Share

5. AKU TIDAK SETUJU

Author: A mum to be
last update Last Updated: 2026-01-21 19:07:13

“Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”

“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memilih orang yang bisa kupercaya.”

Kael mendengus, tawa getir lolos dari bibirnya. “Percaya? Bahkan Grandma baru mengenalnya beberapa jam. Dia hanya seorang Office Boy dari divisi kebersihan kantorku. Kita tidak tahu latar belakangnya, motivasinya, atau apa yang dia incar.”

 “Dan dalam beberapa jam itu,” potong Maureen, “dia terjaga dua kali saat aku kesakitan. Dia tidak panik. Tidak memanggil-manggilmu. Tidak membuat keributan. Dia duduk di kursi itu,” telunjuknya mengarah ke sudut kamar, “dan tetap di sana sampai aku bisa bernapas normal.”

“Aku tetap tidak setuju.”

            Suara Kael memecah pagi yang masih terlalu sunyi untuk perdebatan. Jasnya sudah rapi, jam tangannya berkilau dingin, seolah hari ini seharusnya berjalan normal. Seolah tidak ada perempuan asing yang tidur di kamar neneknya semalam.

            Nyonya Maureen menatapnya tanpa ragu. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap setajam biasa.

“Aku tidak meminta persetujuanmu,” jawabnya tenang.

Kael mengepalkan rahang. “Grandma, ini rumahku.”

“Dan  aku nenekmu. Aku belum mati,” potong Nyonya Maureen, suaranya tidak meninggi, tapi cukup untuk menghentikan siapa pun. “Aku yang sakit. Aku yang tahu apa yang paling kubutuhkan.”

            Keduanya sama-sama diam dengan tatapan yang tak mau mengalah.

            Sabrina berdiri sedikit di belakang, tangan saling menggenggam. Seragam OB-nya masih sama seperti kemarin. Rapi, bersih, tapi terasa begitu salah tempat di rumah semewah ini. Ia menunduk, berusaha mengecil, berharap tak menjadi alasan perdebatan yang semakin tajam.

Tatapan Kael mengeras. “Keputusan ini tidak rasional.”

“Justru sangat rasional,” sahut Maureen. “Dia bekerja pagi sampai sore di kantormu. Malamnya, dia di sini. Aku tidak butuh perawat penuh waktu. Aku butuh seseorang yang hadir.”

            Nyonya Maureen lantas meninggalkan kamarnya. Dia memberi kode pada Sabrina lewat lirikan mata agar mengikuti langkahnya.

            Kael masih terdiam. Argumen itu, sekali lagi menyasar titik yang tidak bisa dibantah. Ia menatap Sabrina yang masih tak berkutik. Lama. Seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak tertulis di atas kertas mana pun.

“Ini bukan tawaran,” katanya akhirnya, dingin. “Kau tidak digaji di rumah ini. Kau tidak punya hak apa pun. Kau tetap OB di perusahaan. Dunia ini dan kantor adalah dua hal berbeda.”

Sabrina mengangguk cepat. “Saya mengerti, Pak.”

“Dan begitu kondisi Grandma stabil,” lanjut Kael, “kau benar-benar harus pergi.”

“Iya, Pak.”

“Ingat! Jangan coba-coba mengambil keuntungan dari kebaikan hati nenekku!!”     

            Kael berbalik, jelas menutup pembicaraan. Kemenangan itu, sekecil apa pun rasanya jatuh ke tangan Nyonya Maureen.

            Beberapa jam kemudian, rumah kembali ke ritmenya yang tenang.

            Sabrina membantu menyiapkan teh untuk Nyonya Maureen. Gerakannya cekatan, tanpa suara berlebihan. Ia tidak bertanya, tidak bercerita, tidak mencoba mengambil simpati. Itu justru yang membuat Maureen memperhatikannya.

“Kau tidak banyak bicara,” ujar Maureen pelan.

“Saya tidak ingin salah bicara, Nyonya.”

Maureen tersenyum samar. “Rumah ini penuh orang yang terlalu banyak bicara.”

            Belum sempat Sabrina menjawab, suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah depan.

Langkahnya mantap, seolah rumah itu sudah hafal ritmenya.

“Kael?”

Suara itu ringan, percaya diri, dan terlalu akrab untuk disebut tamu biasa.

            Seorang perempuan tinggi melangkah masuk. Rambutnya tersisir rapi, gaunnya sederhana tapi jelas mahal. Ia berhenti tepat di ambang ruang tamu. Pandangannya langsung jatuh pada Sabrina. Bukan tatapan kaget. Lebih seperti pengamatan.

            Dari ujung sepatu Sabrina yang polos, seragam OB yang masih kusut, hingga posisi berdirinya yang terlalu dekat dengan Nyonya Maureen. Alis perempuan itu terangkat tipis.

“Oh,” ucapnya ringan. “Aku tidak tahu kalau Kael punya pekerja baru.”

Sabrina refleks menunduk. “Selamat pagi.”

Perempuan itu tersenyum. Senyum rapi. Terlatih. Tidak sampai ke mata.

“Pagi,” balasnya singkat.

Pandangan itu bergeser ke Nyonya Maureen. “Selamat pagi Nyonya Maureen. Apa kabar?” tanyanya sekadar berbasa-basi.

Nyonya Maureen mengangguk lalu membalas dengan suara datar. “Pagi.”

“Sejak kapan Kael merekrut…”

Sebelum kalimat tadi berlanjut, Nyonya Maureen sudah memotong ucapannya, “Dia bekerja untukku.”

Jawaban barusan terdengar singkat. Terlalu singkat.

Perempuan itu menoleh perlahan ke arah Kael yang baru masuk ruangan. “Begitu ya?” katanya sambil tersenyum tipis.

Kael berhenti melangkah. “Gladis.”

            Satu kata. Seperti peringatan. Gladis menoleh kembali ke Sabrina. Kali ini, tatapannya tidak lagi sekadar menilai. Ada sesuatu yang sedang disusun di balik sorot mata itu. Ia melirik Kael sekilas, lalu kembali ke Sabrina. Senyumnya tetap terjaga.

“Semoga betah ya,” ucapnya.

            Kalimat yang terdengar ramah. Namun entah kenapa, Sabrina merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Karena ia tahu bahwa kata-kata itu bukan sambutan, tetapi peringatan yang mengancam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   6. SEJAK KAPAN?

    Jam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli kebersihan keluar ruangan. Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan lantai marmer yang dingin. Bau cairan pembersih menyeruak, bau yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.“Pagi, Sab.”Rani muncul dari arah pantry, membawa sapu dan ember kecil. Langkahnya santai.“Pagi,” jawab Sabrina sambil terus berjalan.Rani memperhatikannya lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa sih? Mukamu pucat banget.”“Kurang tidur,” jawab Sabrina singkat.“Kamu itu tiap hari kurang tidur,” Rani mendecak. “Tapi hari ini beda. Kayak habis mikir berat. Padahal kemarin ‘kan libur. Harusnya senang dong karena masih bisa kerja lagi.”Sabrina tersenyum tipis. “Iya ya, Ran. Kamu benar juga.”

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   5. AKU TIDAK SETUJU

    “Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memilih orang yang bisa kupercaya.”Kael mendengus, tawa getir lolos dari bibirnya. “Percaya? Bahkan Grandma baru mengenalnya beberapa jam. Dia hanya seorang Office Boy dari divisi kebersihan kantorku. Kita tidak tahu latar belakangnya, motivasinya, atau apa yang dia incar.” “Dan dalam beberapa jam itu,” potong Maureen, “dia terjaga dua kali saat aku kesakitan. Dia tidak panik. Tidak memanggil-manggilmu. Tidak membuat keributan. Dia duduk di kursi itu,” telunjuknya mengarah ke sudut kamar, “dan tetap di sana sampai aku bisa bernapas normal.”“Aku tetap tidak setuju.” Suara Kael memecah pagi yang masih terlalu sunyi untuk perdebatan. Jasnya sudah rapi, jam tangannya berkilau dingin, s

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   4. KENAPA HARUS DIA??

    Sabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk.Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna gading. Aroma samar yang menenangkan, seperti teh chamomile dan kayu manis. Bukan bau lembap kamar kosnya. Bukan pula bau cairan pembersih yang biasa menempel di seragamnya. Sabrina menegang. Ingatan semalam menghantamnya sekaligus. Rumah besar itu.Tatapan dingin Kael. Dan tubuh rapuh Nyonya Maureen yang terhuyung sambil memegangi dada. Ia menoleh ke samping. Nyonya Maureen tidak ada di ranjang. Jantung Sabrina berdegup lebih cepat. Ia langsung duduk, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Seragam kebersihan itu masih melekat di tubuhnya. Tampak kusut, tapi utuh. Ia menghela napas lega kecil. Beberapa saat setelahnya pintu kama

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   3. TIDAK BISA MENOLAK

    Kael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitungan yang dingin. Sementara Sabrina masih menunduk. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia berdiri di antara sofa mahal dan lampu kristal, merasa seperti noda kecil yang salah tempat. Setiap detik terasa menekan, seolah rumah ini sendiri menolaknya.“Aku tidak mengatakan begitu,” ucap Kael akhirnya. Suaranya rendah, tertahan. “Tapi caramu bertindak seolah aku tidak punya suara di rumah ini, Grandma.” Nyonya Maureen menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada tongkat. Posturnya rapuh, namun wibawanya tetap utuh.“Aku membiarkan gadis ini masuk,” katanya tenang. “Dan aku juga yang bertanggung jawab atas itu.” Kael menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   2. JANGAN LANCANG!

    Bayangan tinggi itu tidak bergerak, tetapi kehadirannya menekan ruangan seperti dinding yang mendadak menyempit. Lampu gantung di ruang tamu terasa lebih redup. Udara berubah dingin. Sabrina berdiri kaku. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar. Napasnya tertahan saat langkah kaki berat itu bergerak mendekat, pelan namun penuh tekanan.Sosok itu akhirnya keluar dari bayangan. Tinggi. Tegap. Bahu lebar dibalut setelan jas gelap yang rapi sempurna. Wajahnya tegas dengan rahang mengeras, sepasang mata abu-abu gelap menatap lurus ke arah Sabrina tanpa ekspresi ramah sedikit pun. Kael Mahendra O’Shea. Pria yang namanya menghantui Sabrina sejak sore tadi kini berdiri hanya beberapa meter darinya.“Kenapa ada orang asing di rumah ini?” Suaranya masih terdengar rendah, dingin, dan memerintah.Sabrina refleks menunduk. Lututnya terasa melemah, tapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak.“Kael,” suara Nyonya Maureen terdengar lebih dulu, tenang namun be

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   1. KESALAHAN FATAL

    “Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam kebersihan yang warnanya mulai pudar, kontras dengan meja kaca yang mengkilap dan jas mahal orang-orang yang mengelilinginya.“Maaf, Pak. Sa-saya tidak sengaja,” ucapnya terbata. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih. “Saya hanya membersihkan meja. Laptopnya menyala. Saya tidak menyentuh apa pun selain memindahkannya sedikit.”“Tidak menyentuh katamu?” Pria berkacamata di depannya tersenyum tipis, dingin. “Lalu bagaimana folder kerja sama internasional itu bisa hilang setelah kamu masuk ruangan ini?” Sabrina terdiam. Ia tahu dirinya tidak menekan apa pun. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ditampilkan di layar. Tapi siapa yang ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status