Masuk“Um… Sayang... ini salah satu dari sekian banyak hal yang aku kangen dari kamu,” bisik Morgan. Ia terus menyesap dada Cindy dengan lembut namun intens, seolah sengaja menyiksa wanita itu dengan sentuhan yang tak diinginkannya. Tanpa membuang waktu, Morgan segera meraih sisa kain pakaian Cindy yang telah sobek. Dengan gerakan kasar dan terlatih, ia mengikat kedua tangan Cindy pada besi kepala ranjang, memastikan mangsanya tidak bisa lagi menghindar. Cindy hanya bisa meronta sia-sia; kedua kakinya menendang udara, mencoba memberikan perlawanan terakhir yang tak berarti. Morgan sama sekali tidak terganggu. Dengan mata yang berkilat penuh damba, ia melucuti celana minim yang dikenakan Cindy, memaparkan bagian tubuh wanita itu yang paling ia puja—keindahan yang selalu menjadi obsesinya, juga bagi lelaki mana pun yang melihatnya. Cindy memejamkan mata erat-erat, air matanya jatuh kian deras. Di bawah tatapan lapar Morgan, ia merasa dunianya benar-benar runtuh, meninggalkan luka ya
“Ngapain kamu ke sini?!” bentak Cindy pada Morgan. Suaranya tertahan, nyaris berupa bisikan tajam agar seolah bisikan itu bisa terdengar oleh Nathan. “Aku cuma mau dateng, Sayang. Cuma mau ngobrol biasa…,” ucap Morgan dengan senyum miring yang meremehkan. Ia menahan daun pintu itu dengan satu tangan, mencegah Cindy menutup aksesnya. “Nggak! Nggak bisa! Pergi, Mas! Pergi dari sini atau kamu—” Kalimat Cindy terputus. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong pintu, namun wajahnya kini memerah karena panik dan kelelahan. “Atau apa, hmm?” tanya Morgan dengan nada rendah yang menggoda sekaligus mengancam. Tanpa perlu banyak tenaga, Morgan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, membuat tubuh Cindy terhuyung mundur. Morgan melangkah masuk dengan leluasa, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang mematikan. Cindy yang mulai terdesak segera mundur, matanya liar mencari benda apa pun yang bisa ia jadikan alat pertahanan diri—atau mungkin senjata. “Sayang…” p
“Soal apa, Tante?” tanya Nathan penasaran. Di sampingnya, Cindy tampak menegang. Jari-jarinya saling bertaut, napasnya sedikit tertahan, seolah tak siap mendengar lanjutan kalimat itu. “Soal…,” bibinya menggantungkan ucapan, tatapannya meredup sejenak. “Ma, jangan deh,” sela pamannya cepat sambil menggeleng pelan. “Nggak enak sama Cindy…,” lanjutnya, lalu kembali mengunyah makanannya, berusaha mengalihkan suasana. Namun diam yang tersisa justru terasa lebih berat, membuat Cindy semakin gelisah. “Iya sih… maaf ya, Nathan, Cindy,” ucap bibinya pelan. Nada suaranya melunak. “Tante seharusnya mendinginkan suasana, bukan malah membuka hal-hal yang bikin nggak nyaman. Maaf ya…” Ia tersenyum kecil, mencoba menepis sisa kegelisahan yang sempat menggantung di udara. “Ah, sudahlah. Pokoknya fokus aja sama perjalanan kalian ini. Tante doain ke depannya nggak ada lagi masalah yang nggak bisa kalian selesaikan bersama, ya.” Cindy dan Nathan mengangguk pelan. Nathan meremas tangan Cin
“Iya, Om, Tante. Jadi… aku ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante,” ucap Nathan pelan, namun terdengar mantap. Tangannya masih menggenggam tangan Cindy, seolah memberi kekuatan. “Kami mau menikah lagi dan butuh saksi sekaligus wali. Karena… Papa sama Mama sudah tidak akan memberi respons apa pun.” Senyum tipis masih bertahan di wajah Nathan, meski matanya menyiratkan lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Um…” Paman dan bibinya bersuara hampir bersamaan. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada jeda sunyi di antara mereka—hening yang sarat makna, seolah masing-masing tengah menimbang beban keputusan yang akan diambil, sekaligus memahami luka yang dibawa Nathan dan Cindy ke hadapan mereka. “Ya sudah, kapan kalian nikah? Di gedung mana? Atau di apartemen?” tanya pamannya sambil tersenyum hangat, menatap Nathan dan Cindy bergantian. “Jadi… Om mau?” tanya Nathan lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar,
“Iya, Bude… masih ingat sama aku?” tanya Cindy sambil tersenyum, nada suaranya sopan namun hangat. “Oalah… ternyata bener toh,” sahut sang Bude sambil menatap Cindy dari ujung kepala hingga kaki. Senyum lebarnya mengembang. “Sekarang makin cantik aja.” Ia lalu bertepuk tangan kecil. “Ayo, ayo… anu… Om sama Tante ada di lantai atas. Ayo.” Tanpa menunggu lama, Bude itu segera memimpin jalan. Tangga melingkar yang elegan mereka naiki bersama hingga tiba di lantai dua. Setibanya di atas, pembantu rumah tangga itu mengetuk pintu ruang keluarga. “Permisi… ada tamu,” ucapnya sopan. “Siapa, Bude?” tanya Anggi—Tante Nathan—dari dalam ruangan. “Mas Nathan sama…” Pembantu itu tersenyum lebar, lalu mengangkat ibu jarinya ke arah mereka berdua. “...mantan istrinya.” “Oh?” Anggi menoleh, lalu matanya membesar saat melihat keduanya. “Nathan? Cindy?” Nada suaranya terdengar campur aduk—terkejut, senang, sekaligus seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. Nathan dan Cindy segera
“Kalau kamu masih belum siap buat cerita, seenggaknya jangan buat aku terus penasaran, Sayang,” ucap Nathan pelan sambil berlutut di hadapan Cindy, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku cuma nggak tahu harus cerita apa, Sayang. Aku bingung…” sahut Cindy lirih. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata yang jatuh, napasnya terdengar tak beraturan. “Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu khawatir,” lanjut Cindy, suaranya nyaris hilang, seolah rasa bersalah menekan dadanya lebih kuat dari yang bisa ia tahan. Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah. Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu memang butuh waktu,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Tapi… jangan buat aku terus nunggu tanpa kepastian, Sayang.” “Um…” sahut Cindy sambil mengangguk pelan. Ia tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Nathan sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan yang erat, seolah tak i







