Share

Bab 2 - Sentuhan Liar

Penulis: Ericka Ghaniya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-27 15:41:06

“Udah tenang aja, Gue liat dia udah mulai keliatan terengah-engah napasnya. Berarti obatnya udah mulai bereaksi, Ben. Lo cepet makanya, lelet banget.”

  “Ini udah selesai. Langsung dibawa aja nih, Lo yang dorong ke atas sana.” 

  Sementara itu, Lisa sudah tiba di lantai empat. Gadis itu pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang dimaksud oleh Reno dan Beni tadi. Kamar 409 adalah kamar VVIP yang sudah disewakan secara khusus oleh kedua pria tadi. 

  Dan sepertinya, obat yang dimasukkan Reno ke dalam minumannya Lisa sudah bereaksi.

  “A-aku kenapa, ya? Kok tiba-tiba saja jadi panas begini? Ah … k-kenapa dengan tubuhku? T-tapi aku harus melayani tuan itu bagaimanapun caranya agar aku bisa melunasi biaya pengobatan nenek,” gumam Lisa seraya berjalan tertatih-tatih untuk bisa segera sampai didepan pintu kamar tersebut.

  Klek!

  Pintu kamar terbuka, Lisa melihat suasana kamar yang tampak sedikit gelap. Penerangan di ruangan itu tidak menyilaukan seperti yang dipancarkan di lantai satu tadi. Benar saja, dua orang pria sudah duduk dengan santai seraya berbincang.

  “P-permisi, Tuan. S-saya yang akan melayani Tuan malam ini. A-ada yang bisa saya bantu?” ujar Lisa hati-hati dengan napas terengah-engah. Kedua pria itu tampak saling pandang satu sama lain.

  “Kau membawakan seorang wanita untukku, Josh?” tanya salah seorang dari pria itu yang sempat dibicarakan tadi, dialah yang bernama Arseno. 

  “I-iya, Tuan. Ini sudah sepaket, membeli cocktail dan ruangan VVIP tentu saja sudah sepaket dengan pelayanan wanitanya. Kalau begitu, saya pamit. Kebetulan masih ada banyak pekerjaan yang menanti saya malam ini. Permisi, Tuan.” Pria bernama Josh itu justru langsung pamit pergi, meninggalkan Lisa berduaan bersama dengan bos nya di ruangan gelap ini.

  Punggung Josh sudah tidak kelihatan setelah pintu itu tertutup. Tersisalah mereka berdua, dan Lisa yang sudah mulai merasa terangsang dengan obatnya tiba-tiba saja menggeliat kepanasan. 

  “Uh … k-kenapa panas sekali di sini?” gumamnya sambil meremas bajunya yang sudah kelihatan berantakan sekarang. 

  Arseno menatapnya dengan tatapan tajam. “Kau sengaja ingin menggodaku, ya?”

  “A-apa? A-aku tidak … ah,” jawab Lisa yang tiba-tiba saja mengeluarkan desahan dari dalam mulutnya.

  “Baiklah, karena kau sudah menggodaku seperti ini. Kau harus bertanggung jawab untuk itu. Layani aku sekarang,” sambung Arseno tanpa mengubah posisi duduknya yang menyilangkan kedua kakinya diatas kursi itu.

  “B-baik, Tuan. A-aku akan mulai menuangkan cocktail ini, lalu makanannya,” balas Lisa polos. Arseno semakin geram melihatnya.

  “Hei, apa kau tidak tahu caranya melayani pria?”

  Deg!

  Lisa baru paham dan sadar setelah Arseno mengatakan itu dengan suara paraunya. Jadi ini yang dimaksud Reno dan Beni tadi. Lisa hampir saja melupakan perkataan Nina sewaktu di telepon.

  “Kau harus melayani pria dewasa di sebuah club malam.”

  “Astaga bodohnya kau, Lisa. Kenapa bisa lupa dengan perkataan Nina,” batin Lisa yang sudah sadar dengan niat awalnya untuk mengambil pekerjaan ini.

  “Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aih, Josh benar-benar salah memilih orang. Baiklah kalau begitu, aku akan pergi. Kau gantilah pekerjaanmu yang lebih baik,” ujar Arseno seraya bergegas untuk bangun dan meninggalkan ruangan itu, tapi…

  “T-tunggu, Tuan!” cegah Lisa menahannya seraya menggenggam tangan Arseno dengan erat.

  “Kau? Apa yang bisa kau-“ perkataan Arseno tiba-tiba terpotong karena Lisa yang langsung menghantam bibirnya dengan ciuman panas. Hal itu membuat Arseno membulatkan kedua matanya.

  “Beri aku kesempatan, Tuan. Aku akan melayanimu dengan baik malam ini,” ucap Lisa terdengar mendesah. Sepertinya obat perangsang itu sudah benar-benar bereaksi sekarang.

  “Kalau aku gagal melayaninya, maka aku tidak bisa membayar biaya pengobatan nenek,” batin Lisa.

  “Lakukanlah sesukamu.” Arseno mempersilakan.

  Ini memang pengalaman yang pertama bagi Lisa, maka ia harus bisa memberikan pelayanan terbaik bagi Arseno. Tapi…

  Lisa mulai menarik dasi Arseno dengan agresif, membuat pria itu terkesima. Satu persatu kancing baju Arseno dibuka oleh Lisa dengan pelan-pelan seraya meraba-raba dada bidangnya yang atletis. Ciuman panas yang ia lakukan pada Arseno begitu brutal. Bukan hanya bibir yang ia kecup, tapi seluruh wajah Arseno, bahkan lehernya yang saat ini ia gigit dengan lembut.

  Tiba-tiba…

  Bruk!

  Arseno menjatuhkan tubuh Lisa ke atas tempat tidur itu. Melihat Lisa yang menggeliat dengan kedua buah dadanya yang sudah terbuka sekarang, Arseno semakin berfantasi liar. Tangan kirinya mulai memainkan puting buah dada kirinya, sementara bibirnya mulai mengulum dan menjilati puting kanannya. Lisa bergelinjang kesenangan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Arseno untuknya.

  “Kau sudah membangunkan dia dari tidurnya, jadi jangan mengeluh kalau kau tidak bisa bangun besok pagi,” bisik Arseno seraya mengecup bibir Lisa lembut.

  “Ah … c-cepat masukan itu, Tuan,” desah Lisa meminta Arseno agar cepat memulai permainan mereka.

  “Aku bahkan belum menikmati seluruh bagian tubuhmu,” balas Arseno menyeringai.

  Arseno mulai melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan oleh Lisa, dan kini tubuh mungil itu sudah polos tanpa sehelai benang pun. Arseno meneguk salivanya melihat tubuh Lisa yang begitu seksi dan menggoda.

  “Jangan salahkan aku kalau tubuhmu akan banyak meninggalkan bekas jejakku,” bisik Arseno di telinga Lisa. Gadis itu hanya diam seraya mengeluarkan desahan yang membuat Arseno kegilaan.

  Arseno mulai mengecupi kedua kaki Lisa yang jenjang, lalu turun perlahan ke bagian pangkal paha. Sampai akhirnya ia berada di titik inti dari bagian seluruh tubuhnya. Arseno menenggelamkan kepalanya dibagian inti tubuh itu. Bibirnya mulai bermain di area intim itu. Kecupan serta jilatan ia lakukan untuk memenuhi orgasme Lisa. 

  “Ah … s-sudah … t-tolong,” Lisa mendesah seraya menarik rambut Arseno lebih dalam lagi. Pria itu melirik sekilas wajah Lisa dari bawah sana.

  Kini giliran Arseno yang membuka seluruh pakaiannya. Kedua orang itu sama-sama tidak lagi mengenakan sehelai kain pun di tubuh masing-masing. Arseno kembali memainkan puting Lisa yang tengah menegang saat ini. Sebelum memasuki area lebih dalam lagi, Arseno memainkan inti tubuh Lisa dengan sebelah jari tangannya.

  Tangan Arseno begitu lincah menyentuh dan menggesek bagian intim itu. Ia memutarnya dan menggeseknya dengan cepat sampai orgasme Lisa yang memuncak.

  “Ah … sayang … aku … ah … tidak … sayang,” gumam Lisa dengan kedua mata terpejam.

  Arseno tersenyum menyeringai saat Lisa memanggilnya dengan sebutan sayang itu, justru ia semakin senang bermain lama di area itu. Dan kini, sebuah benda miliknya juga sudah mengeras. Arseno mengusapnya lembut sebelum akhirnya benda tersebut masuk ke dalam bagian inti tubuh Lisa.

  “Aw … s-sakit, t-tolong pelan-pelan, sayang. Aku … aku takut,” lirih Lisa tampak begitu kesakitan.

  Arseno membelalak, “kau … masih virgin? Jadi ini yang pertama untukmu?” tanya Arseno tak percaya. Lisa mengangguk mengiyakan.

  “I-iya, Tuan. S-saya mohon … lakukanlah dengan pelan-pelan,” pinta Lisa. 

  Mendengar itu, Arseno bukan malah menghentikan permainannya. Ia justru semakin senang dibuatnya. Tapi…

  “Jangan panggil aku Tuan.”

  “L-lalu … saya harus memanggilnya apa?”

  “Panggilan yang kau sebut tadi,” bisik Arseno sambil mengulum lembut bibir Lisa yang basah. 

  “Ah … s-sayang?” tanya Lisa hati-hati.

  “Sebut lagi..”

  “Sayang,”

  “Lagi.”

  “Sayang.”

  “Lebih keras.”

  “Sayangku … ah,”

  “Kau membuatku gila.”

  Malam itu semakin panas. Arseno begitu gagah dan perkasa. Ia bahkan melakukannya berkali-kali sampai pagi. Tidak merasa kasihan pada Lisa yang tubuhnya sudah lemas tak bertenaga, Arseno justru semakin gila dan brutal. Kecupan demi kecupan berubah semakin liar. Dan cairan yang keluar dari dalam inti tubuh Lisa disertai dengan warna kemerahan.

  Ya. Lisa telah berhasil melepaskan keperawanannya. Untuk pria bernama Arseno Xavior.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 19 - Posesif

    “Mulai sekarang, kau harus resign dari T Group. Josh sudah mengatur surat pengunduran dirimu. Dan bersiaplah untuk tinggal di penthouse ku mulai sekarang,” titah Arseno berkata setelah keduanya berada didalam mobil. Lisa mengerutkan keningnya sesaat, “apakah harus resign sekarang? Kan masih tahap awal kehamilan, sayang. Aku masih ingin bekerja sebentar dan berpamitan dengan rekan kerjaku,” ujar Lisa tak setuju. Ia “Apa kau sangat ingin bertemu dengan lelaki itu? Bagaimana kau akan menjelaskan itu padanya nanti? Apa seperti ini? Atau begini?” gerutunya seraya mencengkeram lengan Lisa. Hih, bilang saja kau sedang cemburu sekarang. Kenapa harus sampai begitu? Dasar harimau gila ini. “S-sakit…” desis Lisa. Spontan Arseno langsung melepas cengkeramannya. Tapi, mobil yang ia setir itu pun dibawa ke tepi jalan sepi. Setelah ia mengerem mobilnya, Arseno melepaskan seat belt dan… tiba-tiba dia melumat bibir ranum Lisa dengan brutal. Sampai membuat kelinci kecilnya hampir saja kehabis

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 18 - Status Baru

    “Aku … bukankah aku tidak setara dengan Anda? B-bukankah pernikahan Anda s-sudah ditentukan? Kenapa situasinya jadi berubah tiba-tiba?” tutur Lisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Arseno menatapnya lekat, keduanya saling bertatapan dalam diam. Sampai akhirnya pria itu menghela napas dan berkata, “maaf. Maaf untuk perkataanku sebelumnya. Setelah menyadari bahwa aku … tidak bisa jauh tanpamu, Lisa. Saat aku melihatnya lagi, perasaanku sudah berubah. Aku selalu teringat wajahmu,” ujar Arseno seraya merapikan rambut Lisa yang sedikit berantakan dan menyelipkannya ke belakang daun telinganya . “Kau … membuat hidupku berubah, Lisa. Berjanjilah untuk tidak pergi, atau berusaha kabur dan melarikan diri dariku,” lanjutnya lagi. Lisa terdiam agak lama, bulir bening mengalir begitu saja menatap lekat wajah Arseno yang tampak sedu tidak seperti dirinya biasanya. “Jangan menangis. Kalau kau menangis, aku semakin merasa bersalah padamu,” sambung Arseno sembari menyeka air mata Lisa. “Bag

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 17 - Mimpi yang Menjadi Nyata

    Bukan marah, tapi justru Arseno semakin bertambah bergairah setelah mendengar penuturan Lisa yang berani menentangnya. “Apa? Kau mengatakan apa? Bukan suami istri? Begitukah?” seringainya. Mata elang ya menatap kedua mata Lisa lekat. Glek! Lisa meneguk salivanya, degup jantungnya berdebar cukup hebat. Melihat kondisi yang tiba-tiba berubah tegang setelah ia mengatakan itu pada Arseno. Tapi pria itu semakin melekatnya wajahnya begitu dekat. Sampai tidak menyisakan celah jarak sedikit pun. “A-aku…” Baru membuka mulutnya sedikit, tapi Arseno kembali membungkam bibirnya dengan lumatan. “Hah… hah!” deru napas Lisa terdengar terengah-engah setelah Arseno melepaskan ciumannya. “Kau segitu tidak tahannya ya, untuk menjadi istriku? Bukankah kita sudah melakukannya berulangkali, hm? Apa menurutmu pelayananku kurang memuaskan?” bisiknya seraya mulai menyentuh area sensitif tubuh Lisa, namun segera ditepis olehnya. “J-jangan sekarang, bukankah Anda harus segera pergi ke kantor? Saya

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 16 - Lihat Aku Seorang

    Bab 16 - Status Hubungan yang Jelas “Perutku?” balas Lisa seraya mengerutkan keningnya. “Bukankah tadi kau sempat mual?” tukas Arseno mengingat kejadian sebelumnya. Tangan besarnya meraih tubuh Lisa hingga tidak ada celah jarak diantara keduanya. “A-aku … sudah lebih baik.” “Benarkah? Apa itu berarti kita bisa melanjutkan permainan ini?” ujarnya sembari meraba-raba buah dada Lisa yang hanya tertutupi oleh baju lingerie tipis dan tanpa mengenakan bra. “T-tidak. Aku … aku takut tubuhku tidak kuat melakukannya,” gumam Lisa beralasan. “Hm … padahal aku sangat merindukan berkeringat bersamamu,” imbuh Arseno seraya mengecup lembut kening Lisa agak lama. “Dia masih saja membahas tentang itu, padahal aku masih menunggu jawaban dari sikap anehnya hari ini,” batin Lisa sedu. “Kenapa Anda melakukan ini pada saya?” tutur Lisa setelah berhasil memerangi pikirannya. Jika Lisa tidak berani bertanya, maka dia pun tak akan pernah mendapatkan jawabannya. Sekalipun jawaban yang mengandung

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 15 - Kabar Baik yang Dirahasiakan

    Arseno kembali ke kediaman Lisa setelah menyelesaikan pertemuannya dengan Presdir Han. Setibanya ia di sana, sudah disambut dengan dokter Anita, sekretaris Josh, dan beberapa orang pengawal pribadinya. Arseno langsung menemui Lisa yang saat ini tengah duduk di kamarnya dengan tangan yang sudah berbalut selang infusan. Sekretaris Josh tidak sempat bertanya lebih dulu sebab menatap Arseno yang begitu cemas ingin melihat kondisi Lisa. Grep!! Tiba-tiba Arseno mendekap tubuh Lisa yang masih tampak lemah. Wanita itu agak terkejut kebingungan dengan sikapnya tiba-tiba saja memeluknya yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya. “Apa semuanya berjalan lancar?” ujar Lisa bertanya. Tangan kecilnya memberikan pijatan lembut pada wajah Arseno yang saat ini tengah memeluknya erat. Posisi Lisa yang duduk terlentang dengan tubuh besar Arseno bersandar pada bahunya. “Ya. Kakek menyetujuinya,” jawabnya sambil memejamkan kedua matanya sejenak. “Setuju? Apakah Anda punya permintaan pad

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 14 - Keputusan Arseno

    Setelah mendapati telepon dari orang kepercayaan Presdir Han, Arseno pergi meninggalkan Lisa dengan memberikan amanah pada sekretaris Josh untuk menjaganya serta membawakannya dokter agar memeriksa kondisi tubuhnya yang lemah. Tentu saja sekretaris Josh sangat patuh dengan tuannya. Dia bahkan rela berdiam diri berjam-jam di dalam mobil hanya untuk menunggu Arseno keluar dari dalam rumah Lisa. Dan sekarang, pria bermata elang itu sedang berada di perjalanan menuju rumah kediaman utama dengan menyetir mobilnya sendiri. Ia sudah bisa menebaknya maksud dan tujuan kakeknya memintanya untuk datang. Karena sebelumnya ia sempat berdebat dengan Laura. Terlebih lagi Arseno sudah mengusirnya keluar dari ruang kerjanya. Tidak berapa lama kemudian, Arseno tiba di kediaman rumah utama. Pagar besar itu terbuka lebar secara otomatis. Setibanya ia didepan pintu utama, rupanya sudah disambut oleh beberapa pelayan beserta ajudan. Hingga orang kepercayaannya sang kakek pun turut hadir menyambutnya. “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status