledak marah, tersinggung, atau menu
Kabut tipis khas pegunungan masih menyelimuti area perkemahan Taman Safari saat matahari perlahan menyembul dari balik bukit. Udara pagi yang segar dan aroma tanah basah seketika mengusir sisa-sisa ketegangan malam tadi. Di dekat area padang rumput yang tak jauh dari tenda, suara tawa melengking Aliz terdengar bersahutan dengan anak-anak seusianya yang juga sedang berlibur di sana. Adrian tampak berdiri tidak jauh dari cucunya, mengawasi dengan senyum hangat sembari sesekali melambaikan tangan tatkala Aliz memamerkan mainannya kepada teman-teman barunya. Sementara itu, di depan tenda utama, suasana domestik yang jauh lebih tenang sedang tercipta. Sebuah meja lipat kecil telah digelar di atas tikar. Kael baru saja selesai menata beberapa piring dan gelas plastik, lalu memi
"Saya hanya membela diri. Permisi," Sabrina melangkah melewati Gladis dengan bahu tegak, membiarkan aroma detergen dari seragamnya beradu dengan parfum mahal Gladis yang terasa menyesakkan. Sabrina terus berjalan menuju rua
Sinar matahari sore menembus jendela kaca besar di ruangan itu. Di sudut ruangan, Sabrina masih tenggelam dalam tumpukan berkas yang dipercayakan Kael padanya. Matanya yang lelah terus menelusuri barisan angka, sementara jemarinya dengan lincah menekan tombol kalkulator. Seb
“Kael," suara Nyonya Maureen memecah keheningan, serak namun tajam. "Kau sudah tidak berurusan dengan mereka lagi, 'kan? Katakan padaku kau tidak membawa hantu-hantu Dublin itu ke sini."Kael menegang. Ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah topeng ketenangan yang sempurna. "Tidak ada hantu, tida
"Sumpah, Mbak. Beneran. Kenalin. Nama saya Teguh," pria itu mengangkat kedua tangannya, menyadari reaksi panik Sabrina. "Anaknya Pak Dadang. Bapak saya resign karena tangannya cedera parah sewaktu insiden begal tempo hari. Saya yang menggan







