LOGINAku pulang pagi ini. Di antarkan oleh Mbak Aiza dan Mas Risam yang sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, meski sejak awal aku menolak. Aku merasa mampu pulang sendiri, dan lebih dari itu aku merasa perlu. Namun mereka selalu memiliki alasan yang tak sanggup ku tepis, dan kekhawatiran dari ibu membuatku setuju.
Akhirnya aku hanya diam, menyerah pada keputusan yang bukan milikku sepenuhnya. Mobil melaju menyusuri kota. Gedung-gedung tinggi berbaris di tepi jalan, reklame warna-warni berseliweran di antara deru kendaraan. Semua tampak hidup, ramai, dan bergerak cepat. Namun tak satu pun dari itu benar-benar mampu mencuri perhatianku. Pikiranku terlalu penuh. Ia berlarian ke masa depan yang belum tiba, lalu tiba-tiba kembali ke masa lalu—ke Umi dan Abah yang selalu mengirimkan ku pesan mengenai lamaran dari ustadz Alif. Setelah sampai di kampung nanti, aku tahu, aku harus ke pesantren. Aku harus menjawab lamaran Ustadz Alif. Entah sebagai apa. Sebagai seorang perempuan yang sudah berjanji pada orang lain, atau sebagai manusia yang sedang belajar menerima takdirnya sendiri. “Azahra, ayo ikut turun sebentar.” Suara Mbak Aiza membuatku tersentak. Membuatku tersadar, jika mobil telah berhenti di depan panti asuhan milik mbak Aiza. “Kita mampir ke sini, Mbak?” tanyaku, masih mencoba menyelaraskan pikiranku dengan kenyataan di depan mata. “Iya,” jawabnya lembut. “Hari ini Jumat, kan? Ini jadwal saya bertemu dengan mereka. Saya sempatkan dulu sebelum kita lanjut perjalanan.” “Oh… iya, Mbak.” Begitu kami turun, pintu panti terbuka lebar. Seperti yang kulihat kemarin, anak-anak itu menyambut Mbak Aiza dan Mas Risam dengan sorak kecil dan wajah-wajah yang berbinar. Mereka berlarian, sebagian memeluk kaki Mbak Aiza, sebagian lagi menggenggam tangan Mas Risam sambil bercerita tanpa henti. Pemandangan itu membuat dadaku menghangat dan sekaligus perih. Mbak Aiza menunduk, menyentuh kepala mereka satu per satu, tersenyum dengan kelembutan yang jarang kulihat pada dirinya di rumah. Mas Risam ikut berjongkok, mendengarkan cerita-cerita kecil mereka seolah tak ada hal lain yang lebih penting di dunia. Aku hanya berdiri sejenak, memandangi mereka. Lalu aku ikut melangkah mendekat, menyapa anak-anak itu satu per satu. Beberapa dari mereka menatapku penasaran, lalu tersenyum malu-malu saat ku sapa. Di tempat ini, Mbak Aiza bukanlah perempuan yang terluka oleh pilihan hidupnya, melainkan seseorang yang menjadi rumah bagi banyak jiwa yang kehilangan rumah. Dan di antara tawa kecil itu, aku kembali diingatkan bahwa tak semua pengorbanan dilakukan demi cinta, sebagian dilakukan demi menyelamatkan dunia kecil orang-orang lain. “Azahra salut sama Mbak Aiza,” kataku pelan, sambil memandangi anak-anak yang kini tertawa riang di halaman. “Mbak Aiza itu… keren sekali. Bisa memberi mereka rumah. Bukan hanya tempat tinggal, tapi juga kasih dan sayang. Tidak semua orang mampu melakukan hal seperti itu." Sejak tadi pandangan Mbak Aiza tak lepas dari Mas Risam yang tengah bermain bersama anak-anak itu tertawa tanpa beban, seolah dunia tak pernah menuntutnya apa-apa. Namun kali ini, Mbak Aiza menoleh padaku. Tatapannya dalam, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang tak kasatmata. “Saya tahu bagaimana rasanya tidak memiliki rumah, Azahra,” ucapnya. “Karena itu, saya tidak ingin mereka merasakan kekurangan yang sama.” Aku menatapnya tak percaya. Dia menghela napas pelan. "Saya yatim piatu sejak lahir. Besar bersama paman dan bibi. Mereka baik, sangat baik. Tapi sebelum saya sempat benar-benar membalas budi, mereka juga pergi meninggalkanku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sederhana, tanpa nada mengeluh. Namun justru karena itulah ia terasa begitu perih. "Di dunia ini,” lanjutnya, “aku hanya punya Mas Risam, mereka dan kalian.” Tatapan itu kian dalam diberikan padaku. Seolah Mbak Aiza sedang memastikan bahwa kami benar-benar ada di hidupnya. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat dan terasa hangat, namun sarat getar yang tak terlihat. “Aku sangat beruntung,” katanya pelan, “karena Tuhan selalu mempertemukanku dengan manusia-manusia baik di tengah ujian hidupku.” Ada nyeri halus yang menjalar di dadaku saat mendengar ucapannya. Nyeri yang bukan berasal dari kesedihan semata, melainkan dari kesadaran bahwa perempuan ini telah menjalani hidup dengan kehilangan yang terlalu banyak, namun tetap memilih untuk memberi. Dan untuk pertama kalinya aku mengerti, cinta Mbak Aiza bukanlah cinta yang menuntut untuk dimiliki, melainkan cinta yang tumbuh dari keberanian.Sejak siang, Mbak Aiza tampak beberapa kali memeriksa ponselnya. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali layar itu menyala. Aku yang sedang membantu Bu Siti menyusun bunga di ruang tamu hanya memperhatikannya sekilas, hingga akhirnya beliau menghampiriku. "Mas Risam baru saja mengabari Azahra," ujarnya sambil mengangkat ponselnya. "Beliau sudah selesai menangani persidangan dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Insyaallah sebelum Magrib sudah sampai." Aku mengangguk pelan. Entah mengapa, ada rasa gugup yang tiba-tiba memenuhi dada. Sudah beberapa hari Mas Risam berada di luar kota, dan selama itu pula kami hanya sesekali bertukar kabar melalui telepon. Melihat reaksiku, Mbak Aiza terkekeh pelan. "Em... Tapi mbak harus pergi, Azahra." Aku mengernyit. "Pergi?" "Iya. Ada beberapa perlengkapan klinik yang harus Mbak beli. Dan ini kesempatan yang tepat untuk memberi kalian waktu berdua." Aku langsung menggeleng. "Azara ikut saja, Mbak." Beliau justru meraih ked
Keesokan paginya, saat aku sedang merapikan lemari pakaian, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. "Azara, Mbak boleh masuk?" Aku segera membukakan pintu. Mbak Aiza berdiri sambil membawa sebuah kotak penyimpanan, sebuah album foto keluarga, dan beberapa map tipis. Senyumnya masih sama hangatnya seperti biasa, tetapi kali ini ada keseriusan yang tersirat di wajahnya. "Kalau kamu tidak sibuk, Mbak ingin mengajakmu mengobrol." "Tentu, Mbak." Kami duduk berdampingan di sofa dekat jendela. Untuk beberapa saat, Mbak Aiza hanya memandang kedua tangannya sendiri sebelum akhirnya membuka pembicaraan. "Semalam... kamu tidak melakukan kesalahan apa pun." Aku menoleh heran. "Bahkan menurut Mbak, kamu sudah sangat baik." "Lalu kenapa Mbak terlihat kepikiran?" Beliau tersenyum tipis. "Karena semalam Mbak sadar ada satu hal yang belum sempat Mbak ajarkan." Aku mengernyit pelan. "Apa itu?" Mbak Aiza mengembuskan napas sebelum berkata dengan suara yang tenang. "Keluarga kami." Aku mas
Minggu pagi itu aku terbangun sedikit lebih awal dari biasanya. Setelah merapikan tempat tidur dan menyelesaikan salat Dhuha, aku duduk di tepi ranjang sambil membaca beberapa lembar Al-Qur'an. Rumah masih terasa tenang. Mas Risam belum juga kembali dari perjalanan dinasnya, sementara Mbak Aiza sejak pagi sudah sibuk menerima beberapa panggilan dari klinik. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk pelan. "Azara, sudah bangun?" suara Mbak Aiza terdengar dari balik pintu. Aku segera membukanya. Mbak Aiza berdiri dengan senyum yang begitu cerah. Beliau mengenakan batik merah marun yang dipadukan dengan hijab berwarna krem. Penampilannya tampak anggun, tetapi raut wajahnya jauh lebih menarik perhatianku karena terlihat begitu bersemangat. "Mbak masuk, ya?" Aku mengangguk sambil mempersilahkannya. Mbak Aiza langsung duduk di sampingku sebelum meraih kedua tanganku. "Hari ini Mama mengundang keluarga besar untuk makan malam di rumah. Sekalian mengenalkan kamu sebagai istri Mas Risam."
Suara azan Subuh dari masjid desa membangunkanku lebih awal. Aku segera mengambil air wudu, lalu kembali ke kamar dengan mengenakan mukena putih yang kubawa dari rumah. Mas Risam sudah menungguku dengan sarung dan baju koko sederhana. Tanpa banyak bicara, beliau hanya mempersilakanku berdiri di belakangnya untuk salat berjemaah. Aku mengangguk pelan. Menjadi makmum bagi suamiku untuk pertama kalinya menghadirkan perasaan yang sulit kujelaskan. Ada rasa asing, gugup, sekaligus haru yang berbaur menjadi satu. Mas Risam mengimami salat dengan bacaan yang tenang dan tartil. Aku mengikuti setiap gerakannya sambil berusaha mengosongkan pikiran dari segala kegelisahan yang sejak kemarin memenuhi hati. Dalam sujud terakhir, aku memanjatkan doa lebih lama dari biasanya. Aku memohon agar Allah melembutkan hatiku untuk menerima kehidupan baru ini, membimbingku menjadi istri yang mampu menjalankan amanah dengan baik, serta menjadikan Mas Risam sebagai imam yang selalu diberi keberkahan dalam seti
Mobil melaju pelan di jalan raya yang mulai terjal saat menjauh dari kota. Aku duduk di kursi belakang, menyimpan kalung bintang dari Mbak Aiza dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Mas Abrisam diam di kursi depan bersama sopirnya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sering melihat ke arahku melalui cermin spion. Lanskap berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah hijau yang luas, dengan pepohonan kelapa yang berdiri tegak di sekelilingnya, pemandangan yang dulu kubayangkan sebagai tempat tinggal yang damai, tapi kini rasanya seperti dunia yang benar-benar baru dan asing bagiku. Kita tidak bicara banyak selama perjalanan. Setelah hampir dua jam perjalanan, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan tembok berwarna putih pucat. Taman depan tidak terlalu luas, tapi ditanami berbagai jenis tanaman sayuran dan bunga kamboja kuning yang sedang mekar indah. Di dekat pintu utama, ada sebuah gazebo kecil dengan kursi kayu yang sudah dipoles rapi. “Ini rumah kita
Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la
Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di ata
Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, mata
Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih ter
Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang menggan







