เข้าสู่ระบบKabut tipis khas pegunungan masih menyelimuti area perkemahan Taman Safari saat matahari perlahan menyembul dari balik bukit. Udara pagi yang segar dan aroma tanah basah seketika mengusir sisa-sisa ketegangan malam tadi.
Di dekat area padang rumput yang tak jauh dari tenda, suara tawa melengking Aliz terdengar bersahutan dengan anak-anak seusianya yang j
Kabut tipis khas pegunungan masih menyelimuti area perkemahan Taman Safari saat matahari perlahan menyembul dari balik bukit. Udara pagi yang segar dan aroma tanah basah seketika mengusir sisa-sisa ketegangan malam tadi. Di dekat area padang rumput yang tak jauh dari tenda, suara tawa melengking Aliz terdengar bersahutan dengan anak-anak seusianya yang juga sedang berlibur di sana. Adrian tampak berdiri tidak jauh dari cucunya, mengawasi dengan senyum hangat sembari sesekali melambaikan tangan tatkala Aliz memamerkan mainannya kepada teman-teman barunya. Sementara itu, di depan tenda utama, suasana domestik yang jauh lebih tenang sedang tercipta. Sebuah meja lipat kecil telah digelar di atas tikar. Kael baru saja selesai menata beberapa piring dan gelas plastik, lalu memi
“Belum tidur?” Sapaan barusan membuat Kael langsung mendudukkan diri, mulutnya menganga sebentar lalu terkatup lagi. Adrian tersenyum tipis. Sorot lampu senter di tangannya perlahan diturunkan, menyisakan bias temaram yang menerangi wajah kaku Kael di ambang pintu tenda. Pria paruh baya itu menurunkan tangannya dari dada, lalu menatap Kael dengan gelengan kepala samar."Kau mengira siapa yang datang, Tuan Muda? Sabi ‘kah?" tanya Adrian, suaranya berat dan mengintimidasi, seketika membungkam kalimat Kael yang sempat menggantung di udara. Kael berdeham pendek, buru-buru menguasai riak wajahnya demi mengembalikan wibawa formalnya sebagai seorang CEO. "Maaf atas kelancangannya, Tuan. Aku pikir ada hewan liar yang mendekat.""Hewan liar t
Kemacetan sore menuju arah luar kota terasa begitu menjemukan. Di dalam kabin SUV hitam milik Kael yang kedap suara, Aliz yang duduk di baris belakang bersama Sabrina mulai merasa bosan setelah menghabiskan dua judul film kartun. Bocah berusia dua setengah tahun itu mulai bergerak gelisah, membolak-balik boneka jerapahnya, sebelum akhirnya sepasang mata bulatnya menatap ke arah spion tengah. Cukup lama Aliz memperhatikan pantulan di kaca kecil itu, sampai akhirnya ia menunjuk ke depan dengan dahi mengernyit polos."Om... kenapa lihat Mama terrrus?" tanyanya dengan pelafalan huruf R yang begitu khas karena memang ia baru saja membiasakan diri dengan lidahnya. Pertanyaan super jujur dari mulut mungil i
Isi kepala Sabrina mendadak mendidih. Penolakan telak yang baru saja dilayangkan ayahnya membuat atmosfer di dalam apartemen terasa begitu mencekik. Sepasang matanya bergerak gelisah, menatap profil samping Kael yang kini tampak begitu kaku dengan rahang yang mengeras sempurna. Ya. Sabrina dirundung ketakutan yang hebat. Ia tahu betul siapa Kael, pria dengan harga diri setinggi langit yang tidak biasa didebat, apalagi ditolak mentah-mentah di depan umum. Bagaimana jika Kael murka? Bagaimana jika pria itu tersinggung dan memilih untuk berbalik pergi lalu mendiamkannya berhari-hari? Namun di sisi lain, benak Sabrina juga dipenuhi kebingungan yang teramat sangat atas sikap Adrian. Tumben sekali ayahnya bersikap sekeras dan sefrontal ini. Bukankah hubungan mereka sudah membaik setelah perseteruan tiga tahun lalu? Kenapa saat ini ayahnya mendadak memasang benteng pertahanan begitu tinggi, seolah-olah Kael adalah ancaman besar yang harus dihalau dari agen
“Ya. Kami memang mau pergi yang jauh.”“Begitu ya?” gumam Kael yang kini melirik ke arah sumber suara. Di sana ada Aliz yang menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh semangat.“Kami mau pergi lihat gajah sama kelinci-kelinci lucu!" Bocah kecil itu melompat-lompat kecil di depan sofa sambil menunjukkan boneka binatang di pelukannya, memamerkan rencana besarnya kepada Kael yang masih berdiri diam di dekat ruang tengah. Kael menundukkan pandangannya, menatap sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipi gembil Aliz. Senyum tipis yang sarat akan rasa penasaran terukir di wajah tampannya. Ia kemudian beralih menatap Sabrina yang berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah yang tampak agak panik."Melihat gajah sore-sore begini?" tanya Kael, menuntut penjelasan dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. Tatapannya yang tajam langsung mengunci manik mata Sabrina. Sabrina mengembuskan napas panjang, merasa tidak punya pilihan lain selain membongkar renca
“Aku tidak bisa tenang kalau tidak menyusulnya ke sana hari ini juga.” Suara Ganda terdengar berat, dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. Ia berdiri di tengah ruang apartemen sambil meremas ponselnya kuat-kuat, seolah berharap kabar dari Singapura akan berubah menjadi lebih baik jika ia terus menatap layar itu.Sabrina mengangguk pelan. Ia bisa melihat jelas kepanikan di mata kakaknya.“Pergi saja, Bang,” ujarnya lembut sambil menepuk bahu Ganda untuk menenangkan. “Urusan Aliz biar aku yang tangani di sini.”Ganda mengusap wajahnya kasar. “Tapi aku…”“Aku akan memastikan dia baik-baik saja,” potong Sabrina tegas. “Kau fokus saja pada terapi Gladis.” Kalimat itu sedikit melegakan Ganda. Namun, masalahnya ternyata belum selesai
Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut
"Maafkan aku karena harus merepotkanmu dengan urusan ini, Sab," bisik Kael. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Sabrina. "Selesaikan ini dengan cepat, lalu segera susul aku. Kita bertemu di kantor. Aku tidak suka bekerja sendirian."&n
"Kael, bisakah kau bantu aku membenarkan posisi dudukku? Pinggangku rasanya kaku sekali karena tidak boleh menggerakkan kaki kanan ini sama sekali. Sakitnya sampai ke saraf tulang belakang," rintih Gladis dengan suara yang sengaja dilemahkan, serak dan penuh permohonan.&
Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol terasa begitu panjang bagi Sabrina. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu flat berbunyi ritmis, menciptakan gema di antara dinding-dinding putih yang pucat. Ia berjalan







