Share

Bab 3 - Satu Miliar

last update publish date: 2026-02-27 15:41:55

Sinar mentari mulai memasuki ruang kamar itu. Lisa dan Arseno terlihat masih saling berpelukan dengan kedua mata terpejam. Untungnya hari ini adalah hari minggu pagi, dan Lisa tak perlu khawatir akan terlambat berangkat kerja hari ini. 

  Sayup-sayup kedua bola mata Lisa terbuka. Ia melihat dirinya yang sudah polos tanpa pakaian, tengah berada dalam dekapan pria semalam. Lisa menatap wajah pria itu dengan seksama. Kulit putih bersih dan mulus seperti orang yang rajin melakukan perawatan, menandakan bahwa pria itu bukan orang sembarang.

  “Dia sangat tampan ternyata. Aku bisa tidur dengannya adalah sebuah keajaiban. Ah, nenek!” batin Lisa seraya menatap lama wajah pria itu, ia langsung sadar tujuan awalnya untuk mendekati pria itu adalah karena

  uang.

  “Sudah puas melihatnya?” tiba-tiba Arseno mengeluarkan suaranya dan menyadari kalau sedari tadi Lisa menatapnya begitu lama.

  “Ah … m-maaf, Tuan. Aku … aku tidak sengaja,” jawab Lisa gugup. Arseno berdecak sebal mendengar panggilan itu lagi.

  “Kau lagi-lagi memanggilku dengan sebutan itu,” decaknya.

  “L-lalu … aku harus memanggilnya apa? T-tapi Tuan … bolehkan aku meminta bayaran untuk pelayanan malam ini?” ungkap Lisa langsung ke tujuannya.

  Arseno kini menghempaskan tubuhnya dan menatapnya tajam. “Jadi kau lakukan itu hanya demi uang? Kau merelakan tubuhmu untukku karena selembar uang itu?” ujar Arseno tajam. Lisa pun tak bisa mengelak, ia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Arseno.

  “S-saya membutuhkan uang itu, Tuan.” Lisa berucap hati-hati seraya menundukkan kepalanya. 

  Arseno tampak geram dan kesal setelah mendengar tujuan Lisa untuk mendekatinya. Pria itu lantas mengambil sebuah ponsel dari dalam kantong jas miliknya. Ia terlihat menelepon seseorang.

  “Josh, kau urus masalah wanita ini. Aku sudah muak melihatnya berlama-lama,” ucap Arseno sambil menatap tajam Lisa.

  Beberapa detik setelahnya, Arseno langsung mematikan panggilan itu.

  “Kau boleh pergi. Josh akan mendatangimu dan memberikan bayaran yang pantas untuk pelayananmu semalam,” titah Arseno mengusirnya dari dalam kamar itu. 

  “B-baik, Tuan. Terima kasih banyak. A-aku permisi pergi,” balas Lisa sambil mengambil pakaiannya yang tergeletak bebas dibawah sana, dan kemudian ia pun memakainya dengan cepat.

  Arseno tak lagi melihatnya, ia bahkan berubah benci dan muak setelah mendengar tujuan Lisa menagih uang bayaran atas cumbuan mereka semalam. 

  Lisa berjalan tertatih-tatih keluar dari ruang kamar itu. Ia merasa bahwa dirinya begitu lemah sekarang, tapi bagaimanapun ia harus bisa berjalan dan menerima bayaran semalam untuk bisa membayar pengobatan operasi neneknya. Hati-hati ia melangkahkan kakinya turun melalui lift menuju lantai dasar. Sampai akhirnya ia bertemu lagi dengan Reno dan Beni di sana.

  “Wah, Lisa. Kau hebat banget, Lis. Aku kira kamu akan membuat masalah semalam. Berkatmu, aku dan Beni juga dapat bonus tinggi dari bos,” tutur Reno tak ragu mengatakannya.

  “I-iya, Ren. T-tapi … aku harus bertemu dengan Tuan Josh, apakah kau tahu di mana aku bisa menemukan orang itu?” tanya Lisa kebingungan.

  “Oh, Tuan Josh … dia sudah menunggumu di kursi tunggu. Tuh, di sana. Dia juga pesan makanan untukmu, kau makan saja dulu,” balas Reno ceria seraya menunjuk ke arah meja tamu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

  “B-baik … kalau begitu aku pamit ya,” ujar Lisa pamit sambil berjalan tertatih-tatih mendekati Josh.

  “Eh Ren, Tuan Arseno kayaknya main brutal. Lo liat, si Lisa sampai gak bisa jalan gitu, bjir. Baru kali ini Gue lihat dia main sama perempuan sampai menggila,” bisik Beni.

  “Gue juga heran, biasanya kan dia gak pernah sewa layanan paketan VVIP ya?”

  “Nah itu dia masalahnya. Apa cuma di bar ini doang dia baru kali ini pesan paketan VVIP? Mungkin aja di bar lain dia udah sering gonta-ganti perempuan.”

  “Dah, hush! Nanti kalo orang-orangnya denger kita ngomong begini, habis karir lu, Ben.” 

  “Eh, iya juga. Aduh, mulut Gue.”

  “Gosip mulu sih Lu.”

  Disisi lain, Lisa berbincang dengan Josh membicarakan bayaran untuk pelayanannya semalam. Josh tampak mengeluarkan sebuah cek untuknya. Lisa melihat nominalnya yang begitu banyak, ia tak tahu berapa jumlah seluruhnya. 

  “J-jadi … ini berapa semua nominalnya, Tuan?” tanya Lisa tak paham.

  “Ah … jadi Nona tidak paham, ya?” balas Josh seraya tersenyum kecil.

  “I-iya … ini banyak sekali, Tuan. Aku hanya butuh tiga puluh juta saja,” ujar Lisa polos.

  “Tapi ini jumlahnya lebih dari tiga puluh juta, Nona.”

  “Hah? B-berapa?”

  “Satu miliar.”

  “B-banyak sekali,” ucap Lisa seraya membulatkan kedua bola matanya.

  “Iya, Tuan Arseno memberikan itu secara khusus untuk Nona.”

  “Kenapa? Bukankah aku hanya melayaninya semalam saja?”

  “Hm … soal itu … saya juga tidak tahu. Saya hanya memberikan apa yang diperintahkan oleh Tuan muda kami,” ujarnya tegas.

  “Lalu bagaimana kalau aku menolak bayarannya?”

  “Saya sarankan Nona ambil saja semuanya, sisanya bisa Nona tabung untuk keperluan Nona yang lainnya.”

  “Tapi aku hanya butuh tiga puluh juta saja untuk biaya pengobatan nenekku,” lirih Lisa memberikan penjelasan yang sekarang sudah terpecahkan oleh teka-teki Arseno semalam.

  Josh tampak terkejut mendengar penjelasan dari Lisa tadi. Ternyata ia salah mengira kalau Lisa mendekati Arseno hanya demi uang. Josh berpikir Lisa sama seperti wanita-wanita yang pernah mencoba menggodanya. Tapi ternyata, wanita itu begitu polos dan tidak tahu menahu tentang uang.

  “Hm … Nona ambil saja uangnya, kalau pun Nona ingin mengembalikan sisanya, Tuan muda tak akan mau menerimanya lagi. Kalau begitu, saya permisi.” Josh mengakhiri percakapan keduanya dan pamit pergi meninggalkan Lisa yang masih duduk menatap nominal cek uang itu dengan kebingungan.

  “Jadi … aku akan apakan uang ini? Aku belum pernah memegang uang sebanyak ini,” gumam Lisa bingung.

  Setelah menyelesaikan urusannya dengan Lisa, Josh pergi menghampiri Arseno ke ruangan semalam yang sempat ia tinggalkan berduaan bersama dengan Lisa. Ia ingin memberitahu Arseno kalau perempuan itu berniat meminta bayaran untuk membayar pengobatan neneknya yang sedang sakit. Tapi Arseno menolak untuk mendengar penjelasannya.

  “Kau ingin jelaskan apa? Dia sama saja seperti wanita penggoda lainnya yang hanya menginginkan uangku, Josh,” sungut Arseno tajam.

  “Sepertinya Tuan salah paham.”

  “Sudahlah, aku tak mau dengar apapun lagi tentang wanita itu.”

  Josh hanya bisa menghela napasnya kasar, namun pandangan matanya tanpa sengaja melihat ke arah sprei putih itu. Kedua bola matanya terbelalak lebar keheranan. Ia tidak menyangka kalau wanita tadi masih virgin. Karena melihat bekas cairan merah diatas sprei putih itu.

  “Tuan muda, itu …” tunjuk Josh ke arah sprei putih itu. Arseno meliriknya sekilas.

  “Kau benar. Dia masih virgin.”

  “Itu berarti, Tuan muda yang pertama? Sayang sekali dia harus merelakan dirinya demi biaya pengobatan neneknya yang sakit,” gumam Josh iba mengingat Lisa mengatakan itu dengan tulus sebelumnya.

  “Apa? Kau bilang apa barusan?” Arseno tiba-tiba saja terkejut dan tertarik untuk mendengarnya lagi.

  “Tuan muda yang pertama untuknya.”

  “Bukan. Kalimat setelahnya.”

  “Oh .. biaya pengobatan neneknya? Sepertinya dia memang membutuhkan uang itu untuk dana darurat,” jelas Josh mengulang pernyataannya tadi.

  “Josh!” tiba-tiba Arseno memanggilnya tegas.

  “Ya, Tuan?”

  “Kau selidiki tentang wanita itu.”

  “Baik, Tuan.” 

 Tadi bukankah kau benci dan muak dengannya? Kenapa sekarang penasaran lagi? Dasar pria gila!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 34. Kebohongan Arseno

    Ting! Sebuah notifikasi di ponsel Arseno muncul. Nama Laura terpapar di sana dengan jelas. “Avi, aku tahu aku salah. Aku minta maaf padamu dan aku janji akan menghilangkan diri untuk tidak lagi mengganggu hidupmu dengan wanita barumu. Tapi… bisakah kita bertemu untuk yang terakhir kalinya? Kumohon, untuk kali ini janji akan pergi dan melanjutkan hidupku yang baru di Amerika. Tolong temui aku di langham resto sekarang.” Pesan itu. Arseno membacanya sejenak. Hembusan napasnya terdengar memanjang untuk sekilas. “Apa lagi yang dia inginkan?” gumam Arseno berdecak. Di dalam kursi mobilnya, Arseno menancapkan gas mobil itu dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa pikiran Arseno yang sedari awal memikirkan Lisa, tiba-tiba Laura mengganggu pikirannya yang berniat untuk segera kembali ke rumah. Beberapa menit setelahnya, mobil Arseno terparkir di area basement. Sebuah hotel bintang sepuluh begitu megah dan tinggi menjulang itu menjadi sorotan pertama saat Arseno mendatangi tempa

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 33 - Firasat Lisa

    Pagi yang cerah untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Arseno terbangun mendahului Lisa. Sebelum berangkat, tak lupa ia mencium kening dan bibir ranum istri kecilnya. Sayangnya, pria itu tampaknya begitu terburu-buru untuk menghadiri rapat pagi ini. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi sekarang, Lisa terbangun dari tidur panjangnya. “Hoam… hm… sudah pergi ya?” gumam Lisa melihat Arseno yang tak ada di sebelahnya. Kaki panjangnya menapaki lantai beralaskan karpet cokelat itu. Lisa berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Kenop pintu terbuka. Rupanya disana sudah ada Bi Asih dan Bu Santi yang telah menyiapkan sarapan pagi untuknya. “Selamat pagi, Nona muda. Tuan muda sudah berangkat sejak pagi. Tuan menitip pesan agar dibuatkan sarapan sandwich dan susu untuk Nona setelah Nona terbangun nanti. Karena Nona muda sudah bangun, sarapannya akan saya panaskan lebih dulu untuk Nona,” ujar Bi Asih menyapa Lisa dengan hangat. Lisa tersentuh mendengarnya. Betapa bahagia

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 32 - Detak Jantung Bayi

    “Kalau begitu saya pamit, Tuan muda.” Sekretaris Josh berkata demikian setelah mengantar Arseno dan Lisa tiba dengan selamat di penthouse mereka. “Hem.” Hanya suara deheman yang terdengar dari mulutnya. Arseno langsung berjalan menuju kamar utama seraya masih menggendong Lisa ala bridal style dan merebahkan tubuh kecilnya diatas ranjang. Lisa menggeliat ketika tubuhnya menyentuh sprei putih itu. Spontan kedua matanya terbuka secara perlahan. “Engh… kita di mana, sayang?” gumam Lisa masih setengah sadar. Arseno yang masih berdiri mematung sontak ikut duduk mendekatinya. “Di rumah. Kau tertidur pulas sekali tadi. Aku takut membuatmu terkejut, jadi ku biarkan saja kau tertidur sampai sini,” ujar Arseno sembari menyeka anak rambut Lisa yang menutupi wajahnya. “Benarkah? Apa aku tertidur sambil berjalan sampai kesini sayang?” ucap Lisa mengigau. Arseno terkekeh mendengarnya. Detik kemudian pria itu mengecup keningnya tiba-tiba. Cup! “Coba tebak, bagaimana aku bisa memb

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 31 - Wanita Kesayangan Presdir Han

    Mungkin itulah sebabnya mengapa ia bisa dijuluki sebagai raja singa dulu. Karena lebih besar rasa trauma dan kehilangan yang ia terima untuk melupakan seseorang yang benar-benar ia cinta. “Ya, Nenek memang sangat cantik. Tapi sayang sekali beliau harus menikahi orang seperti Kakek.” “Hei, anak nakal. Berani sekali kau meremehkan ku,” sungut Presdir Han sambil menepak bahu Arseno dengan tongkat kayunya. Plak! “Awh, Kakek ini tidak bisa diajak bercanda ya. Digoda sedikit saja sudah marah,” ungkap Arseno menggerutu. “Apanya yang kau maksud bercanda itu, wahai anak muda? Memang kau saja yang nakal karena meledek orang tua.” Arseno berdecih sekilas, dasar orang tua kolot ini,” gumamnya tak terdengar oleh beliau. Tapi… “Apa yang kau umpat barusan, hah? Jangan-jangan kau mengumpat ku dengan sebutan binatang, kan?” kilah Presdir Han tidak terima. Arseno merasa kalau pertemuan mereka saat ini sudah terlalu lama. Ia pun beranjak bangun dari kursi itu. “Nanti saja lagi Kakek mencerama

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 30 - Permainan Catur

    Saat Arseno dan Lisa hendak untuk pergi meninggalkan kediaman rumah utama, tiba-tiba mereka diberhentikan oleh Pak Gem. Sekadar informasi, Pak Gem adalah kepala pelayan di kediaman utama yang sudah bekerja puluhan tahun dan mengabdi pada Presdir Han. “Tuan muda tunggu sebentar,” panggil Pak Gem terlihat berlarian kecil yang datang dari arah dapur menghampiri Arseno maupun Lisa. “Ada apa Pak Gem?” sahut Arseno sungkan. “Anu… Tuan… Presdir Han bilang sebelum Tuan muda pergi meninggalkan kediaman ini, Tuan muda harus ke ruang kerjanya,” tutur Pak Gem. Arseno sontak beralih menatap Lisa. Wanita itu lantas mengangguk mengiyakan. “Aku akan menunggu di mobil,” ucap Lisa seraya mengelus dada bidang Arseno lembut. “Hanya itu saja yang kau berikan?” Arseno mendengus pelan. Wajahnya datar tanpa senyuman. Untungnya Lisa cukup peka sekarang, apa yang sedang Arseno inginkan darinya. Detik kemudian dia pun berjinjit dan mendekatkan dirinya pada suaminya. Cup! Satu kecupan manis Lisa

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 29 - Pemegang Saham Terbesar T Group

    “Arseno, jelaskan ini pada Kakek.” Presdir Han berkata dengan suara parau. Arseno justru bersedih sebal. Melihat reaksi dari kakeknya yang juga tak begitu menyukai Lisa di perjamuan ini. “Presdir Han, bukankah Anda selalu menepati janji? Kenapa Anda tiba-tiba mengingkari sesuatu yang sudah tertulis dalam kesepakatan kita?” tangkas Arseno dingin. Presdir Han sontak terdiam. Tiba-tiba aura di ruang makan itu langsung berubah dingin dan tegang. Melihat perdebatan di keluarga ini, Lisa lantas melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arseno. Tangannya justru meremas erat gaun dress yang ia kenakan pada tubuhnya. Laura yang melihat reaksi Lisa begitu gugup dan lesu karena tidak mendapatkan penerimaan di keluarga T Group terlihat terkekeh puas. Wanita itu bahkan meneguk minuman yang ada didepannya dengan santai. Greppp!! Tapi tiba-tiba Arseno meraih pergelangan tangan Lisa lagi. Genggaman tangannya kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Kau… baiklah. Perjuanganmu membangun

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 28 - Sebutan Pangeran Katak untuk Arseno

    Suara ketukan heels wanita terdengar nyaring, Lisa berjalan dengan anggun menghampiri Arseno mengenakan dress mewah berwarna putih malam ini. Betapa elegan dan cantiknya ia sekarang. Bahkan Arseno pun tak bisa berpaling menatapnya. Bibir ranum Arseno tampak mengulum senyum tipis. Dalam hati dia me

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 27 - Pijatan untuk Istri Kecil

    Ting! Suara pintu penthouse milik Arseno terbuka. Dengan gagahnya dia berjalan cepat menuju kamar utama setibanya ia di sana. “Di mana Lisa?” tanya Arseno saat melewati ruang tengah, di mana ada Bi Asih dan Bi Santi berada yang sedang membersihkan ruangan tersebut. “Nona muda di kamar utama,

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 26 - Perjamuan Makan

    Singkat cerita, Arseno sudah pergi berangkat ke kantor. Sementara Lisa berdiam diri di kamar dengan menghabiskan waktu untuk membaca buku dan menonton serial drama China. Rutinitas hariannya sejak pindah ke penthouse milik Arseno menjadi lebih santai dari sebelumnya. Saat ingin makan sesuatu, langs

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 25 - Drama di Pagi Hari

    Sinar mentari pagi bersinar cerah menyeruak masuk ke dalam kamar Arseno dan Lisa berada. Lisa terbangun lebih dulu, saat menyadari sekujur tubuhnya sakit akibat permainan Arseno semalam sampai dini hari. Kedua mata Lisa tergelak setelah ia membukanya perlahan. Melihat tubuhnya yang tengah memeluk er

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status