Mag-log in“Mas? Buka pintunya!”
Cindy berteriak sambil mengetuk pintu kamar Nathan berkali-kali. Napasnya naik turun, wajahnya merah karena kesal. “Kamu sendiri yang usir aku, tapi kenapa aku nggak bisa keluar dari rumah ini?!” Handle pintu kamar bergerak. Cindy buru-buru mundur dua langkah. Pintu terbuka, memperlihatkan Nathan berdiri dengan wajah datar dan rambut sedikit berantakan. “Kamu berisik. Ini udah malam,” ucap Nathan tenang, seolah tidak terganggu teriakannya. “Kamu tuh aneh!” Cindy melipat kedua tangannya, bibirnya manyun penuh amarah. “Kamu jelas-jelas usir aku, tapi kenapa kamu nggak izinkan aku keluar dari rumah kamu ini?!” “Ini udah malam,” jawab Nathan singkat. Ia hendak menutup pintu, tapi Cindy buru-buru menahannya dengan telapak tangan. “Mas, jawab pertanyaan aku! Kenapa aku nggak boleh pergi dari sini?!” tanya Cindy lagi, kini lebih putus asa daripada marah. “Siapa yang nggak bolehin?” Nathan balik bertanya pelan, tatapannya menusuk. “Loh, jelas kok!” Cindy menunjuk ke arah pintu utama. “Kamu mau pergi ya pergi aja, siapa yang melarang?” ucap Nathan santai, seolah tidak terjadi apapun barusan. Ia hanya menatap Cindy lama—tatapan yang entah kenapa membuat Cindy makin salah tingkah. “Buka kata aku!” Cindy memaksa, suaranya meninggi. Pasalnya kunci manual diambil oleh pemilik apartemen ini. “Udah malem,” ulang Nathan dengan nada rendah, kemudian perlahan menutup pintu kamar. “Mas?!” Cindy kembali menggedor pintu keras. Ia spontan menendang pintu itu karena kesal—dan langsung menjerit kecil. “Aduh…” Cindy meringis sambil melonjak mundur, buru-buru memeriksa kuku kakinya yang berdenyut sakit. Dalam sepersekian detik, pintu terbuka cepat. Nathan berdiri di sana, tubuhnya memenuhi seluruh frame pintu, napasnya berat karena jelas terganggu—tapi matanya langsung jatuh ke kaki Cindy. “…kamu tendang pintunya?” suaranya rendah, hampir seperti gumaman tidak percaya. “Itu karena kamu bikin aku kesel!” Cindy menyentak, tapi suaranya goyah karena menahan sakit. Nathan menghela napas panjang sekali, kemudian melangkah keluar dan mendekat. Cindy spontan mundur setengah langkah. Nathan tidak. “Tunjukin,” katanya singkat. “A-apa?” “Kakimu. Kamu kesakitan.” Nada itu. Nada yang hanya muncul kalau ia sedang sangat marah… atau sangat khawatir. Cindy gugup sendiri. “Aku bisa sendiri,” gumamnya. “Tunjukin.” Cindy menghela napas, akhirnya mengulurkan kaki sedikit. Nathan berlutut tanpa kata “…makanya jangan nendang pintu,” gumam Nathan akhirnya, tanpa menatap ke atas. “Kamu cuma bikin diri kamu sendiri sakit.” Ada jeda. Cindy menelan ludah. “Kalau kamu nggak ninggalin aku tadi, aku juga nggak—” Nathan berhenti memeriksa kakinya. Ia mendongak. “Besok,” katanya pelan, “kita ngomong. Tapi sekarang kamu tidur.” “Kalau aku nggak mau?” Nathan berdiri, sangat dekat, sangat tinggi sampai Cindy harus mendongak. “Aku mau.” katanya seraya melenggang ke kamar, meninggalkan Cindy dengan degup jantungnya yang tak menentu. * Menjelang pagi, Nathan terbangun lebih dulu. Ia membuka jendela kamar, membiarkan udara dingin pagi menyentuh kulitnya, lalu berdiri di balkon sambil menarik napas panjang. Setelah beberapa saat, pikirannya terarah pada satu orang. Nathan segera keluar kamar. Ia memeriksa ruang tamu, ruang TV, bahkan dapur. “Tumben…” gumamnya pelan ketika tidak menemukan Cindy di mana pun. Namun, tas Cindy masih tergeletak di dekat pintu—pertanda ia tidak pergi. Nathan akhirnya menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Untuk dirinya sendiri, pikirnya. Namun tanpa sadar, ia memasak cukup banyak, lalu membaginya menjadi dua piring dan meletakkannya rapi di atas meja makan. Sementara itu, dari balik pintu kamar, Cindy mengintip pelan-pelan. Rambutnya masih basah, handuk melilit tubuhnya dengan seadanya. “Dia udah bangun duluan? Aku harus siap-siap. Aku yakin dia pasti habis makan terus mau pergi kerja,” bisik Cindy, wajahnya tegang. Namun perutnya berbunyi keras. “Tapi… aku laper… duh…” gumamnya lirih, menatap meja makan seperti melihat harta karun. Ia menghembuskan napas panjang. “Ah… nggak bisa kayak gini. Aku harus pura-pura nggak peduli. Demi perut terisi! Dan ambil tas aku, karena baju aku di situ…” bisiknya tekad. Cindy pun membuka pintu kamar dan berjalan menuju pintu utama untuk mengambil tasnya. Saat itu Nathan menoleh tanpa sengaja—dan langsung terbatuk keras melihat Cindy hanya memakai handuk. Cindy kaget, berhenti seketika sambil memegang tali tasnya. “Kamu—” air yang hampir ditelan seketika meluncur keluar. “Kamu kenapa keluar cuma pakai handuk doang?” ucap Nathan mencoba tegas, padahal jantungnya hampir jatuh ke lantai. “Kenapa juga dilihatin?” Cindy balik menantang sambil berkacak pinggang, handuknya sedikit melorot sehingga ia buru-buru merapikan. Nathan menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Sekali lagi kamu keluar pakai handuk begitu aja…”“Soal apa, Tante?” tanya Nathan penasaran. Di sampingnya, Cindy tampak menegang. Jari-jarinya saling bertaut, napasnya sedikit tertahan, seolah tak siap mendengar lanjutan kalimat itu. “Soal…,” bibinya menggantungkan ucapan, tatapannya meredup sejenak. “Ma, jangan deh,” sela pamannya cepat sambil menggeleng pelan. “Nggak enak sama Cindy…,” lanjutnya, lalu kembali mengunyah makanannya, berusaha mengalihkan suasana. Namun diam yang tersisa justru terasa lebih berat, membuat Cindy semakin gelisah. “Iya sih… maaf ya, Nathan, Cindy,” ucap bibinya pelan. Nada suaranya melunak. “Tante seharusnya mendinginkan suasana, bukan malah membuka hal-hal yang bikin nggak nyaman. Maaf ya…” Ia tersenyum kecil, mencoba menepis sisa kegelisahan yang sempat menggantung di udara. “Ah, sudahlah. Pokoknya fokus aja sama perjalanan kalian ini. Tante doain ke depannya nggak ada lagi masalah yang nggak bisa kalian selesaikan bersama, ya.” Cindy dan Nathan mengangguk pelan. Nathan meremas tangan Cin
“Iya, Om, Tante. Jadi… aku ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante,” ucap Nathan pelan, namun terdengar mantap. Tangannya masih menggenggam tangan Cindy, seolah memberi kekuatan. “Kami mau menikah lagi dan butuh saksi sekaligus wali. Karena… Papa sama Mama sudah tidak akan memberi respons apa pun.” Senyum tipis masih bertahan di wajah Nathan, meski matanya menyiratkan lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Um…” Paman dan bibinya bersuara hampir bersamaan. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada jeda sunyi di antara mereka—hening yang sarat makna, seolah masing-masing tengah menimbang beban keputusan yang akan diambil, sekaligus memahami luka yang dibawa Nathan dan Cindy ke hadapan mereka. “Ya sudah, kapan kalian nikah? Di gedung mana? Atau di apartemen?” tanya pamannya sambil tersenyum hangat, menatap Nathan dan Cindy bergantian. “Jadi… Om mau?” tanya Nathan lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar,
“Iya, Bude… masih ingat sama aku?” tanya Cindy sambil tersenyum, nada suaranya sopan namun hangat. “Oalah… ternyata bener toh,” sahut sang Bude sambil menatap Cindy dari ujung kepala hingga kaki. Senyum lebarnya mengembang. “Sekarang makin cantik aja.” Ia lalu bertepuk tangan kecil. “Ayo, ayo… anu… Om sama Tante ada di lantai atas. Ayo.” Tanpa menunggu lama, Bude itu segera memimpin jalan. Tangga melingkar yang elegan mereka naiki bersama hingga tiba di lantai dua. Setibanya di atas, pembantu rumah tangga itu mengetuk pintu ruang keluarga. “Permisi… ada tamu,” ucapnya sopan. “Siapa, Bude?” tanya Anggi—Tante Nathan—dari dalam ruangan. “Mas Nathan sama…” Pembantu itu tersenyum lebar, lalu mengangkat ibu jarinya ke arah mereka berdua. “...mantan istrinya.” “Oh?” Anggi menoleh, lalu matanya membesar saat melihat keduanya. “Nathan? Cindy?” Nada suaranya terdengar campur aduk—terkejut, senang, sekaligus seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. Nathan dan Cindy segera
“Kalau kamu masih belum siap buat cerita, seenggaknya jangan buat aku terus penasaran, Sayang,” ucap Nathan pelan sambil berlutut di hadapan Cindy, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku cuma nggak tahu harus cerita apa, Sayang. Aku bingung…” sahut Cindy lirih. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata yang jatuh, napasnya terdengar tak beraturan. “Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu khawatir,” lanjut Cindy, suaranya nyaris hilang, seolah rasa bersalah menekan dadanya lebih kuat dari yang bisa ia tahan. Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah. Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu memang butuh waktu,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Tapi… jangan buat aku terus nunggu tanpa kepastian, Sayang.” “Um…” sahut Cindy sambil mengangguk pelan. Ia tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Nathan sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan yang erat, seolah tak i
“Kamu telepon aku?” tanya Cindy sambil tersenyum canggung, matanya sempat menghindar sebelum kembali menatap Nathan. “Iya, sayang. Aku telepon kamu, tapi kamu nggak jawab,” jawab Nathan sambil terus mengunyah, sorot matanya tak lepas dari wajah Cindy. “Biasanya kamu paling semangat kalau aku telepon,” lanjut Nathan dengan senyum kecil. “Telat dikit aja, kamu udah ngomel.” Tangannya terangkat, mengusap pipi Cindy dengan ibu jari secara lembut—gerakan sederhana, tapi cukup membuat Cindy terdiam sesaat. “Mungkin aku tadi ketiduran, ya, sayang,” ucap Cindy pelan sambil tersenyum. “Maaf ya, aku nggak tahu kamu telepon.” Ia langsung memeluk Nathan, seolah ingin menutup rasa bersalahnya dengan kehangatan itu. Nathan menghela napas kecil, lalu tersenyum pasrah. “Pengen marah,” katanya lirih sambil mengusap wajah Cindy dengan lembut, “tapi ini kamu. Aku nggak bisa.” “Makasih, sayang… maaf ya,” balas Cindy pelan. Senyumnya mengembang tipis saat ia menyandarkan pipinya di lengan Na
“Paling dia tiduran habis nonton drakor,” ucap Bayu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. “Cewek-cewek kan gitu, Nath.” “Mungkin juga, ya,” jawab Nathan akhirnya. Ia menghela napas pelan, lalu menyimpan ponselnya ke saku celana. Nada suaranya terdengar berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia mengangkat kantong belanjaan sedikit, lalu melangkah mundur setengah langkah. “Gue mau balik. Lo mau ke mana?” tanyanya. “Gue mau ke rumah Mama,” jawab Bayu. “Tadi mampir sebentar, liat lo jalan kaki.” Nathan tersenyum tipis. “Oh.” Bayu tertawa kecil, membuka pintu mobilnya. “Ya udah, gue cabut dulu.” Ia melirik Nathan sambil terkekeh. “Lo mau gue anterin, nggak?” “Halah…” ucap Nathan sambil tertawa singkat, matanya melirik ke arah gedung apartemen yang kini sudah di depan mata. “Nggak usah. Deket.” “Ya udah, gue balik ya,” kata Bayu sambil melangkah menuju mobilnya. “Salam buat Cindy. Oh iya… kapan nikah? Undang gue dong.” “Pasti gue kabarin, lo,” jawab Nathan s







