MasukCahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Nyonya Maureen, menyapu lembut wajah Sabrina yang masih terlelap. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra itu, Sabrina tampak begitu tenang, wajahnya yang damai membuat siapa pun akan teringat pada sosok putri tidur dalam dongeng lama. Tidak ada sisa kemarahan atau isakan pilu yang tadi malam menghancurkan jiwanya; yang tersisa hanyalah kecantikan yang rapuh di tengah badai yang belum usai. Di sudut ruangan, Nyonya Maureen berdiri memperhatikan cucunya dan gadis itu dengan tatapan sayu."Kasihan sekali. Gadis itu pasti selalu merasa terancam," kata sang nenek, suaranya parau oleh usia dan rasa prihatin. Kael hanya diam. Ia
“Victor, dengar aku baik-baik.” Suara Kael terdengar rendah namun tajam, memotong keheningan di dalam panic room yang dipenuhi deretan monitor keamanan. Ia berdiri di dekat meja kontrol sambil memegang telepon satelit dengan erat.“Tarik semua tim Alpha dari sektor timur,” lanjutnya tegas. “Pindahkan mereka ke jalur utama sekarang juga. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun di area ini.” Dari seberang sambungan terdengar suara samar sang kepala keamanan. Kael melanjutkan tanpa memberi jeda.“Pantau setiap pergerakan. Jika ada kendaraan atau orang asing yang mendekat, laporkan padaku sebelum mereka melewati pagar kedua.”Ia berhenti sebentar, menatap layar yang menampilkan halaman rumah besar itu.“Dan Victor,” tambahnya dingin. &l
"Apa maksud Bang Ganda tentang operasi pembersihan itu?" Suara Sabrina memecah keheningan yang menyesakkan, matanya menatap tajam ke arah Kael yang masih menggenggam ponselnya yang sudah gelap. Kael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu ek seolah sedang menimbang beban rahasia yang selama ini ia pikul sendiri."Ada bagian dari sejarah keluarga kita yang sengaja dikubur agar kau bisa tidur dengan nyenyak setiap malam.""Jangan gunakan kalimat klise itu lagi," potong Sabrina cepat, nada suaranya meninggi. "Ayahku tertahan di perbatasan, dan musuhmu menggunakan namanya sebagai senjata. Aku bukan seperti Aliz, anak kecil yang hanya bisa kau beri dongeng sebelum tidur. Katakan yang sebenarnya!"
Kael meletakkan gelas air hangat yang masih mengepul itu ke meja kayu di samping mereka. Suasana hening di dalam panic room membuat suara gesekan gelas dan meja terdengar begitu nyaring. Perlahan, Kael meraih kedua tangan Sabrina, menggenggamnya dengan jemari yang masih terasa dingin. Tatapannya yang tadi sempat melunak kini berubah menjadi sangat serius, mengunci manik mata Sabrina yang masih basah."Aku tidak akan membohongimu dengan kata-kata manis," ucap Kael pelan namun tajam. "Selama nama O'Shea masih melekat pada silsilah ini, ancaman akan selalu mengintai dari bayang-bayang. Aku tidak bisa menjanjikan kedamaian yang kau impikan, tapi aku bisa menjanjikan perlindungan mutlak selama aku masih bernapas." Sabrina merasa dunianya yang selama ini ia susun dengan logika sederhana kini benar-benar hancur berantakan. Ia harus menerima fakta pahit bahwa pria yang ia cintai bukan sekadar CEO sukses, melainkan target permanen dari dendam masa lalu."Ken
Denging panjang memekakkan telinga setelah dentuman itu meledak. Sabrina mematung. Selama beberapa saat, dunianya kehilangan warna dan suara. Ia hanya menatap nanar pada sosok yang terkapar di lantai, sementara getaran hebat mulai menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya. Asap mesiu masih mengepul, mengaburkan pandangan sejenak. Namun, begitu kabut itu menipis, Sabrina jatuh terduduk. Di depannya, sosok pria yang mengenakan jaket yang sangat mirip dengan milik kakaknya tergeletak bersimbah darah. Wajahnya hancur terkena peluru, namun postur dan pakaian itu benar-benar menyerupai Ganda."T-tidak... Bang Ganda..." bisik Sabrina dengan bibir gemetar. Air mata langsung luruh membasahi pipinya. Ia merangkak mendekat, hendak menyentuh tubuh yang sudah tak bernyawa itu, merasa dunianya runtuh seketika. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kain jaket tersebut, langkah kaki yang tegas dan berat bergema di lorong marmer. Sabrina mendongak dan menemuk
Nyonya Maureen bergerak dengan ketenangan yang ganjil. Ia tidak tampak panik, melainkan sangat terukur setelah kondisi yang membuat wanita tua itu terkejut beberapa saat lalu. Dengan satu sentuhan pada ukiran kayu ek di rak buku yang menjulang tinggi, sebuah panel rahasia terbuka dengan suara desis halus. Sabrina, yang jantungnya masih berpacu karena suara tembakan di luar, segera ditarik masuk ke dalam kegelapan yang kemudian disinari oleh cahaya lampu neon otomatis. Panel itu tertutup rapat, mengunci mereka di dalam sebuah panic room yang dilapisi baja tahan ledakan. Di tengah ruangan, deretan monitor menampilkan setiap sudut kediaman O’Shea melalui kamera infra merah."Duduklah, Sabrina. Kita aman di sini untuk sementara," ucap Nyonya Maureen lembut, meski matanya tetap tertuju pada layar monitor. Sabrina duduk dengan lemas, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan Kael bergerak taktis di balik pilar marmer teras utama. "Nyonya, ke
Ruangan VIP Lounge yang semula terasa lapang mendadak menyempit bagi Kael. Pria itu terpaku di ambang pintu, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh rencana logis di
Sabrina muncul di ambang pintu ruangan Kael dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Tangannya masih menggenggam erat sebuah sapu, sisa dari pekerjaannya membersihkan selasar lantai eksekutif. Napasnya sedikit memburu karena
"Woi, Ganda! Berhenti nyengir sendiri, kayak orang gila tahu gak sih?" Teguran kasar itu membuyarkan lamunan Ganda. Ia tersentak, hampir menjatuhkan puntung rokok yang sedari tadi menggantung di sudut bibirnya. Temannya, se
Kalimat itu meluncur dari bibir Nyonya Maureen dengan ketenangan yang menghina akal sehat sang cucu. Kael menggeram frustrasi, ia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara denting yang nyaring."G







