Beranda / Romansa / SENDIAKALA / 15 MENJAWAB USTADZ ALIF

Share

15 MENJAWAB USTADZ ALIF

Penulis: Lila Oktavia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 18:35:10

Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya.

Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi.

“Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.”

Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang.

Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab saat mengangkatnya, raut wajah Abah berubah seketika. Pucat. Tegang. “Di rumah sakit mana sekarang, Kiai?” Abah berdiri kaku. Telepon itu ditutup perlahan. Lalu Abah menatapku dan Umi.

“Ada apa, Abah?” tanyaku, meski firasat buruk sudah menjalar.

“Mobil Ustadz Alif mengalami kecelakaan.”

Dadaku seperti dihantam. Nafasku seakan berhenti sejenak.

Yang aku takuti benar-benar terjadi. Ingatanku berlari pada dua tahun lalu, lalu tiga tahun lalu. Tentang dua lamaranku yang gagal bukan karena penolakan, melainkan karena kematian.

Tubuhku melemas. Aku hanya bisa berdoa, memohon agar Ustadz Alif baik-baik saja, sambil berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang terus menyerang.

Kami bergegas menuju rumah sakit. Di sana, keluarga Ustadz Alif sudah duduk dalam kecemasan yang sunyi. Tak ada kabar pasti. Dokter belum keluar.

Kami menunggu, dan menunggu. Hingga hampir satu jam kemudian, seorang dokter keluar bersama suster. Cemas kami menunggu dokter dan suter berbicara sebab seperti berat sedang membebani mereka. Hingga akhirnya dengan suara yang berat, ia berkata, “Mohon maaf… Ustadz Alif tidak dapat kami selamatkan.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu. Suara tangis seketika menggema di lorong rumah sakit. Baju-baju bagus yang mereka kenakan untuk menunggu jawaban lamaran justru menuai kabar duka. Wajah-wajah itu memantulkan rasa tak terima, tak percaya, marah, lalu perlahan pasrah. Semuanya datang silih berganti tanpa sempat disaring oleh hati.

“Ternyata ibu-ibu itu benar.” Seorang wanita muda yang baru saja keluar dari ruang rawat Ustadz Alif melangkah mendekat, matanya merah, suaranya bergetar oleh amarah.

“Kamu gadis pembawa sial,” katanya sambil menunjukku.

“Lelaki yang melamar kamu sebelum-sebelumnya selalu meninggal. Sekarang adik saya.” Kata-kata itu menancap seperti duri.

“Nduk… ikhlas, Nduk. Itu takdir dari Tuhan,” ucap seorang wanita paruh baya, ibunya Ustadz Alif. Beliau mencoba menenangkan.

“Tapi ini pasti gara-gara dia, Umi!” Gadis itu tak terima, tangis dan amarahnya tumpah bersamaan.

Aku membeku di hadapannya. Takut, tetapi siap menerima serangan apa pun. Karena di dalam firasatku sendiri aku pun mengutuk diriku sebagai gadis semacam itu.

Umi yang tidak terima dengan tuduhan itu langsung mendekap ku. Entah untuk melindungi ku, atau menenangkan ku. Di dalam pelukannya hangat, namun aku tidak merasa aman. Aku hanya merasa seperti seseorang yang membawa kematian dalam diamnya sendiri. Dan semakin erat Umi memelukku, semakin dalam aku tenggelam dalam rasa bersalah yang tak pernah kupilih, namun harus ku tanggung seumur hidup.

Malam itu aku tidak menangis. Aku duduk di kamar ndalem dalam keadaan gelap, memandangi jendela yang terbuka sedikit. Angin malam masuk pelan, membawa suara jangkrik dan bau tanah basah. Umi sudah beberapa kali menanyakan keadaanku, tapi aku hanya menjawab, “Azahra baik, Umi.”

Padahal di dalam dadaku, tidak ada yang baik-baik saja.

Kata-kata wanita itu terus terulang di kepalaku.

Gadis pembawa sial.bLelaki yang melamar selalu meninggal. Aku mencoba menutup telinga, menutup mata, menutup pikiranku. Tapi ingatan tidak bisa diperintah. Ia datang seperti ombak, menabrak tanpa izin.

Dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan sekarang. Aku duduk bersila di atas sajadah. Tanganku terangkat, namun bibirku kelu. Aku tidak tahu doa apa yang harus kupinta, karena bahkan untuk meminta hidup normal pun aku merasa tidak pantas.

“Ya Allah…” suaraku pecah.

“Kalau memang aku membawa celaka bagi siapa pun yang mendekat, jauhkanlah aku dari mereka. Biarlah aku sendiri saja. Biarlah aku tidak menjadi sebab luka siapa pun lagi.” Dadaku sesak. Nafasku berat.

Aku merasa seperti sedang diadili oleh takdir yang tidak pernah ku undang. Aku ingin percaya bahwa semua ini adalah kehendak-Mu. Tapi hatiku terlalu kecil untuk tidak menyalahkan diriku sendiri.

Di luar, bulan menggantung pucat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut pada diriku sendiri. Berkali-kali aku menyingkirkan bayangan wajah Ustadz Alif yang terbujur kaku di balik kain putih yang terus datang, lalu menyusul dua wajah lain dari masa lalu yang tak pernah sempat kulupakan. Tiga lelaki. Tiga lamaran. Tiga kematian. Dan sekarang namaku berada di tengah semua itu.

Aku mulai takut pada masa depanku sendiri. Bagaimana jika setelah ini aku benar-benar menikah dengan Mas Risam? Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya Bagaimana jika aku kembali menjadi sebab seorang lelaki kehilangan hidupnya? Pikiranku tidak berhenti berputar.

Semua jalan masa depan yang kulihat berakhir pada satu kesimpulan yang sama yakni aku membawa petaka. Aku mencoba menenangkan diri dengan salat, dengan doa, dengan membaca ayat-ayat yang dulu selalu membuat hatiku teduh. Namun kali ini, setiap sujud terasa berat. Setiap doa seperti terhenti di dadaku sendiri.

Aku tidak berani menatap Mbak Aiza. Tidak berani memandang Mas Risam terlalu lama. Tidak berani membayangkan hari pernikahan itu. Karena yang kulihat bukan kebahagiaan, melainkan liang kubur berikutnya.

Malam-malamku menjadi semakin pendek. Nafsu makanku menghilang. Kepalaku sering pusing, dadaku nyeri, tubuhku dingin tanpa sebab. Hingga suatu pagi, saat hendak mengambil air wudhu, pandanganku berkunang-kunang.

Lantai terasa bergeser. Dan sebelum sempat memanggil siapa pun, tubuhku terjatuh. Gelap.

Ketika aku sadar, Umi berada di sampingku, matanya sembab, menggenggam tanganku erat. Tubuhku lemah, kepalaku berat, dan seluruh persendianku terasa dingin.

“Azahra... Sayang... Bertahan ya, kita akan ke rumah sakit."

Aku memejamkan mata. Karena di dalam kepalaku, hanya ada satu ketakutan yang tak berani ku ucapkan, Ya Allah jangan sampai Mas Risam menjadi yang keempat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai slat subuh terlaksanakan aku pergi tanpa pamit panjang pada ibu. Ibu pun tau aku membutuhkan angin untuk sekedar ketenangan. Pantai pagi itu juga sangat sepi. Langit pucat memantul pada airnya yang meng gelombang, ombak bergulung malas, dan angin mengusap wajahku seperti tangan lama yang menenangkan. Aku berdiri di atas bebatuan besar, memandangi laut tempat yang selalu Bapak pilih ketika pikiranku terlalu penuh. Bapak bilang jika laut tidak akan menolak cerita siapapun. Mengenang hal itu aku mengikir senyum kecil, meski mataku basah. Rasanya sudah cukup lama aku berada di sini, perlahan bisa kulihat matahari sedang mengintipku di seberang sana. Ia membiaskan sinar kuning yang dapat menyorotkan kehangatan ke tubuhku. “Masih suka datang ke sini?” Ada suara pria di belakangku. Aku menoleh, dan dapat ku jumpai Wangsa Satya di sana. "Satya?” Aku berdiri. “Sejak kapan di kampung?” Ia tersenyum tipis. “Baru sampai semalam.” Aku menatapnya sejenak. Angin

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

  • SENDIAKALA   14 PULANG

    Aku pulang pagi ini. Di antarkan oleh Mbak Aiza dan Mas Risam yang sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, meski sejak awal aku menolak. Aku merasa mampu pulang sendiri, dan lebih dari itu aku merasa perlu. Namun mereka selalu memiliki alasan yang tak sanggup ku tepis, dan kekhawatiran dari ibu membuatku setuju. Akhirnya aku hanya diam, menyerah pada keputusan yang bukan milikku sepenuhnya. Mobil melaju menyusuri kota. Gedung-gedung tinggi berbaris di tepi jalan, reklame warna-warni berseliweran di antara deru kendaraan. Semua tampak hidup, ramai, dan bergerak cepat. Namun tak satu pun dari itu benar-benar mampu mencuri perhatianku.Pikiranku terlalu penuh. Ia berlarian ke masa depan yang belum tiba, lalu tiba-tiba kembali ke masa lalu—ke Umi dan Abah yang selalu mengirimkan ku pesan mengenai lamaran dari ustadz Alif. Setelah sampai di kampung nanti, aku tahu, aku harus ke pesantren. Aku harus menjawab lamaran Ustadz Alif.Entah sebagai apa. Sebagai seorang perempuan yang sudah b

  • SENDIAKALA   13 TANGIS DUA PIHAK

    Malam itu, setelah acara pertemuan keluarga besar Mba Aiza dan Mas Risam. Ibu mendadak berubah menjadi ruang yang asing dan dingin. Ibu hanya duduk mematung di pinggir tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya pucat, guratan lelahnya tampak lebih dalam dari biasanya. Aku mendekat dengan langkah ragu, mencoba meredam gemuruh di dadaku sendiri. Aku tahu apa yang sedang menggerogoti pikiran Ibu. Beliau tidak sedang marah, beliau sedang berduka atas masa depan anak gadisnya yang ia rasa telah mati sebelum berkembang. Kamu gadis yang pintar, bahkan banyak lamaran dari anak-anak priayi yang datang kepadamu," suara Ibu bergetar, parau karena menahan sesak. "Tapi kenapa kamu malah memutuskan menjadi istri kedua dari majikan Ibu sendiri? Kenapa kamu memilih jalan yang begitu terjal?" "Bu..." Aku mencoba meraih tangan Ibu namun dengan cekatan Ibu menarik tangannya menjauh. Ia menolak kusentuh, seolah sentuhanku justru akan menambah perih lukanya. "Kamu anak Ibu satu-satunya,

  • SENDIAKALA   12 BERTEMU DENGAN KELUARGA

    "Tujuan kami mengundang kalian ke mari untuk memberitahukan jika Mas Risam akan menikah dengan Azahra." Suara Mbak Aiza terdengar lantang, bergema di antara pilar-pilar ruang tamu yang megah itu. Di sampingnya, aku hanya bisa tertunduk dalam-dalam. Rasanya seperti seluruh berat atap rumah ini mendadak runtuh dan menimpa pundakku. Aku tak berani mengangkat wajah, apalagi menatap satu per satu anggota keluarga besar Mas Risam yang duduk mengitari kami. Iya keluarga Mas Risam, mereka yang kemarin baru saja diperkenalkan Mbak Aiza dan Ibu kepadaku sebagai orang-orang terpandang."Menikah?" Celetukan itu menyambar seperti kilat di tengah keheningan yang mencekam. Aku memberanikan diri sedikit mengangkat kepalaku, kulihat mereka semua menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan; ada keterkejutan, ketidaksukaan, dan tanda tanya besar yang menuntut jawaban instan.Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Aku bisa merasakan tatapan mereka bukan hanya tertuju pada Mas Risam atau Mbak Aiza, t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status