Mag-log in“Udah tenang aja, Gue liat dia udah mulai keliatan terengah-engah napasnya. Berarti obatnya udah mulai bereaksi, Ben. Lo cepet makanya, lelet banget.”
“Ini udah selesai. Langsung dibawa aja nih, Lo yang dorong ke atas sana.” Sementara itu, Lisa sudah tiba di lantai empat. Gadis itu pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang dimaksud oleh Reno dan Beni tadi. Kamar 409 adalah kamar VVIP yang sudah disewakan secara khusus oleh kedua pria tadi. Dan sepertinya, obat yang dimasukkan Reno ke dalam minumannya Lisa sudah bereaksi. “A-aku kenapa, ya? Kok tiba-tiba saja jadi panas begini? Ah … k-kenapa dengan tubuhku? T-tapi aku harus melayani tuan itu bagaimanapun caranya agar aku bisa melunasi biaya pengobatan nenek,” gumam Lisa seraya berjalan tertatih-tatih untuk bisa segera sampai didepan pintu kamar tersebut. Klek! Pintu kamar terbuka, Lisa melihat suasana kamar yang tampak sedikit gelap. Penerangan di ruangan itu tidak menyilaukan seperti yang dipancarkan di lantai satu tadi. Benar saja, dua orang pria sudah duduk dengan santai seraya berbincang. “P-permisi, Tuan. S-saya yang akan melayani Tuan malam ini. A-ada yang bisa saya bantu?” ujar Lisa hati-hati dengan napas terengah-engah. Kedua pria itu tampak saling pandang satu sama lain. “Kau membawakan seorang wanita untukku, Josh?” tanya salah seorang dari pria itu yang sempat dibicarakan tadi, dialah yang bernama Arseno. “I-iya, Tuan. Ini sudah sepaket, membeli cocktail dan ruangan VVIP tentu saja sudah sepaket dengan pelayanan wanitanya. Kalau begitu, saya pamit. Kebetulan masih ada banyak pekerjaan yang menanti saya malam ini. Permisi, Tuan.” Pria bernama Josh itu justru langsung pamit pergi, meninggalkan Lisa berduaan bersama dengan bos nya di ruangan gelap ini. Punggung Josh sudah tidak kelihatan setelah pintu itu tertutup. Tersisalah mereka berdua, dan Lisa yang sudah mulai merasa terangsang dengan obatnya tiba-tiba saja menggeliat kepanasan. “Uh … k-kenapa panas sekali di sini?” gumamnya sambil meremas bajunya yang sudah kelihatan berantakan sekarang. Arseno menatapnya dengan tatapan tajam. “Kau sengaja ingin menggodaku, ya?” “A-apa? A-aku tidak … ah,” jawab Lisa yang tiba-tiba saja mengeluarkan desahan dari dalam mulutnya. “Baiklah, karena kau sudah menggodaku seperti ini. Kau harus bertanggung jawab untuk itu. Layani aku sekarang,” sambung Arseno tanpa mengubah posisi duduknya yang menyilangkan kedua kakinya diatas kursi itu. “B-baik, Tuan. A-aku akan mulai menuangkan cocktail ini, lalu makanannya,” balas Lisa polos. Arseno semakin geram melihatnya. “Hei, apa kau tidak tahu caranya melayani pria?” Deg! Lisa baru paham dan sadar setelah Arseno mengatakan itu dengan suara paraunya. Jadi ini yang dimaksud Reno dan Beni tadi. Lisa hampir saja melupakan perkataan Nina sewaktu di telepon. “Kau harus melayani pria dewasa di sebuah club malam.” “Astaga bodohnya kau, Lisa. Kenapa bisa lupa dengan perkataan Nina,” batin Lisa yang sudah sadar dengan niat awalnya untuk mengambil pekerjaan ini. “Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aih, Josh benar-benar salah memilih orang. Baiklah kalau begitu, aku akan pergi. Kau gantilah pekerjaanmu yang lebih baik,” ujar Arseno seraya bergegas untuk bangun dan meninggalkan ruangan itu, tapi… “T-tunggu, Tuan!” cegah Lisa menahannya seraya menggenggam tangan Arseno dengan erat. “Kau? Apa yang bisa kau-“ perkataan Arseno tiba-tiba terpotong karena Lisa yang langsung menghantam bibirnya dengan ciuman panas. Hal itu membuat Arseno membulatkan kedua matanya. “Beri aku kesempatan, Tuan. Aku akan melayanimu dengan baik malam ini,” ucap Lisa terdengar mendesah. Sepertinya obat perangsang itu sudah benar-benar bereaksi sekarang. “Kalau aku gagal melayaninya, maka aku tidak bisa membayar biaya pengobatan nenek,” batin Lisa. “Lakukanlah sesukamu.” Arseno mempersilakan. Ini memang pengalaman yang pertama bagi Lisa, maka ia harus bisa memberikan pelayanan terbaik bagi Arseno. Tapi… Lisa mulai menarik dasi Arseno dengan agresif, membuat pria itu terkesima. Satu persatu kancing baju Arseno dibuka oleh Lisa dengan pelan-pelan seraya meraba-raba dada bidangnya yang atletis. Ciuman panas yang ia lakukan pada Arseno begitu brutal. Bukan hanya bibir yang ia kecup, tapi seluruh wajah Arseno, bahkan lehernya yang saat ini ia gigit dengan lembut. Tiba-tiba… Bruk! Arseno menjatuhkan tubuh Lisa ke atas tempat tidur itu. Melihat Lisa yang menggeliat dengan kedua buah dadanya yang sudah terbuka sekarang, Arseno semakin berfantasi liar. Tangan kirinya mulai memainkan buah dada kirinya, sementara bibirnya bermain di area kanannya. Lisa bergelinjang kesenangan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Arseno untuknya. “Kau sudah membangunkan dia dari tidurnya, jadi jangan mengeluh kalau kau tidak bisa bangun besok pagi,” bisik Arseno seraya mengecup bibir Lisa lembut. “Ah … c-cepat masukan itu, Tuan,” desah Lisa meminta Arseno agar cepat memulai permainan mereka. “Aku bahkan belum menikmati seluruh bagian tubuhmu,” balas Arseno menyeringai. Arseno mulai melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan oleh Lisa, dan kini tubuh mungil itu sudah polos tanpa sehelai benang pun. Arseno meneguk salivanya melihat tubuh Lisa yang begitu seksi dan menggoda. “Jangan salahkan aku kalau tubuhmu akan banyak meninggalkan bekas jejakku,” bisik Arseno di telinga Lisa. Gadis itu hanya diam seraya mengeluarkan desahan yang membuat Arseno kegilaan. Arseno mulai mengecupi kedua kaki Lisa yang jenjang, lalu turun perlahan ke bagian pangkal paha. Sampai akhirnya ia berada di titik inti dari bagian seluruh tubuhnya. Arseno menenggelamkan kepalanya dibagian inti tubuh itu. Bibirnya mulai bermain di area intim itu. Kecupan serta jilatan ia lakukan untuk memenuhi orgasme Lisa. “Ah … s-sudah … t-tolong,” Lisa mendesah seraya menarik rambut Arseno lebih dalam lagi. Pria itu melirik sekilas wajah Lisa dari bawah sana. Kini giliran Arseno yang membuka seluruh pakaiannya. Kedua orang itu sama-sama tidak lagi mengenakan sehelai kain pun di tubuh masing-masing. Arseno kembali memainkan puting Lisa yang tengah menegang saat ini. Sebelum memasuki area lebih dalam lagi, Arseno memainkan inti tubuh Lisa dengan sebelah jari tangannya. Tangan Arseno begitu lincah menyentuh dan menggesek bagian intim itu. Ia memutarnya dan menggeseknya dengan cepat sampai orgasme Lisa yang memuncak. “Ah … sayang … aku … ah … tidak … sayang,” gumam Lisa dengan kedua mata terpejam. Arseno tersenyum menyeringai saat Lisa memanggilnya dengan sebutan sayang itu, justru ia semakin senang bermain lama di area itu. Dan kini, sebuah benda miliknya juga sudah mengeras. Arseno mengusapnya lembut sebelum akhirnya benda tersebut masuk ke dalam bagian inti tubuh Lisa. “Aw … s-sakit, t-tolong pelan-pelan, sayang. Aku … aku takut,” lirih Lisa tampak begitu kesakitan. Arseno membelalak, “kau … masih virgin? Jadi ini yang pertama untukmu?” tanya Arseno tak percaya. Lisa mengangguk mengiyakan. “I-iya, Tuan. S-saya mohon … lakukanlah dengan pelan-pelan,” pinta Lisa. Mendengar itu, Arseno bukan malah menghentikan permainannya. Ia justru semakin senang dibuatnya. Tapi… “Jangan panggil aku Tuan.” “L-lalu … saya harus memanggilnya apa?” “Panggilan yang kau sebut tadi,” bisik Arseno sambil mengulum lembut bibir Lisa yang basah. “Ah … s-sayang?” tanya Lisa hati-hati. “Sebut lagi..” “Sayang,” “Lagi.” “Sayang.” “Lebih keras.” “Sayangku … ah,” “Kau membuatku gila.” Malam itu semakin panas. Arseno begitu gagah dan perkasa. Ia bahkan melakukannya berkali-kali sampai pagi. Tidak merasa kasihan pada Lisa yang tubuhnya sudah lemas tak bertenaga, Arseno justru semakin gila dan brutal. Kecupan demi kecupan berubah semakin liar. Dan cairan yang keluar dari dalam inti tubuh Lisa disertai dengan warna kemerahan. Ya. Lisa telah berhasil melepaskan keperawanannya. Untuk pria bernama Arseno Xavior.Ting! Sebuah notifikasi di ponsel Arseno muncul. Nama Laura terpapar di sana dengan jelas. “Avi, aku tahu aku salah. Aku minta maaf padamu dan aku janji akan menghilangkan diri untuk tidak lagi mengganggu hidupmu dengan wanita barumu. Tapi… bisakah kita bertemu untuk yang terakhir kalinya? Kumohon, untuk kali ini janji akan pergi dan melanjutkan hidupku yang baru di Amerika. Tolong temui aku di langham resto sekarang.” Pesan itu. Arseno membacanya sejenak. Hembusan napasnya terdengar memanjang untuk sekilas. “Apa lagi yang dia inginkan?” gumam Arseno berdecak. Di dalam kursi mobilnya, Arseno menancapkan gas mobil itu dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa pikiran Arseno yang sedari awal memikirkan Lisa, tiba-tiba Laura mengganggu pikirannya yang berniat untuk segera kembali ke rumah. Beberapa menit setelahnya, mobil Arseno terparkir di area basement. Sebuah hotel bintang sepuluh begitu megah dan tinggi menjulang itu menjadi sorotan pertama saat Arseno mendatangi tempa
Pagi yang cerah untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Arseno terbangun mendahului Lisa. Sebelum berangkat, tak lupa ia mencium kening dan bibir ranum istri kecilnya. Sayangnya, pria itu tampaknya begitu terburu-buru untuk menghadiri rapat pagi ini. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi sekarang, Lisa terbangun dari tidur panjangnya. “Hoam… hm… sudah pergi ya?” gumam Lisa melihat Arseno yang tak ada di sebelahnya. Kaki panjangnya menapaki lantai beralaskan karpet cokelat itu. Lisa berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Kenop pintu terbuka. Rupanya disana sudah ada Bi Asih dan Bu Santi yang telah menyiapkan sarapan pagi untuknya. “Selamat pagi, Nona muda. Tuan muda sudah berangkat sejak pagi. Tuan menitip pesan agar dibuatkan sarapan sandwich dan susu untuk Nona setelah Nona terbangun nanti. Karena Nona muda sudah bangun, sarapannya akan saya panaskan lebih dulu untuk Nona,” ujar Bi Asih menyapa Lisa dengan hangat. Lisa tersentuh mendengarnya. Betapa bahagia
“Kalau begitu saya pamit, Tuan muda.” Sekretaris Josh berkata demikian setelah mengantar Arseno dan Lisa tiba dengan selamat di penthouse mereka. “Hem.” Hanya suara deheman yang terdengar dari mulutnya. Arseno langsung berjalan menuju kamar utama seraya masih menggendong Lisa ala bridal style dan merebahkan tubuh kecilnya diatas ranjang. Lisa menggeliat ketika tubuhnya menyentuh sprei putih itu. Spontan kedua matanya terbuka secara perlahan. “Engh… kita di mana, sayang?” gumam Lisa masih setengah sadar. Arseno yang masih berdiri mematung sontak ikut duduk mendekatinya. “Di rumah. Kau tertidur pulas sekali tadi. Aku takut membuatmu terkejut, jadi ku biarkan saja kau tertidur sampai sini,” ujar Arseno sembari menyeka anak rambut Lisa yang menutupi wajahnya. “Benarkah? Apa aku tertidur sambil berjalan sampai kesini sayang?” ucap Lisa mengigau. Arseno terkekeh mendengarnya. Detik kemudian pria itu mengecup keningnya tiba-tiba. Cup! “Coba tebak, bagaimana aku bisa memb
Mungkin itulah sebabnya mengapa ia bisa dijuluki sebagai raja singa dulu. Karena lebih besar rasa trauma dan kehilangan yang ia terima untuk melupakan seseorang yang benar-benar ia cinta. “Ya, Nenek memang sangat cantik. Tapi sayang sekali beliau harus menikahi orang seperti Kakek.” “Hei, anak nakal. Berani sekali kau meremehkan ku,” sungut Presdir Han sambil menepak bahu Arseno dengan tongkat kayunya. Plak! “Awh, Kakek ini tidak bisa diajak bercanda ya. Digoda sedikit saja sudah marah,” ungkap Arseno menggerutu. “Apanya yang kau maksud bercanda itu, wahai anak muda? Memang kau saja yang nakal karena meledek orang tua.” Arseno berdecih sekilas, dasar orang tua kolot ini,” gumamnya tak terdengar oleh beliau. Tapi… “Apa yang kau umpat barusan, hah? Jangan-jangan kau mengumpat ku dengan sebutan binatang, kan?” kilah Presdir Han tidak terima. Arseno merasa kalau pertemuan mereka saat ini sudah terlalu lama. Ia pun beranjak bangun dari kursi itu. “Nanti saja lagi Kakek mencerama
Saat Arseno dan Lisa hendak untuk pergi meninggalkan kediaman rumah utama, tiba-tiba mereka diberhentikan oleh Pak Gem. Sekadar informasi, Pak Gem adalah kepala pelayan di kediaman utama yang sudah bekerja puluhan tahun dan mengabdi pada Presdir Han. “Tuan muda tunggu sebentar,” panggil Pak Gem terlihat berlarian kecil yang datang dari arah dapur menghampiri Arseno maupun Lisa. “Ada apa Pak Gem?” sahut Arseno sungkan. “Anu… Tuan… Presdir Han bilang sebelum Tuan muda pergi meninggalkan kediaman ini, Tuan muda harus ke ruang kerjanya,” tutur Pak Gem. Arseno sontak beralih menatap Lisa. Wanita itu lantas mengangguk mengiyakan. “Aku akan menunggu di mobil,” ucap Lisa seraya mengelus dada bidang Arseno lembut. “Hanya itu saja yang kau berikan?” Arseno mendengus pelan. Wajahnya datar tanpa senyuman. Untungnya Lisa cukup peka sekarang, apa yang sedang Arseno inginkan darinya. Detik kemudian dia pun berjinjit dan mendekatkan dirinya pada suaminya. Cup! Satu kecupan manis Lisa
“Arseno, jelaskan ini pada Kakek.” Presdir Han berkata dengan suara parau. Arseno justru bersedih sebal. Melihat reaksi dari kakeknya yang juga tak begitu menyukai Lisa di perjamuan ini. “Presdir Han, bukankah Anda selalu menepati janji? Kenapa Anda tiba-tiba mengingkari sesuatu yang sudah tertulis dalam kesepakatan kita?” tangkas Arseno dingin. Presdir Han sontak terdiam. Tiba-tiba aura di ruang makan itu langsung berubah dingin dan tegang. Melihat perdebatan di keluarga ini, Lisa lantas melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arseno. Tangannya justru meremas erat gaun dress yang ia kenakan pada tubuhnya. Laura yang melihat reaksi Lisa begitu gugup dan lesu karena tidak mendapatkan penerimaan di keluarga T Group terlihat terkekeh puas. Wanita itu bahkan meneguk minuman yang ada didepannya dengan santai. Greppp!! Tapi tiba-tiba Arseno meraih pergelangan tangan Lisa lagi. Genggaman tangannya kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Kau… baiklah. Perjuanganmu membangun
“Tunggu apalagi, ayo beli semua barang yang kau suka!” seru Arseno sembari menarik lengan Lisa memasuki toko barang mewah itu. “Eh… t-tunggu,” kilah Lisa gelagapan. Tapi Arseno tak mengindahkan suaranya, pria itu justru langsung membawanya bertemu dengan sales di toko itu.“Selamat datang, Tuan Ar
Bab 23 - Maafkan Aku Lisa Arseno tergelak ketika mendapati Lisa menangis sedu karena gertakan nya yang tanpa sengaja membuatnya takut. Spontan pria berdarah dingin itu pun menarik tubuh kecil Lisa ke dalam dekapannya. Tapi kelinci kecil itu justru semakin terenyuh dan terisak dengan tubuh yang gem
Selama di perjalanan menuju kembali ke penthouse, Lisa justru asyik menikmati rujak buah miliknya. Arseno yang melihatnya sesekali melalui kaca spion tampak tenang. Senyum tipisnya mengukir pada bibir ranumnya. “Bagaimana rasanya?” tanya Arseno. “Rasanya nano nano.” Arseno mengerutkan kening
“S-sayang… t-tiba-tiba aku ingin makan rujak buah,” ujar Lisa seraya mengalihkan pandangannya. “Rujak buah? Apa itu rujak buah?” Arseno mengernyit tak paham.“Ah, aku lupa kalau dia orang kaya. Mana mungkin dia tahu jajanan pinggir jalan begitu ya,” gumam Lisa dalam hati terkekeh.“Apa yang kau pi







