Home / Romansa / SENJA DI BALIK RAHASIA / BAB 4. Jejak yang Menghilang

Share

BAB 4. Jejak yang Menghilang

Author: Mrs_Gun
last update publish date: 2026-04-11 22:40:20

Kata itu masih menggantung di udara.

Hamil.

Alya tidak langsung bereaksi. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong—seolah otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar.

“Apa…?” suaranya hampir tak berbentuk.

Rendra menunduk sesaat, lalu menatapnya lagi dengan ragu. “Aku juga nggak langsung percaya waktu kamu bilang itu malam itu. Kamu setengah sadar, suara kamu pelan… tapi kamu bilang itu ke aku.”

Alya menggeleng pelan, mundur satu langkah. “Nggak mungkin.”

Dika menatap Rendra tajam. “Kenapa kamu baru bilang sekarang?”

“Aku nggak yakin!” balas Rendra. “Aku pikir itu cuma efek dari kondisi dia malam itu. Tapi setelah aku nemuin foto dan catatan itu… semuanya jadi nggak masuk akal kalau diabaikan.”

Alya memegang kepalanya. Rasa nyeri kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya. Potongan-potongan ingatan mulai bermunculan—tidak utuh, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.

Lampu yang menyilaukan.

Suara musik berdentum.

Tangan seseorang yang memegang lengannya.

Dan suara… suara dirinya sendiri yang berbisik—

“Aku telat…”

Alya tersentak.

Napasnya tercekat.

“Aku…” ia menatap kosong ke depan, “aku pernah… bilang sesuatu tentang telat…”

Rendra langsung mendekat satu langkah. “Kamu ingat?”

Alya tidak menjawab. Ia justru menatap tangannya sendiri, seolah mencari sesuatu yang hilang di sana.

“Kalau itu benar…” suaranya pelan, penuh ketakutan, “kenapa aku nggak ingat apa-apa setelah itu?”

Dika menghela napas panjang. “Karena kamu memang nggak boleh ingat.”

Alya menoleh cepat. “Berhenti bilang itu! Siapa yang bikin aku ‘nggak boleh ingat’?!”

Dika terdiam. Kali ini lebih lama.

Rendra menatapnya tajam. “Kamu tahu sesuatu lagi, ya?”

Dika menggertakkan giginya, jelas sedang berperang dengan pikirannya sendiri. “Aku… cuma tahu sebagian.”

“Sebagian apa?” desak Alya.

Dika menatap Alya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara bersalah dan takut.

“Malam itu… setelah kamu pingsan, ada seseorang yang datang.”

“Siapa?” tanya Alya cepat.

Dika menggeleng. “Aku nggak lihat jelas. Tapi orang itu bicara sama pemilik tempat itu. Setelah itu… suasana jadi kacau. Rendra lagi di luar waktu itu, dan aku… aku panik.”

“Panik kenapa?” tanya Rendra.

“Karena mereka bilang… kalau kejadian malam itu nggak boleh keluar ke siapa pun,” jawab Dika pelan.

Alya menahan napas. “Mereka? Siapa mereka?”

Dika mengangkat bahu lemah. “Aku nggak tahu pasti. Tapi mereka bukan orang biasa. Cara mereka bicara… cara semua orang langsung diam… itu bukan hal yang normal.”

Rendra mengepalkan tangannya. “Dan kamu nggak bilang ini dari dulu?”

“Aku takut!” bentak Dika, suaranya pecah. “Kamu nggak lihat cara mereka ngatur semuanya? Bahkan keesokan harinya, tempat itu seolah nggak pernah ada masalah. Semua orang diam. Seolah malam itu… dihapus.”

Alya merasakan tubuhnya merinding.

“Dihapus…” ulangnya pelan.

Ia menatap lagi foto di tangannya. Sekarang terasa berbeda. Bukan hanya sebagai bukti—tapi sebagai sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat.

“Kalau memang aku…” Alya berhenti sejenak, suaranya melemah, “kalau aku benar-benar hamil waktu itu… terus apa yang terjadi setelahnya?”

Tidak ada yang menjawab.

Dan lagi-lagi, keheningan itu terasa lebih menakutkan dari apa pun.

Alya mulai gemetar.

“Kenapa nggak ada yang bilang aku pernah ke dokter?” tanyanya. “Kenapa nggak ada catatan? Kenapa keluargaku nggak tahu? Kenapa aku… bisa hidup seperti biasa seolah nggak pernah terjadi apa-apa?”

Rendra menggeleng pelan. “Itu juga yang aku cari tahu selama ini.”

“Dan?” desak Alya.

Rendra menarik napas dalam. “Nggak ada.”

“Apa maksudmu nggak ada?”

“Nggak ada catatan medis. Nggak ada bukti kamu pernah hamil. Bahkan… aku coba cari rekaman CCTV di tempat itu, tapi semuanya hilang.”

Dika menambahkan pelan, “Seolah seseorang benar-benar memastikan semua jejak itu… lenyap.”

Alya menutup mulutnya dengan tangan.

Ini bukan lagi sekadar rahasia masa lalu.

Ini sesuatu yang lebih besar.

Lebih gelap.

Dan lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

“Tapi…” Alya menatap mereka berdua, matanya penuh air, “aku masih di sini. Aku masih hidup. Jadi… apa yang sebenarnya mereka sembunyikan?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Namun kali ini, Rendra tidak mengalihkan pandangannya.

“Aku rasa…” katanya pelan, “yang mereka sembunyikan… bukan cuma tentang kamu.”

Alya mengernyit. “Maksudmu?”

Rendra menatap foto itu, lalu kembali ke Alya.

“Tapi tentang… apa yang terjadi setelahnya.”

Angin malam berhembus lebih dingin.

Dan untuk pertama kalinya, Alya merasa.. Bahwa mungkin, kebenaran yang ia cari… Bukan sesuatu yang seharusnya ditemukan.

Tiba-tiba, ponsel di tangan Alya bergetar.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak dikenal. Dengan tangan gemetar, Alya membuka pesan itu. Isinya singkat.

“Berhenti mencari, atau kamu akan kehilangan lagi.”

Alya membeku. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Dan sebelum ia sempat berkata apa pun. Lampu jalan di sekitar mereka tiba-tiba padam.

Gelap.

Sunyi.

Dan di kejauhan… terdengar langkah kaki mendekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 19. Cara Melepaskan yang Tidak Ingin Pergi

    Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena cuaca.Bukan karena suasana kampus.Tapi karena keputusan yang akhirnya Alya ambil.Ia tidak bisa terus seperti ini.Tidak bisa terus bersembunyi di balik rasa takut.Tidak bisa terus membiarkan sesuatu—atau seseorang—mengatur hidupnya.Kartu itu.Semua bermula dari sana.Dan kalau ada cara untuk mengakhiri semuanya—maka Alya harus mencobanya.***Siang harinya—Alya mengirim pesan ke dua orang sekaligus.Keputusan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan.“Ketemu nanti sore. Berdua. Penting.”Tidak ada penjelasan.Tidak ada pilihan.Hanya pernyataan.***Dika datang lebih dulu.Seperti biasa.Namun kali ini—ia tidak banyak bicara.Hanya duduk, menatap Alya dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Apa yang penting banget?” tanyanya akhirnya.Alya belum sempat menjawab—Rendra datang.Langkahnya tenang.Namun matanya langsung mencari Alya.Dan saat bertemu—ada jeda kecil di sana.Jeda yang belum benar-benar hilang.Mereka bertiga akhi

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 20. Pilihan yang Meminta Tumbal

    Tidak ada yang langsung bicara.Udara di antara mereka terasa lebih berat dari sebelumnya—seolah kata-kata di kartu itu belum selesai bekerja.“Semua yang terikat harus ikut memilih.”Kalimat itu terus berputar di kepala Alya.Di kepala mereka bertiga.“Apa maksudnya ‘memilih’?” suara Dika akhirnya memecah sunyi. Kali ini tidak santai. Tidak bercanda.Serius.Rendra tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada kartu di tangan Alya.“Kalau ini benar…” katanya pelan, “berarti ini bukan cuma soal Alya lagi.”Alya menelan ludah.“Tapi tentang kita,” lanjut Rendra.Dika mengusap wajahnya kasar. “Gue nggak suka arah pembicaraan ini.”“Gue juga,” jawab Alya lirih.Hening kembali jatuh.Namun bukan hening kosong.Lebih seperti sesuatu yang sedang menunggu—untuk dipahami.“Alya.”Rendra mendekat sedikit.“Sejak awal… kartu ini muncul karena apa?”Alya terdiam.Pertanyaan itu—terlalu sederhana.Tapi jawabannya…tidak.“Aku nemuin ini…” ia berhenti sejenak, mengingat, “…pas aku lagi s

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 18. Tenang Sebelum Segalanya Berubah

    Beberapa hari setelah itu—tidak ada ledakan.Tidak ada pertengkaran besar.Tidak ada pengakuan yang mengubah segalanya dalam satu malam.Yang ada—hanya diam.Dan anehnya—diam itu terasa jauh lebih menekan.Alya memilih menjauh.Bukan lagi setengah-setengah.Ia benar-benar menjaga jarak.Duduk terpisah.Menghindari percakapan yang terlalu lama.Dan yang paling menyakitkan—ia mulai membatasi dirinya untuk menatap Rendra.Karena setiap kali ia melakukannya—ia tahu ia bisa runtuh.Rendra juga berubah.Namun bukan dengan cara yang sama.Ia tidak lagi memaksa.Tidak lagi menghadang.Tidak lagi menuntut jawaban.Seolah ia akhirnya mengerti—atau memilih untuk mengalah.Namun justru itu—yang membuat Alya semakin gelisah.Karena diamnya Rendra bukan berarti berhenti.Lebih seperti…menahan.Menunggu.Dan Dika—menjadi yang paling sulit dibaca.Ia kembali seperti biasa.Tertawa.Bercanda.Berbicara panjang lebar seperti dulu.Seolah tidak ada yang terjadi.Seolah ia tidak pernah mendengar

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 17. Saat Semua Mulai Terluka

    Alya tidak bergerak.Kakinya terasa seperti tertanam di tanah, padahal ia berdiri di balik tembok lorong yang dingin dan sunyi. Suara Rendra dan Dika masih terngiang jelas di telinganya.“Gue suka dia.”“Dia juga.”Kalimat itu sederhana.Tapi dampaknya—tidak sederhana sama sekali.Napas Alya mulai tidak beraturan. Tangannya gemetar, tanpa sadar mencengkeram ujung tasnya terlalu kuat.Dika tahu sekarang.Bukan curiga lagi.Tapi tahu.Dan itu—bukan sesuatu yang pernah Alya inginkan terjadi.Alya mundur perlahan.Satu langkah.Dua langkah.Lalu berbalik pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya.Ia tidak siap.Tidak siap menghadapi tatapan Dika setelah ini.Tidak siap menghadapi Rendra.Tidak siap menghadapi semuanya.Sejak hari itu—semuanya berubah lebih cepat.Lebih kacau.Lebih… nyata.Dika tidak lagi banyak bercanda saat mereka bertiga bersama.Ia masih berbicara—tapi tidak sehangat dulu.Tatapannya sering berhenti sedikit lebih lama pada Alya.Dan sesekali—pada Rendra.Seola

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 16. Menjauh untuk Menjaga

    Alya membeku.Kartu itu terasa dingin di tangannya—seolah bukan hanya sekadar kertas, tapi sesuatu yang hidup… dan mengawasi.“Nggak…” bisiknya pelan.Namun suara itu terdengar rapuh.Lebih seperti permohonan daripada penolakan.Dadanya sesak.Pikirannya langsung menuju satu nama.Rendra.Wajahnya. Tawanya. Cara dia diam tapi selalu ada.Dan tiba-tiba—semuanya terasa seperti ancaman.Alya menutup mata.Berusaha menenangkan diri.Tapi justru bayangan itu semakin jelas.Kalau benar…kalau semua ini nyata…maka setiap langkah yang ia ambil mendekat—adalah langkah menuju kehilangan.Dan Alya—tidak sanggup mengalaminya lagi.***Hari berikutnya—Alya tidak membalas chat Rendra.Pesan “pagi” dari Rendra hanya ia baca.Tanpa jawaban.Satu jam.Dua jam.Sampai akhirnya—ponselnya bergetar lagi.“Lo kenapa?”Singkat.Langsung.Khas Rendra.Alya menatap layar cukup lama.Jarinya hampir mengetik.Namun berhenti.Ia meletakkan ponselnya.Menarik napas panjang.Dan memilih diam.***Di kampus—

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 15. Hal yang Tidak Diucapkan

    Hari-hari setelah itu berjalan… terlalu normal.Dan justru itu yang membuat semuanya terasa aneh.Alya mulai sering bertemu Rendra. Awalnya dengan alasan sederhana—ngopi, diskusi hal-hal ringan, atau sekadar memastikan “semuanya baik-baik saja.”Dika selalu ada di awal-awal.Selalu ikut.Selalu bicara paling banyak.Tapi perlahan—tanpa pernah benar-benar direncanakan—momen itu mulai berubah.Sore itu, mereka bertiga duduk di taman kampus.Dika lagi-lagi bercerita panjang lebar tentang sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi ia ceritakan seolah dunia bergantung padanya.“Terus gue bilang ke dia—‘bro, logika lo tuh nggak nyampe!’” Dika tertawa sendiri.Rendra hanya mengangguk sambil setengah mendengarkan.Alya tersenyum kecil.Namun matanya—lebih sering tertuju ke Rendra.Cara dia diam.Cara dia sesekali melirik ke arahnya—lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.Seolah takut ketahuan.Dan Alya…melakukan hal yang sama.Sampai—“Eh, kalian kenapa sih aneh banget hari ini?

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 7. Rahasia yang Mulai Terbuka

    “Lebih dekat dari yang kamu kira.”Kalimat itu menggantung di udara, menolak hilang dari pikiran Alya. Dunia di sekitarnya terasa seperti runtuh perlahan, tapi anehnya—di balik kehancuran itu, ada satu hal yang mulai terbentuk.Arah.Selama ini, semuanya terasa seperti potongan acak yang tidak sali

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 6. Nama yang Tidak Seharusnya Hilang

    Nama itu terus terngiang di kepala Alya.Anya.Bukan sekadar kata. Bukan sekadar ukiran di gelang tipis yang kini ia genggam erat. Nama itu terasa hidup seolah pernah menjadi bagian penting dari dirinya… lalu direnggut begitu saja.Malam masih gelap, tapi suasana kini berubah. Bukan lagi sekadar ke

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 5. (Lanjutan): Jejak yang Menghilang

    Gelap itu datang terlalu tiba-tiba.Dalam hitungan detik, jalan yang tadi masih diterangi lampu berubah menjadi lautan bayangan. Hanya sisa cahaya dari kejauhan yang samar-samar membentuk siluet tubuh mereka.Alya refleks meraih lengan Rendra.“Ren…” suaranya bergetar.Rendra langsung berdiri di de

  • SENJA DI BALIK RAHASIA   BAB 3. Retakan yang Mulai Terbuka

    Malam semakin dalam, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bergerak. Seolah-olah waktu menahan napas, menunggu siapa yang berani memecah keheningan terlebih dahulu.Alya masih menggenggam foto itu. Tangannya dingin, tapi kertas dalam genggamannya terasa seperti terbakar. Ia menatap l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status