Home / Romansa / Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku / 6. Sentuhan dalam gelap

Share

6. Sentuhan dalam gelap

Author: Qingcheng
last update Last Updated: 2025-11-04 08:00:18

“S-siapa?” Tanya Cassandra lagi, perlahan mendekat dengan dada berdebar kencang, menatap bayangan tinggi di balik tirai jendela yang samar tapi jelas.

Gadis itu refleks menahan napas, menggigit bibirnya keras karena gugup.

“Siapa—”

Belum sempat Cassandra menyelesaikan kalimatnya, bayangan itu bergerak cepat.

Suara langkah berat terdengar, pintu jendela yang tak dikunci tertutup perlahan, lalu sosok itu muncul.

“Cassie.” Suara itu rendah, tenang, tapi membuat tengkuknya meremang.

Rexandra.

Berdiri di depannya dengan wajah yang sebagian tertutup gelap, tapi sorot matanya tajam.

Cassandra yang setengah panik refleks melangkah mundur terlalu cepat, hingga kakinya tersandung tepi karpet, membuatnya menubruk kursi dan nyaris kehilangan pegangan.

“Cassie!” Ucap Rexandra panik. Kakinya yang panjang bergerak cepat seperti bayangan, meraih pinggang Cassandra, sebelum tubuh gadis itu jatuh ke lantai. Gerakan itu cepat—refleks, tapi justru membuat situasi makin gila.

Tubuh Cassandra terhenti di lengan kokohnya, begitu dekat hingga dia bisa mendengar denyut nadi di lehernya sendiri.

Handuk kimono nya sedikit tersingkap di sisi paha, memperlihatkan kulit putih mulusnya yang bergetar karena dingin.

Udara di ruangan itu seketika menegang, panas, dan canggung.

Rexandra meneguk salivanya, jakunnya naik-turun cepat, dan dadanya bergemuruh panas kala netra elangnya memandang bagian itu.

“R-rexa … lepasin aku.” Pinta Cassandra meminta, tapi nadanya lirih dan gugup.

“Hm?” Rexandra hanya bisa bergumam, matanya tak berkedip sedetikpun.

“Rexa ….” Panggil Cassandra lagi, suaranya makin pelan, nyaris berbisik.

“Iya?”

“Lepasin.” Cassandra menahan napas, suaranya bergetar. Gadis itu menatap netra gelap di hadapannya dengan tangan gemetar yang masih melingkar di leher lebar pria itu.

Rexandra tidak segera melepaskan. Sebaliknya, pria itu makin menarik pinggang ramping Cassandra, membuat jarak diantara mereka kian tipis.

Napas Cassandra semakin tersendat, wajahnya memanas.

“Kamu masih sama seperti dulu, selalu panik setiap aku muncul tiba-tiba.” Bibir tebal Rexandra terangkat, membentuk senyum kecil.

“Aku nggak panik.” Elak Cassandra cepat. Tangannya perlahan turun dari leher Rexandra, tapi Rexandra lagi-lagi menarik pinggang gadis itu hingga tubuh keduanya menempel, membuat Cassandra terbelalak.

“Rexa. Aku minta kamu buat lepasin.”

“Kenapa? Takut?” tanyanya lembut, jemarinya tanpa sadar menyinggung kulit di sekitar kaki Cassandra, dan seketika gadis itu tersentak, tubuhnya menegang, dan jantungnya berdentum keras.

Cassandra tidak bergerak, tapi juga tak sanggup menatap balik. Ada sesuatu yang menyesakkan—bukan karena takut, tapi karena terlalu familiar. Sentuhan itu … dulu selalu membuatnya terbuai.

“Rexa …,” Cassandra memanggil namanya lagi dengan lirih. “Jangan begini.” Ujarnya memelas, tapi tubuhnya justru tak menolak kala jemari berurat Rexandra menelusuri lekuk tubuhnya.

“Begini bagaimana?” Bisik Rexandra rendah di telinganya, sampai hembusan napas hangat yang beraroma mint itu tercium. “Bukankah kamu sangat menyukainya dulu?” Jemarinya makin bergerak naik, menyusuri kulit di sekitar kaki mulus Cassandra.

“Emhh ….” Lenguhan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Cassandra, matanya tanpa sadar tertutup.

Gadis itu bahkan tak pernah membiarkan Ervan menyentuhnya, tapi seketika pertahanannya runtuh kala Rexandra yang melakukannya.

Cassandra tahu harus menolak, tapi tubuhnya justru meminta lebih.

“Apa kamu pernah disentuh seperti ini oleh pacarmu?” Tanya Rexandra, tatapannya tajam, nada bicaranya dingin dan menusuk.

Seketika Cassandra teringat Ervan. Mata gadis itu terbuka lebar, tangan kecilnya mendorong tubuh Rexandra menjauh, dan dengan cepat dia membenarkan kimononya yang tersingkap.

Rexandra terkekeh gemas melihat ekspresi panik Cassandra.

Hening.

Hanya ada suara hujan yang enggan berhenti dan napas Cassandra yang memburu.

Tiba-tiba saja, ponsel Cassandra berdering, membelah ketegangan dan kecanggungan momen yang nyaris intim itu.

Cassandra yang panik buru-buru menoleh, melihat ponselnya yang menyala terang di atas meja.

Kakinya menjejak lantai dengan hati-hati, karena suasana kamar yang masih gelap. Tangannya terentang mencari pegangan.

Klik!

Cahaya terang seketika menyoroti langkahnya. Rexandra menyalakan senter di ponsel, menerangi langkah gadis itu.

Cassandra menoleh sebentar, lalu melanjutkan langkah, menyambar ponselnya dari atas nakas.

Layar menyala terang, menampilkan nama Papa.

Panggilan video.

Wajah Cassandra memucat seketika.

“Papa? Video call?”

“Kenapa panik?”

Cassandra tak menjawab membuat Rexandra penasaran, kemudian menghampiri gadis itu, melirik panggilan video yang terpampang.

“Papa nelepon, gak diangkat?”

“Pergi. Papa bisa salah paham.”

“Salah paham? Kenapa?” Tanya Rexandra, satu alisnya terangkat naik. “Bukannya dengan aku disini, kamu aman? Posisi lagi mati lampu, papa bisa khawatir parah kalau tahu anak gadisnya sendirian.”

Cassandra mendengus, wajahnya merah karena kesal. Gadis itu lupa jika Rexandra sangat mengenalnya.

Dengan tangan yang gemetar, dia menekan tombol hijau, menjawab panggilan video itu.

“Halo, Pa?” Suaranya setengah bergetar, berusaha terdengar normal.

Di layar muncul wajah Alex dan Lilian, masih di dalam mobil, hujan menetes di kaca belakang mereka.

“Sayang, kok gelap?”

“Lampunya mati, Pa.” Jawab Cassandra sambil melirik Rexandra yang berdiri di hadapannya.

Wajah Alex langsung panik, begitu juga dengan Lilian.

“Sayang, tapi kamu tidak apa-apa, kan?”

“Aku enggak apa-apa kok, Pa.”

“Rexa dimana? Apa anak itu sudah tidur? Biar mama telepon kakak kamu dulu, ya.”

“Ayo telepon. Aku khawatir.”

Baru saja Lilian mau menelepon Rexandra, pria itu sudah berdiri di depan layar, menyapa keduanya.

Cassandra tentu kaget karena gerakan Rexandra selalu tiba-tiba. Sementara Lilian dan Alex sedikit terkejut tapi juga lega.

“Rexa?”

“Papa sama mama tenang aja. Aku bakal jagain Cassie. “

“Syukurlah. Mama kira kamu sudah tidur.”

“Mana mungkin. Aku tentu harus menjaga adik dan memastikan keamanannya. Aku takut adik ini ketakutan. Makanya aku stand by.”

Cassandra bergerak gelisah, napasnya tercekat saat Rexandra terus memperpendek jarak. Bahu mereka nyaris bersentuhan dan tangan pria itu bergerak pelan, menyentuh kulit di sekitar kaki Cassandra lagi, hangat kontras dengan dingin udara.

Cassandra menegang. Tapi dia tak berani bereaksi, hanya berusaha tersenyum ke arah kamera.

“Rexa, tolong jaga Cassie, ya. Dia itu memang tidak terlalu takut gelap, tapi mudah panik. Papa takut Cassie kenapa-napa.”

“Papa tenang aja. Aku tidak mungkin membiarkan Cassie kenapa-napa.”

“Jika begitu papa bisa tenang.” Alex tersenyum hangat, lalu menatap Cassandra. “Sayang, kamu baik-baik di rumah, ya. Nurut sama kakak kamu.”

“Iya, Pa.” Cassandra tersenyum kikuk, satu tangannya menahan pergerakkan tangan Rexandra di bawah sana.

“Rexa, jagain adik kamu. Jangan suka iseng.” Lilian menambahkan.

“Mana mungkin aku jahilin Cassie.” Rexandra menunduk sedikit, bibirnya melengkung tipis di telinga Cassandra, suaranya nyaris tak terdengar, “Jangan gemetar begitu, adik.” Bisiknya.

Cassandra hanya menahan napas, berusaha tetap tenang tapi tubuhnya sudah bergetar dibuatnya.

"Rexa ..., " Tangannya yang lemah mencoba menahan tangan Rexandra yang bergerak naik turun di pinggangnya, tapi sentuhan itu terlalu memabukan.

"Bukankah dulu, kamu sangat menyukainya? Cassie, sayang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   120.

    Liora keluar dari mobil begitu mesin dimatikan. Pintu dibanting tanpa sadar, dan dia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah Cassandra yang berdiri kaku di teras rumah. Begitu jarak mereka habis, Liora langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Cassie …,” Tak ada kalimat lanjutan. Hanya panggilan nama itu, lirih namun penuh rasa bersalah, cemas, dan rindu yang tertahan sebulan penuh. Cassandra tak lagi mampu menahan dirinya. Tubuhnya melemas di dalam dekapan Liora. Isaknya pecah, bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkram jaket Liora seolah takut jika dia akan ambruk jika tak menggenggam apapun. “Udah … udah, Cassie,” bisik Liora berulang-ulang sambil mengusap punggung Cassandra pelan, lembut. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Pelukannya mengencang. Liora menundukkan kepala, menyandarkan dagunya di puncak rambut Cassandra. Sementara tangannya bergerak lembut, menepuk-nepuk punggung gadis itu berusaha menenangkan badai dalam diri Cassandra yang

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   119.

    “Kamu benar-benar nggak tahu Cassie ada di mana?” Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Rexandra—pertanyaan yang sama, dengan nada yang nyaris tak berubah, yang dia ulangi hampir setiap hari selama sebulan penuh. Liora, yang berdiri di hadapannya dengan piyama tidurnya, sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Bahkan sebelum Rexa menyelesaikan kalimatnya, dadanya sudah terasa berat. Dengan raut penuh penyesalan, gadis itu menggeleng pelan. “Aku juga belum bisa menghubungi Cassie, Kak Rexa,” ucapnya lirih. “Kalau aku tahu dia di mana, aku pasti langsung kasih tahu Kak Rexa.” Rexandra menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang sama. Rahangnya mengeras, matanya tampak redup karena lelah yang tak bisa dia sembunyikan. “Menurut kamu selama ini Cassie kenapa?” Tanyanya lagi, suaranya lebih rendah. “Dua bulan terakhir ini.” Liora terdiam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, menatap Rexandra dengan sorot yang dalam dan hati-hati. “Yang aku tahu, kondisi Om Alex makin kritis,”

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   118

    | 1 bulan kemudian Cassandra berdiri membungkuk di depan closet dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, bahunya naik-turun pelan, dan tangan kecilnya yang berkeringat dingin memegangi pinggiran closet itu agar tidak terjatuh. Baru saja dia makan sesuap nasi, tapi langsung dimuntahkan lagi. Begitulah yang terjadi sebulan ini. Sehari-harinya, setiap makanan yang masuk ke mulutnya selalu dikeluarkan begitu saja, bukan karena keinginannya, tapi karena perutnya memang menolak itu. Cassandra menunduk dalam, mengelus perutnya yang sudah terlihat lebih buncit dari terakhir kali. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berbarengan dengan suara lembut seseorang. “Non Cassie, boleh saya masuk?” Tanya bi Marni, berdiri tegak di depan kamar yang tidak tertutup rapat itu dengan nampan di tangan. Cassandra yang mendengar suara pembantunya itu perlahan menoleh sambil menegakkan tubuh. “Masuk aja, Bi.” Sahutnya sembari melangkahkan kaki lemahnya keluar kamar mandi. Bi M

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   117.

    Cassandra berjongkok di hadapan makam Alex yang baru saja dikebumikan. Aroma tanah basah sisa hujan bercampur bunga menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Gadis itu menatap nisan bertuliskan Alex Harrison tanpa berkedip. Jemari gemetarnya mengusap papan itu dengan lembut, begitu hati-hati. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya isak lirih yang tertahan di tenggorokannya yang terasa kering itu. Di samping gadis itu, bi Marni setia menemani, memberi usapan pelan di punggungnya. “Non,” ucap perempuan tua itu pelan, menatap majikannya dengan penuh iba. “Ini sudah satu jam non Cassie berada disini. Sepertinya sudah mau hujan, Non.” Lanjutnya sembari mendongak, menatap langit gelap yang diselimuti awan pekat. “Sebaiknya kita segera pulang ya, Non.” Cassandra hanya diam, dengan tatapan yang tak beralih sedetikpun dari nama di papan nisan itu. Pandangannya kosong, wajahnya sudah sangat pucat, bahkan bibir merahnya sekarang tak berwarna. Dia menyandarkan kepalanya ke

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   116.

    Cassandra berdiri kaku di depan ranjang jenazah, menatap ayahnya yang kini terbaring tak bergerak, dengan tubuh yang tertutup seprai putih sampai dada, dan tangan yang terkulai dingin di sisi tubuh. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang menganga. Sakitnya bukan lagi menusuk tapi menghancurkan. Perlahan, kejam, dan tanpa ampun. Perlahan kakinya mendekat. Tangan gemetarnya menyentuh punggung tangan ayahnya yang dingin. “Pa …,” suaranya nyaris tak keluar, hanya hembusan rapuh dari bibir keringnya. “Kenapa Papa dingin banget?” Tak ada jawaban. Tenggorokannya menegang. Matanya perih, tapi air mata justru tak langsung jatuh, seolah tubuhnya menahan tangis agar tak benar-benar runtuh. Drttt! Ponsel di genggamanya bergetar. Cassandra menunduk pelan, sempat melirik layar dengan pandangan kosong. Namun begitu melihat siapa nama penelepon, sorot matanya berubah tajam. Bi Marni, yang berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas.

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   115.

    Mendengar pertanyaan putranya, Lilian terdiam, cukup lama sampai membuat Rexandra mengerutkan keningnya heran, dadanya mulai terasa tak nyaman. Lalu detik berikutnya, bahu wanita itu bergetar pelan. Dari bibirnya lolos suara isak tertahan—lemah, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat hati Rexandra mencelos. “Ma …,” Rexandra melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah ibunya lekat, berusaha menangkap sorot mata yang kini mulai berkaca-kaca. “Kenapa? Ada masalah?” Lilian masih tak menjawab. Sebaliknya isaknya semakin keras, dan air matanya mengalir tanpa bisa dikendalikan, membuat Rexandra semakin khawatir. “Ada apa, Ma? Cerita sama aku? Apa ada masalah sama Papa sama Cassie?” Desaknya lembut, mencecar wanita itu dengan pertanyaan beruntun. “Mama …,” suara Lilian bergetar. Bibirnya tremor, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk dikeluarkan. “Kenapa, Ma?” Rexandra makin gelisah. Tangannya terangkat, mengguncang lembut bahu ibunya. “Papa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status