LOGIN“Bagaimana keadaannya, Dokter?”
Kael bertanya dengan raut wajah yang luar biasa tegang, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya sendiri sebenarnya juga terasa sedingin es dan lemas tak bertenaga.
Dokter paruh baya yang baru saja selesai memeriksa Sabrina itu tersenyum maklum. Dia merapikan stetoskopnya sebelum berbalik menatap CEO muda di had
Sabrina mencoba memalingkan wajahnya yang memerah, namun jemari Kael dengan lembut namun tegas menopang dagunya, memaksa sepasang manik mata mereka untuk kembali beradu.“Kau meragukan ketangguhanku hanya karena aku sedang demam, hmm?” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan begitu mengintimidasi ego kelaki-lakiannya.Sabrina menggeleng cepat dengan raut panik yang menggemaskan, lalu berkata, “Kau ini apa-apaan sih? Turunlah, badanmu berat sekali!” Kael yang sudah dilanda cemburu aneh itu malah kembali bersuara, mengabaikan protes istrinya. Seringai tipisnya terbit, penuh dengan kilat provokasi yang seksi. “Bagaimana kalau kita tes bersama, apakah tenagaku ini sudah sepenuhnya pulih atau belum?”
Meskipun suhu tubuh mereka tidak setinggi kemarin, sisa-sisa demam dan rasa lemas yang luar biasa masih menggelayuti persendian keduanya. Efek dari pelayaran penuh gairah itu benar-benar menuntut waktu istirahat yang tidak sedikit. Kael yang biasanya selalu tampil tegap, kaku, dan penuh wibawa, kini melepaskan seluruh harga dirinya. Pria itu berbaring menyamping di atas ranjang dengan posisi yang sangat manja. Kepalanya bersandar dengan begitu nyaman di atas pangkuan hangat Sabrina yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Jemari lentik Sabrina bergerak dengan telaten, menyusup di antara helaian rambut Kael yang berantakan, memberikan pijatan-pijatan lembut pada kulit kepalanya untuk membantu meredakan rasa pening yang ma
Sabrina seketika panik. Jangankan membuka kaki, dia justru mengapitkan kedua pahanya dengan sangat rapat, mengunci pertahanannya kuat-kuat di atas seprai.“Sudahlah! Lupakan saja!” rengek Sabrina manja, menyembunyikan wajahnya yang kini terasa jauh lebih panas dari suhu demamnya sendiri. Namun, kali ini Kael yang justru kumat sifat keras kepalanya. Pria itu menahan kedua pergelangan tangan Sabrina dengan lembut namun mengunci pergerakan istrinya tanpa celah.“Kenapa? Sekarang kau malah malu?” goda Kael dengan suara serak yang seksi. “Ingatlah kalau aku sudah melihat semua lekuk tubuhmu tanpa sisa, Sayangku. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.”
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Kael bertanya dengan raut wajah yang luar biasa tegang, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya sendiri sebenarnya juga terasa sedingin es dan lemas tak bertenaga. Dokter paruh baya yang baru saja selesai memeriksa Sabrina itu tersenyum maklum. Dia merapikan stetoskopnya sebelum berbalik menatap CEO muda di hadapannya.“Anda tidak perlu panik secara berlebihan, Pak. Ini bisa terjadi karena kelelahan fisik yang sangat ekstrem.”“Kelelahan fisik? Tapi kami hanya...” Kael menggantung kalimatnya, mendadak menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya berdehem canggung.“Tiga hari di atas laut, ditambah aktivitas... fisik yang terlalu intens,” lanjut sang dokter dengan nada yang sangat hati-hati, mencoba menjaga profesionalitasnya. “Tubuh kalia
Tiga hari pelayaran di atas Laut Flores akhirnya membawa luxury yacht milik Kael merapat di dermaga privat Labuan Bajo pada malam hari.“Gendong, Kael. Kakiku masih lemas,” rengek Sabrina manja sembari mengulurkan kedua tangannya dari tepi dek kapal. Kael terkekeh rendah, langsung menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Sabrina dengan sigap. “Ini pasti karena gebrakan beranimu tadi malam ya?”“Kael! Jangan mulai, ya!” seru Sabrina sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah di ceruk leher suaminya. Kael tidak membiarkan istrinya kelelahan berjalan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Kael
“Tahan berapa ronde?” tanya Ganda di seberang telepon dengan nada yang sangat usil dan memancing emosi. “Kau harus ingat, Sabi. Suamimu itu keturunan bule. Jadi bersiaplah…”“Ganda gendeng!!” semprot Sabrina dengan mata yang sudah melotot. “Mulutmu ya benar-benar!!” Sabrina hendak melanjutkan omelannya lagi. Namun, niatan istri Kael itu terjeda saat suara polos Aliz tiba-tiba menyela dari kejauhan, terdengar sangat penasaran."Mama Sabi dan Om Galak main apa, Pa?""Main kuda-kudaan, dan…"Plak! Ucapan Ganda terputus begitu saja, digantikan oleh suara pekikan tertahan dari pria itu. Tampaknya ponsel tersebut te
Kael melangkah mendekat. Bukannya bertanya siapa yang baru saja keluar dari sana, ia justru melakukan hal yang tak terduga. Ia melepas jas navy mahalnya, lalu dengan gerakan kaku namun tegas, menyampirkannya ke bahu Sabrina yang masih bergetar hebat."Tuan... tidak perlu," bisik Sabrina
Kael yang memiliki pendengaran tajam seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia mendongak, matanya yang abu-abu menatap Sabrina dengan penuh selidik.
Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.&
Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,







