Compartilhar

Bab 4 - Kau Milikku, Lisa

last update Data de publicação: 2026-02-27 15:42:28

Setelah menerima cek senilai satu miliar itu, Lisa bergegas untuk pergi ke bank terdekat agar bisa mengambil uang tunai untuk membayar biaya operasi sang nenek. Walau berjalan tertatih-tatih, ia begitu bahagia karena akhirnya neneknya bisa segera mendapatkan perawatan intensif. Namun sayangnya Lisa harus menyerahkan dirinya kepada seorang tuan Arseno. 

  “Aku harap aku tidak akan pernah bertemu pria itu lagi,” gumamnya seraya berjalan menjauhi area bar & resto itu.

  Beberapa menit kemudian, Lisa sampai di sebuah bank nasional. Dengan bermodalkan kartu identitas dan cek bernilai satu miliar itu, Lisa meminta bantuan kepada teller untuk dibuatkan rekening atas nama miliknya supaya uang yang ada di cek tersebut bisa segera dipindahkan.

  “Permisi, Kak! Maaf, aku mau buat rekening bank, tapi sebelum itu aku…” ujar Lisa seraya memberikan cek tadi kepada sang teller.

  “Sebentar ya, Kak. Saya cek dulu cek nya,” balasnya.

  Tiba-tiba…

  “Kak, ini uangnya besar sekali. Setelah aku cek, sepertinya Kakak harus bicara langsung dengan atasanku. Mari, Kak.” 

  “M-memangnya kenapa ya, Kak? Itu kan uang saya, apa saya harus meminta izin dulu pada orang lain?” tanya Lisa kebingungan.

  “B-bukan begitu, Kak. Tapi ini nominalnya sangat besar, khawatir kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya. Sebaiknya Kakak diperiksa dulu saja oleh atasan kami.”

  “Tapi saya buru-buru, saya hanya ingin mengambil uang dan memindahkan ke rekening saya. Kenapa harus dipersulit seperti ini ya, Kak?” tegas Lisa.

  Namun sepertinya para karyawan di bank itu menatap Lisa dengan tatapan remeh, seolah uang yang ada didalam cek tersebut adalah hasil dari transaksi perbuatan terlarang. Mereka tampak tidak mengindahkan kata-kata Lisa. Bahkan ada yang berbicara dengan kata-kata pedas seperti, “dapat uang darimana dia? Kau percaya dia orang kaya? Jangan-jangan dia habis jual diri, makanya langsung dapat uang segini.”

  Sudah satu jam Lisa menunggu proses transaksinya, tapi belum juga diproses. Padahal wajahnya sudah terlihat pucat pasi karena sejak semalam ia belum makan, terlebih lagi harus melayani Arseno dari malam sampai pagi. Hal itu membuatnya kehilangan tenaga untuk beraktivitas seperti biasanya.

  “Uh … kenapa tubuhku lemas sekali, ya?” batin Lisa. 

  “Hm, Kak? Sepertinya uang ini tidak bisa diambil. Sebaiknya Kakak konfirmasi dulu kepada pemilik cek ini agar segera diproses transaksinya. Terimakasih!” ujar karyawan teller bank itu setelah satu jam membuat Lisa menunggunya.

  “A-apa? K-kenapa tidak bisa? Aku bahkan disuruh mengambil uang ini ke bank, kenapa harus dipersulit begini, Kak?” seka Lisa tak terima.

  “Mau bagaimana lagi, Kak? Kami juga tidak berani mengambil uang ini, di sini tertulis nama Arseno Xavior. Kakak tidak tahu siapa orang itu? Tidak mungkin Kakak tidak tahu, beliau adalah orang terkaya sejagat raya. Saya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Kak.”

  “A-apa? Tapi kan nama itu yang memberikannya, jadi aku tidak masalah, Kak.”

  Keduanya saling berdebat satu sama lain, sampai akhirnya tiba-tiba…

  “Selesaikan saja transaksi cek itu, Nona. Perkenalkan, saya Josh, asisten pribadi Tuan Arseno Xavior. Mohon bantuannya.” Josh tiba-tiba saja datang di waktu yang tepat seraya menunjukkan kartu namanya dari perusahaan Tayo Group.

  Semua karyawan bank di sana langsung terkejut ketakutan. Bahkan direkturnya pun turut serta menemui Josh untuk meminta maaf atas kejadian tadi. 

  “M-maafkan pegawai saya, Tuan Josh. Atas segala ketidaknyamanan ini, saya akan memberikan sanksi sebagai gantinya,” ujar Dion. Direktur bank T. 

  Mereka tidak tahu kalau bank ini adalah milik Arseno juga. Dasar para bedebah!

  “Nona Lisa, kita bertemu lagi.” Josh menyapa Lisa tiba-tiba. 

  “Ah, i-iya, Tuan. B-bagaimana Tuan Josh bisa ada di sini? A-apakah kita kebetulan bertemu?” jawab Lisa gugup. Kedua matanya tampak celingukan mencari keberadaan Arseno, khawatir jika pria itu juga tiba-tiba ikutan muncul setelahnya.

  “Nona mencari siapa? Tuan muda sedang istirahat hari ini, dia tidak ikut pergi bersama saya,” sanggah Josh menyadari.

  “Ah, i-iya .. kalau begitu terima kasih banyak, Tuan Josh. Tolong sampaikan juga kepada Tuan Arseno, saya sangat berterima kasih kepadanya,” sahut Lisa seraya menundukkan kepalanya.

  “Sama-sama, Nona. Ini kartu nama saya, kalau Nona butuh sesuatu, katakan saja. Kalau begitu saya permisi. Mari, Nona!” ucap Josh sambil memberikan kartu namanya kepada Lisa, dan setelahnya ia pergi meninggalkan tempat itu.

  “Syukurlah dia tidak datang, aku masih trauma dengan serangannya semalam yang menggila itu,” batin Lisa sambil menatap punggung Josh yang sudah tak terlihat lagi dari pandangannya. 

  Disisi lain, Arseno yang tengah duduk di apartemen miliknya menerima pesan dari Josh, kalau ia sudah berhasil memberikan kartu namanya pada Lisa. Josh mengatakan kalau Lisa dipersulit saat hendak mengambil uang yang ada didalam cek itu. Arseno menyeringai membayangkan bagaimana tubuh mungil Lisa yang sedang berdiri didepan teller dan mengantre bersama orang-orang dewasa lainnya.

  “Haha!” serunya menertawakan. “Mulai sekarang, kau milikku.”

  Bagi Arseno, Lisa adalah mainan barunya. Secara khusus ia memperlakukan Lisa sebagai wanita yang berbeda. Mungil, lemah, dan penurut. Itulah yang digambarkan Arseno mengenai Lisa. Dan paling istimewa adalah karena Arseno menjadi pria pertama yang berhasil merenggut miliknya. 

  Cinta terpanas dan tergila yang pernah Arseno lakukan pada Lisa di malam itu. 

  …

  Lisa telah berhasil melunasi biaya operasi sang nenek senilai tiga puluh juta rupiah. Wajahnya berangsur ceria sekarang. Setelah membayar semua biaya rumah sakit itu, Lisa bergegas menemui neneknya yang berada didalam ruang perawatan sebelum operasinya dimulai. 

  Setibanya ia didepan ruang perawatan neneknya, rupanya sudah ada dokter yang kemarin. Ah, Lisa belum sempat berkenalan dengan dokter itu. Lisa pikir ia harus segera siapa nama dokternya, sebab setelahnya ia akan lebih banyak berinteraksi mengenai perkembangan kesehatan neneknya.

  “Apakah Nenek saya sudah bisa segera di operasi, dok? Saya sudah melunasi semua biayanya,” ujar Lisa bertanya.

  Pria berbalut masker penutup itu lantas membuka maskernya, “tentu saja. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk Nenekmu,” balasnya seraya tersenyum mengembang. 

  “Ah, syukurlah. Saya senang mendengarnya. Karena … cuma Nenek yang saya punya sekarang,” lirih Lisa sambil menatap sedu ke arah ranjang rumah sakit itu, tempat di mana Gami sang nenek tengah berbaring lemah dengan kedua mata tertutup.

  “Saya pasti akan mengusahakan kemampuan kedokteran saya yang terbaik, bersama dengan profesor saya. Jangan khawatir, kau hanya perlu berdoa agar prosesnya berjalan lancar,” tuturnya membalas seraya tersenyum kecil. Lisa lantas mengangguk pelan. “Kau, siapa namamu? Apakah tidak ada lagi keluarga yang lain?” lanjutnya bertanya.

  “Saya Lisa. Hanya saya keluarganya, Nenek telah kehilangan suaminya sejak lama,” sambung Lisa sedu.

  “Ah, Lisa ya? Nama yang bagus. Hm … maaf kalau aku membuatmu tersinggung. Aku tidak tahu kalau kalian hanya hidup berdua saja,” sahut dokter muda itu.

  “Tidak apa-apa, dok. Hm … dokter masih sangat muda tapi sudah punya profesi hebat,” puji Lisa berusaha mencairkan suasana.

  “Hehe, terima kasih, Lis. Ini berkat kerja keras ku dan bantuan kedua orang tuaku yang sangat ingin anaknya menjadi dokter spesialis penyakit dalam,” katanya.

  Mendengar itu, kedua bola mata Lisa tampak berbinar kagum. Berbanding terbalik dengannya yang hanya berprofesi sebagai karyawan biasa di perusahaan makanan Tayo Group. Belum lama ia bekerja di sana, dan sama sekali tak ada hal yang bisa dia banggakan selain menerima gaji dan bekerja tanpa henti.

  “Wah, dokter hebat. Jarang sekali aku mengenal seseorang yang berprofesi dokter penyakit dalam. Bukankah itu sulit?” balas Lisa.

  “Hehe, terima kasih. Lagi-lagi kau memujiku. Memang sulit, tapi aku senang melalui semua tantangannya. Oh ya, bagaimana denganmu? Kesibukanmu apa sekarang?”

  “Ah, aku hanya karyawan biasa di perusahaan,” tutur Lisa seadanya.

  “Wah, kau juga hebat, Lis. Perusahaan manakah itu?”

  “Hm … Tayo Group.”

  “Perusahaan makanan terbesar se Asia itu? Disana juga ada temanku, dia sangat arogan dan sedikit menyebalkan,” tutur dokter itu tiba-tiba menceritakan hal lain.

  “Berarti dokter punya banyak teman hebat lainnya, ya?”

  “Bisa dibilang begitu. Kalau kau?”

  “Aku tidak punya teman, dok. Hanya Neneklah temanku,” lirih Lisa menjawab.

  “Tapi kau bisa jadi temanku mulai hari ini. Ah, kita belum sempat bersalaman, ya. Perkenalkan, aku dokter Riyan. Senang berkenalan denganmu Lis,” ujar dokter muda itu seraya menyentuh pergelangan tangan Lisa. Keduanya tampak saling bersalaman dengan tatapan ceria.

  “T-terima kasih, dok. A-apakah ini tidak berlebihan? Aku kan hanya seorang karyawan biasa, bukan berprofesi sama seperti dokter,” kata Lisa sedu.

  “Bagiku siapa saja bisa menjadi teman, Lis. Aku tak memandang seseorang hanya dari profesinya.”

  “Hm … begitu, ya.”

  “Iya. Oh ya, sudah pukul segini. Kalau begitu aku pamit pergi untuk kembali ke ruanganku. Masalah Nenekmu akan segera ditangani sebentar lagi. Jangan khawatir!” jelas Riyan seraya mengusap punggung Lisa lembut sampai membuat wanita bertubuh mungil itu berdebar hebat karena mendapat perlakuan hangat seperti tadi oleh pria sepertinya.

  “Bagaimana rasanya punya suami seperti dokter Riyan? Rasanya pasti sangat bahagia, diperlakukan dengan baik dan hangat. Beruntung sekali yang menjadi istrinya nanti,” gumam Lisa menatap punggung Riyan yang semakin menjauh dari pandangannya. 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 34. Kebohongan Arseno

    Ting! Sebuah notifikasi di ponsel Arseno muncul. Nama Laura terpapar di sana dengan jelas. “Avi, aku tahu aku salah. Aku minta maaf padamu dan aku janji akan menghilangkan diri untuk tidak lagi mengganggu hidupmu dengan wanita barumu. Tapi… bisakah kita bertemu untuk yang terakhir kalinya? Kumohon, untuk kali ini janji akan pergi dan melanjutkan hidupku yang baru di Amerika. Tolong temui aku di langham resto sekarang.” Pesan itu. Arseno membacanya sejenak. Hembusan napasnya terdengar memanjang untuk sekilas. “Apa lagi yang dia inginkan?” gumam Arseno berdecak. Di dalam kursi mobilnya, Arseno menancapkan gas mobil itu dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa pikiran Arseno yang sedari awal memikirkan Lisa, tiba-tiba Laura mengganggu pikirannya yang berniat untuk segera kembali ke rumah. Beberapa menit setelahnya, mobil Arseno terparkir di area basement. Sebuah hotel bintang sepuluh begitu megah dan tinggi menjulang itu menjadi sorotan pertama saat Arseno mendatangi tempa

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 33 - Firasat Lisa

    Pagi yang cerah untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Arseno terbangun mendahului Lisa. Sebelum berangkat, tak lupa ia mencium kening dan bibir ranum istri kecilnya. Sayangnya, pria itu tampaknya begitu terburu-buru untuk menghadiri rapat pagi ini. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi sekarang, Lisa terbangun dari tidur panjangnya. “Hoam… hm… sudah pergi ya?” gumam Lisa melihat Arseno yang tak ada di sebelahnya. Kaki panjangnya menapaki lantai beralaskan karpet cokelat itu. Lisa berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Kenop pintu terbuka. Rupanya disana sudah ada Bi Asih dan Bu Santi yang telah menyiapkan sarapan pagi untuknya. “Selamat pagi, Nona muda. Tuan muda sudah berangkat sejak pagi. Tuan menitip pesan agar dibuatkan sarapan sandwich dan susu untuk Nona setelah Nona terbangun nanti. Karena Nona muda sudah bangun, sarapannya akan saya panaskan lebih dulu untuk Nona,” ujar Bi Asih menyapa Lisa dengan hangat. Lisa tersentuh mendengarnya. Betapa bahagia

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 32 - Detak Jantung Bayi

    “Kalau begitu saya pamit, Tuan muda.” Sekretaris Josh berkata demikian setelah mengantar Arseno dan Lisa tiba dengan selamat di penthouse mereka. “Hem.” Hanya suara deheman yang terdengar dari mulutnya. Arseno langsung berjalan menuju kamar utama seraya masih menggendong Lisa ala bridal style dan merebahkan tubuh kecilnya diatas ranjang. Lisa menggeliat ketika tubuhnya menyentuh sprei putih itu. Spontan kedua matanya terbuka secara perlahan. “Engh… kita di mana, sayang?” gumam Lisa masih setengah sadar. Arseno yang masih berdiri mematung sontak ikut duduk mendekatinya. “Di rumah. Kau tertidur pulas sekali tadi. Aku takut membuatmu terkejut, jadi ku biarkan saja kau tertidur sampai sini,” ujar Arseno sembari menyeka anak rambut Lisa yang menutupi wajahnya. “Benarkah? Apa aku tertidur sambil berjalan sampai kesini sayang?” ucap Lisa mengigau. Arseno terkekeh mendengarnya. Detik kemudian pria itu mengecup keningnya tiba-tiba. Cup! “Coba tebak, bagaimana aku bisa memb

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 31 - Wanita Kesayangan Presdir Han

    Mungkin itulah sebabnya mengapa ia bisa dijuluki sebagai raja singa dulu. Karena lebih besar rasa trauma dan kehilangan yang ia terima untuk melupakan seseorang yang benar-benar ia cinta. “Ya, Nenek memang sangat cantik. Tapi sayang sekali beliau harus menikahi orang seperti Kakek.” “Hei, anak nakal. Berani sekali kau meremehkan ku,” sungut Presdir Han sambil menepak bahu Arseno dengan tongkat kayunya. Plak! “Awh, Kakek ini tidak bisa diajak bercanda ya. Digoda sedikit saja sudah marah,” ungkap Arseno menggerutu. “Apanya yang kau maksud bercanda itu, wahai anak muda? Memang kau saja yang nakal karena meledek orang tua.” Arseno berdecih sekilas, dasar orang tua kolot ini,” gumamnya tak terdengar oleh beliau. Tapi… “Apa yang kau umpat barusan, hah? Jangan-jangan kau mengumpat ku dengan sebutan binatang, kan?” kilah Presdir Han tidak terima. Arseno merasa kalau pertemuan mereka saat ini sudah terlalu lama. Ia pun beranjak bangun dari kursi itu. “Nanti saja lagi Kakek mencerama

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 30 - Permainan Catur

    Saat Arseno dan Lisa hendak untuk pergi meninggalkan kediaman rumah utama, tiba-tiba mereka diberhentikan oleh Pak Gem. Sekadar informasi, Pak Gem adalah kepala pelayan di kediaman utama yang sudah bekerja puluhan tahun dan mengabdi pada Presdir Han. “Tuan muda tunggu sebentar,” panggil Pak Gem terlihat berlarian kecil yang datang dari arah dapur menghampiri Arseno maupun Lisa. “Ada apa Pak Gem?” sahut Arseno sungkan. “Anu… Tuan… Presdir Han bilang sebelum Tuan muda pergi meninggalkan kediaman ini, Tuan muda harus ke ruang kerjanya,” tutur Pak Gem. Arseno sontak beralih menatap Lisa. Wanita itu lantas mengangguk mengiyakan. “Aku akan menunggu di mobil,” ucap Lisa seraya mengelus dada bidang Arseno lembut. “Hanya itu saja yang kau berikan?” Arseno mendengus pelan. Wajahnya datar tanpa senyuman. Untungnya Lisa cukup peka sekarang, apa yang sedang Arseno inginkan darinya. Detik kemudian dia pun berjinjit dan mendekatkan dirinya pada suaminya. Cup! Satu kecupan manis Lisa

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 29 - Pemegang Saham Terbesar T Group

    “Arseno, jelaskan ini pada Kakek.” Presdir Han berkata dengan suara parau. Arseno justru bersedih sebal. Melihat reaksi dari kakeknya yang juga tak begitu menyukai Lisa di perjamuan ini. “Presdir Han, bukankah Anda selalu menepati janji? Kenapa Anda tiba-tiba mengingkari sesuatu yang sudah tertulis dalam kesepakatan kita?” tangkas Arseno dingin. Presdir Han sontak terdiam. Tiba-tiba aura di ruang makan itu langsung berubah dingin dan tegang. Melihat perdebatan di keluarga ini, Lisa lantas melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arseno. Tangannya justru meremas erat gaun dress yang ia kenakan pada tubuhnya. Laura yang melihat reaksi Lisa begitu gugup dan lesu karena tidak mendapatkan penerimaan di keluarga T Group terlihat terkekeh puas. Wanita itu bahkan meneguk minuman yang ada didepannya dengan santai. Greppp!! Tapi tiba-tiba Arseno meraih pergelangan tangan Lisa lagi. Genggaman tangannya kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Kau… baiklah. Perjuanganmu membangun

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 28 - Sebutan Pangeran Katak untuk Arseno

    Suara ketukan heels wanita terdengar nyaring, Lisa berjalan dengan anggun menghampiri Arseno mengenakan dress mewah berwarna putih malam ini. Betapa elegan dan cantiknya ia sekarang. Bahkan Arseno pun tak bisa berpaling menatapnya. Bibir ranum Arseno tampak mengulum senyum tipis. Dalam hati dia me

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 27 - Pijatan untuk Istri Kecil

    Ting! Suara pintu penthouse milik Arseno terbuka. Dengan gagahnya dia berjalan cepat menuju kamar utama setibanya ia di sana. “Di mana Lisa?” tanya Arseno saat melewati ruang tengah, di mana ada Bi Asih dan Bi Santi berada yang sedang membersihkan ruangan tersebut. “Nona muda di kamar utama,

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 25 - Drama di Pagi Hari

    Sinar mentari pagi bersinar cerah menyeruak masuk ke dalam kamar Arseno dan Lisa berada. Lisa terbangun lebih dulu, saat menyadari sekujur tubuhnya sakit akibat permainan Arseno semalam sampai dini hari. Kedua mata Lisa tergelak setelah ia membukanya perlahan. Melihat tubuhnya yang tengah memeluk er

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 24 - Pertemuan Tak Terduga

    “Tunggu apalagi, ayo beli semua barang yang kau suka!” seru Arseno sembari menarik lengan Lisa memasuki toko barang mewah itu. “Eh… t-tunggu,” kilah Lisa gelagapan. Tapi Arseno tak mengindahkan suaranya, pria itu justru langsung membawanya bertemu dengan sales di toko itu.“Selamat datang, Tuan Ar

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status