Inicio / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 78. TERUS MAS! LEBIH DALAM...

Compartir

78. TERUS MAS! LEBIH DALAM...

last update Última actualización: 2025-12-30 22:27:33

“Masukin, Mas… masukin…,” rintih Cindy, memohon dengan suara yang nyaris habis. Ia mendamba agar Nathan segera mengisi kekosongan di dalam dirinya yang kini tampak basah dan mengilap tertimpa cahaya lampu. Napasnya terengah memburu, sesekali ia menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan gejolak, sembari melemparkan tatapan penuh damba pada Nathan yang sudah siap untuk menghujamnya.

Nathan berdiri di ujung ranjang dengan tatapan mata yang gelap oleh gairah. Ia menarik kedua paha Cindy, memosisikannya dengan mantap tepat di hadapan miliknya yang menegang angkuh. Sejenak, Nathan memegang miliknya, sendiri, melepasnya dan mengusapkannya di bibir sensitif Cindy seolah memberikan sinyal ketenangan sekaligus persiapan, sebelum akhirnya ia mulai masuk secara perlahan namun sangat dalam.

“Ah!” Cindy menjerit kecil, tubuhnya tersentak saat merasakan kepenuhan yang luar biasa.

“Ouh…,” Nathan mendesah berat, matanya terpejam erat saat miliknya tenggelam sepenuhnya.

Ia merasakan sensas
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   98. KEBANGGAAN ORANG TUA SEDANG ASYIK DI HOTEL DENGAN WANITA PENGHIBUR

    ​“Morgan belum pulang, Pa?” tanya ibunya malam itu. Ia tampak sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya di depan cermin meja rias, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. ​“Belum kayaknya. Tapi tadi dia menelepon Papa, katanya lagi kumpul sama teman-temannya,” jawab sang ayah tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca di atas ranjang. ​“Oh... begitu. Tapi dia siap, kan, untuk hari pertamanya besok? Jangan sampai dia malah nggak datang ke kantor,” ucap ibunya dengan nada cemas. Ia meletakkan kapas pembersihnya dan berbalik menatap suaminya. Bagi ibunya, citra Morgan di perusahaan adalah segalanya. ​“Pasti dia datang, Ma. Papa sudah bicara langsung dengannya tadi. Dia sudah memastikan sendiri kalau dia akan hadir di hari pertama,” ucap ayahnya dengan nada tenang, berusaha meredakan kegelisahan sang istri. ​Ayahnya menutup buku, lalu melepas kacamata bacanya. “Dia tahu betul seberapa besar taruhannya kali ini. Morgan nggak akan sebod

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   97. PENGANGGURAN

    ​“Jadi, minggu depan kita bisa nikah lagi?” tanya Cindy penuh harap pada Nathan malam itu. ​Suasana ruang TV apartemen mereka terasa kontras. Cindy tampak sibuk di atas karpet, menyusun tumpukan berkas penting untuk pengurusan administrasi. Sementara itu, Nathan justru tenggelam dalam dunianya sendiri. Pria itu memakai headphone besar, fokus menatap layar televisi lebar sambil sesekali mengarahkan senjata nirkabel mainannya ke arah musuh virtual dari atas sofa. ​“Sayang, kita harus foto lagi, kan? Buat buku nikah yang baru,” ucap Cindy lagi. Ia mengambil buku nikah lama mereka yang masih tersimpan rapi, lalu membukanya perlahan. ​Ada rasa getir sekaligus lucu saat jemarinya menyentuh lembaran itu. “Bisa nggak, sih, buku lama ini diterusin aja? Tapi kayaknya nggak mungkin, ya... Di lembar belakang udah ada stempel cerai. Hmmm...” Cindy tertawa kecil meratapi masa lalu mereka yang sempat hancur. ​Namun, tawa itu perlahan surut saat ia menyadari tidak ada respons dari pria di sam

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   96. KELUARGA NATHAN PANIK JIKA CINDY BERTEMU MORGAN?

    ​“Kamu kan tahu sendiri Sayang... aku nggak pernah bisa cuma satu kali...” bisik Nathan serak. Ia terus mengecupi leher jenjang Cindy, sementara jemarinya tidak berhenti memberikan rangsangan dengan ritme yang semakin cepat dan menuntut. ​“Ah... Mas... Um... Mas... Ah....” ​Desahan Cindy pecah di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua kakinya mulai terasa lemas dan gemetar, membuatnya terpaksa menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Nathan. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas bahu dan leher suaminya, mencari pegangan saat sensasi nikmat mulai merayapi seluruh tubuhnya. ​Tubuh Cindy bergerak naik-turun perlahan mengikuti permainan tangan Nathan yang terus meremas dadanya, sementara lehernya kini terasa basah oleh kecupan-kecupan panas. ​“Udah terlalu basah, Sayang... Aku nggak mau berhenti sampai kamu benar-benar keluar dan puas... Umm...” ucap Nathan dengan napas memburu. Ia begitu menikmati setiap inci kulit Cindy yang bersentuhan dengan jari-jarinya, membiarkan gairah itu

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   95. MORGAN MENGIKUTI MEREKA.

    ​“Kenapa, Mas? Kayaknya dia panggil kamu tadi?” tanya Cindy heran saat melihat Nathan baru saja masuk ke mobil dengan terburu-buru. Nathan segera meletakkan bingkisan dari Morgan di bangku belakang tanpa kata. ​“Nggak, kok. Kita langsung pulang sekarang, Sayang,” ucap Nathan pendek. Wajahnya tampak tegang saat ia menyalakan mesin. Dengan gerakan cepat, ia memasang sabuk pengaman lalu menginjak pedal gas cukup dalam. Bunyi mesin mobil sport itu mengaung keras di area parkir, sebelum melesat pergi meninggalkan lokasi. ​Di kejauhan, Morgan hanya berdiri diam dengan senyum miring yang penuh arti, memperhatikan mobil adiknya yang menjauh dengan kecepatan tinggi. ​“Lo takut, kan?” ucap Morgan sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. ​Ia terkekeh tipis, merasa menang karena telah berhasil mengusik ketenangan Nathan. Morgan kemudian berbalik, masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan duduk diam di sana sambil menatap lurus ke depan—merencanakan langkah selanjutnya untuk sang adik. ​“Sayang, d

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   94. JANJI APA YANG MELIBATKAN CINDY?

    ​“Apa kabar?” tanya Morgan saat melihat Nathan menghampirinya. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya, namun tatapannya seolah sedang memindai setiap gerak-gerik sang adik. ​Mereka berjabat tangan erat, sebuah gestur formalitas keluarga yang kaku. “Kabar baik,” jawab Nathan singkat, membalas senyuman itu dengan keramahan yang dijaga. ​“Jadi... lo di sini juga?” tanya Morgan lagi. Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata, sambil melirik penuh arti ke arah mobil Nathan di mana ia tahu ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik kaca film yang gelap. ​“Kebetulan aja,” sahut Nathan santai. ​“Iya, ya... kebetulan yang bikin happy,” gumam Morgan. ​Nathan menghela napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Ia berdiri santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. “Kapan lo sampai di Indonesia?” ​Tak jauh berbeda dengan sang adik, Morgan tampak sangat tenang. Ia memainkan pemantik api di satu tangannya, sementara tangan lai

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   93. NATHAN DAN MORGAN BERTEMU DI TEMPAT PARKIR

    “Aku nggak nolak, Sayang. Aku cuma menunda aja,” jawab Nathan tenang. Ia menelan makanannya terlebih dahulu, lalu kembali menyuap potongan daging berikutnya dengan santai.Cindy memperhatikannya sambil tersenyum simpul, ada binar jahil di matanya. “Tapi... kamu nggak sebal, kan, kita berakhir di hotel ini?” tanya Cindy, lalu tertawa kecil saat melihat ekspresi Nathan.Nathan tertawa singkat, kepalanya menggeleng pelan menanggapi keusilan wanitanya itu. “Jahil banget, sih. Ya jelas aja nggak, Sayang. Lagian kan... tujuan utama kita ke sini karena memang buat seks, terus kita lanjut sayang-sayangan sampai puas,” bisik Nathan dengan suara rendah yang menggoda.Ia menjangkau tangan Cindy di atas meja, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan wanita itu secara perlahan. Tatapannya mendalam, seolah menegaskan bahwa tidak ada pertemuan bisnis atau panggilan telepon dari kakaknya yang lebih penting daripada momen mereka berdua saat ini.“Dan menurut aku, tujuan itu ud

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status