Masuk“Kenapa, emangnya kalau aku keluar pakai handuk?”
Cindy menatapnya kuat walau lebih khawatir handuk yang ia pakai mulai melorot.
“Pokoknya…” Nathan mengusap keningnya, terlihat mencari kalimat yang tepat untuk menahan dirinya sendiri.
“Pokoknya kamu...” ucap Nathan dengan nada heran ketika menyadari Cindy sudah menghilang dari hadapannya. loh? Udah kabur aja? Belum juga selesai dikasih tahu.”
Sementara itu, di dalam kamar, Cindy menutup wajah dengan kedua tangannya. Jantungnya berdebar-debar dan ia mencoba menenangkan dirinya.
“Aduh… aduh, malu banget. Nanti dia pasti mikir yang… ih, nggak, nggak, nggak! Jangan sampai itu kejadian. Aku nggak mau,” gumamnya cepat, wajahnya memerah.
“Tujuan aku cuma numpang sebentar. Kalau udah dapet kerjaan, aku cabut dari sini,” lanjutnya, mencoba meyakinkan diri meski jantungnya berdetak kacau.
Nathan melangkah ke balkon, menahan napas panjang sambil menatap langit pagi. Ia mengusap wajahnya pelan, seolah mencoba menenangkan badai kecil yang berputar di kepalanya.
Pandangannya berpindah ke arah kamar Cindy. Ada sedikit kecemasan di sorot matanya, sesuatu yang tidak ia akui bahkan pada dirinya sendiri.
Di saat yang sama, ponsel Nathan berdering. Ia kembali ke ruang TV dan mengambilnya.
“Iya, Bay,” sambut Nathan sambil bersandar di meja bar.
Dari seberang, suara Bayu terdengar riang.
“Nath, gue sama Romi nanti malam ke partynya Shela. Lo ikut, kan?”
Nathan mengerutkan kening.
“Party? Shela? Oh… hari ini?”
“Iya lah! Masa lo lupa? Kan orang pertama yang dia kabarin itu lo.” Bayu terkekeh mengejek.
Nathan tertawa kecil, meski wajahnya tampak lelah.
“Sorry. Kerjaan di kantor lagi numpuk banget, kalian tahu sendiri kan.”
Ia kembali ke balkon, menatap pemandangan kota. Angin pagi menyapu rambutnya.
Sementara itu, Cindy yang sedang mencari kesempatan keluar kamar karena laparnya tak tertahan, diam-diam berhenti di lorong. Rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya. Ia mendekat sedikit… lalu sedikit lagi, sampai hampir berdiri tepat di belakang Nathan.
Suara Bayu terdengar jelas di telepon itu.
“Masa CEO nggak punya aspri? Cari aspri dong.”
Nathan mengernyit kecil.
“Aspri? Aku nggak kepikiran. Sekretaris aja cukup, kan?”
“Sekretaris doang mana cukup. Aspri itu lebih detail. Kerjanya full bantuin kita.”
Nathan mengangguk pelan, “Iya juga sih… kayaknya cari aspri deh. Tapi kalau kamu punya referensi gitu semacam orang yang kamu jamin bisa kerja serius?”
Mata Cindy melebar, jantungnya mencelos.
“Dia… butuh sekretaris? Atau aspri?” bisiknya lirih—tak sadar dirinya kini berdiri terlalu dekat, begitu dekat sampai napas Nathan bisa saja merasakan keberadaannya kalau ia menoleh.
“Oke, thanks, Bay,” ucap Nathan sambil menghela napas. “Ya, Ya. Diusahain dateng,” balas Nathan sebelum menutup telepon.
Ia baru hendak melangkah masuk ketika tengkuknya merinding—seperti ada yang mengintip. Nathan menoleh cepat, matanya menyapu ruangan.
Begitu pintu menutup klik, Cindy langsung merayap keluar dari balik sofa, wajahnya panik.
“Hampir aja…” bisiknya sambil memegang remote tv dan memeluknya.
Ia buru-buru bangkit dan melangkah menjauh, namun baru dua langkah—
“Hah!” seru Cindy kaget ketika melihat Nathan berdiri tepat di depannya, rupanya pria itu belum benar-benar masuk ke dalam kamar.
Nathan sama terkejutnya, tapi sebelum salah satu sempat bicara, kaki Cindy menginjak remote TV yang tergeletak di lantai.
Remote itu geser. Cindy kehilangan keseimbangan.
“Ast—Nath!—”
Tubuhnya oleng, dan dalam sepersekian detik ia jatuh menimpa Nathan. Keduanya terjatuh bersama, menghempas lantai dengan napas tertahan.
Cindy berada tepat di atas tubuh Nathan—wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Rambut Cindy yang setengah basah jatuh menutupi pipinya, dan napas keduanya saling menyentuh. Mata Nathan membelalak, campuran kaget dan… sesuatu yang tidak sempat ia sembunyikan.
Cindy terpaku, pipinya memanas, jantungnya berdetak tak karuan.
“Nathan…” bisiknya lirih, suaranya pecah antara malu dan syok.
Sementara Nathan hanya bisa menelan ludah, suara napasnya berat dan tidak stabil. Keduanya saling tatap, kedua tangannya memeluk Cindy sementara itu kedua tangan Cindy tepat diatas dada busung Nathan, dan bibir keduanya hampir bersentuhan.
Beberapa menit kemudian keduanya baru menyadari posisi tubuh mereka. Mereka segera beranjak dari lantai itu dan berdiri menjaga jarak dengan wajah yang merah semu, jantung berdetak dua kali lipat dari biasanya, dan sama-sama berusaha tidak terlihat kaku
“Cindy… kamu… ngapain sembunyi di balik sofa?” tanyanya dengan suara rendah yang nyaris serak—lebih emosional daripada yang ia inginkan.
“Kata siapa aku sembunyi!” ucap Cindy cepat. Ia mencoba menerobos tubuh Nathan, tapi tangan pria itu refleks menahan lengannya.
“Kamu dengerin semua obrolan aku di telepon?” tanya Nathan pelan. Bahunya tegang, tapi ia tidak menatap Cindy.
“Ng—nggak!” Cindy menggeleng cepat, terlalu cepat. Ia menepis tangan Nathan kemudian buru-buru masuk ke kamar.
Nathan tidak menyusul. Ia hanya berdiri diam, menatap punggung Cindy sampai pintu kamar itu menutup perlahan. Ada sesuatu di wajahnya—bingung, cemas, atau mungkin… iba.
Di dalam kamar, Cindy memandangi lengannya yang tadi disentuh Nathan. Entah kenapa dadanya terasa panas sendiri. Lalu…
Krukk.
“Duh… laper…” gumamnya sambil meremas perut. Ia melirik pintu, seperti anak kecil yang takut ketahuan curi kue.
“Dia masih di sana nggak, ya…” bisiknya. Cindy mengintip dari sela pintu. “Aman. Dia nggak di situ.”
Setelah memastikan keadaan benar-benar sepi, Cindy keluar dan mengendap-endap menuju ruang makan seperti kucing kelaparan. Namun baru beberapa langkah, ia mematung.
Nathan ada di sana.
Pria itu berdiri di depan minibar, memegang lipstik dan jepit rambut yang tergeletak di meja. Ia melihat kiri-kanan, seperti memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu… memasukkan benda-benda itu ke saku celananya.
Nathan menoleh, Cindy refleks menahan nafasnya dan bersembunyi. Begitu Nathan kembali menuju kamar tidur dan pintu itu tertutup rapat, Cindy langsung berlari kecil menuju ruang makan.
Ia melihat makanan di atas meja yang sudah tersaji rapi. “Udah disajiin? Ini punya dia atau….” gumam Cindy dengan keraguan yang samar, bibirnya mengerucut.
Namun rasa laparnya jauh lebih kuat. Cindy akhirnya mengambil semua makanan itu tanpa pikir panjang, lalu membawanya ke dalam kamar.
Menjelang malam, Cindy keluar kamar hendak membuat kopi. Namun langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara Nathan.
“Aku mau pergi. Kamu nggak usah macam-macam dan coba kabur lagi,” ucap Nathan sambil menggulung lengan panjang kemeja hitam yang ia kenakan.
Cindy menoleh, terkejut melihat tampilan sang mantan suami yang malam itu terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Ada sesuatu yang membuat jantungnya memukul lebih keras.
“Kancing baju kamu… salah tempat,” ucap Cindy pelan, alisnya mengernyit melihat letak kancing yang jelas tidak sinkron.
“Ini tuh style,” ujar Nathan cepat. Nada suaranya mencoba terdengar percaya diri, padahal ia sempat menangkap pantulan dirinya di cermin dan sadar benar bahwa kancingnya memang salah lubang.
“Sini! Daripada nanti diketawain sama temen kamu. Kayak kakek jompo,” ucap Cindy sambil spontan mendekat.
Tangannya dengan cekatan memperbaiki kancing kemeja Nathan. Nafas mereka beradu. Detik-detik yang membuat dada keduanya menegang entah karena apa.
Sadar akan kedekatan itu, Cindy buru-buru mundur. Wajahnya memerah, jantungnya gaduh tak karuan.
“Jangan terima tamu,” ucap Nathan singkat, dingin, lalu berbalik pergi tanpa menatap Cindy lagi.
Cindy hanya mengangguk pelan. Pandangannya mengikuti punggung Nathan hingga pria itu benar-benar menghilang di balik pintu.
“Jangan kemana-mana, ya. Jagain rumah.”
Pintu tertutup rapat. Cindy menghembuskan napas panjang, lega sekaligus bingung dengan perasaannya sendiri.
“Sayang...” Cindy membujuk suaminya, menyentuh lengan Nathan dengan lembut untuk mencoba melunakkan kerasnya hati pria itu. “Sayang... kamu bisa,” ucap Cindy lagi, suaranya sangat tenang, seolah sedang menyalurkan kedamaian ke dalam jiwa Nathan yang masih terbakar amarah. “Aku bisa kok, dan kamu lebih bisa lagi...” ucap Cindy lirih. Ia menatap mata Nathan dalam-dalam, mencoba mengingatkan suaminya bahwa jika ia yang menjadi korban langsung dari rasa sakit itu saja sanggup memberikan maaf, maka Nathan pun pasti memiliki kekuatan yang sama untuk melepaskan dendamnya. Nathan menatap istrinya dengan pandangan yang perlahan meredup. Ia bisa melihat ketulusan di mata Cindy—sebuah ketulusan yang akhirnya meluluhkan tembok ego dan kemarahannya. Ia menarik napas panjang, membuangnya perlahan, lalu menatap Morgan yang masih menunggu jawaban di depan pintu. “Gue enggak janji bisa lupa, Morgan,” ucap Nathan akhirnya, suaranya tidak lagi sekeras tadi. “Tapi untuk saat ini... pergilah. Jaga
Setelah itu, Morgan segera mengirimkan sejumlah uang yang jauh di luar dugaan Cindy. Ponsel Cindy bergetar, dan matanya membelalak saat melihat notifikasi saldo masuk. “Mas, ini terlalu banyak...” ucap Cindy pelan, menatap nominal yang masuk ke rekeningnya dengan rasa tidak enak hati. “Terlalu sedikit buat menebus dosa aku ke kamu,” balas Morgan singkat. Baginya, angka itu tidak akan pernah sebanding dengan luka yang pernah ia torehkan, namun setidaknya itu bisa menjadi modal bagi mimpi-mimpi Cindy di butik ini. “Um...” Cindy hanya bergumam, tak tahu harus merespons apa lagi di tengah kemurahan hati yang menyesakkan itu. “Aku pamit, Cindy,” ucap Morgan sambil tersenyum tipis. Ia meletakkan kedua tangannya di saku celana, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sempat runtuh. “Ah, ya... oke. Hati-hati. Salam untuk Sarah, dia baik banget, cantik, tulus, dan... jangan sakiti
“Aku udah maafin kamu,” ucap Cindy pelan. Kalimat itu meluncur begitu saja, terasa ringan namun sanggup meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini Morgan bangun. “Aku takut,” ucap Morgan tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik. “Takut?” tanya Cindy, keningnya berkerut tipis, mencoba memahami arah pembicaraan pria di depannya. “Ya... takut kalau setelah ini... aku enggak bisa lihat kamu lagi,” ucap Morgan jujur. Ada kilat kesedihan di matanya. Permintaan maaf ini adalah sebuah titik akhir, sebuah perpisahan resmi yang permanen. Morgan menyadari bahwa setelah pintu butik ini ia tutup, ia tidak lagi memiliki alasan atau hak untuk mencari tahu kabar Cindy, apalagi menemuinya secara sengaja. Cindy terdiam, ia bisa merasakan ketulusan sekaligus kerapuhan dari pria yang dulu pernah menguasai seluruh hatinya. Ia melirik ke arah luar, ke arah mobil di mana Sarah dengan setia menunggu, lalu kembali menatap Morgan. “Mas... bukannya itu tujuan kita bertemu?” tanya Cindy lembut. “Supaya
“Iya, dan aku sendiri pribadi menjual pakaian yang memang aku suka. Karena kalau kita suka apa yang kita punya, biasanya rasa suka itu ketularan ke siapa saja yang lihat,” ucap Cindy sambil tertawa kecil. Ia kemudian bergerak menyiapkan minuman dingin dan meletakkannya di atas meja. “Oke, fix, aku ambil dua potong baju!” seru Sarah yang tampak sangat senang mendapatkan barang kesukaannya. “Minum dulu deh...” ucap Cindy ramah sembari menyiapkan paperbag hitam dengan logo CN berwarna emas—inisial Cindy dan Nathan. “Um, mungkin kamu bingung kenapa aku tiba-tiba ke sini dan bilang kalau kita pernah ketemu,” ucap Sarah sambil memegangi botol kaleng dingin itu, matanya menatap Cindy dengan tulus. “Ya, jujur... aku bingung tapi senang juga karena ada yang datang ke butik aku. Belum resmi jualan, tapi sudah ada peminat,” jawab Cindy jujur. “Oke. Dan... mungkin ini bakal bikin kamu kaget. Karena pertama... kita ketemu di penthouse. Ingat? Waktu buang sampah, pagi-pagi,” ucap Sarah pe
Mendengar perkataan Sarah, Morgan tersenyum tulus. Ada binar kebanggaan di matanya terhadap wanita pilihannya ini. Meskipun dalam lubuk hatinya ia mengakui bahwa awalnya ia sempat membohongi diri sendiri—berusaha memaksimalkan perasaannya pada Sarah hanya demi melupakan Cindy—namun seiring berjalannya waktu, cinta itu tumbuh menjadi sesuatu yang murni. Sarah bukan lagi sekadar pelarian; wanita itu telah menjadi pelabuhannya yang paling nyata. Morgan mempererat pelukannya, seolah ingin meyakinkan diri bahwa ia tidak akan kehilangan pegangan kali ini. “Gue enggak pernah nyangka bakal ketemu orang sekuat lo, Sarah,” bisik Morgan. “Ayo, kita hadapi ini sama-sama. Tapi janji, kalau situasi memanas, lo jangan jauh-jauh dari gue.” Berpindah ke sisi kehidupan Nathan dan Cindy yang tak kalah pelik, namun kini diwarnai dengan kehadiran Morgan dan Sarah yang menjadi pilar pendukung mereka. “Aku temani kamu sampai tuntas, Mas. Sudah enggak murung lagi, kan?” tanya Sarah sembari tersenyum
“Kenapa kamu merasa enggak pantas ketemu dia?” tanya Sarah dengan sangat lembut pada Morgan yang tengah berapi-api, berusaha menjadi peredam bagi emosi kekasihnya yang sedang meledak-ledak itu.“Gue merasa omongan Papa banyak benernya, Sayang. Dia bilang gue perusak masa depan adik gue dan Cindy. Gue jahat...” ucap Morgan lirih, lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher Sarah, mencari perlindungan dari rasa bersalah yang menghimpit dadanya.“Sayang... Enggak ada yang sempurna di dunia ini. Aku, kamu, dan semuanya. Kita pendosa, tapi tidak ada halangan buat kita untuk berubah jadi lebih baik. Aku sendiri contoh nyata itu, kamu tahu... Aku pelacur, tapi kamu masih mau terima aku. Dan artinya apa? Aku punya kesempatan besar buat berubah, kan...” ucap Sarah sembari tersenyum getir, memeluk Morgan semakin erat.Kalimat itu bagaikan tamparan sekaligus pelukan hangat bagi Morgan. Sarah mengorbankan harga dirinya, membuka kembali luka lamanya sendiri hanya untuk memastikan Morgan tidak tengg







