Home / Romansa / SENJA DI BALIK RAHASIA / BAB 2. Suara dari Masa Lalu

Share

BAB 2. Suara dari Masa Lalu

Author: Mrs_Gun
last update publish date: 2026-04-11 21:39:42

"Alya, jangan!"

Suara itu menggema di antara sisa-sisa cahaya senja yang kini hampir sepenuhnya hilang. Tubuh Alya membeku, tangannya masih menggantung di udara, hanya beberapa sentimeter dari amplop yang dipegang Rendra.

Perlahan dengan jantung yang berdetak tak karuan, ia menoleh ke belakang.

Seorang pra berdiri di sana, nafasnya sedikit terengah, seolah berlari mengejar sesuatu yang tak boleh terlewat. Wajah itu.. tidak asing.

"Dika?" suara Alya nyaris tak terdengar.

Rendra langsung menegang. Tatapannya berpindah cepat dari Alya ke sosok yang datang itu, rahangnya mengeras. "Kamu..."

dika melangkah mendekat, matanya tertuju tajam pada amplop di tangan Rendra. "Jangan kasih itu ke dia," katanya tegas.

Alya mengernyit. " Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian... saling kenal?"

Rendra tertawa pendek, tanpa humor. "Lebih dari sekadar kenal."

Dika berhenti beberapa langkah dari mereka mencoba mengatur nafas. "Alya dengarkan aku. Apa pun yang dia mau kasih ke kamu, itu bukan yang kamu pikirkan."

"lalu apa?" Alya manatap Dika, lalu kembali ke Rendra. Kepalanya mulai terasa penuh. "Kenapa semua orang tiba-tiba tahu sesuatu... kecuali aku?"

Rendra menatap tajam Dika. "Kamu janji akan diam."

"Dan kamu janji ngga akan pernah kembali," balas Dika cepat.

Hening...

Udara di antara mereka terasa semakin berat. Alya mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang mulai meluap. "Cukup!" suaranya meninggi, membuat keduanya terdiam. "Aku capek jadi orang terakhir yang tahu. Kalau memang ada sesuatu tentang 'malam itu', aku berhak tahu sekarang."

Rendra memejamkan mata sesaat, seolah menimbang sesuatu yang berat. Sementara itu, Dika menggeleng pelan, ekspresinya penuh kekhawatiran.

"Alya..." Dika mencoba mendekat.

"Tolong," potong Alya, suaranya melemah.

"Jangan ada sembunyi lagi."

Rendra membuka matanya kembali. Kali ini, tidak ada keraguan. Ia mengulurkan amplop itu sekali lagi. "Ini jawabnnya." ujarnya.

Dika bergerak cepat, seolah ingin mengehentikan, tapi Alya sudah lebih dulu mengambil amplop itu.

sentuhan terasa sunyi. Bahkan suara kendaraan di jalan seolah menghilang. Dengan tangan sedikit gemetar, Alya membuka amplop tersebut.

Di dalamnya, hanya ada satu lembar kertas... dan sebuah foto.

Alya mengeluarkan foto itu terlebih dahulu.

Napasnya tercekat.

Itu foto dirinya.

Namun bukan dirinya yang ia kenal.

Di foto itu, Alya tampak berdiri di sebuah ruangan redup, mengenakan gaun yang tidak pernah ia ingat pernah memakainya. Wajahnya pucat, matanya terlihat kosong... dan di sampingnya..

Rendra.

Tapi bukan itu yang membuatnya gemetar.

Di sudut foto, samar tapi jelas... ada Dika

"Apa ini..." bisik Alya, suaranya bergetar.

Ia buru-buru membuka kertas di dalam amplop itu. Tulisan tangan di sana tidak asing itu tulisan Rendra.

Namun, sebelum ia sempat membaca lebih jauh, Dika menarik nafas dalam-dalam.

"Alya, kamu ngga ingat karena memang kamu nggak boleh ingat."

Alya menoleh cepat. "Apa maksudmu?!" tanya Alya penuh penegasan.

Dika menatapnya penuh rasa bersalah. "Malam itu.. bukan tentang kalilan berdua."

Rendra mengatupkan rahangnya. "Jangan lanjut."

"Terlambat," jawab Dika pelan.

Alya mundur selangkah, pandangannya berpindah menatap Dika dan Rendra bergantian. Dunia terasa berputar pelan, sepertu bagua dari dirinya yang mulai retak.

"Jadi.. selama ini aku melupakan sesuatu?" suaranya hampor pecah.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Dan justru diam itu yang terasa paling menakutkan.

Angin malam berhembus lebih dingin. Alya menggenggam foto itu erat, mencoba menyusun potongan-potongan yang terasa asing baginya.

"Apa yang terjadi malam itu?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.

Rendra menatapnya, sorotan matannya berubah lebih dalam, lebih gelap. "Kalau kamu tahu semuanya... hidup kamu nggak akan pernah sama lagi."

Alya menggeleng, air mata mulai menggenang. "Hidupku sudah berubah sejak malam itu, tanpa aku tahu kenapa."

Hening kembali..

Lalu, dengan suara rendah, hampir seperti pengakuan dosa, Dika berkata " Karena malam itu.. kita semua membuat keputusan yang seharusnya tidak pernah terjadi."

Alya membeku.

Tangannya perlahan meremas kertas di dalam amplop.

Dan untuk pertama kalinya, rasa takut yang sebenarnya mulai tumbuh dalam dirinya.

Bukan takut akan masa lalu.

melainkan pada kebenaran yang perlahan akan terungkap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 19. Cara Melepaskan yang Tidak Ingin Pergi

    Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena cuaca.Bukan karena suasana kampus.Tapi karena keputusan yang akhirnya Alya ambil.Ia tidak bisa terus seperti ini.Tidak bisa terus bersembunyi di balik rasa takut.Tidak bisa terus membiarkan sesuatu—atau seseorang—mengatur hidupnya.Kartu itu.Semua bermula dari sana.Dan kalau ada cara untuk mengakhiri semuanya—maka Alya harus mencobanya.***Siang harinya—Alya mengirim pesan ke dua orang sekaligus.Keputusan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan.“Ketemu nanti sore. Berdua. Penting.”Tidak ada penjelasan.Tidak ada pilihan.Hanya pernyataan.***Dika datang lebih dulu.Seperti biasa.Namun kali ini—ia tidak banyak bicara.Hanya duduk, menatap Alya dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Apa yang penting banget?” tanyanya akhirnya.Alya belum sempat menjawab—Rendra datang.Langkahnya tenang.Namun matanya langsung mencari Alya.Dan saat bertemu—ada jeda kecil di sana.Jeda yang belum benar-benar hilang.Mereka bertiga akhi

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 20. Pilihan yang Meminta Tumbal

    Tidak ada yang langsung bicara.Udara di antara mereka terasa lebih berat dari sebelumnya—seolah kata-kata di kartu itu belum selesai bekerja.“Semua yang terikat harus ikut memilih.”Kalimat itu terus berputar di kepala Alya.Di kepala mereka bertiga.“Apa maksudnya ‘memilih’?” suara Dika akhirnya memecah sunyi. Kali ini tidak santai. Tidak bercanda.Serius.Rendra tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada kartu di tangan Alya.“Kalau ini benar…” katanya pelan, “berarti ini bukan cuma soal Alya lagi.”Alya menelan ludah.“Tapi tentang kita,” lanjut Rendra.Dika mengusap wajahnya kasar. “Gue nggak suka arah pembicaraan ini.”“Gue juga,” jawab Alya lirih.Hening kembali jatuh.Namun bukan hening kosong.Lebih seperti sesuatu yang sedang menunggu—untuk dipahami.“Alya.”Rendra mendekat sedikit.“Sejak awal… kartu ini muncul karena apa?”Alya terdiam.Pertanyaan itu—terlalu sederhana.Tapi jawabannya…tidak.“Aku nemuin ini…” ia berhenti sejenak, mengingat, “…pas aku lagi s

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 18. Tenang Sebelum Segalanya Berubah

    Beberapa hari setelah itu—tidak ada ledakan.Tidak ada pertengkaran besar.Tidak ada pengakuan yang mengubah segalanya dalam satu malam.Yang ada—hanya diam.Dan anehnya—diam itu terasa jauh lebih menekan.Alya memilih menjauh.Bukan lagi setengah-setengah.Ia benar-benar menjaga jarak.Duduk terpisah.Menghindari percakapan yang terlalu lama.Dan yang paling menyakitkan—ia mulai membatasi dirinya untuk menatap Rendra.Karena setiap kali ia melakukannya—ia tahu ia bisa runtuh.Rendra juga berubah.Namun bukan dengan cara yang sama.Ia tidak lagi memaksa.Tidak lagi menghadang.Tidak lagi menuntut jawaban.Seolah ia akhirnya mengerti—atau memilih untuk mengalah.Namun justru itu—yang membuat Alya semakin gelisah.Karena diamnya Rendra bukan berarti berhenti.Lebih seperti…menahan.Menunggu.Dan Dika—menjadi yang paling sulit dibaca.Ia kembali seperti biasa.Tertawa.Bercanda.Berbicara panjang lebar seperti dulu.Seolah tidak ada yang terjadi.Seolah ia tidak pernah mendengar

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 17. Saat Semua Mulai Terluka

    Alya tidak bergerak.Kakinya terasa seperti tertanam di tanah, padahal ia berdiri di balik tembok lorong yang dingin dan sunyi. Suara Rendra dan Dika masih terngiang jelas di telinganya.“Gue suka dia.”“Dia juga.”Kalimat itu sederhana.Tapi dampaknya—tidak sederhana sama sekali.Napas Alya mulai tidak beraturan. Tangannya gemetar, tanpa sadar mencengkeram ujung tasnya terlalu kuat.Dika tahu sekarang.Bukan curiga lagi.Tapi tahu.Dan itu—bukan sesuatu yang pernah Alya inginkan terjadi.Alya mundur perlahan.Satu langkah.Dua langkah.Lalu berbalik pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya.Ia tidak siap.Tidak siap menghadapi tatapan Dika setelah ini.Tidak siap menghadapi Rendra.Tidak siap menghadapi semuanya.Sejak hari itu—semuanya berubah lebih cepat.Lebih kacau.Lebih… nyata.Dika tidak lagi banyak bercanda saat mereka bertiga bersama.Ia masih berbicara—tapi tidak sehangat dulu.Tatapannya sering berhenti sedikit lebih lama pada Alya.Dan sesekali—pada Rendra.Seola

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 16. Menjauh untuk Menjaga

    Alya membeku.Kartu itu terasa dingin di tangannya—seolah bukan hanya sekadar kertas, tapi sesuatu yang hidup… dan mengawasi.“Nggak…” bisiknya pelan.Namun suara itu terdengar rapuh.Lebih seperti permohonan daripada penolakan.Dadanya sesak.Pikirannya langsung menuju satu nama.Rendra.Wajahnya. Tawanya. Cara dia diam tapi selalu ada.Dan tiba-tiba—semuanya terasa seperti ancaman.Alya menutup mata.Berusaha menenangkan diri.Tapi justru bayangan itu semakin jelas.Kalau benar…kalau semua ini nyata…maka setiap langkah yang ia ambil mendekat—adalah langkah menuju kehilangan.Dan Alya—tidak sanggup mengalaminya lagi.***Hari berikutnya—Alya tidak membalas chat Rendra.Pesan “pagi” dari Rendra hanya ia baca.Tanpa jawaban.Satu jam.Dua jam.Sampai akhirnya—ponselnya bergetar lagi.“Lo kenapa?”Singkat.Langsung.Khas Rendra.Alya menatap layar cukup lama.Jarinya hampir mengetik.Namun berhenti.Ia meletakkan ponselnya.Menarik napas panjang.Dan memilih diam.***Di kampus—

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 15. Hal yang Tidak Diucapkan

    Hari-hari setelah itu berjalan… terlalu normal.Dan justru itu yang membuat semuanya terasa aneh.Alya mulai sering bertemu Rendra. Awalnya dengan alasan sederhana—ngopi, diskusi hal-hal ringan, atau sekadar memastikan “semuanya baik-baik saja.”Dika selalu ada di awal-awal.Selalu ikut.Selalu bicara paling banyak.Tapi perlahan—tanpa pernah benar-benar direncanakan—momen itu mulai berubah.Sore itu, mereka bertiga duduk di taman kampus.Dika lagi-lagi bercerita panjang lebar tentang sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi ia ceritakan seolah dunia bergantung padanya.“Terus gue bilang ke dia—‘bro, logika lo tuh nggak nyampe!’” Dika tertawa sendiri.Rendra hanya mengangguk sambil setengah mendengarkan.Alya tersenyum kecil.Namun matanya—lebih sering tertuju ke Rendra.Cara dia diam.Cara dia sesekali melirik ke arahnya—lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.Seolah takut ketahuan.Dan Alya…melakukan hal yang sama.Sampai—“Eh, kalian kenapa sih aneh banget hari ini?

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 7. Rahasia yang Mulai Terbuka

    “Lebih dekat dari yang kamu kira.”Kalimat itu menggantung di udara, menolak hilang dari pikiran Alya. Dunia di sekitarnya terasa seperti runtuh perlahan, tapi anehnya—di balik kehancuran itu, ada satu hal yang mulai terbentuk.Arah.Selama ini, semuanya terasa seperti potongan acak yang tidak sali

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 6. Nama yang Tidak Seharusnya Hilang

    Nama itu terus terngiang di kepala Alya.Anya.Bukan sekadar kata. Bukan sekadar ukiran di gelang tipis yang kini ia genggam erat. Nama itu terasa hidup seolah pernah menjadi bagian penting dari dirinya… lalu direnggut begitu saja.Malam masih gelap, tapi suasana kini berubah. Bukan lagi sekadar ke

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 5. (Lanjutan): Jejak yang Menghilang

    Gelap itu datang terlalu tiba-tiba.Dalam hitungan detik, jalan yang tadi masih diterangi lampu berubah menjadi lautan bayangan. Hanya sisa cahaya dari kejauhan yang samar-samar membentuk siluet tubuh mereka.Alya refleks meraih lengan Rendra.“Ren…” suaranya bergetar.Rendra langsung berdiri di de

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 4. Jejak yang Menghilang

    Kata itu masih menggantung di udara.Hamil.Alya tidak langsung bereaksi. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong—seolah otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar.“Apa…?” suaranya hampir tak berbentuk.Rendra menunduk sesaat, lalu menatapnya lagi dengan ragu. “Aku juga nggak langsung percaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status