Home / Romansa / SENDIAKALA / 14 PULANG

Share

14 PULANG

Author: Lila Oktavia
last update Last Updated: 2026-01-04 21:25:31

Aku pulang pagi ini. Di antarkan oleh Mbak Aiza dan Mas Risam yang sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, meski sejak awal aku menolak. Aku merasa mampu pulang sendiri, dan lebih dari itu aku merasa perlu. Namun mereka selalu memiliki alasan yang tak sanggup ku tepis, dan kekhawatiran dari ibu membuatku setuju.

Akhirnya aku hanya diam, menyerah pada keputusan yang bukan milikku sepenuhnya. Mobil melaju menyusuri kota. Gedung-gedung tinggi berbaris di tepi jalan, reklame warna-warni berseliweran di antara deru kendaraan. Semua tampak hidup, ramai, dan bergerak cepat. Namun tak satu pun dari itu benar-benar mampu mencuri perhatianku.

Pikiranku terlalu penuh. Ia berlarian ke masa depan yang belum tiba, lalu tiba-tiba kembali ke masa lalu—ke Umi dan Abah yang selalu mengirimkan ku pesan mengenai lamaran dari ustadz Alif. Setelah sampai di kampung nanti, aku tahu, aku harus ke pesantren. Aku harus menjawab lamaran Ustadz Alif.

Entah sebagai apa. Sebagai seorang perempuan yang sudah berjanji pada orang lain, atau sebagai manusia yang sedang belajar menerima takdirnya sendiri.

“Azahra, ayo ikut turun sebentar.”

Suara Mbak Aiza membuatku tersentak. Membuatku tersadar, jika mobil telah berhenti di depan panti asuhan milik mbak Aiza.

“Kita mampir ke sini, Mbak?” tanyaku, masih mencoba menyelaraskan pikiranku dengan kenyataan di depan mata.

“Iya,” jawabnya lembut. “Hari ini Jumat, kan? Ini jadwal saya bertemu dengan mereka. Saya sempatkan dulu sebelum kita lanjut perjalanan.”

“Oh… iya, Mbak.”

Begitu kami turun, pintu panti terbuka lebar.

Seperti yang kulihat kemarin, anak-anak itu menyambut Mbak Aiza dan Mas Risam dengan sorak kecil dan wajah-wajah yang berbinar. Mereka berlarian, sebagian memeluk kaki Mbak Aiza, sebagian lagi menggenggam tangan Mas Risam sambil bercerita tanpa henti.

Pemandangan itu membuat dadaku menghangat dan sekaligus perih.

Mbak Aiza menunduk, menyentuh kepala mereka satu per satu, tersenyum dengan kelembutan yang jarang kulihat pada dirinya di rumah. Mas Risam ikut berjongkok, mendengarkan cerita-cerita kecil mereka seolah tak ada hal lain yang lebih penting di dunia.

Aku hanya berdiri sejenak, memandangi mereka.

Lalu aku ikut melangkah mendekat, menyapa anak-anak itu satu per satu. Beberapa dari mereka menatapku penasaran, lalu tersenyum malu-malu saat ku sapa. Di tempat ini, Mbak Aiza bukanlah perempuan yang terluka oleh pilihan hidupnya, melainkan seseorang yang menjadi rumah bagi banyak jiwa yang kehilangan rumah.

Dan di antara tawa kecil itu, aku kembali diingatkan bahwa tak semua pengorbanan dilakukan demi cinta,

sebagian dilakukan demi menyelamatkan dunia kecil orang-orang lain.

“Azahra salut sama Mbak Aiza,” kataku pelan, sambil memandangi anak-anak yang kini tertawa riang di halaman. “Mbak Aiza itu… keren sekali. Bisa memberi mereka rumah. Bukan hanya tempat tinggal, tapi juga kasih dan sayang. Tidak semua orang mampu melakukan hal seperti itu."

Sejak tadi pandangan Mbak Aiza tak lepas dari Mas Risam yang tengah bermain bersama anak-anak itu tertawa tanpa beban, seolah dunia tak pernah menuntutnya apa-apa. Namun kali ini, Mbak Aiza menoleh padaku. Tatapannya dalam, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang tak kasatmata.

“Saya tahu bagaimana rasanya tidak memiliki rumah, Azahra,” ucapnya. “Karena itu, saya tidak ingin mereka merasakan kekurangan yang sama.”

Aku menatapnya tak percaya.

Dia menghela napas pelan.

"Saya yatim piatu sejak lahir. Besar bersama paman dan bibi. Mereka baik, sangat baik. Tapi sebelum saya sempat benar-benar membalas budi, mereka juga pergi meninggalkanku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sederhana, tanpa nada mengeluh. Namun justru karena itulah ia terasa begitu perih.

"Di dunia ini,” lanjutnya, “aku hanya punya Mas Risam, mereka dan kalian.” Tatapan itu kian dalam diberikan padaku. Seolah Mbak Aiza sedang memastikan bahwa kami benar-benar ada di hidupnya.

Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat dan terasa hangat, namun sarat getar yang tak terlihat. “Aku sangat beruntung,” katanya pelan, “karena Tuhan selalu mempertemukanku dengan manusia-manusia baik di tengah ujian hidupku.”

Ada nyeri halus yang menjalar di dadaku saat mendengar ucapannya. Nyeri yang bukan berasal dari kesedihan semata, melainkan dari kesadaran bahwa perempuan ini telah menjalani hidup dengan kehilangan yang terlalu banyak, namun tetap memilih untuk memberi.

Dan untuk pertama kalinya aku mengerti, cinta Mbak Aiza bukanlah cinta yang menuntut untuk dimiliki, melainkan cinta yang tumbuh dari keberanian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status