MasukAntara impian dan pembayara budi. Bukan keinginanku untuk bisa memilih keduanya atau menyingkirkan salah satu di antara mereka. Hingga pada akhirnya aku sadar, jika kedua hal tersebut bukanlah sesuatu untuk di pilih.
Lihat lebih banyakAku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la
Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend
Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca
Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.