LOGIN"Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat," tanya Kael lembut, memecah keheningan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Ia melangkah mendekat, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap lekat sepasang mata Sabrina yang tampak kosong.Sabrina tersentak, buru-buru menarik napas dalam demi menguasai gemuruh di dadanya. "Aku... aku tidak apa-apa, Kael. Hanya mendadak merasa sangat lelah."Ganda yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera mendekat sembari menggendong Aliz yang sudah kembali memejamkan mata di ceruk lehernya. "Lebih baik kau segera istirahat, Sabi. Biar Aliz tidur denganku di kamar sebelah malam ini. Dan Kael, sepertinya kau juga harus pulang.""Terima kasih, Ganda," ucap Kael tulus. Setelah Ganda melangkah masuk ke dalam kamar, Kael beralih sepenuhnya pada Sabrina. Ia meraih kedua tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Jangan pikirkan u
Kehangatan romantis yang baru saja mereka bawa dari jalanan seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh atmosfer yang mendadak mencekam dan menegangkan begitu pintu apartemen terbuka lebar. Pemandangan di dalam ruang tengah yang luas itu membuat Kael langsung menegang sempurna dengan rahang mengeras kokoh, sementara Sabrina refleks melangkah mundur satu tapak dengan jantung yang mencelos. Di atas sofa ruang tamu, Ganda sedang duduk sembari memangku Aliz yang masih menyesuaikan diri lantaran baru saja bangun dari tidur siangnya. Namun, keberadaan mereka berdua bukanlah alasan di balik perubahan drastis ekspresi Kael. Di tengah ruangan itu, duduk sosok Nyonya Maureen yang memancarkan aura wibawa yang teramat kuat. Dan tepat di sebelah sang nenek, Rosaleen melemparkan senyu
“Ayo katakan!” Itu dikatakan Sabrina sembari memandang Kael dengan tatapan berapi-api penuh emosi yang tertahan. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya masih mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Di dalam kabin mobil yang mendadak sunyi setelah sentakan rem mendadak di bahu jalan itu, Sabrina menuntut jawaban. Kael tidak langsung membalas dengan bentakan. Menghadapi kobaran amarah dan kecemburuan yang meletup-letup dari kekasihnya, sepasang mata elang pria itu justru melunak. Ada gurat kelelahan yang nyata di sana, berbaur dengan rasa takut yang teramat besar akan kehilangan. Secara perlahan, Kael mengulurkan kedua tangannya. Ia meraih jemari Sabrina, melepaskan cengkeraman erat gadis itu dari setir mobil, lalu menggenggamnya dengan lembut namun penuh penekanan."Aku mau kau melihatku saja. Hanya fokus pada kita berdua. Bukan Rosaleen, bukan juga Daniel," ucap Kael, nadanya berangsur rendah dan teramat dalam.
Sabrina memaku pandangannya pada sosok Rosaleen yang baru saja melangkah masuk tanpa permisi tadi. Wanita itu memiliki garis wajah bule keturunan Irlandia yang sangat kental. Kulitnya seputih porselen, rambut pirang madu yang bergelombang alami, serta sepasang mata hijau jernih yang tampak berkilau percaya diri. Pakaian yang dikenakannya merupakan setelan blazer desainer ternama berwarna krem yang melekat sempurna di tubuh tingginya, memancarkan aura kemewahan yang teramat intimidatif. Sungguh sebuah perpaduan visual yang nyaris sempurna. Kenyataan bahwa Rosaleen adalah sosok wanita asing yang begitu memesona seketika memicu rasa minder yang halus di lubuk hati Sabrina, membuat dinding pertahanan dirinya yang sempat runtuh semalam kini kembali merapat dengan begitu kokoh."Sepertinya kalian punya urusan keluarga yang harus diselesaikan. Aku harus kembali ke laboratorium sekarang," ucap Sabrina memotong dengan nada suara yang teramat tenang dan formal. Ia segera
Kael mengangguk, lalu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "O'Shea di sini. Siapa ini?""Lama tidak terdengar suaramu, Tuan Muda Kael," sebuah suara perempuan yang terdengar manja namun bernada menuntut menyahut dari seberang sana. "Kael! Aku baru saja mendarat di Jakarta. Grandma bilang kau sedang sibuk berkencan, jadi aku terpaksa meminta nomor barumu pada asistenmu. Jemput aku sekarang, ya?" Rahang Kael mendadak mengeras sempurna. Ekspresi wajahnya yang semula hangat pada Sabrina langsung berubah menjadi sangat dingin dan dipenuhi rasa tidak suka. "Jangan menggangguku. Aku sedang sibuk.""Busy? Dengan kekasih barumu itu?" kekeh suara di seberang sana, terdengar meremehkan. "Kau benar-benar berubah ya sejak dua tahun lalu. Jangan dingin begitu padaku." Tanpa membalas sepatah kata pun, Kael langsung memutus sambungan secara sepihak. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan ketukan yang sedikit kasar, mencoba mered
Sabrina : [Kael... besok jam makan siang, apa ...kau sibuk? Aku ingin bertemu.] Kael mematung di tempat duduknya, menatap layar ponsel itu dengan sepasang mata yang membelalak sempurna, sementara jantungnya mendadak berdegup kencang dengan debaran yang teramat liar. Jemarinya yang semula kaku segera bergerak cepat di atas papan ketik, menolak membuang waktu bahkan untuk satu detik pun.Kael: [Aku tidak pernah sibuk jika itu untukmu. Di mana dan jam berapa?] Di ujung sana, Sabrina menghela napas panjang melihat balasan kilat tersebut. Rasa hangat sekaligus gugup merayapi dadanya sebelum ia mengetikkan sebuah nama restoran privat yang tenang di pusat kota. Keesokan harinya, suasana di lantai teratas gedung O'Shea Group mendadak berubah seratus delapan puluh de
Ruangan VIP Lounge yang semula terasa lapang mendadak menyempit bagi Kael. Pria itu terpaku di ambang pintu, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh rencana logis di
Sabrina muncul di ambang pintu ruangan Kael dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Tangannya masih menggenggam erat sebuah sapu, sisa dari pekerjaannya membersihkan selasar lantai eksekutif. Napasnya sedikit memburu karena
"Woi, Ganda! Berhenti nyengir sendiri, kayak orang gila tahu gak sih?" Teguran kasar itu membuyarkan lamunan Ganda. Ia tersentak, hampir menjatuhkan puntung rokok yang sedari tadi menggantung di sudut bibirnya. Temannya, se
Kalimat itu meluncur dari bibir Nyonya Maureen dengan ketenangan yang menghina akal sehat sang cucu. Kael menggeram frustrasi, ia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara denting yang nyaring."G







