เข้าสู่ระบบ“Kamu kan tahu sendiri Sayang... aku nggak pernah bisa cuma satu kali...” bisik Nathan serak. Ia terus mengecupi leher jenjang Cindy, sementara jemarinya tidak berhenti memberikan rangsangan dengan ritme yang semakin cepat dan menuntut. “Ah... Mas... Um... Mas... Ah....” Desahan Cindy pecah di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua kakinya mulai terasa lemas dan gemetar, membuatnya terpaksa menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Nathan. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas bahu dan leher suaminya, mencari pegangan saat sensasi nikmat mulai merayapi seluruh tubuhnya. Tubuh Cindy bergerak naik-turun perlahan mengikuti permainan tangan Nathan yang terus meremas dadanya, sementara lehernya kini terasa basah oleh kecupan-kecupan panas. “Udah terlalu basah, Sayang... Aku nggak mau berhenti sampai kamu benar-benar keluar dan puas... Umm...” ucap Nathan dengan napas memburu. Ia begitu menikmati setiap inci kulit Cindy yang bersentuhan dengan jari-jarinya, membiarkan gairah itu
“Kenapa, Mas? Kayaknya dia panggil kamu tadi?” tanya Cindy heran saat melihat Nathan baru saja masuk ke mobil dengan terburu-buru. Nathan segera meletakkan bingkisan dari Morgan di bangku belakang tanpa kata. “Nggak, kok. Kita langsung pulang sekarang, Sayang,” ucap Nathan pendek. Wajahnya tampak tegang saat ia menyalakan mesin. Dengan gerakan cepat, ia memasang sabuk pengaman lalu menginjak pedal gas cukup dalam. Bunyi mesin mobil sport itu mengaung keras di area parkir, sebelum melesat pergi meninggalkan lokasi. Di kejauhan, Morgan hanya berdiri diam dengan senyum miring yang penuh arti, memperhatikan mobil adiknya yang menjauh dengan kecepatan tinggi. “Lo takut, kan?” ucap Morgan sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia terkekeh tipis, merasa menang karena telah berhasil mengusik ketenangan Nathan. Morgan kemudian berbalik, masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan duduk diam di sana sambil menatap lurus ke depan—merencanakan langkah selanjutnya untuk sang adik. “Sayang, d
“Apa kabar?” tanya Morgan saat melihat Nathan menghampirinya. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya, namun tatapannya seolah sedang memindai setiap gerak-gerik sang adik. Mereka berjabat tangan erat, sebuah gestur formalitas keluarga yang kaku. “Kabar baik,” jawab Nathan singkat, membalas senyuman itu dengan keramahan yang dijaga. “Jadi... lo di sini juga?” tanya Morgan lagi. Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata, sambil melirik penuh arti ke arah mobil Nathan di mana ia tahu ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik kaca film yang gelap. “Kebetulan aja,” sahut Nathan santai. “Iya, ya... kebetulan yang bikin happy,” gumam Morgan. Nathan menghela napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Ia berdiri santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. “Kapan lo sampai di Indonesia?” Tak jauh berbeda dengan sang adik, Morgan tampak sangat tenang. Ia memainkan pemantik api di satu tangannya, sementara tangan lai
“Aku nggak nolak, Sayang. Aku cuma menunda aja,” jawab Nathan tenang. Ia menelan makanannya terlebih dahulu, lalu kembali menyuap potongan daging berikutnya dengan santai.Cindy memperhatikannya sambil tersenyum simpul, ada binar jahil di matanya. “Tapi... kamu nggak sebal, kan, kita berakhir di hotel ini?” tanya Cindy, lalu tertawa kecil saat melihat ekspresi Nathan.Nathan tertawa singkat, kepalanya menggeleng pelan menanggapi keusilan wanitanya itu. “Jahil banget, sih. Ya jelas aja nggak, Sayang. Lagian kan... tujuan utama kita ke sini karena memang buat seks, terus kita lanjut sayang-sayangan sampai puas,” bisik Nathan dengan suara rendah yang menggoda.Ia menjangkau tangan Cindy di atas meja, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan wanita itu secara perlahan. Tatapannya mendalam, seolah menegaskan bahwa tidak ada pertemuan bisnis atau panggilan telepon dari kakaknya yang lebih penting daripada momen mereka berdua saat ini.“Dan menurut aku, tujuan itu ud
“Sayang? Itu kakak kamu, kan? Jawab saja, siapa tahu ada hal penting,” ucap Cindy lembut, mencoba memberikan dukungan pada Nathan. “Um...” Nathan bergumam pendek. Tepat saat pintu lift berdenting terbuka di lantai restoran, Nathan menggeser layar ponselnya dan menerima panggilan tersebut. “Halo,” sahutnya pelan. Tangannya menggenggam jemari Cindy dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia fokus pada pembicaraan telepon tersebut. “Nathan, um... apa lo lagi sibuk?” tanya Morgan di seberang sana. Suaranya terdengar kaku, sarat akan beban rasa bersalah. “Ya, nggak juga,” jawab Nathan singkat. Ia menatap wajah Cindy yang kini tengah sibuk membuka buku menu dengan antusias di bawah bimbingan seorang pelayan restoran. Nathan hendak menanyakan sesuatu, namun kalimatnya tertahan. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah X-banner berukuran besar yang terpampang di pintu masuk restoran. Di sana tertulis pengumuman mengenai pertemuan besar perusahaan keluarg
Suasana ballroom hotel mewah itu begitu gemerlap, namun terasa mencekik bagi Morgan. Aroma hidangan mahal dan denting gelas kristal tidak mampu menenangkan hatinya yang gundah. “Morgan, ini Pak Frans dan Pak Nico. Mereka mau berfoto sama kamu,” bisik ibunya dengan nada memerintah, menarik Morgan kembali ke realitas di tengah hiruk pikuk pertemuan besar itu. “Oh... iya, Ma,” sahut Morgan patuh. Ia memaksakan sebuah senyum formal, melayani para klien raksasa yang masih memilih setia pada perusahaan keluarganya. Meskipun ia kini menduduki kursi CEO, Morgan sadar betul bahwa kestabilan ini sangat rapuh. Kabar mundurnya Nathan telah mengguncang kepercayaan pasar; sebagian besar kolega lama mulai menarik kerja sama mereka karena tidak yakin pada kemampuan Morgan menggantikan posisi adiknya yang telah memimpin selama delapan tahun dengan tangan dingin. “Semoga kerja sama kita bisa berlangsung lebih awet dan keuntungannya melimpah di bawah kepemimpinanmu,” ucap salah seorang tamu







