LOGINSabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk.
Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya.Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna gading. Aroma samar yang menenangkan, seperti teh chamomile dan kayu manis. Bukan bau lembap kamar kosnya. Bukan pula bau cairan pembersih yang biasa menempel di seragamnya.
Sabrina menegang. Ingatan semalam menghantamnya sekaligus. Rumah besar itu.
Tatapan dingin Kael. Dan tubuh rapuh Nyonya Maureen yang terhuyung sambil memegangi dada.Ia menoleh ke samping. Nyonya Maureen tidak ada di ranjang.
Jantung Sabrina berdegup lebih cepat. Ia langsung duduk, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Seragam kebersihan itu masih melekat di tubuhnya. Tampak kusut, tapi utuh. Ia menghela napas lega kecil.
Beberapa saat setelahnya pintu kamar mandi terbuka. Nyonya Maureen keluar dengan rambut setengah kering, mengenakan jubah rumah berwarna pastel. Wajahnya terlihat pucat, namun matanya jernih.
Sabrina refleks berdiri. “Nyonya, maaf. Saya ketiduran. Saya benar-benar tidak bermaksud..”
“Kenapa minta maaf?” potong Nyonya Maureen lembut.
Sabrina terdiam. Ia menunduk, menatap seprai putih yang begitu rapi hingga terasa menuduh. “Saya… tidur di tempat Nyonya.”
Nyonya Maureen tersenyum kecil. Bukan senyum basa-basi. Bukan pula senyum kasihan.
“Aku tidur nyenyak,” katanya. “Itu sudah lama tidak terjadi.”
Kalimat barusan membuat dada Sabrina mengencang.
Nyonya Maureen berjalan ke depan cermin besar, menyisir rambutnya perlahan. Pantulan di cermin memperlihatkan kontras yang mencolok. Seorang perempuan tua dengan gaun rumah mahal, dan seorang gadis muda berseragam kebersihan yang berdiri kaku di belakangnya.
“Kalau kau tidak ada semalam,” lanjut Nyonya Maureen pelan, “aku mungkin sendirian saat dadaku kembali sakit.”
Sabrina mengepalkan tangannya. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, Nyonya.”
“Itu yang jarang dimiliki orang,” jawab Nyonya Maureen singkat.
Ponsel Sabrina bergetar di saku seragamnya. Ia tersentak, lalu menunduk. “Permisi, Nyonya. Saya izin menerima telepon sebentar. Bolehkah saya ke sana?” tunjuknya kea rah balkon.
Nyonya Maureen mengiyakan lewat anggukan kepala. Sabrina melangkah cepat keluar. Udara pagi menyentuh wajahnya, dingin dan bersih. Terlalu bersih untuk menenangkan hatinya.
“Halo?” suaranya tertahan.
Suara perempuan di seberang terdengar tajam. Tidak marah, tapi dingin. “Mbak Sab, barang-barangnya sudah saya keluarkan. Kunci kamar juga sudah diganti.”
Dunia seakan berhenti bergerak.
“Saya… Bu, saya akan usahakan bayar sore ini,” kata Sabrina cepat. “Tolong..”
“Sudah terlambat,” potongnya. “Saya sudah tunggu seminggu. Mbak Sab malah menghilang.”
Nada sambungan terputus.
Sabrina menatap layar ponsel itu lama. Jemarinya gemetar, tapi wajahnya tetap keras seperti orang yang sudah terlalu sering jatuh untuk sekadar menangis.
Ia menghela napas panjang, lalu menghubungi nomor lain.
“Bang,” ucapnya saat panggilan tersambung. “Aku enggak punya uang lagi. Tolong bayarin uang kos aku. Abang ’kan janji minggu kemarin.”
Ia mendengarkan. Lama. Bahunya perlahan merosot. Telepon ditutup.
Sabrina menatap kota dari balik balkon itu. Gedung-gedung tinggi. Dunia yang berjalan tanpa peduli apakah ia punya tempat pulang atau tidak.
Ia berdecak pelan, menyeka wajahnya sekali. Bukan air mata. Hanya kebiasaan menenangkan diri.
“Masalah tidak akan selesai kalau hanya ditatap.”
Sabrina menoleh.
Nyonya Maureen sudah berdiri di ambang pintu balkon, bertopang pada tongkatnya. Senyumnya masih sama. Tenang, seolah ia sudah mendengar segalanya tanpa perlu dijelaskan.
“Saya akan pergi hari ini,” ucap Sabrina lebih dulu. Tegas. “Pak Kael bilang hanya satu malam.”
“Kael akan pulang sebentar lagi,” jawab Nyonya Maureen. “Dan dokter juga akan datang.”
Seolah dipanggil oleh kalimat itu, bel rumah berbunyi.
Pemeriksaan berlangsung di ruang duduk. Sabrina berdiri tak jauh, memperhatikan tanpa mencampuri. Dokter itu mencatat, mengukur, lalu menghela napas pelan.
“Kondisinya masih fluktuatif,” katanya pada Kael yang baru saja masuk ruangan. “Nyonya Maureen sebaiknya tidak sendirian, setidaknya untuk beberapa hari ke depan.”
Kael menegang. “Aku bisa memanggil perawat.”
“Ada,” sahut Nyonya Maureen tenang. “Aku sudah punya.” Matanya melirik ke arah Sabrina yang sedari tadi terdiam.
Kael melangkah mendekat satu langkah. Aura dinginnya menekan ruangan.
“Hanya satu malam bukan?” ucapnya, menahan emosi. “Itu yang kita sepakati. Apa Grandma sudah lupa?”
“Aku tidak lupa,” jawab Nyonya Maureen datar. “Aku sedang memutuskan ulang.”
Keheningan jatuh seperti benda berat.
Kael menarik napas, jelas menahan kesabaran. Tatapannya kembali pada Sabrina. Tajam, dingin, seperti sedang menilai barang yang tak pernah ia pesan.
“Dia OB di perusahaanku,” katanya akhirnya. “Bukan perawat.”
“Dan semalam dia lebih sigap daripada siapa pun,” balas Nyonya Maureen tanpa ragu. “Dia tidak panik. Tidak pergi. Tidak mengambil keuntungan apapun dengan kondisiku.”
Kael mendekat satu langkah. Aura dinginnya menekan ruangan.
“Kenapa harus dia??”
Jam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli kebersihan keluar ruangan. Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan lantai marmer yang dingin. Bau cairan pembersih menyeruak, bau yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.“Pagi, Sab.”Rani muncul dari arah pantry, membawa sapu dan ember kecil. Langkahnya santai.“Pagi,” jawab Sabrina sambil terus berjalan.Rani memperhatikannya lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa sih? Mukamu pucat banget.”“Kurang tidur,” jawab Sabrina singkat.“Kamu itu tiap hari kurang tidur,” Rani mendecak. “Tapi hari ini beda. Kayak habis mikir berat. Padahal kemarin ‘kan libur. Harusnya senang dong karena masih bisa kerja lagi.”Sabrina tersenyum tipis. “Iya ya, Ran. Kamu benar juga.”
“Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memilih orang yang bisa kupercaya.”Kael mendengus, tawa getir lolos dari bibirnya. “Percaya? Bahkan Grandma baru mengenalnya beberapa jam. Dia hanya seorang Office Boy dari divisi kebersihan kantorku. Kita tidak tahu latar belakangnya, motivasinya, atau apa yang dia incar.” “Dan dalam beberapa jam itu,” potong Maureen, “dia terjaga dua kali saat aku kesakitan. Dia tidak panik. Tidak memanggil-manggilmu. Tidak membuat keributan. Dia duduk di kursi itu,” telunjuknya mengarah ke sudut kamar, “dan tetap di sana sampai aku bisa bernapas normal.”“Aku tetap tidak setuju.” Suara Kael memecah pagi yang masih terlalu sunyi untuk perdebatan. Jasnya sudah rapi, jam tangannya berkilau dingin, s
Sabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk.Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna gading. Aroma samar yang menenangkan, seperti teh chamomile dan kayu manis. Bukan bau lembap kamar kosnya. Bukan pula bau cairan pembersih yang biasa menempel di seragamnya. Sabrina menegang. Ingatan semalam menghantamnya sekaligus. Rumah besar itu.Tatapan dingin Kael. Dan tubuh rapuh Nyonya Maureen yang terhuyung sambil memegangi dada. Ia menoleh ke samping. Nyonya Maureen tidak ada di ranjang. Jantung Sabrina berdegup lebih cepat. Ia langsung duduk, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Seragam kebersihan itu masih melekat di tubuhnya. Tampak kusut, tapi utuh. Ia menghela napas lega kecil. Beberapa saat setelahnya pintu kama
Kael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitungan yang dingin. Sementara Sabrina masih menunduk. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia berdiri di antara sofa mahal dan lampu kristal, merasa seperti noda kecil yang salah tempat. Setiap detik terasa menekan, seolah rumah ini sendiri menolaknya.“Aku tidak mengatakan begitu,” ucap Kael akhirnya. Suaranya rendah, tertahan. “Tapi caramu bertindak seolah aku tidak punya suara di rumah ini, Grandma.” Nyonya Maureen menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada tongkat. Posturnya rapuh, namun wibawanya tetap utuh.“Aku membiarkan gadis ini masuk,” katanya tenang. “Dan aku juga yang bertanggung jawab atas itu.” Kael menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya
Bayangan tinggi itu tidak bergerak, tetapi kehadirannya menekan ruangan seperti dinding yang mendadak menyempit. Lampu gantung di ruang tamu terasa lebih redup. Udara berubah dingin. Sabrina berdiri kaku. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar. Napasnya tertahan saat langkah kaki berat itu bergerak mendekat, pelan namun penuh tekanan.Sosok itu akhirnya keluar dari bayangan. Tinggi. Tegap. Bahu lebar dibalut setelan jas gelap yang rapi sempurna. Wajahnya tegas dengan rahang mengeras, sepasang mata abu-abu gelap menatap lurus ke arah Sabrina tanpa ekspresi ramah sedikit pun. Kael Mahendra O’Shea. Pria yang namanya menghantui Sabrina sejak sore tadi kini berdiri hanya beberapa meter darinya.“Kenapa ada orang asing di rumah ini?” Suaranya masih terdengar rendah, dingin, dan memerintah.Sabrina refleks menunduk. Lututnya terasa melemah, tapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak.“Kael,” suara Nyonya Maureen terdengar lebih dulu, tenang namun be
“Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam kebersihan yang warnanya mulai pudar, kontras dengan meja kaca yang mengkilap dan jas mahal orang-orang yang mengelilinginya.“Maaf, Pak. Sa-saya tidak sengaja,” ucapnya terbata. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih. “Saya hanya membersihkan meja. Laptopnya menyala. Saya tidak menyentuh apa pun selain memindahkannya sedikit.”“Tidak menyentuh katamu?” Pria berkacamata di depannya tersenyum tipis, dingin. “Lalu bagaimana folder kerja sama internasional itu bisa hilang setelah kamu masuk ruangan ini?” Sabrina terdiam. Ia tahu dirinya tidak menekan apa pun. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ditampilkan di layar. Tapi siapa yang ma







