登入Tiga hari pelayaran di atas Laut Flores akhirnya membawa luxury yacht milik Kael merapat di dermaga privat Labuan Bajo pada malam hari.
“Gendong, Kael. Kakiku masih lemas,” rengek Sabrina manja sembari mengulurkan kedua tangannya dari tepi dek kapal.
Kael terk
Alih-alih mengadu atau apa, Sabrina malah menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Dia memberi kode agar Kael tetap tenang. Suaminya itu lantas melonggarkan cengkeramannya, namun tetap berdiri tegap di samping istrinya. Saat itulah Marsha mendongak dan seketika terpesona melihat Kael. Matanya melotot kagum memandangi wajah tampan, rahang tegas, dan perawakan tinggi tegap pria asing di hadapannya. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi sinis. Dia melangkah mendekat lalu berbisik di telinga Sabrina dengan nada mencibir, tanpa sadar kalau volume suaranya masih bisa didengar jelas oleh Kael.“Oh, jadi ini alasan kenapa lu keluyuran di sini ya, Sabri? Ternyata lu beralih profesi jadi ani-ani piaraan bule? Hahaha, miris banget.
“Ingat ya. Jangan sampai kau tumbang. Ingat umur!!” Suara Ganda terdengar menggelegar dari speaker ponsel yang tergeletak di atas nakas, memecah keheningan kamar dengan nada sindiran yang begitu renyah.“Aku tidak setua yang kau pikirkan, Ganda,” geram Kael dengan suara baritonnya yang serak, meremas selimut tebalnya dengan menahan kekesalan yang teramat sangat. Kalau saja pria di seberang telepon itu bukan kakak iparnya, Kael bersumpah sudah akan memaki dan menutup panggilan itu sejak detik pertama.Ganda justru terkekeh puas di seberang sana. “Kapten kapalmu sendiri yang melapor padaku kalau kau dan Sabrina langsung tepar bersama begitu tiba di vila. Makanya, kalau sedang sakit itu istirahat, jangan malah bertingkah seolah kau masih berusia dua p
Sabrina mencoba memalingkan wajahnya yang memerah, namun jemari Kael dengan lembut namun tegas menopang dagunya, memaksa sepasang manik mata mereka untuk kembali beradu.“Kau meragukan ketangguhanku hanya karena aku sedang demam, hmm?” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan begitu mengintimidasi ego kelaki-lakiannya.Sabrina menggeleng cepat dengan raut panik yang menggemaskan, lalu berkata, “Kau ini apa-apaan sih? Turunlah, badanmu berat sekali!” Kael yang sudah dilanda cemburu aneh itu malah kembali bersuara, mengabaikan protes istrinya. Seringai tipisnya terbit, penuh dengan kilat provokasi yang seksi. “Bagaimana kalau kita tes bersama, apakah tenagaku ini sudah sepenuhnya pulih atau belum?”
Meskipun suhu tubuh mereka tidak setinggi kemarin, sisa-sisa demam dan rasa lemas yang luar biasa masih menggelayuti persendian keduanya. Efek dari pelayaran penuh gairah itu benar-benar menuntut waktu istirahat yang tidak sedikit. Kael yang biasanya selalu tampil tegap, kaku, dan penuh wibawa, kini melepaskan seluruh harga dirinya. Pria itu berbaring menyamping di atas ranjang dengan posisi yang sangat manja. Kepalanya bersandar dengan begitu nyaman di atas pangkuan hangat Sabrina yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Jemari lentik Sabrina bergerak dengan telaten, menyusup di antara helaian rambut Kael yang berantakan, memberikan pijatan-pijatan lembut pada kulit kepalanya untuk membantu meredakan rasa pening yang ma
Sabrina seketika panik. Jangankan membuka kaki, dia justru mengapitkan kedua pahanya dengan sangat rapat, mengunci pertahanannya kuat-kuat di atas seprai.“Sudahlah! Lupakan saja!” rengek Sabrina manja, menyembunyikan wajahnya yang kini terasa jauh lebih panas dari suhu demamnya sendiri. Namun, kali ini Kael yang justru kumat sifat keras kepalanya. Pria itu menahan kedua pergelangan tangan Sabrina dengan lembut namun mengunci pergerakan istrinya tanpa celah.“Kenapa? Sekarang kau malah malu?” goda Kael dengan suara serak yang seksi. “Ingatlah kalau aku sudah melihat semua lekuk tubuhmu tanpa sisa, Sayangku. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.”
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Kael bertanya dengan raut wajah yang luar biasa tegang, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya sendiri sebenarnya juga terasa sedingin es dan lemas tak bertenaga. Dokter paruh baya yang baru saja selesai memeriksa Sabrina itu tersenyum maklum. Dia merapikan stetoskopnya sebelum berbalik menatap CEO muda di hadapannya.“Anda tidak perlu panik secara berlebihan, Pak. Ini bisa terjadi karena kelelahan fisik yang sangat ekstrem.”“Kelelahan fisik? Tapi kami hanya...” Kael menggantung kalimatnya, mendadak menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya berdehem canggung.“Tiga hari di atas laut, ditambah aktivitas... fisik yang terlalu intens,” lanjut sang dokter dengan nada yang sangat hati-hati, mencoba menjaga profesionalitasnya. “Tubuh kalia
Suara desis dari lubang ventilasi di langit-langit ruang kerja itu mendadak berubah nada. Bukan lagi hembusan udara sejuk yang keluar, melainkan bunyi sedotan mekanis yang berat dan konstan.&n
"Pastikan sopirku selamat terlebih dahulu. Cari dia di sekitar parit jalur belakang," ucap Kael dengan nada otoritas yang tak terbantah. Ia berbicara pada pergelangan tangannya, di mana smartwatch miliknya akhirnya menunjukkan tanda kehidupan setelah sempat mati suri. "Aku sedang bersemb
Di sinilah Sabrina sekarang. Ia terseok mengekor langkah lebar Kael menuju lift. Di dalam kotak logam yang tertutup itu, keheningan terasa mencekam. Sabrina masih berusaha menetralkan detak jantungnya sambil terus menunduk, menata
“Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?







