Mag-log inKedua tangannya kini mencengkeram sprei dengan kuat hingga kain itu kusut dalam genggamannya. Kenikmatan yang diberikan Cindy kali ini terasa begitu luar biasa dan langka, membuat seluruh saraf di tubuh Nathan bergetar hebat. Setiap sedotan dan lilitan lidah Cindy seakan menarik seluruh kesadarannya menuju puncak yang memabukkan. “Ngggh... sedikit lagi, Sayang... jangan berhenti...” rintih Nathan dengan suara serak yang nyaris habis, membiarkan dirinya hanyut dalam permainan panas yang diciptakan oleh wanita di “Teriak lagi, Sayang... lebih keras lagi!” perintah Nathan dengan suara serak yang penuh kuasa, sembari terus menghantam tubuh Cindy dengan gerak pinggul yang cepat dan bertenaga. “Aaah... Nathan... Aaah... Sayang... iya... terus! Ah... ah... Sayang!” Cindy menjerit histeris. Nathan seolah kehilangan kendali, semakin kuat menghajar titik terdalam Cindy di atas ranjang yang kini berderit mengikuti irama mereka. Napas Nathan memburu hebat. Ia tiba-tiba menarik miliknya
Setelah transaksi pembelian ruko mewah itu selesai, ketegangan di antara Nathan dan Cindy justru semakin memuncak. Di dalam mobil yang melaju membelah lalu lintas pagi, suasana terasa begitu panas dan menyesakkan oleh gairah yang tertahan. “Hotel mana, Sayang?” tanya Nathan dengan suara serak. Sesekali ia melirik Cindy yang duduk di sampingnya, tampak begitu menggoda dengan pakaian yang sedikit berantakan. Cindy tidak menjawab dengan kata-kata biasa. Ia justru menggeser duduknya mendekat, lalu memeluk lengan kiri Nathan dengan manja. Kepalanya bersandar di bahu pria itu, sementara jemarinya mulai menari nakal di atas paha Nathan. “Um... hotel yang paling dekat aja. Sakura Hotel, Sayang. Ke sana aja, ya? Aku... aku udah nggak tahan lagi,” bisik Cindy dengan nada manja yang sangat provokatif, sengaja memberikan hembusan napas hangat di leher Nathan. Nathan menggeram rendah, tangannya yang memegang kemudi semakin erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Sentuhan
Usai melakukan transaksi dan mendapatkan surat jual beli serta bukti kepemilikan tunggal, kini keduanya resmi memiliki ruko mewah tersebut. Kepemilikan itu menjadi tonggak awal kebangkitan mereka setelah badai besar yang sempat menghantam.“Sayang... aku nggak sabar melihat ruko ini penuh dengan barang-barang yang mau aku jual nanti,” ucap Cindy sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.Keduanya duduk berdampingan di atas sofa yang merupakan bonus eksklusif dari pembelian ruko tersebut. Nathan merangkul bahu Cindy, membiarkan wanita itu menikmati kemenangannya sejenak.“Iya, Sayang. Kita pasti bakal punya kesibukan luar biasa setiap hari habis ini. Tapi... oh iya, kamu juga harus janji untuk nggak salah memilih supplier lagi. Kamu ingat, kan, dulu kamu pernah ditipu oleh teman kamu sendiri?” ucap Nathan, mengingatkan dengan nada yang lembut namun sarat akan ketegasan.Cindy mengangguk pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, mencari kenyamanan di sana. “Iya,
Pukul delapan pagi, Nathan dan Cindy sudah berada di dalam mobil sport hitam milik Nathan yang membelah jalanan kota. Mereka sedang dalam perjalanan untuk meninjau sebuah ruko strategis yang akan dibeli Nathan sebagai hadiah sekaligus tempat usaha kecil untuk Cindy.“Supplier udah kamu hubungi, Sayang?” tanya Nathan sembari fokus mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap lembut jemari Cindy.“Udah, dong. Aku udah kirim surel semalam ke supplier pakaian yang bekerja sama dengan butik aku dulu. Dan... aku boleh nambah item lain nggak?” tanya Cindy ragu-ragu. Matanya sesekali melirik deretan katalog tas mewah di layar tabletnya.“Boleh aja, Sayang. Apa pun yang kamu butuh,” ucap Nathan tanpa ragu sedikit pun.“Yes! Aku mau menambah koleksi tas, sepatu, dan sandal. Tapi masalahnya... modalnya gimana, Sayang? Rata-rata supplier baru untuk aksesori meminta pembayaran di muka sebesar tujuh puluh persen karena aku belum punya rekam jejak kerja sama de
Pagi hari, berita mengenai Nathan yang secara sepihak mengundurkan diri sebagai CEO di perusahaan ayahnya menjadi pembahasan utama di berbagai media bisnis. Banyak klien yang menyatakan kekecewaan mereka atas keputusan mendadak tersebut. Efek domino pun terjadi; sebagian pemegang saham mulai menarik modal mereka, sementara beberapa mitra besar memilih untuk membatalkan perjanjian baru.Di tengah kekacauan itu, ponsel Nathan berdering tanpa henti. Panggilan dari klien-klien loyal tampak mendesak, menuntut penjelasan langsung darinya.“Sayang, telepon kamu bunyi terus... jawab dulu,” ucap Cindy lembut. Pagi itu, ia tampak sibuk menyiapkan sarapan di dapur meski masih mengenakan lingerie seksi yang membalut tubuh indahnya.“Aku capek dari tadi terus menjawab 'halo' dan harus menjelaskan alasan ini itu,” keluh Nathan. Ia tampak tenang meski badai karier sedang menerjangnya. Hanya dengan mengenakan boxer tanpa atasan, ia duduk di meja makan, lalu akhirnya meraih ponselnya untuk menjawab pa
“Janda? Um… kayaknya menarik juga tuh janda,” ucap Morgan sembari duduk santai bersandar pada sofa. Ia meraih sebatang rokok dari meja, menyalakannya, lalu menghisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya ke udara dengan gestur yang sangat tenang.“Biasalah… jandanya itu… kebetulan mantan istrinya sendiri,” sahut Shella ketus. Ia mulai memunguti dan mengenakan kembali pakaian dalamnya yang tercecer di lantai, mencoba menutupi tubuhnya yang masih terasa panas.“Maksudnya?” tanya Morgan sembari tertawa pelan, merasa ada komedi di balik drama tersebut.“Pacar aku itu udah pernah menikah satu kali sama perempuan itu. Ternyata, setelah dia menjalin hubungan sama aku dan keluarga kami udah saling mengenal dengan sangat baik, si janda itu datang lagi. Dia rebut pacar aku lagi tepat di depan mata aku,” ucap Shella dengan suara bergetar. Ia terdiam sejenak saat bayangan wajah Cindy dan Nathan melintas di benaknya, memicu kobaran amarah yang sulit dipadamkan.“Hahaha!” Morgan tertawa lepas







