LOGINMobil melaju pelan di jalan raya yang mulai terjal saat menjauh dari kota. Aku duduk di kursi belakang, menyimpan kalung bintang dari Mbak Aiza dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Mas Abrisam diam di kursi depan bersama sopirnya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sering melihat ke arahku melalui cermin spion. Lanskap berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah hijau yang luas, dengan pepohonan kelapa yang berdiri tegak di sekelilingnya, pemandangan yang dulu kubaya
Bab 25: Malam Hujan yang Penuh Perasaan Pada hari yang telah diantisipasi Azara dan Aiza, suara mesin mobil terdengar jelas di halaman rumah sekitar pukul lima sore. Langit yang tadinya cerah mulai cepat menjadi mendung, dan angin mulai bertiup kencang seolah akan datang badai besar. Azara berdiri di dekat jendela ruang tamu, melihat dengan hati-hati bagaimana Risam turun dari mobil dengan jasnya yang sedikit basah oleh tetesan air hujan yang mulai turun. "Dia sudah kembali," ucap Azara dengan suara pelan, hati berdebar kencang karena campuran rasa senang dan cemas. Aiza yang sedang berdiri di belakangnya tersenyum dan mengangguk. "Ya, akhirnya. Nah sekarang adalah kesempatan yang tepat untuk kamu berdua bisa berbicara dan mengenal satu sama lain dengan lebih baik," katanya dengan nada yang penuh harapan. "Aku akan pergi sebentar ya, Azara. Ada beberapa keperluan di toko bahan makanan dekat sini. Semoga kamu bisa berkomunikasi dengan baik dengan Risam." Namun, tak lama setelah Aiza
Hari setelah makan malam bersama keluarga besar, Aiza datang ke kamar Azara dengan sebuah tas besar di tangannya. Wajahnya terlihat serius namun penuh kasih sayang, seolah telah memikirkan sesuatu dengan matang. "Azara, mau tidak kamu duduk sebentar denganku?" ucapnya dengan suara lembut, menunjuk ke arah sofa kecil di sudut kamar. Azara segera mengangguk dan menyusulnya, rasa penasaran mulai muncul di hatinya. Setelah mereka duduk berdampingan, Aiza mulai membuka tas besar itu dan mengeluarkan beberapa buku serta brosur yang berisi gambar-gambar pakaian, tatakrama, dan etika sosial. "Kamu tahu kan, kemarin malam ada beberapa hal yang membuat aku merasa kasihan padamu," ucapnya dengan nada yang penuh perhatian. "Keluarga besar kita memang memiliki cara tersendiri dalam berperilaku dan bergaul, terutama karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang lebih teratur dan terarah. Aku tidak ingin kamu merasa tersisih atau tidak nyaman ketika bertemu dengan mereka lagi nanti. Oleh karen
Minggu pagi itu, Aiza datang ke kamar Azara dengan wajah yang penuh kegembiraan. Rambutnya sudah diatur rapi, dan ia mengenakan baju batik merah tua yang tampak sangat elegan. "Azara, ada kabar baik nih," ucapnya sambil menarik tangan Azara dengan lembut. "Mama sudah merencanakan makan malam bersama keluarga besar Risam hari ini. Tujuannya adalah untuk mengenalkan kamu sebagai istri Risam kepada semua keluarga kita. Kita harus bersiap dengan baik ya." Azara merasa hati berdebar kencang mendengarnya. Ia tahu bahwa pertemuan dengan keluarga besar adalah hal yang penting dalam kehidupan pernikahannya, namun rasa cemas juga mulai menguasainya. "Tapi Mbak Aiza, saya tidak tahu apakah saya bisa melakukannya dengan baik. Saya khawatir tidak akan diterima dengan baik," ucapnya dengan suara pelan. Aiza segera mengelus punggungnya dengan hangat. "Jangan khawatir, Azara. Semua keluarga kita sangat baik hati. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri saja. Selain itu, mama menyuruh kita untuk meny
Di pagi hari yang menyusul malam pertama, matahari sudah mulai menyinari bagian belakang rumah ketika Aiza keluar dari kamarnya dengan senyum penuh harapan. Ia telah membangun rencana kecil dalam hati sejak semalam—rencana untuk mendekatkan Azara dan Risam yang masih terlihat begitu canggung setiap kali berada bersama. Tadi malam, ketika mereka makan malam bareng, suasana di meja makan terasa begitu kaku. Kedua orang itu hanya sesekali bertukar pandangan singkat sebelum segera mengalihkan mata ke piring makan masing-masing, dengan percakapan yang sebatas ucapan sopan santun saja. "Saya mau ini," atau "Terima kasih," itulah yang paling sering terdengar. Tidak ada percakapan hangat yang bisa membuat hubungan mereka semakin erat. Aiza telah menyusun program sederhana untuk malam kedua itu. Ia berencana membuat hidangan spesial—rendang daging sapi yang dimasak dengan bumbu khas keluarga, sayur labu siam dengan udang, serta es buah segar dari buah-buahan yang dipetik langsung dari kebun
Mobil melaju pelan di jalan raya yang mulai terjal saat menjauh dari kota. Aku duduk di kursi belakang, menyimpan kalung bintang dari Mbak Aiza dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Mas Abrisam diam di kursi depan bersama sopirnya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sering melihat ke arahku melalui cermin spion. Lanskap berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah hijau yang luas, dengan pepohonan kelapa yang berdiri tegak di sekelilingnya, pemandangan yang dulu kubayangkan sebagai tempat tinggal yang damai, tapi kini rasanya seperti dunia yang benar-benar baru dan asing bagiku.Kita tidak bicara banyak selama perjalanan. Setelah hampir dua jam perjalanan, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan tembok berwarna putih pucat. Taman depan tidak terlalu luas, tapi ditanami berbagai jenis tanaman sayuran dan bunga kamboja kuning yang sedang mekar indah. Di dekat pintu utama, ada sebuah gazebo kecil dengan kursi kayu yang sudah dipoles rapi. “Ini
Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la
"Apa? Menikah dengan Azahra?" Suara itu terdengar cukup lirih, tapi aku yang berada tak jauh dari mereka bisa mendengar apa yang diucapakan mas Risam. Ku lihat mas Risam melepas paksa genggaman tangan mbak Aiza dari bahunya, "Apa yang kamu pikirkan hingga bisa memutuskan hal seperti ini?" "Sudah be
“Pak… Azahra rindu.” Senyumku simpul kala menatap nisan yang bernamakan orang yang kini ku rindukan kehadirannya di setiap tempat ataupun waktu. Aku menatap bunga yang baru saja kutaburkan setelah aku berdua untuk ruh bapak, dan bunga itu melambai-lambai seolah-olah bapak juga mengatakan jika ia
Beberapa malam lalu, mengenai permintaan tidak masuk akal dari mbak Aiza, kian hari canggung selalu melanda. Bahkan jika saja berpapasan dengan mbak aiza di ruangan yang sama aku kerap menghindar. Sungguh, keadaan ini memposisikanku pada kedilemaan besar. Mbak Aiza dengan kesadaran penuh memintak
“Apa kamu mau membantu wanita lemah ini, Azahra?” tangis mbak Aiza pecah, tangannya semakin erat menggenggamku, dan matanya kian dalam menatapku, semua itu seolah mengharapkan bantuan besar dariku. tapi, bisa apa aku? Tanpa dijelaskan pasti semua tau bahwa mbak Aiza lebih berpunya di sini.







