Beranda / Romansa Dewasa / SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR / Bab 5 - Kita Bertemu Lagi, Gadis Kecil

Share

Bab 5 - Kita Bertemu Lagi, Gadis Kecil

Penulis: Ericka Ghaniya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-27 15:42:57

Senin pagi ini rasanya tampak cerah dimata Lisa. Bagaimana tidak, saldo didalam rekeningnya sangat menggendut sekarang. Ia bahkan kebingungan harus dibelanjakan untuk apa uangnya setelah melunasi semua biaya rumah sakit neneknya. Tubuh mungil itu terlihat antusias menyambut senin pagi yang biasanya monday blues, tiba-tiba berubah jadi happy monday.

 “Ternyata benar ya, kalau tabungan kita banyak saldonya, rasanya gak terlalu berat untuk memulai hari yang sebenarnya berat,” gumam Lisa sambil memakaikan kedua kakinya sepatu flat shoes berwarna merah. Kini ia sudah siap untuk berangkat ke kantor. “Aku harus berterima kasih pada Nina, karena bagaimanapun dia juga sudah membantuku untuk mendapatkan pekerjaan, walaupun dengan harus mengorbankan diriku sebagai bayarannya,” lanjutnya lirih seraya menatap langit biru dengan tatapan sedu mengingat kejadian malam itu.

 “Aku … tidak akan bertemu pria itu lagi, kan? Katanya namanya Arseno, di perusahaanku juga ada yang bernama Arseno dan sangat terkenal. Tidak mungkin Arseno dia, kan?” batinnya mulai menerka-nerka khawatir. 

 Kau tidak salah, Lis. Itu memang dia, Arseno yang kamu maksud. Pria berstatus sebagai direktur eksekutif dan pewaris T Group generasi ketujuh. Cucu terakhir dari presdir Han yang merupakan pemilik saham terbesar T Group. 

 Banyak rumor mengatakan kalau Arseno pria penjajah wanita. Saking banyaknya wanita mengejar-ngejarnya, tapi belum ada satupun yang berhasil tampak di media wartawan. Memang benar, rumor hanyalah rumor belaka. Tapi kedatangannya di bar malam itu apakah bisa dikatakan sebagai petaka ataukah keberuntungan bagi Lisa?

 “Pagi, Lis! Kau kelihatannya sangat ceria sekali hari?” sapa Jeje setibanya Lisa di kantor. 

 “Hehe, pagi juga, Je. Iya, aku tidak sabar untuk bertemu dengan Nenekku sepulang dari kantor nanti,” balasnya sambil menaruh botol minum miliknya diatas meja kerja miliknya.

 “Kau belum cerita apa-apa dari kemarin,” sambung Lolly yang tiba-tiba datang seraya menepuk bahu Lisa pelan.

 “Lolly!!!! Akhirnya aku berhasil namatin drachin itu, huah!” teriak Jeje antusias bercerita tentang tontonan favoritnya pada Lolly. 

 Yah, Lolly memang paling heboh diantara rekan kerja Lisa yang lain. Namun sejauh ini, hanya mereka berdua rekan kerja yang usianya tidak jauh dan sama-sama berstatus lajang. Ada juga Bu Oca, atasan tim Lisa dan seringkali memaklumi kesalahan Lisa. Bu Oca sudah seperti kakak kandung bagi Lisa di kantor karena penyayang dan baik padanya. 

 Tapi ada satu lagi yang bikin anak-anak kantor (Jeje dan Lolly) berpikir kalau dia adalah jodoh Lisa. Namanya Zain. Lelaki muda yang cukup dewasa itu sering membantu pekerjaan Lisa. Bahkan Zain seringkali menawarkan Lisa tumpangan untuk pulang bersama. Sayangnya Lisa selalu menolaknya dengan alasan ia tak enak jika ada yang melihat.

 “Pantas, hari ini mata panda mu bertambah hitam, Je.” Lolly mengingatkan sambil membuka layar monitor laptop kerjanya.

 “Serius? Wah, aku benar-benar sudah gila ya, kenapa tidak sadar kalau mataku mulai terlihat seperti panda,” gerutu Jeje tiba-tiba melihat dirinya pada cermin kecil miliknya yang selalu ia bawa kemanapun.

 “Tapi tetap cantik kok, Je. Kamu cuma kurang tidur aja,” sambung Lisa mencoba mencairkan suasana.

 “Benarkah? Aku dipuji oleh orang tercantik di kantor haha, senangnyaaa.”

 “Pagi semua! Wah, sepertinya ada obrolan menarik pagi ini,” timbrung Bu Oca tiba-tiba muncul menyambung obrolan mereka.

 “E-eh … ada Bu kepala? K-kapan tiba, Bu?” balas Jeje kikuk.

 “Baru, kok. Haha, santai saja. Kalian mulailah bekerja. Lolly jangan lupa hari ini kita ada jadwal meeting dengan klien dari perusahaan marketing A Corp itu ya,” seru Bu Oca mengingatkan.

 “Ah, benar. Terima kasih Bu kepala sudah mengingatkan,” jawab Lolly sambil mengulum senyumnya.

 “Lisa, bagaimana dengan design produk yang saya pinta Jumat lalu? Apakah sudah selesai?” imbuh Bu Oca melempar pertanyaan kepada Lisa sekarang.

 “Sudah, Bu kepala. Saya sudah kirimkan sejak Jumat sore,” sahut Lisa.

 “Kamu memang selalu on time, Lis. Baiklah akan saya cek sekarang. Oh ya, hari ini tim kita akan kedatangan Pak direktur untuk melihat kinerja tim kita. Jadi, semangat bekerja semuanya!” tutur Bu Oca ceria.

 “Terima kasih, Bu kepala.” Lisa menanggapi seraya mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya.

 “Eh, kita kedatangan Pak CEO? Serius? AAAAA DIA SALAH SATU ORANG TERKEMUKA YANG WAJAHNYA MIRIP VERNON CHWE ITU KAN? Wah, gila! Aku harus tampil sempurna. Lol, apakah wajahku ada yang kurang? Sepertinya aku harus tambah lipstik dan cushion untuk menutupi mata pandaku,” jerit Jeje heboh. 

 “Pagi semua! Ada apa ini, kayaknya heboh banget? Hei, Lis!” sanggah Zain yang baru saja datang, senyumnya begitu manis menyapa Lisa.

 “Hai, Zain. Semangat bekerja!” sahut Lisa ceria.

 “Itu, si Jeje heboh banget mau ketemu Pak direktur. Katanya hari ini tim kita akan ada pengecekan, tapi kali ini Pak direktur sendiri yang turun tangan langsung,” jelas Lolly.

 “Oalah. Berarti kita harus berikan kinerja yang maksimal untuk hari ini,” timpal Zain.

 “Iya, si Jeje juga sudah makeup maksimal buat menyambut kedatangan direktur kita, hihi.” Lolly menahan tawa melihat rekan kerjanya satu ini yang paling sibuk sendirian.

 “Eh, kau bagaimana, Lis?” bisik Zain tiba-tiba melongok meja kerja Lisa yang berada disampingnya.

 “Eh … a-aku? Aku kenapa?” 

 “Kau tidak seperti Jeje juga? Dia sangat sibuk mempercantik diri untuk mendapatkan perhatian Pak direktur kita.”

 “Hehe, entahlah, Zain. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa masalah,” imbuh Lisa tak peduli. Tapi hal itu justru membuat Zain senang.

 “Kau memang selalu membuatku kagum, Lis.” Zain berbisik, kali ini suaranya hampir tidak terdengar oleh Lisa yang sedang sibuk menatap layar laptop kerjanya.

 Pagi itu tim kerja Lisa sangat sibuk mempersiapkan diri dan pekerjaan mereka masing-masing untuk segera diselesaikan. Karena siang ini, akan kedatangan direktur yang mengecek kondisi lapangan secara langsung. Semuanya tampak sibuk dan tidak lagi terdengar suara obrolan maupun gosip seperti tadi.

 Jeje yang sudah selesai touch up makeup wajahnya pun kembali serius menatap layar monitor laptop kerjanya. Lolly pun mulai bolak-balik ke ruang printer dan fotocopy dokumen yang akan diberikan kepada direktur mereka siang ini. Sementara Zain, ia tetap fokus walau sesekali curi-curi pandang menatap Lisa yang berada disampingnya.

 “Kalau butuh sesuatu, bilang saja padaku, Lis. Kau tak perlu sungkan,” ujar Zain mencoba mengulurkan bantuan.

 “Hehe, terima kasih, Zain. Tapi sekarang belum ada hal yang sulit untuk dikerjakan,” balasnya tanpa menoleh sedikit pun.

 “Baiklah, semangat bekerja, Lis!” 

 “Selamat bekerja, Zain.”

 Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang lewat tiga puluh menit. Semua orang di kantor itu tampak lebih sedikit santai sekarang, mengingat sebentar lagi memasuki waktu istirahat. Jeje terlihat kembali menyentuh pouch makeup miliknya dan mulai menambahkan lipstik merah muda itu pada bibirnya yang terlihat memudar.

 “Eh, sebentar lagi Pak direktur datang. Kau dandan terus, Je. Kalau dilihat Pak direktur nanti bagaimana?” bisik Lolly mengingatkan.

 “Hehe, kau tenang saja, Lolly. Aku juga sudah siap dan makeup on point sekarang! Yuhuuu!” sahut Jeje antusias dan kembali heboh.

 “Semuanya bersiap! Lolly, apakah sudah menyiapkan printer dokumen yang dibutuhkan? Lalu untuk Lisa, saya suka design yang kau berikan, itu sudah cukup. Zain, tabelnya sangat rapi dan profesional. Jeje, data-datanya masih kurang lengkap, tolong tambahkan bagian yang kurang. Evita, tidak ada kekurangan apapun. Dan Sania … tolong diperbaiki lagi dokumennya,” tutur Bu Oca mengingatkan masing-masing dari tugas anggota timnya.

 “Padahal aku sudah siap untuk menyambut Pak CEO, tapi malah harus revisi, huh!” keluh Jeje seraya mengerutkan keningnya.

 “Semuanya sudah selesai dan siap diberikan kepada tim penilaian, Bu kepala,” imbuh Lolly sambil menyerahkan semua dokumen yang diperlukan.

 “Terima kasih Bu kepala,” sahut Evita dingin. 

 “Baik, Bu. Akan saya perbaiki sekarang,” sentak Sania tampak tak terima.

 “Hehe, terima kasih Bu kepala atas kerjasamanya,” tukas Zain.

 “Terima kasih banyak Bu kepala,” ujar Lisa yang senang mendengar jawaban dari Bu Oca mengenai hasil dari desainnya.

 “Guys, Pak CEO datang!!! Tolong kerjasamanya, ya!” tegas Bu Oca sambil berdiri menyambut kedatangan pria yang menjadi bahan topik pagi ini.

 Terlihat dari dalam ruangan berlapis kaca ini, beberapa orang pria berjalan mendekati pintu itu. Sampai engsel pintu pun terbuka. Tampak seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan mengenakan setelan jas berwarna biru dongker itu berjalan menghampiri Bu Oca. Disusul oleh sekretaris beserta ajudannya dibelakang.

 “Selamat siang, Bu kepala tim Aman 5!” cakap pria itu memulai percakapan.

 “Selamat siang, Pak direktur. Mengenai beberapa pekerjaan yang sudah selesai kami siapkan pagi ini, ini ada beberapa desain dan dokumen yang sudah siap untuk diberikan ke tim penilaian. Mohon bantuannya,” tutur Bu Oca tampak tenang menyerahkan berkas dokumennya ke tangan pria itu. Walau sebenarnya ia juga takut akan mendapat masalah.

 “Eh, eh, guys, i-itu … itu Pak CEO kita. Aaaaaa, benar-benar tampan. Sepertinya aku harus segera menghampirinya dan berpura-pura menyerahkan dokumen ini, haha!” bisik Jeje pada rekan kerjanya.

 “Bagus. Tapi ini … desain siapa?” simpulnya tiba-tiba melirik desain milik Lisa yang menarik perhatiannya.

 “Ah, itu desain yang dibuat oleh anggota tim saya, Lisa namanya,” sahut Bu Oca. 

 “Bisakah Bu kepala panggil orangnya?”

 “Tentu saja Pak direktur,” ujarnya menjawab seraya memberi kode pada Lolly kalau ia harus memanggil Lisa ke depan. 

 “Lis, kau dipanggil Bu kepala. Katanya Pak direktur mau bertemu dengan pemilik desain itu,” bisik Lolly pada Lisa yang sejak tadi tidak sadar karena terlalu fokus dengan layar monitor laptop kerjanya. 

 “Ah, aku? B-baik, terima kasih Lolly. Aku akan segera datang,” sahut Lisa bergegas mendekati Bu Oca dan direktur itu berdiri sekarang. 

 “Sebel, kenapa jadi Lisa yang dipanggil? Sudah dandan secantik ini tapi gak bisa mengalihkan perhatian Pak CEO,” gerutu Jeje tak terima.

 Saat langkah kaki Lisa sudah berada didepan pria itu, tiba-tiba kedua matanya membelalak dengan sempurna. Pria yang sangat ingin tidak dia harapkan untuk bertemu kembali, tapi saat ini tengah berada didepannya. Ya, Arseno Xavior. 

 “A-astaga! K-kenapa harus bertemu pria itu lagi? K-kenapa jadi begini? Apa yang harus kulakukan?” batin Lisa panik.

 Sementara itu, Arseno justru menyeringai menatapnya dengan santai. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara keduanya. 

 “Lisa, ayo kesini! Pak direktur ingin menyapamu,” terang Bu Oca menyadarkan lamunan Lisa sesaat. “Pak direktur, ini Lisa yang membuat desain itu,” imbuh Bu Oca kembali memperkenalkan Lisa pada pria yang saat ini menatapnya dengan tatapan 

 aneh.

 “Oh. Jadi kau … Lisa? Senang bertemu denganmu,” ujar Arseno seraya mengulurkan tangannya untuk memberikan salam kepada Lisa. 

 Glek!

 Sontak Lisa meneguk salivanya. Dengan tangan gemetar, Lisa membalas salam dari pria itu. Ia tak mengira kalau Arseno yang pernah menjadi teman tidurnya semalam, adalah direktur di perusahaannya sendiri.

 “Kukira dunia ini begitu luas, tapi ternyata hanya berputar-putar disekitar sini saja,” pekik Lisa dalam hati dengan perasaan kacau.

 “Ah, i-iya, Pak. S-senang juga bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pak direktur,” balas Lisa gugup.

 “Tidak perlu gugup, Pak direktur suka dengan desainmu Lis,” bisik Bu Oca sambil tersenyum tipis.

 “Kau ternyata sangat kreatif ya. Bagaimana kalau kau buatkan desain lagi yang lebih unik dan menarik?” timpa Arseno tiba-tiba. 

 Bu Oca tampak semangat dan senang mendengarnya, tapi Lisa yang berada dalam ancaman sekarang. Karena harus menghadapi pria itu lagi di tempat kerjanya sebagai seorang profesional. 

 “Tamatlah sudah riwayatmu, Lis. Apa yang akan dia lakukan padaku nanti?” batin Lisa tak tenang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 19 - Posesif

    “Mulai sekarang, kau harus resign dari T Group. Josh sudah mengatur surat pengunduran dirimu. Dan bersiaplah untuk tinggal di penthouse ku mulai sekarang,” titah Arseno berkata setelah keduanya berada didalam mobil. Lisa mengerutkan keningnya sesaat, “apakah harus resign sekarang? Kan masih tahap awal kehamilan, sayang. Aku masih ingin bekerja sebentar dan berpamitan dengan rekan kerjaku,” ujar Lisa tak setuju. Ia “Apa kau sangat ingin bertemu dengan lelaki itu? Bagaimana kau akan menjelaskan itu padanya nanti? Apa seperti ini? Atau begini?” gerutunya seraya mencengkeram lengan Lisa. Hih, bilang saja kau sedang cemburu sekarang. Kenapa harus sampai begitu? Dasar harimau gila ini. “S-sakit…” desis Lisa. Spontan Arseno langsung melepas cengkeramannya. Tapi, mobil yang ia setir itu pun dibawa ke tepi jalan sepi. Setelah ia mengerem mobilnya, Arseno melepaskan seat belt dan… tiba-tiba dia melumat bibir ranum Lisa dengan brutal. Sampai membuat kelinci kecilnya hampir saja kehabis

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 18 - Status Baru

    “Aku … bukankah aku tidak setara dengan Anda? B-bukankah pernikahan Anda s-sudah ditentukan? Kenapa situasinya jadi berubah tiba-tiba?” tutur Lisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Arseno menatapnya lekat, keduanya saling bertatapan dalam diam. Sampai akhirnya pria itu menghela napas dan berkata, “maaf. Maaf untuk perkataanku sebelumnya. Setelah menyadari bahwa aku … tidak bisa jauh tanpamu, Lisa. Saat aku melihatnya lagi, perasaanku sudah berubah. Aku selalu teringat wajahmu,” ujar Arseno seraya merapikan rambut Lisa yang sedikit berantakan dan menyelipkannya ke belakang daun telinganya . “Kau … membuat hidupku berubah, Lisa. Berjanjilah untuk tidak pergi, atau berusaha kabur dan melarikan diri dariku,” lanjutnya lagi. Lisa terdiam agak lama, bulir bening mengalir begitu saja menatap lekat wajah Arseno yang tampak sedu tidak seperti dirinya biasanya. “Jangan menangis. Kalau kau menangis, aku semakin merasa bersalah padamu,” sambung Arseno sembari menyeka air mata Lisa. “Bag

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 17 - Mimpi yang Menjadi Nyata

    Bukan marah, tapi justru Arseno semakin bertambah bergairah setelah mendengar penuturan Lisa yang berani menentangnya. “Apa? Kau mengatakan apa? Bukan suami istri? Begitukah?” seringainya. Mata elang ya menatap kedua mata Lisa lekat. Glek! Lisa meneguk salivanya, degup jantungnya berdebar cukup hebat. Melihat kondisi yang tiba-tiba berubah tegang setelah ia mengatakan itu pada Arseno. Tapi pria itu semakin melekatnya wajahnya begitu dekat. Sampai tidak menyisakan celah jarak sedikit pun. “A-aku…” Baru membuka mulutnya sedikit, tapi Arseno kembali membungkam bibirnya dengan lumatan. “Hah… hah!” deru napas Lisa terdengar terengah-engah setelah Arseno melepaskan ciumannya. “Kau segitu tidak tahannya ya, untuk menjadi istriku? Bukankah kita sudah melakukannya berulangkali, hm? Apa menurutmu pelayananku kurang memuaskan?” bisiknya seraya mulai menyentuh area sensitif tubuh Lisa, namun segera ditepis olehnya. “J-jangan sekarang, bukankah Anda harus segera pergi ke kantor? Saya

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 16 - Lihat Aku Seorang

    Bab 16 - Status Hubungan yang Jelas “Perutku?” balas Lisa seraya mengerutkan keningnya. “Bukankah tadi kau sempat mual?” tukas Arseno mengingat kejadian sebelumnya. Tangan besarnya meraih tubuh Lisa hingga tidak ada celah jarak diantara keduanya. “A-aku … sudah lebih baik.” “Benarkah? Apa itu berarti kita bisa melanjutkan permainan ini?” ujarnya sembari meraba-raba buah dada Lisa yang hanya tertutupi oleh baju lingerie tipis dan tanpa mengenakan bra. “T-tidak. Aku … aku takut tubuhku tidak kuat melakukannya,” gumam Lisa beralasan. “Hm … padahal aku sangat merindukan berkeringat bersamamu,” imbuh Arseno seraya mengecup lembut kening Lisa agak lama. “Dia masih saja membahas tentang itu, padahal aku masih menunggu jawaban dari sikap anehnya hari ini,” batin Lisa sedu. “Kenapa Anda melakukan ini pada saya?” tutur Lisa setelah berhasil memerangi pikirannya. Jika Lisa tidak berani bertanya, maka dia pun tak akan pernah mendapatkan jawabannya. Sekalipun jawaban yang mengandung

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 15 - Kabar Baik yang Dirahasiakan

    Arseno kembali ke kediaman Lisa setelah menyelesaikan pertemuannya dengan Presdir Han. Setibanya ia di sana, sudah disambut dengan dokter Anita, sekretaris Josh, dan beberapa orang pengawal pribadinya. Arseno langsung menemui Lisa yang saat ini tengah duduk di kamarnya dengan tangan yang sudah berbalut selang infusan. Sekretaris Josh tidak sempat bertanya lebih dulu sebab menatap Arseno yang begitu cemas ingin melihat kondisi Lisa. Grep!! Tiba-tiba Arseno mendekap tubuh Lisa yang masih tampak lemah. Wanita itu agak terkejut kebingungan dengan sikapnya tiba-tiba saja memeluknya yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya. “Apa semuanya berjalan lancar?” ujar Lisa bertanya. Tangan kecilnya memberikan pijatan lembut pada wajah Arseno yang saat ini tengah memeluknya erat. Posisi Lisa yang duduk terlentang dengan tubuh besar Arseno bersandar pada bahunya. “Ya. Kakek menyetujuinya,” jawabnya sambil memejamkan kedua matanya sejenak. “Setuju? Apakah Anda punya permintaan pad

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 14 - Keputusan Arseno

    Setelah mendapati telepon dari orang kepercayaan Presdir Han, Arseno pergi meninggalkan Lisa dengan memberikan amanah pada sekretaris Josh untuk menjaganya serta membawakannya dokter agar memeriksa kondisi tubuhnya yang lemah. Tentu saja sekretaris Josh sangat patuh dengan tuannya. Dia bahkan rela berdiam diri berjam-jam di dalam mobil hanya untuk menunggu Arseno keluar dari dalam rumah Lisa. Dan sekarang, pria bermata elang itu sedang berada di perjalanan menuju rumah kediaman utama dengan menyetir mobilnya sendiri. Ia sudah bisa menebaknya maksud dan tujuan kakeknya memintanya untuk datang. Karena sebelumnya ia sempat berdebat dengan Laura. Terlebih lagi Arseno sudah mengusirnya keluar dari ruang kerjanya. Tidak berapa lama kemudian, Arseno tiba di kediaman rumah utama. Pagar besar itu terbuka lebar secara otomatis. Setibanya ia didepan pintu utama, rupanya sudah disambut oleh beberapa pelayan beserta ajudan. Hingga orang kepercayaannya sang kakek pun turut hadir menyambutnya. “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status