LOGIN“Mimpi itu terasa sangat nyata, Kael. Aku takut hilangnya cincin itu adalah awal dari sesuatu yang buruk. Aku istri yang teledor, baru dua minggu dan aku sudah menghilangkan barang sepenting itu.”
Kael tidak langsung memotong kalimat istrinya. Pria tegap itu tetap mempertahankan posisinya, mendekap tubuh ringkih Sabrina dengan penuh kesabaran. Tangan kekarnya bergerak teratur mengusap p
"Ada apa, Ganda? Katakan langsung.”"Ini bukan lagi masalah persaingan bisnis korporat yang biasa kita hadapi, Kael. Ini jauh lebih buruk."Dahi Kael semakin berkerut rapat. "Maksudmu?""Kelompok gangster lama dan jaringan mata-mata Sayap Burung Perak kembali menunjukkan pergerakan di bawah tanah," ungkap Ganda dengan nada serius yang tertahan. "Musuh bebuyutan yang mengincar klan kita dari masa lalu itu... kau pasti paham mereka."Jantung Kael berdesir tajam, namun ekspresi wajahnya justru semakin mengeras sedingin es. "Bagaimana bisa mereka tahu keberadaanku?""Aku juga tidak tahu," jelas Ganda cepat. "Dan yang paling krusial sekarang, kau dan Sabrina sedang dalam intaian mereka, Kael." Sepasang mata elang Kael berkilat tajam. Rahangnya mengeras seketika, dan aura mematikan yang di
“Mimpi itu terasa sangat nyata, Kael. Aku takut hilangnya cincin itu adalah awal dari sesuatu yang buruk. Aku istri yang teledor, baru dua minggu dan aku sudah menghilangkan barang sepenting itu.” Kael tidak langsung memotong kalimat istrinya. Pria tegap itu tetap mempertahankan posisinya, mendekap tubuh ringkih Sabrina dengan penuh kesabaran. Tangan kekarnya bergerak teratur mengusap punggung Sabrina, naik turun, menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang sangat dibutuhkan wanita itu. Dia mendengarkan setiap patah kata ketakutan yang keluar dari bibir Sabrina tanpa sedikit pun gurat kekesalan di wajahnya. Setelah beberapa saat sampai tangis sesenggukan Sabrina mulai sedikit mereda, Kael perlahan melonggarkan pelukannya. Dia memegang kedua bahu Sabrina, menuntun wanita itu agar dudu
Sabrina langsung panik setengah mati. Matanya bergerak liar memandangi tumpukan pasir putih yang basah di bawah kakinya, lalu beralih menatap aliran air yang mengalir cepat menuju celah-celah batu karang kecil. Tubuhnya mendadak bergetar hebat saat menyadari betapa cerobohnya dia tadi. Kael yang baru saja selesai berbicara dengan Ahmed menyadari perubahan drastis pada punggung istrinya yang tiba-tiba menegang. Dia melangkah mendekat, lalu menyentuh pundak Sabrina dengan lembut."Ada apa, hmm? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Sabrina berbalik dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis. Dengan bibir yang bergetar karena rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa, dia mengangkat tangan kirinya yang kosong ke hadapan
“Kael?”“Eh, ya?” gumam Kael dengan suaranya yang terdengar gugup.“Kau kenapa sih sebenarnya?” tanya Sabrina mulai cemberut. “Kalau kau tidak mau, ya sudah. Kita istirahat saja.” Menyadari bahwa istrinya hendak merajuk, Kael langsung menggeleng. Sepasang mata elangnya berkilat usil saat tangannya terulur mengambil salah satu kotak beraroma strawberry. Dengan gerakan cepat yang membuat Sabrina memekik pelan, Kael kembali mengurung tubuh istrinya di bawah kungkungan tubuh tegapnya. Sebuah seringai seksi terukir di bibir pria itu.“Karena kau sudah telanjur membelinya, tidak keren kalau hanya dipajang di atas ranjang,” bisik Kael nakal, tepat di depan wajah Sabrina yang sudah semerah tomat. “Mari kita coba, apakah benda pilihanmu ini bisa melawa
“Apa kau marah?” Kael tidak menjawab. Pria tegap itu hanya meremas lembut tangan Sabrina yang sedari tadi berada di dalam genggamannya. Ya. Mereka tidak jadi bercinta karena memang tak punya alat pengaman yang dipinta Sabrina. Jelas saja begitu, mengingat baru tadi mereka membahas tentang keinginan menunda anak secara mendalam. Alhasil, di sinilah mereka sekarang, duduk bersisian menikmati makan malam dengan pemandangan indah Pulau Socotra. Suasana di sekitar mereka terasa sangat eksotis. Meja makan privat mereka ditata di atas tebing batu rendah yang menghadap langsung ke arah Laut Arab. Angin pantai yang hangat berembus lembut, menemani kilauan cahaya keemasan dari obor bambu yang berpadu indah dengan langit senja yang mulai menggelap. Aroma hidangan laut segar yang dibakar dengan bumbu khas lokal menguar di udara, menciptakan atmosfer romantis yang menenangkan setelah belasan jam perjalanan udara. Tak lama kemudian, pemandu wisata lok
Keheningan mendadak menyergap kamar tidur bernuansa kayu estetis itu setelah pertanyaan Sabrina terlontar. Gerakan ibu jari Kael yang semula mengusap pipi Sabrina langsung terhenti selama beberapa detik. Sepasang manik mata elangnya yang tadi menatap teduh kini berubah menjadi intens, seolah sedang menyelami isi kepala istrinya yang mendadak penuh misteri. Kael tidak langsung menjawab dengan kata ya atau tidak. Pria bertubuh tinggi besar itu memilih untuk mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Dia menarik tubuh Sabrina ke dalam dekapannya, lalu memeluknya dari belakang.Kael mengecup puncak kepala Sabrina sebelum akhirnya membuka suara. “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu sekarang, hmm? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Sabrina terdiam sejenak, meraba jemari tangan kekar Kael yang melingkar di perutnya sebelum akhirnya berani mengutarakan kejujuran yang selama ini berkecamuk di dalam dadanya.“Aku hanya... merasa tid
"Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek
Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera
Malam di Surabaya kian larut, namun udara di dalam kabin sedan mewah itu terasa jauh lebih berat daripada kelembapan di luar sana. Kael mencengkeram kemudi dengan presisi yang kaku. Matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang memantulkan pendar lampu merkuri, sementara pikirannya entah
Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos







