Masuk“Penasaran sama apanya?” tanya Bayu sambil tertawa kecil saat mereka tiba di kubikel ruangan kerja masing-masing. “Ya penasaran aja sama orangnya kayak apa, gitu...” ucap Shella sambil meletakkan tas kerjanya dengan gerakan centil. “Yang jelas... ganteng, tinggi, ya... soal fisik mirip Nathan-lah, tapi yang ini rada gedean lagi saja,” ucap Bayu sambil membuka laptopnya, mulai bersiap dengan tumpukan pekerjaannya. “Gila, Nathan aja udah gede, ini lebih gede lagi? Penasaran deh...” ucap Shella sambil tersenyum-senyum sendiri, membayangkan sosok pria yang menurut Bayu jauh lebih atletis dan dominan itu. Sementara itu, di lantai atas, suasana di ruang meeting justru terasa sangat cair. Morgan berdiri di depan meja besar, menatap satu per satu staf senior dan manajer yang hadir. Berbeda dengan Nathan yang biasanya dikenal irit senyum dan sangat formal, Morgan justru menunjukkan sisi yang tak terduga. “Oke, saya minta kerjasamanya yang baik, dan saya mungkin butuh beberapa waktu buat p
Pagi itu di kediaman mereka, suasana begitu hangat dan penuh energi muda. Nathan baru saja selesai bersiap, jemarinya dengan cekatan mengaitkan kancing celana jeans-nya sebelum menyambar kaos oblong oversize hitam pilihan Cindy.“Naik motor atau naik mobil?” tanya Nathan sambil menarik kaos itu melewati kepalanya, memperlihatkan sekilas otot tubuhnya yang tegap.“Motor kayaknya asik, udah lama nggak naik motor juga,” sahut Cindy riang.Penampilan Cindy pagi itu benar-benar mencuri perhatian. Ia mengenakan celana jeans cutbray yang memeluk pinggulnya dengan sempurna, dipadukan dengan kaos croptop ketat. Potongan kaos itu cukup tinggi, mengekspos perut ratanya yang mulus hingga tepat di batas bawah lekuk dadanya yang indah.Nathan menghentikan gerakannya sejenak, matanya menggelap menatap sang istri. Ia segera melangkah mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Cindy dan menariknya masuk ke dalam dekapan.“Sayang... seksi banget. Kita mau ke tempat umum kayak gitu?” gumam Nat
“Semua udah siap?” tanya Nathan dengan suara rendah namun tegas, memastikan rencana penting mereka hari ini tidak terhambat. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang gym pribadi, menyinari butiran keringat yang membasahi tubuh atletis Nathan. Setelah sesi latihan yang intens, Nathan berjalan menghampiri istrinya sambil menyeka peluh di dahi dan leher menggunakan handuk kecil. “Udah semua, Sayang... Udah aku jadiin satu dalam map cokelat dan kita tinggal daftar aja,” ucap Cindy dengan nada riang. Ia mendekat, mengambil alih handuk dari tangan Nathan dan mulai menyeka keringat di dada serta leher suaminya. Jemarinya yang lentur sesekali sengaja menyentuh otot perut sixpack Nathan yang masih keras dan panas pasca olahraga. Nathan menangkap tatapan itu. Ia menyeringai tipis, lalu menarik pinggang Cindy hingga tubuh mereka merapat. “Kenapa? Mau seks lagi?” tanya Nathan dengan senyum nakal yang menggoda. “Ih... Semalam kita udah habis-habisan... Dasar!” Cindy mencubit pelan lengan
Malam yang sunyi di apartemen mewah itu terasa semakin mencekam bagi Nathan. Deru napasnya masih memburu setelah terjaga dari mimpi buruk yang terasa begitu nyata—sebuah bayangan kelam di mana ia kehilangan Cindy selamanya.“Sial,” umpatnya pelan, suaranya nyaris berbisik agar tidak mengusik ketenangan di ruangan itu.Nathan menoleh ke samping, menatap sosok Cindy yang masih terlelap pulas. Kulit wanita itu tampak bersinar di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden, sisa-sisa kelelahan setelah percintaan panas mereka masih terlihat dari raut wajahnya yang damai.“Mimpi...” gumam Nathan sambil mengusap wajah dan meraup rambutnya kasar, mencoba mengusir sisa-sisa ketakutan yang menghantui pikirannya.Sebelum beranjak, ia membungkuk sebentar dan mengecup kening Cindy dengan sangat lembut—sebuah janji bisu bahwa ia akan selalu menjaganya. Nathan melangkah menuju lemari es kecil di sudut kamar, mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya perlahan hingga separuh botol. Dingi
“Ini uang bayaran lo. Dua kali lipat, sesuai janji gue di awal,” ucap Morgan datar. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, menekan tombol konfirmasi pada aplikasi mobile banking-nya. Sebuah notifikasi transaksi berhasil muncul, menandai berakhirnya interaksi mereka malam itu. “Um... terima kasih ya, Mas,” sahut wanita itu pelan. Ia tampak sibuk merapikan pakaiannya yang sempat berserakan di lantai, lalu melangkah ke arah cermin untuk membenahi rambutnya yang kusut setelah mandi. “Oke,” sahut Morgan singkat. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Baginya, wanita itu tak lebih dari sekadar alat pelepas penat. Hasrat seksualnya telah tersalurkan, dan secara fungsional, wanita itu tidak lagi memiliki nilai baginya saat ini. Morgan meraih kunci mobil dan dompetnya di atas nakas dengan gerakan efisien. Tanpa sepatah kata pamit atau basa-basi manis, Morgan melangkah keluar meninggalkan kamar hotel tersebut. Langkah kakinya terdengar mantap dan tenang di atas karpet koridor y
“Morgan belum pulang, Pa?” tanya ibunya malam itu. Ia tampak sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya di depan cermin meja rias, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. “Belum kayaknya. Tapi tadi dia menelepon Papa, katanya lagi kumpul sama teman-temannya,” jawab sang ayah tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca di atas ranjang. “Oh... begitu. Tapi dia siap, kan, untuk hari pertamanya besok? Jangan sampai dia malah nggak datang ke kantor,” ucap ibunya dengan nada cemas. Ia meletakkan kapas pembersihnya dan berbalik menatap suaminya. Bagi ibunya, citra Morgan di perusahaan adalah segalanya. “Pasti dia datang, Ma. Papa sudah bicara langsung dengannya tadi. Dia sudah memastikan sendiri kalau dia akan hadir di hari pertama,” ucap ayahnya dengan nada tenang, berusaha meredakan kegelisahan sang istri. Ayahnya menutup buku, lalu melepas kacamata bacanya. “Dia tahu betul seberapa besar taruhannya kali ini. Morgan nggak akan sebod







