Share

6. SEJAK KAPAN?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-01-21 19:07:48

Dua hari kemudian...

Jam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli kebersihan keluar ruangan.

            Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan lantai marmer yang dingin. Bau cairan pembersih menyeruak, bau yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

“Pagi, Sab.”

Rani muncul dari arah pantry, membawa sapu dan ember kecil. Langkahnya santai.

“Pagi,” jawab Sabrina sambil terus berjalan.

Rani memperhatikannya lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa sih? Mukamu pucat banget.”

“Kurang tidur,” jawab Sabrina singkat.

“Kamu itu tiap hari kurang tidur,” Rani mendecak. “Tapi hari ini beda. Kayak habis mikir berat. Padahal kemarin ‘kan libur. Harusnya senang dong karena masih bisa kerja lagi.”

Sabrina tersenyum tipis. “Iya ya, Ran. Kamu benar juga.”

            Mereka berjalan berdampingan sebentar. Suara roda troli menggema pelan di lorong kosong.

“Eh,” Rani menurunkan suara. “Katanya hari ini bos kita datang lebih pagi. Kamu ‘kan belum pernah lihat tuh. Ayo kita intipin dari sini.”

            Sabrina tidak menjawab. Tangannya tetap bergerak, menyeka permukaan meja kaca. Jangan sampai temannya itu tahu apa yang terjadi padanya malam tadi.

            Hingga kemudian suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Bukan langkah tergesa. Mantap. Terukur.

“Sab!” pekik Rani tertahan. Tangannya menepuk-nepuk cepat lengan Sabrina yang semula sibuk bergerak di atas meja. “Lihat tuh!”

Sabrina pun refleks mengangkat kepala.

            Kael muncul dari balik sudut koridor. Setelan jasnya begitu sempurna. Ponsel berada di tangannya, ibu jari bergerak cepat di layar. Ia berjalan lurus ke arah lift tanpa mengalihkan fokus. Saat sampai tepat di detik terakhir, pandangannya mulai terangkat.

            Di saat yang sama Sabrina juga menoleh. Tatapan mereka bertemu. Hanya sekejap. Tidak ada ekspresi. Nyaris tidak ada perubahan wajah. Namun, sorot mata abu-abu gelap itu berhenti sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Terasa cukup untuk membuat Sabrina menahan napas. Cukup juga untuk membuat dadanya mengeras.

            Kael kembali menunduk pada gawainya dan melangkah masuk ke lift. Pintu tertutup perlahan, menelan keberadaannya seperti tidak pernah ada apa-apa.

Rani baru bernapas setelah lift benar-benar menghilang. “Ya ampun,” gumamnya pelan. “Gila ya. Dekat-dekat gitu auranya kerasa banget.”

Sabrina tetap diam di tempatnya.

“Serius deh,” lanjut Rani sambil terkekeh kecil. “Kalau bukan bos, aku pasti mikir dia model. Tampan banget. Dingin. Kayak nggak nyata gitu.”

“Hantu kali, Ran,” timpal Sabrina yang tanpa sadar sudah mengembuskan napas lega.

“Ya ampun, Sab. Kamu lihat ‘kan tadi? Vibes-nya itu kayak di dracin. Bedanya ini CEO beneran, bukan kuli yang lagi nyamar,” kata Rani dengan wajah yang masih menyimpan kekaguman usai melihat pemandangan yang menakjubkan baginya tadi.

Sabrina tak peduli. Ia kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. “Kerja, Ran. Kerja yang benar.”

Rani tertawa kecil. “Iya, iya.”

            Namun tanpa sepengetahuan sang teman, tatapan tadi tetap tinggal di benak Sabrina. Tidak ada kata, tapi rasanya seperti peringatan yang tak diucapkan.

Menjelang siang, kantor mulai ramai.

            Sabrina membersihkan area lantai tiga. Ruang meeting utama akan digunakan. Ia bekerja cepat, terbiasa tidak menjadi pusat perhatian.

            Saat keluar dari salah satu ruangan, langkahnya terhenti. Seorang perempuan berdiri di lorong. Posturnya tegak. Rambutnya tertata rapi. Pakaian kerjanya sederhana, tapi jelas mahal. Ia sedang menutup panggilan telepon, ekspresinya tenang, terlalu tenang.

            Perempuan itu menoleh. Tatapannya menyapu Sabrina dari kepala hingga kaki. Bukan tatapan kasar. Tapi bukan juga ramah.

Sabrina menunduk sopan. “Permisi, Bu.” Ia hendak melangkah pergi.

“Sebentar.”

            Satu kata barusan cukup membuat langkah Sabrina berhenti.

            Perempuan itu mendekat satu langkah. Pandangannya kini fokus pada seragam OB yang dikenakan Sabrina. Name tag kecil di dada. Sepatu polos. Posisi berdiri yang terlalu rapi untuk sekadar lewat.

            Ada jeda yang terasa aneh. Seolah perempuan itu sedang menyusun sesuatu di kepalanya.

Lalu, dengan suara yang tetap ringan nyaris santai dia mulai berbicara.

“Jadi,” katanya pelan, seolah hanya melanjutkan percakapan biasa, “kau OB di perusahaan ini?”

Sabrina menelan ludah. “I-ya, Bu.”

Perempuan itu tersenyum kecil. Bukan senyum hangat. Bukan pula sinis.

Lebih seperti… menemukan potongan puzzle yang hilang.

“Menarik,” ucapnya pelan. “Sejak kapan?"

Pertanyaan barusan membuat Sabrina mengernyitkan dahi.

"Sejak kapan seorang OB boleh tinggal di rumah CEO??”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   355. TIDAK PERNAH PUNYA TEMAN

    Pikiran Sabrina melayang jauh, menembus dinding-dinding masa lalunya yang kelabu. Berdiri di lobi kantor yang megah ini, ia mendadak disergap oleh sekelumit kesadaran yang getir. Selama ini, dia tidak benar-benar memiliki banyak teman. Hidup yang keras dan penuh perjuangan di masa lalu telah memaksa Sabrina untuk mengunci fokusnya hanya pada dua hal. Bekerja membanting tulang dan mengejar beasiswa demi bertahan hidup. Di saat gadis-gadis seusianya sibuk berkumpul, berbelanja, atau sekadar bergosip di kafe, Sabrina harus berlari dari satu tempat kerja paruh waktu ke tempat kerja lainnya. Pilihan hidup yang kaku itu membentuk tameng tak kasatmata di sekelilingnya. Jadilah tidak ada yang mau mendekat. Orang-orang menganggapnya terlalu sibuk, terlalu tertutup, atau mungkin terlalu membosankan untuk d

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   354. CALON ANAK KITA

    Kael sengaja mengosongkan seluruh jadwal kerjanya pagi ini. Tidak hanya itu, demi kenyamanan dan privasi sang istri, ia bahkan telah membuat janji dengan dokter spesialis kandungan terbaik di kota ini secara privat. Tidak ada antrean, tidak ada pasang mata yang menatap penasaran. Kini pintu mobil mewahnya terbuka perlahan. Kael turun terlebih dahulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya dengan luar biasa hati-hati. Lorong klinik eksklusif itu tampak sepi, hanya menyisakan langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan."Pegang tanganku, Sayang. Pelan-pelan saja," bisik Kael lembut.Sabrina menyambut jemari suaminya, melangkah turun dengan perasaan yang masih agak mengambang."Kael, apa tidak berlebihan? Aku baru hamil empat minggu, bukan sedang sakit parah.""Tidak ada ka

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   353. KABAR BAHAGIA

    Kael melangkah keluar, langsung disambut oleh tiga pasang mata yang memancarkan kecemasan luar biasa. Adrian, Ganda, dan Nyonya Maureen masih berdiri di posisi yang sama seperti setengah jam lalu, seolah tidak berani bergeser satu inci pun sebelum mendapatkan kepastian. Dokter pribadi keluarga O’Shea keluar mengekor di belakang Kael, wajahnya tampak menyunggingkan senyum tipis yang langsung membuat kerutan di dahi Adrian sedikit mengendur."Kael, bagaimana keadaan adikku?" Ganda langsung menyambar, menahan napasnya menunggu jawaban. "Dia... dia tidak apa-apa, kan?" Kael tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Ganda datar, lalu mengulurkan tangan kanannya yang sejak tadi mengepal. Di atas telapak tangannya yang lebar, tergeletak sebuah benda pipih panjang de

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   352. ISTRIKU PINGSAN

    "Sabrina!" Kael menggendong Sabrina ala bridal style, membawanya keluar dari kamar mandi dengan langkah tergeser-geser panik. Perlahan, ia membaringkan tubuh pucat istrinya di atas ranjang king size mereka. Kedua tangan Kael bergerak cepat, menepuk-nepuk halus pipi gembil Sabrina sembari mendekatkan sebotol minyak aromaterapi ke hidung istrinya."Sayang, bangun... hei, lihat aku," bisik Kael, suaranya bergetar hebat. Melihat tidak ada respons dari kelopak mata yang terpejam rapat itu, Kael langsung merogoh saku celananya dengan tangan gemetar. Ia mendial sebuah nomor darurat."Dokter, ke kamar utama sekarang juga! Istriku pingsan!" perintah Kael tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav sebelum langsung memutuskan panggilan sepihak. Ketegangan di lantai atas ternyata menimbulkan kegaduhan yang cukup berarti. Adrian, Ganda, dan Nyonya Maureen yang sejak tadi diliputi rasa bersalah di ruang tengah langsung bergegas naik begitu melihat dokt

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   351. BERKALI-KALI

    Kelopak mata Sabrina melebar sempurna. Pertanyaan Ganda yang begitu frontal meruntuhkan seluruh dinding pertahanannya. Di dalam kepalanya, kalender siklus bulanannya mendadak berputar cepat, menghitung mundur hari demi hari sejak dia dan Kael masih berada di bawah langit Pulau Socotra.Satu minggu. Dua minggu. Tiga minggu berlalu begitu saja.Astaga, dia melewatkannya."A-apa maksudmu?" Sabrina terbata-bata, suaranya mendadak cicit dan bergetar hebat. "Siklusku... siklusku memang kadang berantakan kalau aku sedang stres atau kelelahan setelah penerbangan panjang. Apa-apaan sih?"“Apa kau tidak merasakan perubahan badanmu? Jangan pura-pura tidak tahu,” desak Ganda tak sabaran.“Diamlah,” tegur Kael pada sang kakak ipar. Kael tidak membiarkan istrinya tersudut lebih lama. Dengan gerakan tegap dan cepat, dia langsung bangkit dari sofanya. Tubuh tingginya sengaja bergeser, berdiri kokoh tepat di depan Sabrina, memotong sisa pandangan menginterogasi yang dilayangkan

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   350. SOAL DATANG BULAN

    Kael menghela napas pendek, lalu dengan gerakan perlahan memindahkan tubuh Aliz ke lengan salah seorang pelayan wanita yang sejak tadi menunggu di dekat tangga."Bawa Aliz ke kamar tamu. Pastikan selimutnya terpasang dengan benar," perintah Kael dengan suara baritonnya yang rendah."Baik, Tuan," bisik pelayan itu sopan, sebelum akhirnya melangkah menjauh, membawa sang balita naik ke lantai atas. Kini, hanya ada empat orang dewasa yang tersisa di ruang tengah tersebut. Keheningan mendadak merayap, menghimpit atmosfer ruangan saat tiga pasang mata para orang dewasa yang tersisanya. Semuanya menatap lurus ke arah Kael dengan binar harap-harap cemas yang begitu kentara."Grandma, jangan salah paham dulu. Sabrina tidak sedang hamil."Binar di mata tua Nyonya Maureen seketika meredup. "Maksudmu? Tapi reaksi mualnya tadi..""Kami sepakat untuk menunda punya anak," potong Kael cepat, mematahkan spekulasi yang sejak tadi menggunung di kepala keluarga besar O'Shea. "Setidaknya sampai

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   105. SANGAT CANTIK

    "Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   104. AKU HANYA INGIN IKUT

    Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   92. TIDAK BISA BERJALAN?

    Malam di Surabaya kian larut, namun udara di dalam kabin sedan mewah itu terasa jauh lebih berat daripada kelembapan di luar sana. Kael mencengkeram kemudi dengan presisi yang kaku. Matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang memantulkan pendar lampu merkuri, sementara pikirannya entah

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   69. BUKAN YANG PERTAMA

    Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status