หน้าหลัก / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 67. OBSESI GILA SHELLA. CINDY DAN NATHAN SEMAKIN 'PANAS'

แชร์

67. OBSESI GILA SHELLA. CINDY DAN NATHAN SEMAKIN 'PANAS'

ผู้เขียน: Dara Tresna Anjasmara
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-25 17:19:41

Tak puas hanya meremas dadanya dengan tangan kosong, Shella meraih alat bantu lain yang menyerupai pompa dengan katup berbentuk bibir manusia. Dengan gerakan liar, ia menempelkan sepasang alat itu pada dadanya. Seketika, mesin itu bekerja, menyedot putingnya dengan ritme yang konstan, memberikan sensasi hisapan yang begitu nyata.

“Ah! Aaaah!”

Shella menjerit, suaranya melengking tinggi memenuhi kamar yang pengap oleh aroma alkohol. Dadanya tampak semakin kencang dan membusung, seiring dengan sepasang alat yang melekat erat di atas pucuk putingnya, bekerja dengan presisi yang menyiksa sekaligus nikmat.

“Nathan… terus… aaah… terus… isap aku… aaah… Sayang… nikmati aku… aaah… enak… enak, Nathan…!”

Ia meracau, menyebut nama pria itu dengan nada memohon sekaligus menuntut. Tubuhnya gemetar hebat, bermandikan keringat di bawah cahaya lampu yang temaram. Di titik ini, Shella tidak lagi peduli pada kenyataan. Baginya, setiap hisapan mesin itu adalah bibir Nathan, dan setiap getaran di
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   105. CINDY DAN NATHAN MENEMUI KELUARGA. MORGAN DIAM-DIAM BELI PENTHOUSE YANG SAMA?

    “Sayang, gimana sama wali dan saksi kamu? Mama Papa kamu aja begini ke kamu,” ucap Cindy lirih, mendongak menatap Nathan dengan mata yang sarat akan kekhawatiran saat keduanya tiba di parkiran motor. ​Ia menghentikan langkah, jemarinya meremas ujung baju Nathan dengan gemetar. “Karena aku, kamu didepak dari perusahaan keluarga, bahkan dari keluarga besar kamu sendiri... Aku takut mereka makin marah kalau tahu kita mau nikah lagi,” lanjut Cindy dengan suara yang nyaris pecah, merasa bersalah karena telah menjadi penyebab keretakan hubungan Nathan dengan orang tuanya. ​Nathan terdiam sejenak. Ia menatap langit pagi yang cerah, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada wanita di depannya. Ia meraih kedua tangan Cindy, menggenggamnya erat untuk menyalurkan keyakinan. ​“Jangan pernah berpikir itu salah kamu, Cindy,” ucap Nathan dengan nada rendah namun sangat dalam. “Aku lebih baik kehilangan kursi CEO daripada kehilangan kamu lagi. Soal wali dan saksi dari aku, aku udah siapin semu

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   104. DAFTAR NIKAH KEDUA KALINYA. CINDY DAN NATHAN TERGANJAL AKAN WALI DAN SAKSI?

    “Silakan isi nama dan nomor telepon,” ucap petugas KUA dengan nada formal namun ramah saat menerima kehadiran Cindy dan Nathan pagi itu. ​Nathan segera meraih pena, jemarinya bergerak mantap mengisi kolom pendaftar. Setelah selesai, keduanya menyerahkan map berisi berkas-berkas penting yang segera diterima oleh petugas untuk diperiksa kelengkapannya. ​“Baik, semuanya sudah lengkap. Dan untuk wali dari pihak pria? Sudah ada? Lalu bagaimana dengan saksinya?” tanya petugas itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop saat memasukkan data mereka. ​“Wali dan saksi, ada, Bu,” jawab Nathan dengan suara bariton yang tenang namun penuh penekanan. Ia secara spontan meraih tangan Cindy, meremat jemari wanita itu dengan lembut seolah ingin menyalurkan kekuatan dan kepastian. ​Cindy hanya bisa menunduk, merasakan kehangatan telapak tangan Nathan yang menjalar ke jantungnya. Ada rasa haru yang membuncah; setelah sekian lama berjuang dalam bayang-bayang, hari ini mereka benar-benar mela

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   103. MORGAN BERTEMU SHELLA DIKANTOR. INGATAN ADEGAN PANAS DI ATAS SOFA MUNCUL?

    “Penasaran sama apanya?” tanya Bayu sambil tertawa kecil saat mereka tiba di kubikel ruangan kerja masing-masing. “Ya penasaran aja sama orangnya kayak apa, gitu...” ucap Shella sambil meletakkan tas kerjanya dengan gerakan centil. “Yang jelas... ganteng, tinggi, ya... soal fisik mirip Nathan-lah, tapi yang ini rada gedean lagi saja,” ucap Bayu sambil membuka laptopnya, mulai bersiap dengan tumpukan pekerjaannya. “Gila, Nathan aja udah gede, ini lebih gede lagi? Penasaran deh...” ucap Shella sambil tersenyum-senyum sendiri, membayangkan sosok pria yang menurut Bayu jauh lebih atletis dan dominan itu. Sementara itu, di lantai atas, suasana di ruang meeting justru terasa sangat cair. Morgan berdiri di depan meja besar, menatap satu per satu staf senior dan manajer yang hadir. Berbeda dengan Nathan yang biasanya dikenal irit senyum dan sangat formal, Morgan justru menunjukkan sisi yang tak terduga. “Oke, saya minta kerjasamanya yang baik, dan saya mungkin butuh beberapa waktu buat p

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   102. HARI PERTAMA MORGAN DI KANTOR. HARI PERTAMA, KEDUA KALINYA NATAHN DAN CINDY KE KUA.

    Pagi itu di kediaman mereka, suasana begitu hangat dan penuh energi muda. Nathan baru saja selesai bersiap, jemarinya dengan cekatan mengaitkan kancing celana jeans-nya sebelum menyambar kaos oblong oversize hitam pilihan Cindy.“Naik motor atau naik mobil?” tanya Nathan sambil menarik kaos itu melewati kepalanya, memperlihatkan sekilas otot tubuhnya yang tegap.“Motor kayaknya asik, udah lama nggak naik motor juga,” sahut Cindy riang.Penampilan Cindy pagi itu benar-benar mencuri perhatian. Ia mengenakan celana jeans cutbray yang memeluk pinggulnya dengan sempurna, dipadukan dengan kaos croptop ketat. Potongan kaos itu cukup tinggi, mengekspos perut ratanya yang mulus hingga tepat di batas bawah lekuk dadanya yang indah.Nathan menghentikan gerakannya sejenak, matanya menggelap menatap sang istri. Ia segera melangkah mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Cindy dan menariknya masuk ke dalam dekapan.“Sayang... seksi banget. Kita mau ke tempat umum kayak gitu?” gumam Nat

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   101. PENGANTIN LAMA VS CEO BARU

    “Semua udah siap?” tanya Nathan dengan suara rendah namun tegas, memastikan rencana penting mereka hari ini tidak terhambat. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang gym pribadi, menyinari butiran keringat yang membasahi tubuh atletis Nathan. Setelah sesi latihan yang intens, Nathan berjalan menghampiri istrinya sambil menyeka peluh di dahi dan leher menggunakan handuk kecil. “Udah semua, Sayang... Udah aku jadiin satu dalam map cokelat dan kita tinggal daftar aja,” ucap Cindy dengan nada riang. Ia mendekat, mengambil alih handuk dari tangan Nathan dan mulai menyeka keringat di dada serta leher suaminya. Jemarinya yang lentur sesekali sengaja menyentuh otot perut sixpack Nathan yang masih keras dan panas pasca olahraga. Nathan menangkap tatapan itu. Ia menyeringai tipis, lalu menarik pinggang Cindy hingga tubuh mereka merapat. “Kenapa? Mau seks lagi?” tanya Nathan dengan senyum nakal yang menggoda. “Ih... Semalam kita udah habis-habisan... Dasar!” Cindy mencubit pelan lengan

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   100. OBSESI PADA CINDY. PAKAI TANGAN PUN JADI.

    Malam yang sunyi di apartemen mewah itu terasa semakin mencekam bagi Nathan. Deru napasnya masih memburu setelah terjaga dari mimpi buruk yang terasa begitu nyata—sebuah bayangan kelam di mana ia kehilangan Cindy selamanya.“Sial,” umpatnya pelan, suaranya nyaris berbisik agar tidak mengusik ketenangan di ruangan itu.Nathan menoleh ke samping, menatap sosok Cindy yang masih terlelap pulas. Kulit wanita itu tampak bersinar di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden, sisa-sisa kelelahan setelah percintaan panas mereka masih terlihat dari raut wajahnya yang damai.“Mimpi...” gumam Nathan sambil mengusap wajah dan meraup rambutnya kasar, mencoba mengusir sisa-sisa ketakutan yang menghantui pikirannya.Sebelum beranjak, ia membungkuk sebentar dan mengecup kening Cindy dengan sangat lembut—sebuah janji bisu bahwa ia akan selalu menjaganya. Nathan melangkah menuju lemari es kecil di sudut kamar, mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya perlahan hingga separuh botol. Dingi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status