Share

4. KENAPA HARUS DIA??

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-01-21 19:06:06

Sabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk.

Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya.

            Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna gading. Aroma samar yang menenangkan, seperti teh chamomile dan kayu manis. Bukan bau lembap kamar kosnya. Bukan pula bau cairan pembersih yang biasa menempel di seragamnya.

            Sabrina menegang. Ingatan semalam menghantamnya sekaligus. Rumah besar itu.

Tatapan dingin Kael. Dan tubuh rapuh Nyonya Maureen yang terhuyung sambil memegangi dada.

            Ia menoleh ke samping. Nyonya Maureen tidak ada di ranjang.

            Jantung Sabrina berdegup lebih cepat. Ia langsung duduk, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Seragam kebersihan itu masih melekat di tubuhnya. Tampak kusut, tapi utuh. Ia menghela napas lega kecil.

            Beberapa saat setelahnya pintu kamar mandi terbuka. Nyonya Maureen keluar dengan rambut setengah kering, mengenakan jubah rumah berwarna pastel. Wajahnya terlihat pucat, namun matanya jernih.

Sabrina refleks berdiri. “Nyonya, maaf. Saya ketiduran. Saya benar-benar tidak bermaksud..”

“Kenapa minta maaf?” potong Nyonya Maureen lembut.

            Sabrina terdiam. Ia menunduk, menatap seprai putih yang begitu rapi hingga terasa menuduh. “Saya… tidur di tempat Nyonya.”

Nyonya Maureen tersenyum kecil. Bukan senyum basa-basi. Bukan pula senyum kasihan.

“Aku tidur nyenyak,” katanya. “Itu sudah lama tidak terjadi.”

Kalimat barusan membuat dada Sabrina mengencang.

            Nyonya Maureen berjalan ke depan cermin besar, menyisir rambutnya perlahan. Pantulan di cermin memperlihatkan kontras yang mencolok. Seorang perempuan tua dengan gaun rumah mahal, dan seorang gadis muda berseragam kebersihan yang berdiri kaku di belakangnya.

“Kalau kau tidak ada semalam,” lanjut Nyonya Maureen pelan, “aku mungkin sendirian saat dadaku kembali sakit.”

Sabrina mengepalkan tangannya. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, Nyonya.”

“Itu yang jarang dimiliki orang,” jawab Nyonya Maureen singkat.

            Ponsel Sabrina bergetar di saku seragamnya. Ia tersentak, lalu menunduk. “Permisi, Nyonya. Saya izin menerima telepon sebentar. Bolehkah saya ke sana?” tunjuknya kea rah balkon.

Nyonya Maureen mengiyakan lewat anggukan kepala. Sabrina melangkah cepat keluar. Udara pagi menyentuh wajahnya, dingin dan bersih. Terlalu bersih untuk menenangkan hatinya.

“Halo?” suaranya tertahan.

            Suara perempuan di seberang terdengar tajam. Tidak marah, tapi dingin. “Mbak Sab, barang-barangnya sudah saya keluarkan. Kunci kamar juga sudah diganti.”

Dunia seakan berhenti bergerak.

“Saya… Bu, saya akan usahakan bayar sore ini,” kata Sabrina cepat. “Tolong..”

“Sudah terlambat,” potongnya. “Saya sudah tunggu seminggu. Mbak Sab malah menghilang.”

Nada sambungan terputus.

            Sabrina menatap layar ponsel itu lama. Jemarinya gemetar, tapi wajahnya tetap keras seperti orang yang sudah terlalu sering jatuh untuk sekadar menangis.

Ia menghela napas panjang, lalu menghubungi nomor sang kakak walaupun ia tahu tak bisa banyak berharap pada saudara kandungnya.

“Bang,” ucapnya saat panggilan tersambung. “Aku enggak punya uang lagi. Tolong bayarin uang kos aku. Abang ’kan janji minggu kemarin.”

Ia mendengarkan. Lama. Bahunya perlahan merosot. Telepon ditutup lantaran suara di seberang sana tak bisa memberikan solusi.

            Sabrina menatap kota dari balik balkon itu. Gedung-gedung tinggi. Dunia yang berjalan tanpa peduli apakah ia punya tempat pulang atau tidak.

            Ia berdecak pelan, menyeka wajahnya sekali. Bukan air mata. Hanya kebiasaan menenangkan diri.

“Masalah tidak akan selesai kalau hanya ditatap.”

Sabrina menoleh.

            Nyonya Maureen sudah berdiri di ambang pintu balkon, bertopang pada tongkatnya. Senyumnya masih sama. Tenang, seolah ia sudah mendengar segalanya tanpa perlu dijelaskan.

“Saya akan pergi hari ini,” ucap Sabrina lebih dulu. Tegas. “Pak Kael bilang hanya satu malam.”

“Sebentar lagi Kael akan pulang setelah lari pagi,” jawab Nyonya Maureen. “Dan dokter juga akan datang.”

Seolah dipanggil oleh kalimat itu, bel rumah berbunyi.

            Pemeriksaan berlangsung di ruang duduk. Sabrina berdiri tak jauh, memperhatikan tanpa mencampuri. Dokter itu mencatat, mengukur, lalu menghela napas pelan.

“Kondisinya masih fluktuatif,” katanya pada Kael yang baru saja masuk ruangan. “Nyonya Maureen sebaiknya tidak sendirian, setidaknya untuk beberapa hari ke depan.”

Kael menegang. “Aku bisa memanggil perawat.”

“Ada,” sahut Nyonya Maureen tenang. “Aku sudah punya.” Matanya melirik ke arah Sabrina yang sedari tadi terdiam.

Kael melangkah mendekat satu langkah. Aura dinginnya menekan ruangan.

“Hanya satu malam bukan?” ucapnya, menahan emosi. “Itu yang kita sepakati. Apa Grandma sudah lupa?”

“Aku tidak lupa,” jawab Nyonya Maureen datar. “Aku sedang memutuskan ulang.”

Keheningan jatuh seperti benda berat.

            Kael menarik napas, jelas menahan kesabaran. Tatapannya kembali pada Sabrina. Tajam, dingin, seperti sedang menilai barang yang tak pernah ia pesan.

“Dia OB di perusahaanku,” katanya akhirnya. “Bukan perawat.”

“Dan semalam dia lebih sigap daripada siapa pun,” balas Nyonya Maureen tanpa ragu. “Dia tidak panik. Tidak pergi. Tidak mengambil keuntungan apapun dengan kondisiku.”

Kael mendekat satu langkah. Aura dinginnya menekan ruangan.

“Kenapa harus dia??”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   358. 21 MINGGU

    Empat bulan telah berlalu sejak kepergian Adrian, Aliz dan Ganda yang dipenuhi teka-teki. Waktu bergulir membawa perubahan besar pada fisik Sabrina. Kini, di usia kehamilannya yang telah menginjak dua puluh satu minggu, perutnya sudah tampak membuncit dengan sangat kentara di balik gaun hamil berwarna pastel yang longgar. Perasaan cemas yang dulu sempat membayangi, perlahan terkikis oleh perhatian Kael yang luar biasa protektif dan memanjakannya setiap hari. Sore ini, atmosfer di kediaman mewah milik Victor dan Anna terasa begitu hangat dan dipenuhi aroma khas bayi. Pasangan itu tengah menggelar acara syukuran atas kelahiran putri pertama mereka. Rumah yang didekorasi dengan balon-balon berwarna merah muda itu tampak ramai oleh beberapa kerabat dekat. Sabrina berdiri agak jauh dari kerumunan, jemarinya mengusap lembut permukaan perutnya sendiri yang sesekali memberikan kedutan pelan, yakni tendangan kecil dari buah hatinya. Sepasang mata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   357. MENJALANKAN RENCANA TERSEMBUNYI

    “Begitulah.”"Wah, trik sulap macam apa itu? Luar biasa sekali pesonamu sampai bisa bersekongkol dengan anak kecil!" goda Ganda. Adrian dan Nyonya Maureen ikut terkekeh melihat Kael yang biasanya tak tergoyahkan kini mati kutu di depan seluruh keluarga. Wajah tegas pria itu memerah tipis, sementara Sabrina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa melihat pemandangan langka tersebut. Untuk menghindari godaan Ganda yang makin menjadi-jadi, Kael langsung menyusun strategi. Tepat setelah makan malam keluarga yang hangat selesai, Kael merangkul pundak Sabrina dengan protektif. Begitu pintu kamar utama ditutup rapat, Sabrina tidak melepaskan Kael begitu saja. Sambil mendudukkan diri di tepi ranjang king size mereka, dia melipat kedua tangan di dada, menatap suaminya dengan pandangan menuntut penjelasan."Ayo mengakulah, Hubby. Kapan tepatnya kau merencanakan misi sulap ini, hmm?" tanya Sabrina dengan senyum penuh selidik. Kael

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   356. SEPERTI PAHLAWAN

    "Hei??" Di seberang jalan area parkir, seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja kasual yang dilapisi blazer gelap tengah melangkah terburu-buru memangkas jarak. Napasnya agak terengah-engah, namun seulas senyum lega terbit di wajahnya begitu memastikan bahwa tebakannya tidak salah. Melihat ada pria lain yang mendekat dengan tatapan yang sepenuhnya tertuju pada istrinya, aura protektif Kael langsung bangkit seketika. Dengan gerakan sigap dia menggeser tubuh tingginya, berdiri kokoh layaknya benteng di depan Sabrina. Sorot mata elang Kael mendadak berubah sedingin es, mengunci pergerakan pria yang baru saja tiba di hadapan mereka itu."Sabi, astaga... ternyata benar ini kau," ujar Daniel, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Kael setelah merasakan intimidasi yang luar biasa dari pria di hadapannya. Daniel menelan ludah canggung, lalu beralih menatap Kael dengan sopan. "Maaf, Tuan O'Shea. Saya tidak bermaksud lancang mengejutkan istri Anda.""Ada

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   355. TIDAK PERNAH PUNYA TEMAN

    Pikiran Sabrina melayang jauh, menembus dinding-dinding masa lalunya yang kelabu. Berdiri di lobi kantor yang megah ini, ia mendadak disergap oleh sekelumit kesadaran yang getir. Selama ini, dia tidak benar-benar memiliki banyak teman. Hidup yang keras dan penuh perjuangan di masa lalu telah memaksa Sabrina untuk mengunci fokusnya hanya pada dua hal. Bekerja membanting tulang dan mengejar beasiswa demi bertahan hidup. Di saat gadis-gadis seusianya sibuk berkumpul, berbelanja, atau sekadar bergosip di kafe, Sabrina harus berlari dari satu tempat kerja paruh waktu ke tempat kerja lainnya. Pilihan hidup yang kaku itu membentuk tameng tak kasatmata di sekelilingnya. Jadilah tidak ada yang mau mendekat. Orang-orang menganggapnya terlalu sibuk, terlalu tertutup, atau mungkin terlalu membosankan untuk d

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   354. CALON ANAK KITA

    Kael sengaja mengosongkan seluruh jadwal kerjanya pagi ini. Tidak hanya itu, demi kenyamanan dan privasi sang istri, ia bahkan telah membuat janji dengan dokter spesialis kandungan terbaik di kota ini secara privat. Tidak ada antrean, tidak ada pasang mata yang menatap penasaran. Kini pintu mobil mewahnya terbuka perlahan. Kael turun terlebih dahulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya dengan luar biasa hati-hati. Lorong klinik eksklusif itu tampak sepi, hanya menyisakan langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan."Pegang tanganku, Sayang. Pelan-pelan saja," bisik Kael lembut.Sabrina menyambut jemari suaminya, melangkah turun dengan perasaan yang masih agak mengambang."Kael, apa tidak berlebihan? Aku baru hamil empat minggu, bukan sedang sakit parah.""Tidak ada ka

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   353. KABAR BAHAGIA

    Kael melangkah keluar, langsung disambut oleh tiga pasang mata yang memancarkan kecemasan luar biasa. Adrian, Ganda, dan Nyonya Maureen masih berdiri di posisi yang sama seperti setengah jam lalu, seolah tidak berani bergeser satu inci pun sebelum mendapatkan kepastian. Dokter pribadi keluarga O’Shea keluar mengekor di belakang Kael, wajahnya tampak menyunggingkan senyum tipis yang langsung membuat kerutan di dahi Adrian sedikit mengendur."Kael, bagaimana keadaan adikku?" Ganda langsung menyambar, menahan napasnya menunggu jawaban. "Dia... dia tidak apa-apa, kan?" Kael tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Ganda datar, lalu mengulurkan tangan kanannya yang sejak tadi mengepal. Di atas telapak tangannya yang lebar, tergeletak sebuah benda pipih panjang de

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   22. BUKAN DIA ORANGNYA

    Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   69. BUKAN YANG PERTAMA

    Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   68. CARI CARA LAIN

    "Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   67. SAYA SANGAT PANAS

    "Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status