LOGINRuang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya.
Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab saat mengangkatnya, raut wajah Abah berubah seketika. Pucat. Tegang. “Di rumah sakit mana sekarang, Kiai?” Abah berdiri kaku. Telepon itu ditutup perlahan. Lalu Abah menatapku dan Umi. “Ada apa, Abah?” tanyaku, meski firasat buruk sudah menjalar. “Mobil Ustadz Alif mengalami kecelakaan.” Dadaku seperti dihantam. Nafasku seakan berhenti sejenak. Yang aku takuti benar-benar terjadi. Ingatanku berlari pada dua tahun lalu, lalu tiga tahun lalu. Tentang dua lamaranku yang gagal bukan karena penolakan, melainkan karena kematian. Tubuhku melemas. Aku hanya bisa berdoa, memohon agar Ustadz Alif baik-baik saja, sambil berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang terus menyerang. Kami bergegas menuju rumah sakit. Di sana, keluarga Ustadz Alif sudah duduk dalam kecemasan yang sunyi. Tak ada kabar pasti. Dokter belum keluar. Kami menunggu, dan menunggu. Hingga hampir satu jam kemudian, seorang dokter keluar bersama suster. Cemas kami menunggu dokter dan suter berbicara sebab seperti berat sedang membebani mereka. Hingga akhirnya dengan suara yang berat, ia berkata, “Mohon maaf… Ustadz Alif tidak dapat kami selamatkan.” Kata-kata itu jatuh seperti palu. Suara tangis seketika menggema di lorong rumah sakit. Baju-baju bagus yang mereka kenakan untuk menunggu jawaban lamaran justru menuai kabar duka. Wajah-wajah itu memantulkan rasa tak terima, tak percaya, marah, lalu perlahan pasrah. Semuanya datang silih berganti tanpa sempat disaring oleh hati. “Ternyata ibu-ibu itu benar.” Seorang wanita muda yang baru saja keluar dari ruang rawat Ustadz Alif melangkah mendekat, matanya merah, suaranya bergetar oleh amarah. “Kamu gadis pembawa sial,” katanya sambil menunjukku. “Lelaki yang melamar kamu sebelum-sebelumnya selalu meninggal. Sekarang adik saya.” Kata-kata itu menancap seperti duri. “Nduk… ikhlas, Nduk. Itu takdir dari Tuhan,” ucap seorang wanita paruh baya, ibunya Ustadz Alif. Beliau mencoba menenangkan. “Tapi ini pasti gara-gara dia, Umi!” Gadis itu tak terima, tangis dan amarahnya tumpah bersamaan. Aku membeku di hadapannya. Takut, tetapi siap menerima serangan apa pun. Karena di dalam firasatku sendiri aku pun mengutuk diriku sebagai gadis semacam itu. Umi yang tidak terima dengan tuduhan itu langsung mendekap ku. Entah untuk melindungi ku, atau menenangkan ku. Di dalam pelukannya hangat, namun aku tidak merasa aman. Aku hanya merasa seperti seseorang yang membawa kematian dalam diamnya sendiri. Dan semakin erat Umi memelukku, semakin dalam aku tenggelam dalam rasa bersalah yang tak pernah kupilih, namun harus ku tanggung seumur hidup. Malam itu aku tidak menangis. Aku duduk di kamar ndalem dalam keadaan gelap, memandangi jendela yang terbuka sedikit. Angin malam masuk pelan, membawa suara jangkrik dan bau tanah basah. Umi sudah beberapa kali menanyakan keadaanku, tapi aku hanya menjawab, “Azahra baik, Umi.” Padahal di dalam dadaku, tidak ada yang baik-baik saja. Kata-kata wanita itu terus terulang di kepalaku. Gadis pembawa sial.bLelaki yang melamar selalu meninggal. Aku mencoba menutup telinga, menutup mata, menutup pikiranku. Tapi ingatan tidak bisa diperintah. Ia datang seperti ombak, menabrak tanpa izin. Dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan sekarang. Aku duduk bersila di atas sajadah. Tanganku terangkat, namun bibirku kelu. Aku tidak tahu doa apa yang harus kupinta, karena bahkan untuk meminta hidup normal pun aku merasa tidak pantas. “Ya Allah…” suaraku pecah. “Kalau memang aku membawa celaka bagi siapa pun yang mendekat, jauhkanlah aku dari mereka. Biarlah aku sendiri saja. Biarlah aku tidak menjadi sebab luka siapa pun lagi.” Dadaku sesak. Nafasku berat. Aku merasa seperti sedang diadili oleh takdir yang tidak pernah ku undang. Aku ingin percaya bahwa semua ini adalah kehendak-Mu. Tapi hatiku terlalu kecil untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Di luar, bulan menggantung pucat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut pada diriku sendiri. Berkali-kali aku menyingkirkan bayangan wajah Ustadz Alif yang terbujur kaku di balik kain putih yang terus datang, lalu menyusul dua wajah lain dari masa lalu yang tak pernah sempat kulupakan. Tiga lelaki. Tiga lamaran. Tiga kematian. Dan sekarang namaku berada di tengah semua itu. Aku mulai takut pada masa depanku sendiri. Bagaimana jika setelah ini aku benar-benar menikah dengan Mas Risam? Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya Bagaimana jika aku kembali menjadi sebab seorang lelaki kehilangan hidupnya? Pikiranku tidak berhenti berputar. Semua jalan masa depan yang kulihat berakhir pada satu kesimpulan yang sama yakni aku membawa petaka. Aku mencoba menenangkan diri dengan salat, dengan doa, dengan membaca ayat-ayat yang dulu selalu membuat hatiku teduh. Namun kali ini, setiap sujud terasa berat. Setiap doa seperti terhenti di dadaku sendiri. Aku tidak berani menatap Mbak Aiza. Tidak berani memandang Mas Risam terlalu lama. Tidak berani membayangkan hari pernikahan itu. Karena yang kulihat bukan kebahagiaan, melainkan liang kubur berikutnya. Malam-malamku menjadi semakin pendek. Nafsu makanku menghilang. Kepalaku sering pusing, dadaku nyeri, tubuhku dingin tanpa sebab. Hingga suatu pagi, saat hendak mengambil air wudhu, pandanganku berkunang-kunang. Lantai terasa bergeser. Dan sebelum sempat memanggil siapa pun, tubuhku terjatuh. Gelap. Ketika aku sadar, Umi berada di sampingku, matanya sembab, menggenggam tanganku erat. Tubuhku lemah, kepalaku berat, dan seluruh persendianku terasa dingin. “Azahra... Sayang... Bertahan ya, kita akan ke rumah sakit." Aku memejamkan mata. Karena di dalam kepalaku, hanya ada satu ketakutan yang tak berani ku ucapkan, Ya Allah jangan sampai Mas Risam menjadi yang keempat.Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la
Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend
Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca
Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h
Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik
Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s







