MasukSetelah menerima cek senilai satu miliar itu, Lisa bergegas untuk pergi ke bank terdekat agar bisa mengambil uang tunai untuk membayar biaya operasi sang nenek. Walau berjalan tertatih-tatih, ia begitu bahagia karena akhirnya neneknya bisa segera mendapatkan perawatan intensif. Namun sayangnya Lisa harus menyerahkan dirinya kepada seorang tuan Arseno.
“Aku harap aku tidak akan pernah bertemu pria itu lagi,” gumamnya seraya berjalan menjauhi area bar & resto itu.
Beberapa menit kemudian, Lisa sampai di sebuah bank nasional. Dengan bermodalkan kartu identitas dan cek bernilai satu miliar itu, Lisa meminta bantuan kepada teller untuk dibuatkan rekening atas nama miliknya supaya uang yang ada di cek tersebut bisa segera dipindahkan.
“Permisi, Kak! Maaf, aku mau buat rekening bank, tapi sebelum itu aku…” ujar Lisa seraya memberikan cek tadi kepada sang teller.
“Sebentar ya, Kak. Saya cek dulu cek nya,” balasnya.
Tiba-tiba…
“Kak, ini uangnya besar sekali. Setelah aku cek, sepertinya Kakak harus bicara langsung dengan atasanku. Mari, Kak.”
“M-memangnya kenapa ya, Kak? Itu kan uang saya, apa saya harus meminta izin dulu pada orang lain?” tanya Lisa kebingungan.
“B-bukan begitu, Kak. Tapi ini nominalnya sangat besar, khawatir kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya. Sebaiknya Kakak diperiksa dulu saja oleh atasan kami.”
“Tapi saya buru-buru, saya hanya ingin mengambil uang dan memindahkan ke rekening saya. Kenapa harus dipersulit seperti ini ya, Kak?” tegas Lisa.
Namun sepertinya para karyawan di bank itu menatap Lisa dengan tatapan remeh, seolah uang yang ada didalam cek tersebut adalah hasil dari transaksi perbuatan terlarang. Mereka tampak tidak mengindahkan kata-kata Lisa. Bahkan ada yang berbicara dengan kata-kata pedas seperti, “dapat uang darimana dia? Kau percaya dia orang kaya? Jangan-jangan dia habis jual diri, makanya langsung dapat uang segini.”
Sudah satu jam Lisa menunggu proses transaksinya, tapi belum juga diproses. Padahal wajahnya sudah terlihat pucat pasi karena sejak semalam ia belum makan, terlebih lagi harus melayani Arseno dari malam sampai pagi. Hal itu membuatnya kehilangan tenaga untuk beraktivitas seperti biasanya.
“Uh … kenapa tubuhku lemas sekali, ya?” batin Lisa.
“Hm, Kak? Sepertinya uang ini tidak bisa diambil. Sebaiknya Kakak konfirmasi dulu kepada pemilik cek ini agar segera diproses transaksinya. Terimakasih!” ujar karyawan teller bank itu setelah satu jam membuat Lisa menunggunya.
“A-apa? K-kenapa tidak bisa? Aku bahkan disuruh mengambil uang ini ke bank, kenapa harus dipersulit begini, Kak?” seka Lisa tak terima.
“Mau bagaimana lagi, Kak? Kami juga tidak berani mengambil uang ini, di sini tertulis nama Arseno Xavior. Kakak tidak tahu siapa orang itu? Tidak mungkin Kakak tidak tahu, beliau adalah orang terkaya sejagat raya. Saya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Kak.”
“A-apa? Tapi kan nama itu yang memberikannya, jadi aku tidak masalah, Kak.”
Keduanya saling berdebat satu sama lain, sampai akhirnya tiba-tiba…
“Selesaikan saja transaksi cek itu, Nona. Perkenalkan, saya Josh, asisten pribadi Tuan Arseno Xavior. Mohon bantuannya.” Josh tiba-tiba saja datang di waktu yang tepat seraya menunjukkan kartu namanya dari perusahaan Tayo Group.
Semua karyawan bank di sana langsung terkejut ketakutan. Bahkan direkturnya pun turut serta menemui Josh untuk meminta maaf atas kejadian tadi.
“M-maafkan pegawai saya, Tuan Josh. Atas segala ketidaknyamanan ini, saya akan memberikan sanksi sebagai gantinya,” ujar Dion. Direktur bank T.
Mereka tidak tahu kalau bank ini adalah milik Arseno juga. Dasar para bedebah!
“Nona Lisa, kita bertemu lagi.” Josh menyapa Lisa tiba-tiba.
“Ah, i-iya, Tuan. B-bagaimana Tuan Josh bisa ada di sini? A-apakah kita kebetulan bertemu?” jawab Lisa gugup. Kedua matanya tampak celingukan mencari keberadaan Arseno, khawatir jika pria itu juga tiba-tiba ikutan muncul setelahnya.
“Nona mencari siapa? Tuan muda sedang istirahat hari ini, dia tidak ikut pergi bersama saya,” sanggah Josh menyadari.
“Ah, i-iya .. kalau begitu terima kasih banyak, Tuan Josh. Tolong sampaikan juga kepada Tuan Arseno, saya sangat berterima kasih kepadanya,” sahut Lisa seraya menundukkan kepalanya.
“Sama-sama, Nona. Ini kartu nama saya, kalau Nona butuh sesuatu, katakan saja. Kalau begitu saya permisi. Mari, Nona!” ucap Josh sambil memberikan kartu namanya kepada Lisa, dan setelahnya ia pergi meninggalkan tempat itu.
“Syukurlah dia tidak datang, aku masih trauma dengan serangannya semalam yang menggila itu,” batin Lisa sambil menatap punggung Josh yang sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
Disisi lain, Arseno yang tengah duduk di apartemen miliknya menerima pesan dari Josh, kalau ia sudah berhasil memberikan kartu namanya pada Lisa. Josh mengatakan kalau Lisa dipersulit saat hendak mengambil uang yang ada didalam cek itu. Arseno menyeringai membayangkan bagaimana tubuh mungil Lisa yang sedang berdiri didepan teller dan mengantre bersama orang-orang dewasa lainnya.
“Haha!” serunya menertawakan. “Mulai sekarang, kau milikku.”
Bagi Arseno, Lisa adalah mainan barunya. Secara khusus ia memperlakukan Lisa sebagai wanita yang berbeda. Mungil, lemah, dan penurut. Itulah yang digambarkan Arseno mengenai Lisa. Dan paling istimewa adalah karena Arseno menjadi pria pertama yang berhasil merenggut miliknya.
Cinta terpanas dan tergila yang pernah Arseno lakukan pada Lisa di malam itu.
…Lisa telah berhasil melunasi biaya operasi sang nenek senilai tiga puluh juta rupiah. Wajahnya berangsur ceria sekarang. Setelah membayar semua biaya rumah sakit itu, Lisa bergegas menemui neneknya yang berada didalam ruang perawatan sebelum operasinya dimulai.
Setibanya ia didepan ruang perawatan neneknya, rupanya sudah ada dokter yang kemarin. Ah, Lisa belum sempat berkenalan dengan dokter itu. Lisa pikir ia harus segera siapa nama dokternya, sebab setelahnya ia akan lebih banyak berinteraksi mengenai perkembangan kesehatan neneknya.
“Apakah Nenek saya sudah bisa segera di operasi, dok? Saya sudah melunasi semua biayanya,” ujar Lisa bertanya.
Pria berbalut masker penutup itu lantas membuka maskernya, “tentu saja. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk Nenekmu,” balasnya seraya tersenyum mengembang.
“Ah, syukurlah. Saya senang mendengarnya. Karena … cuma Nenek yang saya punya sekarang,” lirih Lisa sambil menatap sedu ke arah ranjang rumah sakit itu, tempat di mana Gami sang nenek tengah berbaring lemah dengan kedua mata tertutup.
“Saya pasti akan mengusahakan kemampuan kedokteran saya yang terbaik, bersama dengan profesor saya. Jangan khawatir, kau hanya perlu berdoa agar prosesnya berjalan lancar,” tuturnya membalas seraya tersenyum kecil. Lisa lantas mengangguk pelan. “Kau, siapa namamu? Apakah tidak ada lagi keluarga yang lain?” lanjutnya bertanya.
“Saya Lisa. Hanya saya keluarganya, Nenek telah kehilangan suaminya sejak lama,” sambung Lisa sedu.
“Ah, Lisa ya? Nama yang bagus. Hm … maaf kalau aku membuatmu tersinggung. Aku tidak tahu kalau kalian hanya hidup berdua saja,” sahut dokter muda itu.
“Tidak apa-apa, dok. Hm … dokter masih sangat muda tapi sudah punya profesi hebat,” puji Lisa berusaha mencairkan suasana.
“Hehe, terima kasih, Lis. Ini berkat kerja keras ku dan bantuan kedua orang tuaku yang sangat ingin anaknya menjadi dokter spesialis penyakit dalam,” katanya.
Mendengar itu, kedua bola mata Lisa tampak berbinar kagum. Berbanding terbalik dengannya yang hanya berprofesi sebagai karyawan biasa di perusahaan makanan Tayo Group. Belum lama ia bekerja di sana, dan sama sekali tak ada hal yang bisa dia banggakan selain menerima gaji dan bekerja tanpa henti.
“Wah, dokter hebat. Jarang sekali aku mengenal seseorang yang berprofesi dokter penyakit dalam. Bukankah itu sulit?” balas Lisa.
“Hehe, terima kasih. Lagi-lagi kau memujiku. Memang sulit, tapi aku senang melalui semua tantangannya. Oh ya, bagaimana denganmu? Kesibukanmu apa sekarang?”
“Ah, aku hanya karyawan biasa di perusahaan,” tutur Lisa seadanya.
“Wah, kau juga hebat, Lis. Perusahaan manakah itu?”
“Hm … Tayo Group.”
“Perusahaan makanan terbesar se Asia itu? Disana juga ada temanku, dia sangat arogan dan sedikit menyebalkan,” tutur dokter itu tiba-tiba menceritakan hal lain.
“Berarti dokter punya banyak teman hebat lainnya, ya?”
“Bisa dibilang begitu. Kalau kau?”
“Aku tidak punya teman, dok. Hanya Neneklah temanku,” lirih Lisa menjawab.
“Tapi kau bisa jadi temanku mulai hari ini. Ah, kita belum sempat bersalaman, ya. Perkenalkan, aku dokter Riyan. Senang berkenalan denganmu Lis,” ujar dokter muda itu seraya menyentuh pergelangan tangan Lisa. Keduanya tampak saling bersalaman dengan tatapan ceria.
“T-terima kasih, dok. A-apakah ini tidak berlebihan? Aku kan hanya seorang karyawan biasa, bukan berprofesi sama seperti dokter,” kata Lisa sedu.
“Bagiku siapa saja bisa menjadi teman, Lis. Aku tak memandang seseorang hanya dari profesinya.”
“Hm … begitu, ya.”
“Iya. Oh ya, sudah pukul segini. Kalau begitu aku pamit pergi untuk kembali ke ruanganku. Masalah Nenekmu akan segera ditangani sebentar lagi. Jangan khawatir!” jelas Riyan seraya mengusap punggung Lisa lembut sampai membuat wanita bertubuh mungil itu berdebar hebat karena mendapat perlakuan hangat seperti tadi oleh pria sepertinya.
“Bagaimana rasanya punya suami seperti dokter Riyan? Rasanya pasti sangat bahagia, diperlakukan dengan baik dan hangat. Beruntung sekali yang menjadi istrinya nanti,” gumam Lisa menatap punggung Riyan yang semakin menjauh dari pandangannya.
“Mulai sekarang, kau harus resign dari T Group. Josh sudah mengatur surat pengunduran dirimu. Dan bersiaplah untuk tinggal di penthouse ku mulai sekarang,” titah Arseno berkata setelah keduanya berada didalam mobil. Lisa mengerutkan keningnya sesaat, “apakah harus resign sekarang? Kan masih tahap awal kehamilan, sayang. Aku masih ingin bekerja sebentar dan berpamitan dengan rekan kerjaku,” ujar Lisa tak setuju. Ia “Apa kau sangat ingin bertemu dengan lelaki itu? Bagaimana kau akan menjelaskan itu padanya nanti? Apa seperti ini? Atau begini?” gerutunya seraya mencengkeram lengan Lisa. Hih, bilang saja kau sedang cemburu sekarang. Kenapa harus sampai begitu? Dasar harimau gila ini. “S-sakit…” desis Lisa. Spontan Arseno langsung melepas cengkeramannya. Tapi, mobil yang ia setir itu pun dibawa ke tepi jalan sepi. Setelah ia mengerem mobilnya, Arseno melepaskan seat belt dan… tiba-tiba dia melumat bibir ranum Lisa dengan brutal. Sampai membuat kelinci kecilnya hampir saja kehabis
“Aku … bukankah aku tidak setara dengan Anda? B-bukankah pernikahan Anda s-sudah ditentukan? Kenapa situasinya jadi berubah tiba-tiba?” tutur Lisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Arseno menatapnya lekat, keduanya saling bertatapan dalam diam. Sampai akhirnya pria itu menghela napas dan berkata, “maaf. Maaf untuk perkataanku sebelumnya. Setelah menyadari bahwa aku … tidak bisa jauh tanpamu, Lisa. Saat aku melihatnya lagi, perasaanku sudah berubah. Aku selalu teringat wajahmu,” ujar Arseno seraya merapikan rambut Lisa yang sedikit berantakan dan menyelipkannya ke belakang daun telinganya . “Kau … membuat hidupku berubah, Lisa. Berjanjilah untuk tidak pergi, atau berusaha kabur dan melarikan diri dariku,” lanjutnya lagi. Lisa terdiam agak lama, bulir bening mengalir begitu saja menatap lekat wajah Arseno yang tampak sedu tidak seperti dirinya biasanya. “Jangan menangis. Kalau kau menangis, aku semakin merasa bersalah padamu,” sambung Arseno sembari menyeka air mata Lisa. “Bag
Bukan marah, tapi justru Arseno semakin bertambah bergairah setelah mendengar penuturan Lisa yang berani menentangnya. “Apa? Kau mengatakan apa? Bukan suami istri? Begitukah?” seringainya. Mata elang ya menatap kedua mata Lisa lekat. Glek! Lisa meneguk salivanya, degup jantungnya berdebar cukup hebat. Melihat kondisi yang tiba-tiba berubah tegang setelah ia mengatakan itu pada Arseno. Tapi pria itu semakin melekatnya wajahnya begitu dekat. Sampai tidak menyisakan celah jarak sedikit pun. “A-aku…” Baru membuka mulutnya sedikit, tapi Arseno kembali membungkam bibirnya dengan lumatan. “Hah… hah!” deru napas Lisa terdengar terengah-engah setelah Arseno melepaskan ciumannya. “Kau segitu tidak tahannya ya, untuk menjadi istriku? Bukankah kita sudah melakukannya berulangkali, hm? Apa menurutmu pelayananku kurang memuaskan?” bisiknya seraya mulai menyentuh area sensitif tubuh Lisa, namun segera ditepis olehnya. “J-jangan sekarang, bukankah Anda harus segera pergi ke kantor? Saya
Bab 16 - Status Hubungan yang Jelas “Perutku?” balas Lisa seraya mengerutkan keningnya. “Bukankah tadi kau sempat mual?” tukas Arseno mengingat kejadian sebelumnya. Tangan besarnya meraih tubuh Lisa hingga tidak ada celah jarak diantara keduanya. “A-aku … sudah lebih baik.” “Benarkah? Apa itu berarti kita bisa melanjutkan permainan ini?” ujarnya sembari meraba-raba buah dada Lisa yang hanya tertutupi oleh baju lingerie tipis dan tanpa mengenakan bra. “T-tidak. Aku … aku takut tubuhku tidak kuat melakukannya,” gumam Lisa beralasan. “Hm … padahal aku sangat merindukan berkeringat bersamamu,” imbuh Arseno seraya mengecup lembut kening Lisa agak lama. “Dia masih saja membahas tentang itu, padahal aku masih menunggu jawaban dari sikap anehnya hari ini,” batin Lisa sedu. “Kenapa Anda melakukan ini pada saya?” tutur Lisa setelah berhasil memerangi pikirannya. Jika Lisa tidak berani bertanya, maka dia pun tak akan pernah mendapatkan jawabannya. Sekalipun jawaban yang mengandung
Arseno kembali ke kediaman Lisa setelah menyelesaikan pertemuannya dengan Presdir Han. Setibanya ia di sana, sudah disambut dengan dokter Anita, sekretaris Josh, dan beberapa orang pengawal pribadinya. Arseno langsung menemui Lisa yang saat ini tengah duduk di kamarnya dengan tangan yang sudah berbalut selang infusan. Sekretaris Josh tidak sempat bertanya lebih dulu sebab menatap Arseno yang begitu cemas ingin melihat kondisi Lisa. Grep!! Tiba-tiba Arseno mendekap tubuh Lisa yang masih tampak lemah. Wanita itu agak terkejut kebingungan dengan sikapnya tiba-tiba saja memeluknya yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya. “Apa semuanya berjalan lancar?” ujar Lisa bertanya. Tangan kecilnya memberikan pijatan lembut pada wajah Arseno yang saat ini tengah memeluknya erat. Posisi Lisa yang duduk terlentang dengan tubuh besar Arseno bersandar pada bahunya. “Ya. Kakek menyetujuinya,” jawabnya sambil memejamkan kedua matanya sejenak. “Setuju? Apakah Anda punya permintaan pad
Setelah mendapati telepon dari orang kepercayaan Presdir Han, Arseno pergi meninggalkan Lisa dengan memberikan amanah pada sekretaris Josh untuk menjaganya serta membawakannya dokter agar memeriksa kondisi tubuhnya yang lemah. Tentu saja sekretaris Josh sangat patuh dengan tuannya. Dia bahkan rela berdiam diri berjam-jam di dalam mobil hanya untuk menunggu Arseno keluar dari dalam rumah Lisa. Dan sekarang, pria bermata elang itu sedang berada di perjalanan menuju rumah kediaman utama dengan menyetir mobilnya sendiri. Ia sudah bisa menebaknya maksud dan tujuan kakeknya memintanya untuk datang. Karena sebelumnya ia sempat berdebat dengan Laura. Terlebih lagi Arseno sudah mengusirnya keluar dari ruang kerjanya. Tidak berapa lama kemudian, Arseno tiba di kediaman rumah utama. Pagar besar itu terbuka lebar secara otomatis. Setibanya ia didepan pintu utama, rupanya sudah disambut oleh beberapa pelayan beserta ajudan. Hingga orang kepercayaannya sang kakek pun turut hadir menyambutnya. “







