Share

7. Ciuman singkat

Author: Qingcheng
last update Last Updated: 2025-11-04 08:00:22

Cassandra menelan ludah, menatap layar ponsel dengan senyum terpaksa, sementara detak jantungnya beradu dengan suara hujan di luar.

Dan saat dia menutup panggilan, lampu tiba-tiba menyala terang — menyoroti mereka berdua yang duduk terlalu dekat, napas beradu, jarak hanya sejengkal.

"Rexa!"

Cassandra mendorong kuat tubuh Rexandra, membuat tubuh pria itu terhuyung, nyaris jatuh.

"Jangan macam-macam!" Tekannya menatap pria itu dengan wajah merah campuran malu dan marah, lalu berlari ke arah walk in closet kala menyadari tubuhnya hanya berbalut kimono pendek yang terlalu minim itu.

Duk!

Pintu walk in closet ditutup keras. Cassandra menjatuhkan tubuhnya di lantai, memegangi dadanya yang bergemuruh keras, jantungnya hampir melonjak keluar.

"Cassie, enggak bisa kaya gini. Rexa itu kakak tirimu."

Malam itu, Cassandra segera menutup pintu kamar, memastikan kamar itu terkunci agar Rexandra tidak bisa masuk. Gadis itu tertidur meski awalnya matanya susah terpejam.

Dan keesokan harinya, Cassandra melenguh pelan, membuka matanya perlahan kala merasakan sinar lembut mentari pagi yang menelusup lewat tirai kamarnya, menyorot wajah cantiknya yang polos tanpa make up.

Gadis itu menguap kecil sambil mengusap matanya, lalu mengerutkan dahi menatap jam yang tergantung di dinding.

“Tumben bi Marni belum bangunin aku?” Gumamnya pelan sambil menepuk pipinya.”Biasanya Bibi sudah ketuk pintu dan bawain aku sarapan.”

Tiba-tiba perutnya mendengkur pelan. Cassandra refleks menunduk, menyentuh perut ratanya.

“Ugh, lapar ....”

Gadis itu turun dari kasur, menyeret kaki pelan-pelan menuju tangga.

Begitu sampai di bawah, hidungnya menangkap aroma yang familiar—hangat, manis, dan sedikit gurih.

Roti gandum panggang.

Matanya langsung berbinar, langkahnya berubah jadi cepat.

“Roti gandum panggang. Hmmm. Makanan kesukaan aku. Pasti bi Marni yang bikin!” serunya kecil, setengah berlari menuju dapur.

“Bi Marni, panggang ro—”

Cassandra menghentikan ucapannya, begitupun dengan langkahnya kala yang berada di dapur bukan bi Marni, pelayannya, tapi sosok pria tinggi dengan bahu bidang, mengenakan kaos lengan pendek yang menempel pada tubuhnya yang tegap, dan celana jeans pendek memperlihatkan betis berototnya.

Pria itu, terlihat sedang membalik roti di atas panggangan, posisinya memunggungi Cassandra, tapi gadis itu tahu siapa yang berdiri disana.

Cassandra membeku di ambang pintu. Ingatan semalam saat Rexandra menyentuhnya masih terasa jelas, begitu mendebarkan.

Jantung gadis itu tiba-tiba berdebar keras, dan semburat samar menghiasi pipinya yang putih. Napasnya tertahan.

Gadis itu perlahan berbalik dengan gugup, kaki telanjangnya menapak pelan agar tidak terdengar, tapi tiba-tiba suara berat itu memanggil.

"Cassie, mau kemana?"

Cassandra membeku, kakinya berhenti melangkah.

"Kenapa balik lagi?" Rexandra berjalan ke arahnya, tersenyum nakal. "Bukannya ke dapur karena lapar? Hm?"

"Enggak. Aku enggak lapar kok." Elak Cassandra, buru-buru berbalik, tapi baru saja dia melangkah, sebuah tangan dengan cepat menarik pergelangan tangannya.

Tubuh gadis itu berbalik tak terkendali, membentur dada bidang Rexandra membuat jantungnya berdetak keras.

“Lepas, Rexa!”

Pria itu hanya terkekeh. “Bukannya lapar?” Tanyanya tersenyum menggoda. “Aku udah buatkan menu sehat favorit kamu—Santé, lengkap.”

Rexandra menunjuk meja makan. Ada yogurt putih dengan granola dan madu, potongan buah segar, segelas air lemon hangat, serta roti gandum panggang dengan selai stroberi kesukaan Cassandra.

Cassandra menelan ludah. Perutnya berdecit lagi, keras kali ini.

“Emang nggak lapar?” tanya Rexandra lagi, alisnya terangkat jahil.

“Aku nggak—”

Tiba-tiba suara perutnya memotong kalimatnya sendiri, kali ini lebih keras, membuat Rexandra tertawa pelan, menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Masih bilang nggak lapar?”

Cassandra menunduk dalam, jelas malu karena perutnya tidak bisa diajak kompromi.

Rexandra yang melihatnya terkekeh gemas, lalu menarik lengan Cassandra, membuat Cassandra mengangkat wajahnya.

“Eh—”

“Sarapan dulu kalau lapar.” Ucap Rexandra, menuntunnya duduk di kursi makan, lalu menekan pelan bahu gadis itu.

Cassandra pun terduduk kaku. Matanya menatap roti, dan beberapa hidangan favoritnya.

“Cassie ini sangat suka sarapan khas Prancis ini. Dulu sering minta dibuatkan.”

“Enggak. Aku udah enggak suka.” Elak Cassandra ketus.

“Udah enggak suka?”

“Iya. Enggak suka.”

Rexandra berdiri di belakangnya, membungkuk dekat—terlalu dekat hingga napas hangatnya terasa di lehernya.

“Ternyata banyak hal berubah. Dulu Cassie suka makan pedas, tiba-tiba enggak suka. Sekarang Cassie juga sudah tidak suka sarapan Santé?”

“Rexa, jangan bahas masa lalu.” Ucap Cassandra dengan napas tercekat, karena jarak Rexandra yang sangat dekat di belakangnya.

“Aku cuma mengingatkan.” Tangannya yang besar membimbing tangan Cassie, mengoleskan selai di permukaan roti dengan gerakan lembut.

“Rexa, lepasin tangan aku.”

“Dulu kamu yang minta aku bimbing gini.” Bisik Rexandra rendah di telinganya.

Cassandra menegang, pipinya merona merah.

Buru-buru dia menarik tangannyai. “Aku bisa sendiri!” katanya, mengambil alih sendok dengan tangan gemetar.

Rexandra tersenyum miring, menegakkan tubuh, mengacak gemas rambut Cassandra.

“Sarapan. Jangan pergi.” Kata pria itu, mendudukkan diri di seberangnya.

Cassandra mendesah pelan, mulai memasukkan roti itu ke dalam mulutnya. Saat makanan itu masuk, Cassandra berhenti mengunyah. Rasa roti itu masih sama seperti dulu, khas buatan Rexandra.

“Bagaimana? Rasanya masih sama seperti dulu?”

Lamunan Cassandra langsung buyar. Gadis itu meraih air lemon hangat, meminumnya pelan. “Biasa aja.”

Pandangannya menoleh ke sisi kiri kanan, depan belakang, alisnya bertaut dalam, dan keningnya mengerut.

“Bi Marni kemana? Kok tumben enggak bangunin aku, dan enggak bikin sarapan. Malah cowok ini yang bikinin sarapan. Kok sepi. Semua orang kemana coba?” Gumamnya pelan sambil berdecak tapi masih bisa didengar Rexandra.

“Aku suruh libur.” Suara Rexandra pelan, menjawab kebingungan Cassandra.

“Apa?” Mata jernihnya membola, ekspresinya terkejut. “Kamu ngusir mereka?”

“Aku cuma suruh libur, bukan ngusir.” Jawab Rexandra enteng, menyeringai tipis. “Mulai sekarang aku yang buatkan kamu makanan, aku juga yang antar jemput kamu ke kampus.”

“Kamu—” Cassandra memutar bola mata, setengah kesal, setengah bingung.

Belum sempat membalas, ponselnya bergetar. Notifikasi email dari panitia lomba desain muncul—Deadline hari ini.

Wajahnya seketika panik. Gadis itu refleks bangkit dari kursi.

“Aduh! Aku belum kirim desain aku lagi!” serunya dan berlari ke kamar meninggalkan Rexandra begitu saja.

Rexandra hanya duduk santai, menatap punggung yang menjauh itu dengan senyum.

Cassandra kini sudah dikamarnya, menyalakan laptop dengan panik untuk mengirimkan desain bajunya.

“Duh, kenapa aku bisa lupa. Ini semua karena Rexa. Dia bikin aku nggak fokus.”

Jemarinya menekan tombol turn on cukup lama, tapi tiba-tiba layarnya nge-lag.

“Kenapa ini? Kenapa nge-lag? Ya ampun … laptop aku.”

Cassandra berteriak histeris, wajahnya makin panik. Kaki jenjangnya berlari lagi ke dapur, tapi Rexandra sudah tidak ada.

“Rexa kemana? Apa sudah di kamarnya?”

Gadis itu kembali mempercepat langkah, berlari ke arah kamar Rexandra dan saat sudah berada di depan pintu, Cassandra berhenti.

“Hah.”

Napasnya terengah, keringat menetes di dahi dan pelipis, ke lehernya.

“Gimana aku bilangnya? Apa aku harus minta bantuan Rexa?”

Tangan Cassandra sudah terangkat di depan pintu, hendak mengetuknya tapi ragu.

“Duh, Cassie. Gimana ini? Tapi kalau aku enggak minta bantuannya, aku enggak bisa selesaikan desain aku. Cuma Rexa yang bisa. Dia jago komputer.”

Akhirnya tangan itu pun mengetuk meski ragu.

“Rexa, kamu ada di dalam?” Tanya Cassandra pelan.

Tapi tak ada sahutan dari dalam.

Cassandra mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Masih tidak ada sahutan.

Karena terburu-buru gadis itu pun memutar kenop pintu, dan ternyata tidak dikunci.

“Enggak dikunci.”

Begitu pintu terbuka, baru saja kaki Cassandra terangkat, Rexandra keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, menetes ke bahu, handuk putih melilit di pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan perut berototnya.

Cassie menegang. “Astaga!”

Dia langsung memalingkan wajah dengan pipi yang merona panas.

Rexandra terkekeh rendah melihat wajah malu Cassandra. “Ngapain ke kamar aku?” tanyanya, nada suaranya pelan tapi menggoda.

Cassandra menunduk, suaranya terbata. “Lap–laptopku ... rusak. Aku cuma mau minta tolong kamu, Rexa.”

“Mau minta tolong?”

“Hm.”

“Panggil yang sopan.”

“Eh—”

“Aku kakak kamu. Kamu masih panggil aku Rexa?”

Cassandra berdecak, lalu menghela napas. “Kak Rexa, tolong ….”

“Good girl.” Puji Rexandra, tersenyum puas. “Ambil laptopnya.”

“Iya.”

Cassandra segera mengambil laptopnya dengan napas terengah dan kembali dengan laptop menyala di tangan.

“Sini.” Ucap Rexandra, sudah memakai celana olahraga santai dengan tubuh bagian atas yang dibiarkan terbuka, menyuruh Cassandra masuk dan mengambil laptopnya dari tangan gadis itu, lalu duduk di kursi, meletakkan laptop di atas meja.

Cassandra berdiri gugup di belakangnya, mengamati layar laptop yang menyala, menampilkan kode-kode, tapi tatapannya terdistraksi pada pemandangan punggung lebar Rexandra yang terekspos.

“Kenapa laptopnya?” Tanyanya ragu.

“Kena virus.” Jawab Rexandra, jemarinya begitu lincah menari diatas papan keyboard.

“Oh.” Cassandra mengangguk mengerti.

“Kira-kira masih lama enggak?”

“Bentar lagi. Almost done.”

“Hm.”

Ponsel Cassandra tiba-tiba berdering, mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke layar ponsel yang menampilkan nama Ervan di sana.

Rexandra berhenti mengetik. Matanya melirik tajam.

Sementara Cassandra segera menjauhkan diri, mengangkat panggilan telepon itu.

“Cassie, aku udah di depan rumah kamu. Tapi kok sepi, ya?” Suara Ervan terdengar heran di seberang sambungan.

“Di depan rumah? Kamu mau apa?”

“Cassie, kamu lupa ini hari apa?”

“Hari apa?” Cassandra tampak mengernyit bingung.

Terdengar helaan napas kecewa dari seberang. “Cassie, ini anniversary kita yang pertama.”

“Oh.” Cassandra hanya ber-oh ria, raut wajahnya tampak biasa aja—tak ada raut terkejut bahkan tertarik. “M-maaf Ervan, aku lupa.”

“Enggak apa-apa.”

“Aku buka pintu dulu.”

“Iya, Cassie.”

Cassandra mematikan sambungan, berjalan ke arah Rexandra. “Kak Rexa, aku keluar bentar, ya.”

“Mau kemana?” Tanya Rexandra dingin, menyorot tajam.

“Keluar bentar pokoknya. Enggak lama kok.”

Gadis itu berbalik, berjalan ke arah pintu, tapi baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, tiba-tiba tangan kekar Rexandra menarik lengannya kuat, membuat tubuh Cassie berbalik dan membentur tembok.

Duk!

“Akh!” Pekik Cassandra, matanya membulat. “Kamu apa-apaan, Rex—”

Cup.

Belum sempat Cassandra menyelesaikan kalimatnya, bibir Rexandra sudah membungkamnya lebih dulu.

Cassandra membelalak, jantungnya seakan meledak. Dunia seakan berhenti—di antara rasa terkejut, marah, dan ... sesuatu yang tak berani dia akui.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rere Zareza
keren thour . . up lagi up lagi...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   120.

    Liora keluar dari mobil begitu mesin dimatikan. Pintu dibanting tanpa sadar, dan dia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah Cassandra yang berdiri kaku di teras rumah. Begitu jarak mereka habis, Liora langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Cassie …,” Tak ada kalimat lanjutan. Hanya panggilan nama itu, lirih namun penuh rasa bersalah, cemas, dan rindu yang tertahan sebulan penuh. Cassandra tak lagi mampu menahan dirinya. Tubuhnya melemas di dalam dekapan Liora. Isaknya pecah, bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkram jaket Liora seolah takut jika dia akan ambruk jika tak menggenggam apapun. “Udah … udah, Cassie,” bisik Liora berulang-ulang sambil mengusap punggung Cassandra pelan, lembut. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Pelukannya mengencang. Liora menundukkan kepala, menyandarkan dagunya di puncak rambut Cassandra. Sementara tangannya bergerak lembut, menepuk-nepuk punggung gadis itu berusaha menenangkan badai dalam diri Cassandra yang

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   119.

    “Kamu benar-benar nggak tahu Cassie ada di mana?” Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Rexandra—pertanyaan yang sama, dengan nada yang nyaris tak berubah, yang dia ulangi hampir setiap hari selama sebulan penuh. Liora, yang berdiri di hadapannya dengan piyama tidurnya, sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Bahkan sebelum Rexa menyelesaikan kalimatnya, dadanya sudah terasa berat. Dengan raut penuh penyesalan, gadis itu menggeleng pelan. “Aku juga belum bisa menghubungi Cassie, Kak Rexa,” ucapnya lirih. “Kalau aku tahu dia di mana, aku pasti langsung kasih tahu Kak Rexa.” Rexandra menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang sama. Rahangnya mengeras, matanya tampak redup karena lelah yang tak bisa dia sembunyikan. “Menurut kamu selama ini Cassie kenapa?” Tanyanya lagi, suaranya lebih rendah. “Dua bulan terakhir ini.” Liora terdiam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, menatap Rexandra dengan sorot yang dalam dan hati-hati. “Yang aku tahu, kondisi Om Alex makin kritis,”

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   118

    | 1 bulan kemudian Cassandra berdiri membungkuk di depan closet dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, bahunya naik-turun pelan, dan tangan kecilnya yang berkeringat dingin memegangi pinggiran closet itu agar tidak terjatuh. Baru saja dia makan sesuap nasi, tapi langsung dimuntahkan lagi. Begitulah yang terjadi sebulan ini. Sehari-harinya, setiap makanan yang masuk ke mulutnya selalu dikeluarkan begitu saja, bukan karena keinginannya, tapi karena perutnya memang menolak itu. Cassandra menunduk dalam, mengelus perutnya yang sudah terlihat lebih buncit dari terakhir kali. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berbarengan dengan suara lembut seseorang. “Non Cassie, boleh saya masuk?” Tanya bi Marni, berdiri tegak di depan kamar yang tidak tertutup rapat itu dengan nampan di tangan. Cassandra yang mendengar suara pembantunya itu perlahan menoleh sambil menegakkan tubuh. “Masuk aja, Bi.” Sahutnya sembari melangkahkan kaki lemahnya keluar kamar mandi. Bi M

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   117.

    Cassandra berjongkok di hadapan makam Alex yang baru saja dikebumikan. Aroma tanah basah sisa hujan bercampur bunga menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Gadis itu menatap nisan bertuliskan Alex Harrison tanpa berkedip. Jemari gemetarnya mengusap papan itu dengan lembut, begitu hati-hati. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya isak lirih yang tertahan di tenggorokannya yang terasa kering itu. Di samping gadis itu, bi Marni setia menemani, memberi usapan pelan di punggungnya. “Non,” ucap perempuan tua itu pelan, menatap majikannya dengan penuh iba. “Ini sudah satu jam non Cassie berada disini. Sepertinya sudah mau hujan, Non.” Lanjutnya sembari mendongak, menatap langit gelap yang diselimuti awan pekat. “Sebaiknya kita segera pulang ya, Non.” Cassandra hanya diam, dengan tatapan yang tak beralih sedetikpun dari nama di papan nisan itu. Pandangannya kosong, wajahnya sudah sangat pucat, bahkan bibir merahnya sekarang tak berwarna. Dia menyandarkan kepalanya ke

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   116.

    Cassandra berdiri kaku di depan ranjang jenazah, menatap ayahnya yang kini terbaring tak bergerak, dengan tubuh yang tertutup seprai putih sampai dada, dan tangan yang terkulai dingin di sisi tubuh. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang menganga. Sakitnya bukan lagi menusuk tapi menghancurkan. Perlahan, kejam, dan tanpa ampun. Perlahan kakinya mendekat. Tangan gemetarnya menyentuh punggung tangan ayahnya yang dingin. “Pa …,” suaranya nyaris tak keluar, hanya hembusan rapuh dari bibir keringnya. “Kenapa Papa dingin banget?” Tak ada jawaban. Tenggorokannya menegang. Matanya perih, tapi air mata justru tak langsung jatuh, seolah tubuhnya menahan tangis agar tak benar-benar runtuh. Drttt! Ponsel di genggamanya bergetar. Cassandra menunduk pelan, sempat melirik layar dengan pandangan kosong. Namun begitu melihat siapa nama penelepon, sorot matanya berubah tajam. Bi Marni, yang berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas.

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   115.

    Mendengar pertanyaan putranya, Lilian terdiam, cukup lama sampai membuat Rexandra mengerutkan keningnya heran, dadanya mulai terasa tak nyaman. Lalu detik berikutnya, bahu wanita itu bergetar pelan. Dari bibirnya lolos suara isak tertahan—lemah, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat hati Rexandra mencelos. “Ma …,” Rexandra melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah ibunya lekat, berusaha menangkap sorot mata yang kini mulai berkaca-kaca. “Kenapa? Ada masalah?” Lilian masih tak menjawab. Sebaliknya isaknya semakin keras, dan air matanya mengalir tanpa bisa dikendalikan, membuat Rexandra semakin khawatir. “Ada apa, Ma? Cerita sama aku? Apa ada masalah sama Papa sama Cassie?” Desaknya lembut, mencecar wanita itu dengan pertanyaan beruntun. “Mama …,” suara Lilian bergetar. Bibirnya tremor, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk dikeluarkan. “Kenapa, Ma?” Rexandra makin gelisah. Tangannya terangkat, mengguncang lembut bahu ibunya. “Papa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status