Home / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 7. KETAHUAN NGINTIP

Share

7. KETAHUAN NGINTIP

last update Last Updated: 2025-12-04 10:40:58

“Kenapa, emangnya kalau aku keluar pakai handuk?” 

Cindy menatapnya kuat walau lebih khawatir handuk yang ia pakai mulai melorot. 

  “Pokoknya…” Nathan mengusap keningnya, terlihat mencari kalimat yang tepat untuk menahan dirinya sendiri.

  “Pokoknya kamu...” ucap Nathan dengan nada heran ketika menyadari Cindy sudah menghilang dari hadapannya. loh? Udah kabur aja? Belum juga selesai dikasih tahu.” 

  Sementara itu, di dalam kamar, Cindy menutup wajah dengan kedua tangannya. Jantungnya berdebar-debar dan ia mencoba menenangkan dirinya.

  “Aduh… aduh, malu banget. Nanti dia pasti mikir yang… ih, nggak, nggak, nggak! Jangan sampai itu kejadian. Aku nggak mau,” gumamnya cepat, wajahnya memerah.

  “Tujuan aku cuma numpang sebentar. Kalau udah dapet kerjaan, aku cabut dari sini,” lanjutnya, mencoba meyakinkan diri meski jantungnya berdetak kacau.

  Nathan melangkah ke balkon, menahan napas panjang sambil menatap langit pagi. Ia mengusap wajahnya pelan, seolah mencoba menenangkan badai kecil yang berputar di kepalanya.

  Pandangannya berpindah ke arah kamar Cindy. Ada sedikit kecemasan di sorot matanya, sesuatu yang tidak ia akui bahkan pada dirinya sendiri.

  Di saat yang sama, ponsel Nathan berdering. Ia kembali ke ruang TV dan mengambilnya.

  “Iya, Bay,” sambut Nathan sambil bersandar di meja bar.

  Dari seberang, suara Bayu terdengar riang.

  “Nath, gue sama Romi nanti malam ke partynya Shela. Lo ikut, kan?”

  Nathan mengerutkan kening.

  “Party? Shela? Oh… hari ini?”

  “Iya lah! Masa lo lupa? Kan orang pertama yang dia kabarin itu lo.” Bayu terkekeh mengejek.

  Nathan tertawa kecil, meski wajahnya tampak lelah.

  “Sorry. Kerjaan di kantor lagi numpuk banget, kalian tahu sendiri kan.”

  Ia kembali ke balkon, menatap pemandangan kota. Angin pagi menyapu rambutnya.

  Sementara itu, Cindy yang sedang mencari kesempatan keluar kamar karena laparnya tak tertahan, diam-diam berhenti di lorong. Rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya. Ia mendekat sedikit… lalu sedikit lagi, sampai hampir berdiri tepat di belakang Nathan.

  Suara Bayu terdengar jelas di telepon itu.

  “Masa CEO nggak punya aspri? Cari aspri dong.”

  Nathan mengernyit kecil.

  “Aspri? Aku nggak kepikiran. Sekretaris aja cukup, kan?”

  “Sekretaris doang mana cukup. Aspri itu lebih detail. Kerjanya full bantuin kita.”

  Nathan mengangguk pelan, “Iya juga sih… kayaknya cari aspri deh. Tapi kalau kamu punya referensi gitu semacam orang yang kamu jamin bisa kerja serius?”

  Mata Cindy melebar, jantungnya mencelos.

  “Dia… butuh sekretaris? Atau aspri?” bisiknya lirih—tak sadar dirinya kini berdiri terlalu dekat, begitu dekat sampai napas Nathan bisa saja merasakan keberadaannya kalau ia menoleh.

  “Oke, thanks, Bay,” ucap Nathan sambil menghela napas.  “Ya, Ya. Diusahain dateng,” balas Nathan sebelum menutup telepon.

  Ia baru hendak melangkah masuk ketika tengkuknya merinding—seperti ada yang mengintip. Nathan menoleh cepat, matanya menyapu ruangan.

  Begitu pintu menutup klik, Cindy langsung merayap keluar dari balik sofa, wajahnya panik.

  “Hampir aja…” bisiknya sambil memegang remote tv dan memeluknya.

  Ia buru-buru bangkit dan melangkah menjauh, namun baru dua langkah—

  “Hah!” seru Cindy kaget ketika melihat Nathan berdiri tepat di depannya, rupanya pria itu belum benar-benar masuk ke dalam kamar.

  Nathan sama terkejutnya, tapi sebelum salah satu sempat bicara, kaki Cindy menginjak remote TV yang tergeletak di lantai.

  Remote itu geser. Cindy kehilangan keseimbangan.

  “Ast—Nath!—”

  Tubuhnya oleng, dan dalam sepersekian detik ia jatuh menimpa Nathan. Keduanya terjatuh bersama, menghempas lantai dengan napas tertahan.

  Cindy berada tepat di atas tubuh Nathan—wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Rambut Cindy yang setengah basah jatuh menutupi pipinya, dan napas keduanya saling menyentuh. Mata Nathan membelalak, campuran kaget dan… sesuatu yang tidak sempat ia sembunyikan.

  Cindy terpaku, pipinya memanas, jantungnya berdetak tak karuan.

  “Nathan…” bisiknya lirih, suaranya pecah antara malu dan syok.

  Sementara Nathan hanya bisa menelan ludah, suara napasnya berat dan tidak stabil. Keduanya saling tatap, kedua tangannya memeluk Cindy sementara itu kedua tangan Cindy tepat diatas dada busung Nathan, dan bibir keduanya hampir bersentuhan.

  Beberapa menit kemudian keduanya baru menyadari posisi tubuh mereka. Mereka segera beranjak dari lantai itu dan berdiri menjaga jarak dengan wajah yang merah semu, jantung berdetak dua kali lipat dari biasanya, dan sama-sama berusaha tidak terlihat kaku 

  “Cindy… kamu… ngapain sembunyi di balik sofa?” tanyanya dengan suara rendah yang nyaris serak—lebih emosional daripada yang ia inginkan.

“Kata siapa aku sembunyi!” ucap Cindy cepat. Ia mencoba menerobos tubuh Nathan, tapi tangan pria itu refleks menahan lengannya.

“Kamu dengerin semua obrolan aku di telepon?” tanya Nathan pelan. Bahunya tegang, tapi ia tidak menatap Cindy.

“Ng—nggak!” Cindy menggeleng cepat, terlalu cepat. Ia menepis tangan Nathan kemudian buru-buru masuk ke kamar.

Nathan tidak menyusul. Ia hanya berdiri diam, menatap punggung Cindy sampai pintu kamar itu menutup perlahan. Ada sesuatu di wajahnya—bingung, cemas, atau mungkin… iba.

Di dalam kamar, Cindy memandangi lengannya yang tadi disentuh Nathan. Entah kenapa dadanya terasa panas sendiri. Lalu…

Krukk.

“Duh… laper…” gumamnya sambil meremas perut. Ia melirik pintu, seperti anak kecil yang takut ketahuan curi kue.

“Dia masih di sana nggak, ya…” bisiknya. Cindy mengintip dari sela pintu. “Aman. Dia nggak di situ.”

Setelah memastikan keadaan benar-benar sepi, Cindy keluar dan mengendap-endap menuju ruang makan seperti kucing kelaparan. Namun baru beberapa langkah, ia mematung.

Nathan ada di sana.

Pria itu berdiri di depan minibar, memegang lipstik dan jepit rambut yang tergeletak di meja. Ia melihat kiri-kanan, seperti memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu… memasukkan benda-benda itu ke saku celananya.

Nathan menoleh, Cindy refleks menahan nafasnya dan bersembunyi. Begitu Nathan kembali menuju kamar tidur dan pintu itu tertutup rapat, Cindy langsung berlari kecil menuju ruang makan.

Ia melihat makanan di atas meja yang sudah tersaji rapi. “Udah disajiin? Ini punya dia atau….” gumam Cindy dengan keraguan yang samar, bibirnya mengerucut.

Namun rasa laparnya jauh lebih kuat. Cindy akhirnya mengambil semua makanan itu tanpa pikir panjang, lalu membawanya ke dalam kamar.

Menjelang malam, Cindy keluar kamar hendak membuat kopi. Namun langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara Nathan.

“Aku mau pergi. Kamu nggak usah macam-macam dan coba kabur lagi,” ucap Nathan sambil menggulung lengan panjang kemeja hitam yang ia kenakan.

Cindy menoleh, terkejut melihat tampilan sang mantan suami yang malam itu terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Ada sesuatu yang membuat jantungnya memukul lebih keras.

“Kancing baju kamu… salah tempat,” ucap Cindy pelan, alisnya mengernyit melihat letak kancing yang jelas tidak sinkron.

“Ini tuh style,” ujar Nathan cepat. Nada suaranya mencoba terdengar percaya diri, padahal ia sempat menangkap pantulan dirinya di cermin dan sadar benar bahwa kancingnya memang salah lubang.

“Sini! Daripada nanti diketawain sama temen kamu. Kayak kakek jompo,” ucap Cindy sambil spontan mendekat.

Tangannya dengan cekatan memperbaiki kancing kemeja Nathan. Nafas mereka beradu. Detik-detik yang membuat dada keduanya menegang entah karena apa.

Sadar akan kedekatan itu, Cindy buru-buru mundur. Wajahnya memerah, jantungnya gaduh tak karuan.

“Jangan terima tamu,” ucap Nathan singkat, dingin, lalu berbalik pergi tanpa menatap Cindy lagi.

Cindy hanya mengangguk pelan. Pandangannya mengikuti punggung Nathan hingga pria itu benar-benar menghilang di balik pintu.

“Jangan kemana-mana, ya. Jagain rumah.”

Pintu tertutup rapat. Cindy menghembuskan napas panjang, lega sekaligus bingung dengan perasaannya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Wak Leh
nah tuh.... ditinggal
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   117. TAKUT SAMA MORGAN, CINDY MINTA PINDAH KE RUKO?

    “Soal apa, Tante?” tanya Nathan penasaran. Di sampingnya, Cindy tampak menegang. Jari-jarinya saling bertaut, napasnya sedikit tertahan, seolah tak siap mendengar lanjutan kalimat itu. “Soal…,” bibinya menggantungkan ucapan, tatapannya meredup sejenak. “Ma, jangan deh,” sela pamannya cepat sambil menggeleng pelan. “Nggak enak sama Cindy…,” lanjutnya, lalu kembali mengunyah makanannya, berusaha mengalihkan suasana. Namun diam yang tersisa justru terasa lebih berat, membuat Cindy semakin gelisah. “Iya sih… maaf ya, Nathan, Cindy,” ucap bibinya pelan. Nada suaranya melunak. “Tante seharusnya mendinginkan suasana, bukan malah membuka hal-hal yang bikin nggak nyaman. Maaf ya…” Ia tersenyum kecil, mencoba menepis sisa kegelisahan yang sempat menggantung di udara. “Ah, sudahlah. Pokoknya fokus aja sama perjalanan kalian ini. Tante doain ke depannya nggak ada lagi masalah yang nggak bisa kalian selesaikan bersama, ya.” Cindy dan Nathan mengangguk pelan. Nathan meremas tangan Cin

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   116. LUKA LAMA YANG AKAN DIBUKA OLEH OM DAN TANTE NATHAN MENGENAI CINDY?

    “Iya, Om, Tante. Jadi… aku ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante,” ucap Nathan pelan, namun terdengar mantap. Tangannya masih menggenggam tangan Cindy, seolah memberi kekuatan. “Kami mau menikah lagi dan butuh saksi sekaligus wali. Karena… Papa sama Mama sudah tidak akan memberi respons apa pun.” Senyum tipis masih bertahan di wajah Nathan, meski matanya menyiratkan lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Um…” Paman dan bibinya bersuara hampir bersamaan. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada jeda sunyi di antara mereka—hening yang sarat makna, seolah masing-masing tengah menimbang beban keputusan yang akan diambil, sekaligus memahami luka yang dibawa Nathan dan Cindy ke hadapan mereka. “Ya sudah, kapan kalian nikah? Di gedung mana? Atau di apartemen?” tanya pamannya sambil tersenyum hangat, menatap Nathan dan Cindy bergantian. “Jadi… Om mau?” tanya Nathan lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar,

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   115. MINTA TOLONG

    “Iya, Bude… masih ingat sama aku?” tanya Cindy sambil tersenyum, nada suaranya sopan namun hangat. “Oalah… ternyata bener toh,” sahut sang Bude sambil menatap Cindy dari ujung kepala hingga kaki. Senyum lebarnya mengembang. “Sekarang makin cantik aja.” Ia lalu bertepuk tangan kecil. “Ayo, ayo… anu… Om sama Tante ada di lantai atas. Ayo.” Tanpa menunggu lama, Bude itu segera memimpin jalan. Tangga melingkar yang elegan mereka naiki bersama hingga tiba di lantai dua. Setibanya di atas, pembantu rumah tangga itu mengetuk pintu ruang keluarga. “Permisi… ada tamu,” ucapnya sopan. “Siapa, Bude?” tanya Anggi—Tante Nathan—dari dalam ruangan. “Mas Nathan sama…” Pembantu itu tersenyum lebar, lalu mengangkat ibu jarinya ke arah mereka berdua. “...mantan istrinya.” “Oh?” Anggi menoleh, lalu matanya membesar saat melihat keduanya. “Nathan? Cindy?” Nada suaranya terdengar campur aduk—terkejut, senang, sekaligus seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. Nathan dan Cindy segera

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   114. NATHAN MENGAJAK CINDY MENEMUI SESEORANG.

    “Kalau kamu masih belum siap buat cerita, seenggaknya jangan buat aku terus penasaran, Sayang,” ucap Nathan pelan sambil berlutut di hadapan Cindy, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku cuma nggak tahu harus cerita apa, Sayang. Aku bingung…” sahut Cindy lirih. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata yang jatuh, napasnya terdengar tak beraturan. “Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu khawatir,” lanjut Cindy, suaranya nyaris hilang, seolah rasa bersalah menekan dadanya lebih kuat dari yang bisa ia tahan. Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah. Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu memang butuh waktu,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Tapi… jangan buat aku terus nunggu tanpa kepastian, Sayang.” “Um…” sahut Cindy sambil mengangguk pelan. Ia tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Nathan sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan yang erat, seolah tak i

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   113. APA YANG TERJADI DENGAN CINDY?

    “Kamu telepon aku?” tanya Cindy sambil tersenyum canggung, matanya sempat menghindar sebelum kembali menatap Nathan. “Iya, sayang. Aku telepon kamu, tapi kamu nggak jawab,” jawab Nathan sambil terus mengunyah, sorot matanya tak lepas dari wajah Cindy. “Biasanya kamu paling semangat kalau aku telepon,” lanjut Nathan dengan senyum kecil. “Telat dikit aja, kamu udah ngomel.” Tangannya terangkat, mengusap pipi Cindy dengan ibu jari secara lembut—gerakan sederhana, tapi cukup membuat Cindy terdiam sesaat. “Mungkin aku tadi ketiduran, ya, sayang,” ucap Cindy pelan sambil tersenyum. “Maaf ya, aku nggak tahu kamu telepon.” Ia langsung memeluk Nathan, seolah ingin menutup rasa bersalahnya dengan kehangatan itu. Nathan menghela napas kecil, lalu tersenyum pasrah. “Pengen marah,” katanya lirih sambil mengusap wajah Cindy dengan lembut, “tapi ini kamu. Aku nggak bisa.” “Makasih, sayang… maaf ya,” balas Cindy pelan. Senyumnya mengembang tipis saat ia menyandarkan pipinya di lengan Na

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   112. SESUATU YANG DITUTUPI OLEH CINDY.

    “Paling dia tiduran habis nonton drakor,” ucap Bayu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. “Cewek-cewek kan gitu, Nath.” “Mungkin juga, ya,” jawab Nathan akhirnya. Ia menghela napas pelan, lalu menyimpan ponselnya ke saku celana. Nada suaranya terdengar berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia mengangkat kantong belanjaan sedikit, lalu melangkah mundur setengah langkah. “Gue mau balik. Lo mau ke mana?” tanyanya. “Gue mau ke rumah Mama,” jawab Bayu. “Tadi mampir sebentar, liat lo jalan kaki.” Nathan tersenyum tipis. “Oh.” Bayu tertawa kecil, membuka pintu mobilnya. “Ya udah, gue cabut dulu.” Ia melirik Nathan sambil terkekeh. “Lo mau gue anterin, nggak?” “Halah…” ucap Nathan sambil tertawa singkat, matanya melirik ke arah gedung apartemen yang kini sudah di depan mata. “Nggak usah. Deket.” “Ya udah, gue balik ya,” kata Bayu sambil melangkah menuju mobilnya. “Salam buat Cindy. Oh iya… kapan nikah? Undang gue dong.” “Pasti gue kabarin, lo,” jawab Nathan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status