LOGINDua hari kemudian...
Jam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli kebersihan keluar ruangan.
Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan lantai marmer yang dingin. Bau cairan pembersih menyeruak, bau yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
“Pagi, Sab.”
Rani muncul dari arah pantry, membawa sapu dan ember kecil. Langkahnya santai.
“Pagi,” jawab Sabrina sambil terus berjalan.
Rani memperhatikannya lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa sih? Mukamu pucat banget.”
“Kurang tidur,” jawab Sabrina singkat.
“Kamu itu tiap hari kurang tidur,” Rani mendecak. “Tapi hari ini beda. Kayak habis mikir berat. Padahal kemarin ‘kan libur. Harusnya senang dong karena masih bisa kerja lagi.”
Sabrina tersenyum tipis. “Iya ya, Ran. Kamu benar juga.”
Mereka berjalan berdampingan sebentar. Suara roda troli menggema pelan di lorong kosong.
“Eh,” Rani menurunkan suara. “Katanya hari ini bos kita datang lebih pagi. Kamu ‘kan belum pernah lihat tuh. Ayo kita intipin dari sini.”
Sabrina tidak menjawab. Tangannya tetap bergerak, menyeka permukaan meja kaca. Jangan sampai temannya itu tahu apa yang terjadi padanya malam tadi.
Hingga kemudian suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Bukan langkah tergesa. Mantap. Terukur.
“Sab!” pekik Rani tertahan. Tangannya menepuk-nepuk cepat lengan Sabrina yang semula sibuk bergerak di atas meja. “Lihat tuh!”
Sabrina pun refleks mengangkat kepala.
Kael muncul dari balik sudut koridor. Setelan jasnya begitu sempurna. Ponsel berada di tangannya, ibu jari bergerak cepat di layar. Ia berjalan lurus ke arah lift tanpa mengalihkan fokus. Saat sampai tepat di detik terakhir, pandangannya mulai terangkat.
Di saat yang sama Sabrina juga menoleh. Tatapan mereka bertemu. Hanya sekejap. Tidak ada ekspresi. Nyaris tidak ada perubahan wajah. Namun, sorot mata abu-abu gelap itu berhenti sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Terasa cukup untuk membuat Sabrina menahan napas. Cukup juga untuk membuat dadanya mengeras.
Kael kembali menunduk pada gawainya dan melangkah masuk ke lift. Pintu tertutup perlahan, menelan keberadaannya seperti tidak pernah ada apa-apa.
Rani baru bernapas setelah lift benar-benar menghilang. “Ya ampun,” gumamnya pelan. “Gila ya. Dekat-dekat gitu auranya kerasa banget.”
Sabrina tetap diam di tempatnya.
“Serius deh,” lanjut Rani sambil terkekeh kecil. “Kalau bukan bos, aku pasti mikir dia model. Tampan banget. Dingin. Kayak nggak nyata gitu.”
“Hantu kali, Ran,” timpal Sabrina yang tanpa sadar sudah mengembuskan napas lega.
“Ya ampun, Sab. Kamu lihat ‘kan tadi? Vibes-nya itu kayak di dracin. Bedanya ini CEO beneran, bukan kuli yang lagi nyamar,” kata Rani dengan wajah yang masih menyimpan kekaguman usai melihat pemandangan yang menakjubkan baginya tadi.
Sabrina tak peduli. Ia kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. “Kerja, Ran. Kerja yang benar.”
Rani tertawa kecil. “Iya, iya.”
Namun tanpa sepengetahuan sang teman, tatapan tadi tetap tinggal di benak Sabrina. Tidak ada kata, tapi rasanya seperti peringatan yang tak diucapkan.
Menjelang siang, kantor mulai ramai.
Sabrina membersihkan area lantai tiga. Ruang meeting utama akan digunakan. Ia bekerja cepat, terbiasa tidak menjadi pusat perhatian.
Saat keluar dari salah satu ruangan, langkahnya terhenti. Seorang perempuan berdiri di lorong. Posturnya tegak. Rambutnya tertata rapi. Pakaian kerjanya sederhana, tapi jelas mahal. Ia sedang menutup panggilan telepon, ekspresinya tenang, terlalu tenang.
Perempuan itu menoleh. Tatapannya menyapu Sabrina dari kepala hingga kaki. Bukan tatapan kasar. Tapi bukan juga ramah.
Sabrina menunduk sopan. “Permisi, Bu.” Ia hendak melangkah pergi.
“Sebentar.”
Satu kata barusan cukup membuat langkah Sabrina berhenti.
Perempuan itu mendekat satu langkah. Pandangannya kini fokus pada seragam OB yang dikenakan Sabrina. Name tag kecil di dada. Sepatu polos. Posisi berdiri yang terlalu rapi untuk sekadar lewat.
Ada jeda yang terasa aneh. Seolah perempuan itu sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
Lalu, dengan suara yang tetap ringan nyaris santai dia mulai berbicara.
“Jadi,” katanya pelan, seolah hanya melanjutkan percakapan biasa, “kau OB di perusahaan ini?”
Sabrina menelan ludah. “I-ya, Bu.”
Perempuan itu tersenyum kecil. Bukan senyum hangat. Bukan pula sinis.
Lebih seperti… menemukan potongan puzzle yang hilang.
“Menarik,” ucapnya pelan. “Sejak kapan?"
Pertanyaan barusan membuat Sabrina mengernyitkan dahi.
"Sejak kapan seorang OB boleh tinggal di rumah CEO??”
“Kau membuntuti kami?” tuding Kael langsung, suaranya sedingin es dengan tatapan penuh intimidasi.Rosaleen menggeleng cepat lalu menjawab, “Aku hanya sedang berusaha mengingatkan jadwalmu saja. Seharusnya kau berterima kasih karena ini. Aku bahkan tidak menyelonong masuk seperti sebelumnya ‘kan?”"Sialan," umpat Kael lirih di dalam hati. Rahangnya mengeras sempurna saat menyadari bahwa pernyataan Rosaleen kali ini memang benar. Idenya yang menyuruh Victor pulang cepat sore tadi demi memberikan asistennya itu waktu bersama sang istri, kini berbalik menjadi bumerang. Kael benar-benar merutuki dirinya sendiri karena telah melupakan jadwal krusial perusahaan akibat terlalu terbuai asmara dan rasa bahagianya bersama Sabrina sejak dar
Sabrina buru-buru membekap mulut Kael dengan telapak tangan sambil melirik panik ke meja-meja sebelah yang mulai berbisik. Wajahnya dipastikan sudah semerah stroberi di atas piringnya. Tatapan beberapa pengunjung restoran yang sempat tertuju ke arah mereka membuat Sabrina ingin rasanya menghilang dari bumi detik itu juga."Kael! Kecilkan suaramu! Bisa-bisanya kau mengatakan hal memalukan seperti itu di tempat umum?!" bisik Sabrina dengan nada mendesis, menuntut penjelasan atas kelancangan ucapan kekasihnya. Kael menurunkan tangan Sabrina dari mulutnya dengan santai, tetapi tatapannya masih merajuk. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura mengintimidasi itu kini melunak menjadi ekspresi defensif yang teramat konyol. Pria itu menolak memakan apa pun lagi, menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu bersedekap dada dengan rahang yang mengeras tanda tersinggung."Aku hanya mengatakan fakta," ketus Kael rendah, memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar yang men
Jarak yang mengikis habis di antara mereka membuat kabin laboratorium steril itu mendadak terasa begitu hangat. Sabrina bisa merasakan deru napas Kael yang menyapu permukaan kulit wajahnya, menghantarkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduknya meremang."A-aku tidak bohong," elak Sabrina, mencoba menegakkan punggungnya yang bersandar pasrah pada kursi kerja. "Tanya saja pada Stella kalau tidak percaya.” Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum tipis yang teramat tampan terukir di wajahnya. Sebelum Sabrina sempat membuka mulut untuk kembali membela diri, Kael menundukkan kepala dan mengecup singkat bibir ranum gadis itu.Cup."Kael!" protes Sabrina setengah berbisik, matanya membelalak sempurna lantaran terkejut dengan serangan manis yang begitu tiba-tiba. "Ini di laboratorium! Bagaimana k
Apa tadi? Sabrina merindukannya? Apa ini hanya mimpi atau bagaimana? Kael masih sibuk dengan isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala, melumpuhkan seluruh logika bisnis yang biasanya beroperasi dengan kecepatan tinggi. Seorang Sabrina yang biasanya menutup diri di balik dinding pertahanan yang tebal, barusan merengek manja dan mengaku merindukannya di depan layar ponsel. Hingga suara deheman dari Teguh dan decakan pelan Sabrina di seberang panggilan membuat pria berwajah tegas itu berkedip cepat, tersadar dari lamunan instannya."Kalau kau sibuk ya sudah. Aku pulang saja," kata Sabrina kemudian, nada suaranya mendadak berubah gengsi karena menyadari atmosfer canggung di ruangan Kael."Tunggu aku di sana." Itulah balasan Kael yang lekas mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Dalam hitungan detik, pipinya terasa panas. Jangan tanyakan bagaimana penampilan atau ekspresi sang Direktur Utama O'Shea
Ponsel di tangan Sabrina terasa begitu dingin, berbanding terbalik dengan darahnya yang mendadak berdesir panas akibat foto provokatif yang baru saja diterimanya. Selama beberapa detik, napasnya tertahan di tenggorokan. Rasa cemas dan cemburu yang paling primitif nyaris saja menariknya kembali ke dalam cangkang pertahanan diri yang membuatnya ingin mematikan ponsel, mengunci diri di laboratorium, dan mungkin saja akan mengabaikan Kael seperti yang biasa ia lakukan jika menghadapi konflik emosional sebelumnya. Namun, Sabrina menarik napas sedalam mungkin. Ia mencengkeram pinggiran meja laboratorium, memaksa logikanya untuk mengambil alih kendali. Tidak. Ia menolak menjadi wanita lemah yang langsung hancur hanya karena foto dari nomor asing. Setelah apa yang terjadi di bahu
"Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat," tanya Kael lembut, memecah keheningan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Ia melangkah mendekat, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap lekat sepasang mata Sabrina yang tampak kosong.Sabrina tersentak, buru-buru menarik napas dalam demi menguasai gemuruh di dadanya. "Aku... aku tidak apa-apa, Kael. Hanya mendadak merasa sangat lelah."Ganda yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera mendekat sembari menggendong Aliz yang sudah kembali memejamkan mata di ceruk lehernya. "Lebih baik kau segera istirahat, Sabi. Biar Aliz tidur denganku di kamar sebelah malam ini. Dan Kael, sepertinya kau juga harus pulang.""Terima kasih, Ganda," ucap Kael tulus. Setelah Ganda melangkah masuk ke dalam kamar, Kael beralih sepenuhnya pada Sabrina. Ia meraih kedua tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Jangan pikirkan u
"Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb
"Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu
Kael memacu kendaraannya membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan sisa kewarasan yang kian menipis.“Kita mau ke mana, hmm?” Kael hanya berdecak sebagai respon dari pertanyaan bernada bahaya barusan.“Tuan?” rengek Sabrina manja.“Kita akan ke apartemenku yang kemarin.”Sab
Kalimat itu meluncur dari bibir Nyonya Maureen dengan ketenangan yang menghina akal sehat sang cucu. Kael menggeram frustrasi, ia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara denting yang nyaring."G







