เข้าสู่ระบบBab 6 - Membangkitkan Hasrat
“Terima saja, Lis. Ini kesempatanmu untuk mendapatkan promosi,” bisik Bu Oca memberikan saran.“S-saya,” jawab Lisa gugup. Tangannya sudah gemetar sekarang, dan meremas rok yang ia kenakan.
“Kalau sudah berubah pikiran, datanglah ke ruanganku. Aku tunggu sampai 3 sore,” ujar Arseno tiba-tiba memberikan keputusan seraya menyeringai menatap Lisa yang saat ini menunduk ketakutan.
“Ah, baik, Pak direktur. Kalau begitu terima kasih atas kerjasamanya. Mohon bantuannya ya Pak,” seka Bu Oca mengakhiri percakapan mereka.
Arseno pergi tanpa berkata lagi, diikuti sekretaris Josh dan beberapa ajudan dibelakangnya. Kepergiannya menimbulkan kehebohan di ruang tim kerja Aman 5. Terutama Jeje, lagi-lagi ia berteriak heboh karena tak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Arseno. Pria yang sangat berpengaruh di perusahaan ini.
“Wah, beruntung banget kamu, Lis. Pak direktur sepertinya menyukai desain yang kau buat. Mungkin tahun ini kau akan mendapatkan promosi dari perusahaan untuk kenaikan posisi jabatan dan kenaikan gaji,” gumam Lolly yang meja kerjanya bersebelahan dengan Lisa.
“T-terima kasih, Ly. Aku juga tidak tahu kalau desain ku disukai oleh beliau. Tapi sepertinya aku akan menolak tawarannya,” tukas Lisa tanpa berpikir panjang. Sontak membuat semua orang yang ada di ruang kerja tim itu tercengang.
“HAH? KAMU SERIUS, LIS? Ini kesempatan besar untukmu,” cetus Lolly tak terima.
“Lis, kamu gak apa-apa? Bagaimanapun ini bukan hal yang mudah untuk mendapat perhatian dari Pak direktur,” sambung Bu Oca mengingatkan.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya merasa ini terlalu cepat untuk saya,” katanya seraya tersenyum tipis.
“Lis, aku selalu dukung apapun yang kamu lakukan,” papar Zain menyemangati.
“Lisa ini terlalu sungkan sekali, sih. Kalau Pak direktur menawarkan itu padaku, aku langsung datang ke ruang kerjanya sekarang,” gerutu Jeje tak terima.
“Memang terlalu cepat mendapatkan promosi untuk karyawan kontrak baru. Tapi bukankah itu juga termasuk prestasi untukmu?” timbrung Evita yang tiba-tiba ikut ke dalam obrolan mereka.
“Betul, saya juga sangat menyayangkan kalau kau menolaknya, Lis. Karena tim kita belum pernah ada yang mendapatkan tawaran promosi dari perusahaan. Ayolah, Lis. Jangan tolak kesempatan ini,” bujuk Bu Oca sambil menatap Lisa dengan penuh harap.
Memang sebelum Lisa masuk ke perusahaan ini, tim kerja aman 5 belum pernah ada yang mendapat kesempatan promosi dari perusahaan. Namun dua bulan belakangan, Lisa datang sebagai karyawan kontrak selama tiga tahun untuk menempati tim aman 5 sebagai desainer. Berkat kerja keras serta bakat yang ia punya, Lisa berhasil memasuki perusahaan ini.
“Ayolah, Lis. Kapan lagi kamu dapat kesempatan emas ini? Aku saja yang sudah bekerja satu tahun belum pernah dapat promosi dari perusahaan,” kilah Lolly.
“Hei, kau itu baru satu tahun. Aku sudah lima tahun bekerja di sini, tapi Pak direktur belum pernah melirikku sebagai pegawai setianya. Huhu!” rengek Jeje.
“Kau juga baru lima tahun, saya sudah mengabdikan diri di sini sepuluh tahun,” timpal Bu Oca. Jeje langsung membungkam mulutnya dengan sebelah tangan kanannya.
“Ayo lah, Lis. Ini bukan hanya untukmu, tapi untuk tim kita juga,” bujuk Lolly sembari menampilkan wajahnya yang berkaca-kaca.
“Aku selalu dukung apa yang menjadi keputusanmu, Lis,” tutur Zain tak memaksanya.
“Hei, Zain. Kau kalau punya perasaan bilang saja pada Lisa, jangan selalu hanya menyemangati begitu,” sindir Jeje tiba-tiba.
Mendengar itu, Zain langsung kelabakan dengan menyibukkan dirinya sendiri. Namun Lis tampak biasa saja, karena ia sendiri sudah mengetahui hal itu. Lolly tampak membungkam kedua mulutnya tak menyangka.
“Hah, Zain? Kau serius? Wah, sepertinya akan ada pasangan baru di tim kerja aman 5,” celoteh Lolly mendukung.
“Uhuk! Uhuk!” deham Zain tiba-tiba.
“Kalau aku tolak, ini akan menjadi masalah untuk tim kerjaku. Tapi kalau aku terima, aku tak yakin pria itu akan diam saja,” batin Lisa cemas.
“Sania, kau diam saja sejak tadi? Apakah dokumen yang direvisi sudah selesai?” ungkap Bu Oca melirik pegawai baru itu. Kebetulan dia baru masuk sebelum Lisa datang ke perusahaan ini.
“T-tunggu sebentar, Bu kepala. Sedikit lagi akan selesai,” keluhnya menyahuti. Bu Oca hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
“Dia itu sebenarnya bisa tidak, sih? Kinerjanya tidak pernah berubah sampai sekarang,” sindir Jeje tak sungkan. Sania yang mendengar ucapan itu tampak mengubah raut wajahnya.
“Kau juga Jeje, tidak boleh asal bicara. Mana dokumen yang saya pinta tadi? Sudah selesai belum?” cicit Bu Oca mengingatkan kembali.
“Sudah dong, Bu. Ini,” balas Jeje seraya menyerahkan dokumen yang sudah direvisi.
“Hm… bagus. Tapi tetap masih ada yang kurang. Entahlah bagian mana yang kurang. Coba Lolly dan Zain bantu saya untuk mengecek lagi dokumen revisian Jessica,” titah Bu Oca meminta bantuan pada Zain dan Lolly.
“Baik, Bu kepala. Serahkan semuanya pada kami,” timpal Zain.
“Jadi, bagaimana keputusanmu, Lis? Apakah kamu sudah berubah pikiran?” imbuh Bu Oca kembali membujuk Lisa dengan pertanyaan yang sama.
“Hm … s-sudah, Bu.”
“Lalu apa jawabannya?”
“Setelah saya pertimbangkan, saya … saya akan mencoba menerima tawaran itu,” tutur Lisa yakin.
“KAU SERIUS LIS? AKHIRNYAAAA!!” teriak Lolly kegirangan.
“Dari tadi harusnya kau bilang gitu saat Pak direktur masih berada di sini,” decak Jeje seraya memutar kedua bola matanya.
“Senang mendengarnya, saya turut mendukung keputusanmu, Nak. Bagaimana pun, ini kesempatan emas untukmu, juga bagi tim aman 5,” saran Bu Oca sambil mengelus bahu Lisa.
Bu Oca adalah seorang ibu muda. Makanya ia begitu perhatian dan dewasa terhadap para anggota tim kerjanya. Terutama pada Lisa, dia begitu baik serta mendukung bakat Lisa punya.
“Terima kasih, Bu kepala,” sahut Lisa seraya tersenyum mengembang.
Singkat cerita, waktu menunjukkan pukul satu siang. Setelah jam istirahat, Lisa mengambil desain dokumen arsipan miliknya yang akan ia berikan pada Arseno siang ini. Zain terlihat memperhatikan pergerakan Lisa yang begitu sibuk merapikan beberapa dokumen miliknya.
“Ada yang bisa kubantu, Lis?” ungkap Zain mencoba mengulurkan perhatian.
“Terima kasih, Zain. Aku hanya merapikan beberapa dokumenku saja, dan mengambil arsip desain punyaku yang sudah ada,” balas Lisa
“Kau jadi menemui Pak direktur sekarang?”
“Iya, bagaimanapun Bu kepala sudah merekomendasikan ini padaku,” gumam Lisa seraya menghela napas pendek.
“Semangat, Lis. Aku akan selalu mendukungmu,” pungkas Zain seraya tersenyum tipis. Kedua matanya berbinar menatap Lisa agak lama.
“Terima kasih, Zain. Kalau begitu aku mau ke ruang apa direktur dulu,” ujarnya singkat sambil beranjak bangun dari kursi kerjanya.
“Semangat, Nak. Kau pasti bisa,” seru Bu Oca. Lisa hanya membalasnya dengan senyuman.
Langkah kaki Lisa mulai berjalan menuju lantai empat belas. Lantai tertinggi di gedung ini. Dengan degup jantung yang berdebar cukup hebat, ia sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang. Karena ia akan menghadapi dan bertemu pria itu lagi sekarang.
Pria yang menghabiskan malam liar panjang bersamanya di bar hari itu.
Ting!
Lisa menekan lift itu, dan pintu lift pun terbuka. Langkah kakinya terasa berat setibanya ia di lantai tertinggi di gedung ini. Kaki kecilnya melangkah tertatih-tatih. Pelan-pelan ia berjalan menuju ruang di mana Arseno berada. Di lantai ini, hanya ada satu ruangan. Dan di sanalah tempat pria tersebut tengah duduk menunggu kehadiran gadis kecilnya.
Tok tok tok!
Lisa mulai mengetuk pintu itu dengan hati-hati.
“Masuk.” Suara parau yang menyahut itu terdengar dari dalam sana.
Glek!
“Oh Tuhan, aku harus apa?” batin Lisa dengan degupan jantung yang berdebar hebat.
Baru saja ia membuka pintu itu, tapi…
“Akhirnya kau datang lagi,” bisik Arseno dengan suara parau yang rupanya ada dibalik pintu itu.
Dan benar, hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Tidak ada sekretaris Josh, ataupun ajudannya. Tidak ada siapapun juga di sekitaran lantai empat belas ini. Tapi, apakah Lisa bisa selamat dari jerat pria itu?
Entahlah.
“T-tuan … s-saya ingin memberikan desain yang Anda pinta tadi,” ujar Lisa gugup seraya menyerahkan dokumen itu kepada Arseno. “K-kalau begitu s-saya pamit,” lanjutnya membalikkan tubuhnya. Namun…Hap!
Arseno tiba-tiba menarik lengannya sampai Lisa tak bisa berkutik dan jatuh ke dekapan pria itu dengan cepat. “Kau mau pergi kemana? Kita bahkan belum melanjutkan permainan itu,” bisik Arseno. “Bukankah kau senang menggodaku?” lanjutnya sambil menjilat dan menggigit daun telinga Lisa yang sekarang sudah memerah.
“T-tuan … ahh … t-tidak … j-jangan sekarang,” balasnya terbata sampai tak sadar mengeluarkan desahan yang keluar dari mulutnya.
“Kau benar-benar membangkitkan hasratku,” goda Arseno tanpa menghentikan permainannya yang kini tangannya mulai bermain di area buah dada Lisa.
Satu persatu kancing kemeja Lisa dibuka lebar. Terlihat kedua gunung putih itu yang menyembul keluar, namun tertutupi oleh bra berenda miliknya. Arseno mengecupnya dengan lembut dan perlahan. Lagi-lagi Lisa tak bisa berkutik dan hanya pasrah dengan permainannya.
“Tuan … t-tolong hentikan. I-ini tidak benar. K-kita sedang … b-berada di … ahh … di kantor. Kumohon … h-hentikan sekarang,” tutur Lisa terbata-bata.
Arseno menyentuh dagu Lisa sampai ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan itu dengan ekspresi sayup. “Coba saja hentikan, kalau kau bisa. Tapi sayangnya, kau tidak semudah itu bisa lepas dariku,” seringai Arseno tersenyum licik.
Ting! Sebuah notifikasi di ponsel Arseno muncul. Nama Laura terpapar di sana dengan jelas. “Avi, aku tahu aku salah. Aku minta maaf padamu dan aku janji akan menghilangkan diri untuk tidak lagi mengganggu hidupmu dengan wanita barumu. Tapi… bisakah kita bertemu untuk yang terakhir kalinya? Kumohon, untuk kali ini janji akan pergi dan melanjutkan hidupku yang baru di Amerika. Tolong temui aku di langham resto sekarang.” Pesan itu. Arseno membacanya sejenak. Hembusan napasnya terdengar memanjang untuk sekilas. “Apa lagi yang dia inginkan?” gumam Arseno berdecak. Di dalam kursi mobilnya, Arseno menancapkan gas mobil itu dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa pikiran Arseno yang sedari awal memikirkan Lisa, tiba-tiba Laura mengganggu pikirannya yang berniat untuk segera kembali ke rumah. Beberapa menit setelahnya, mobil Arseno terparkir di area basement. Sebuah hotel bintang sepuluh begitu megah dan tinggi menjulang itu menjadi sorotan pertama saat Arseno mendatangi tempa
Pagi yang cerah untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Arseno terbangun mendahului Lisa. Sebelum berangkat, tak lupa ia mencium kening dan bibir ranum istri kecilnya. Sayangnya, pria itu tampaknya begitu terburu-buru untuk menghadiri rapat pagi ini. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi sekarang, Lisa terbangun dari tidur panjangnya. “Hoam… hm… sudah pergi ya?” gumam Lisa melihat Arseno yang tak ada di sebelahnya. Kaki panjangnya menapaki lantai beralaskan karpet cokelat itu. Lisa berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Kenop pintu terbuka. Rupanya disana sudah ada Bi Asih dan Bu Santi yang telah menyiapkan sarapan pagi untuknya. “Selamat pagi, Nona muda. Tuan muda sudah berangkat sejak pagi. Tuan menitip pesan agar dibuatkan sarapan sandwich dan susu untuk Nona setelah Nona terbangun nanti. Karena Nona muda sudah bangun, sarapannya akan saya panaskan lebih dulu untuk Nona,” ujar Bi Asih menyapa Lisa dengan hangat. Lisa tersentuh mendengarnya. Betapa bahagia
“Kalau begitu saya pamit, Tuan muda.” Sekretaris Josh berkata demikian setelah mengantar Arseno dan Lisa tiba dengan selamat di penthouse mereka. “Hem.” Hanya suara deheman yang terdengar dari mulutnya. Arseno langsung berjalan menuju kamar utama seraya masih menggendong Lisa ala bridal style dan merebahkan tubuh kecilnya diatas ranjang. Lisa menggeliat ketika tubuhnya menyentuh sprei putih itu. Spontan kedua matanya terbuka secara perlahan. “Engh… kita di mana, sayang?” gumam Lisa masih setengah sadar. Arseno yang masih berdiri mematung sontak ikut duduk mendekatinya. “Di rumah. Kau tertidur pulas sekali tadi. Aku takut membuatmu terkejut, jadi ku biarkan saja kau tertidur sampai sini,” ujar Arseno sembari menyeka anak rambut Lisa yang menutupi wajahnya. “Benarkah? Apa aku tertidur sambil berjalan sampai kesini sayang?” ucap Lisa mengigau. Arseno terkekeh mendengarnya. Detik kemudian pria itu mengecup keningnya tiba-tiba. Cup! “Coba tebak, bagaimana aku bisa memb
Mungkin itulah sebabnya mengapa ia bisa dijuluki sebagai raja singa dulu. Karena lebih besar rasa trauma dan kehilangan yang ia terima untuk melupakan seseorang yang benar-benar ia cinta. “Ya, Nenek memang sangat cantik. Tapi sayang sekali beliau harus menikahi orang seperti Kakek.” “Hei, anak nakal. Berani sekali kau meremehkan ku,” sungut Presdir Han sambil menepak bahu Arseno dengan tongkat kayunya. Plak! “Awh, Kakek ini tidak bisa diajak bercanda ya. Digoda sedikit saja sudah marah,” ungkap Arseno menggerutu. “Apanya yang kau maksud bercanda itu, wahai anak muda? Memang kau saja yang nakal karena meledek orang tua.” Arseno berdecih sekilas, dasar orang tua kolot ini,” gumamnya tak terdengar oleh beliau. Tapi… “Apa yang kau umpat barusan, hah? Jangan-jangan kau mengumpat ku dengan sebutan binatang, kan?” kilah Presdir Han tidak terima. Arseno merasa kalau pertemuan mereka saat ini sudah terlalu lama. Ia pun beranjak bangun dari kursi itu. “Nanti saja lagi Kakek mencerama
Saat Arseno dan Lisa hendak untuk pergi meninggalkan kediaman rumah utama, tiba-tiba mereka diberhentikan oleh Pak Gem. Sekadar informasi, Pak Gem adalah kepala pelayan di kediaman utama yang sudah bekerja puluhan tahun dan mengabdi pada Presdir Han. “Tuan muda tunggu sebentar,” panggil Pak Gem terlihat berlarian kecil yang datang dari arah dapur menghampiri Arseno maupun Lisa. “Ada apa Pak Gem?” sahut Arseno sungkan. “Anu… Tuan… Presdir Han bilang sebelum Tuan muda pergi meninggalkan kediaman ini, Tuan muda harus ke ruang kerjanya,” tutur Pak Gem. Arseno sontak beralih menatap Lisa. Wanita itu lantas mengangguk mengiyakan. “Aku akan menunggu di mobil,” ucap Lisa seraya mengelus dada bidang Arseno lembut. “Hanya itu saja yang kau berikan?” Arseno mendengus pelan. Wajahnya datar tanpa senyuman. Untungnya Lisa cukup peka sekarang, apa yang sedang Arseno inginkan darinya. Detik kemudian dia pun berjinjit dan mendekatkan dirinya pada suaminya. Cup! Satu kecupan manis Lisa
“Arseno, jelaskan ini pada Kakek.” Presdir Han berkata dengan suara parau. Arseno justru bersedih sebal. Melihat reaksi dari kakeknya yang juga tak begitu menyukai Lisa di perjamuan ini. “Presdir Han, bukankah Anda selalu menepati janji? Kenapa Anda tiba-tiba mengingkari sesuatu yang sudah tertulis dalam kesepakatan kita?” tangkas Arseno dingin. Presdir Han sontak terdiam. Tiba-tiba aura di ruang makan itu langsung berubah dingin dan tegang. Melihat perdebatan di keluarga ini, Lisa lantas melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arseno. Tangannya justru meremas erat gaun dress yang ia kenakan pada tubuhnya. Laura yang melihat reaksi Lisa begitu gugup dan lesu karena tidak mendapatkan penerimaan di keluarga T Group terlihat terkekeh puas. Wanita itu bahkan meneguk minuman yang ada didepannya dengan santai. Greppp!! Tapi tiba-tiba Arseno meraih pergelangan tangan Lisa lagi. Genggaman tangannya kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Kau… baiklah. Perjuanganmu membangun
Suara ketukan heels wanita terdengar nyaring, Lisa berjalan dengan anggun menghampiri Arseno mengenakan dress mewah berwarna putih malam ini. Betapa elegan dan cantiknya ia sekarang. Bahkan Arseno pun tak bisa berpaling menatapnya. Bibir ranum Arseno tampak mengulum senyum tipis. Dalam hati dia me
Ting! Suara pintu penthouse milik Arseno terbuka. Dengan gagahnya dia berjalan cepat menuju kamar utama setibanya ia di sana. “Di mana Lisa?” tanya Arseno saat melewati ruang tengah, di mana ada Bi Asih dan Bi Santi berada yang sedang membersihkan ruangan tersebut. “Nona muda di kamar utama,
Sinar mentari pagi bersinar cerah menyeruak masuk ke dalam kamar Arseno dan Lisa berada. Lisa terbangun lebih dulu, saat menyadari sekujur tubuhnya sakit akibat permainan Arseno semalam sampai dini hari. Kedua mata Lisa tergelak setelah ia membukanya perlahan. Melihat tubuhnya yang tengah memeluk er
“Tunggu apalagi, ayo beli semua barang yang kau suka!” seru Arseno sembari menarik lengan Lisa memasuki toko barang mewah itu. “Eh… t-tunggu,” kilah Lisa gelagapan. Tapi Arseno tak mengindahkan suaranya, pria itu justru langsung membawanya bertemu dengan sales di toko itu.“Selamat datang, Tuan Ar







