首頁 / Romansa / SENTUHAN YANG SALAH / BAB IV : SENTUHAN PERTAMA

分享

BAB IV : SENTUHAN PERTAMA

作者: Rara
last update publish date: 2026-07-02 08:57:56

Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.

Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali.

"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.

Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.

Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akibat rok mini dan kerah seragamnya yang terlalu rendah. Setiap langkahnya terasa berat, terutama karena ia tahu sepasang mata elang itu kini telah beralih dari laptop dan langsung mengunci pergerakannya.

"Kopi Anda, Pak. Dan ini berkas laporan proyek Aditama yang Anda minta," ucap Anya dengan suara selembut mungkin, seraya meletakkan cangkir kopi dan tumpukan berkas di sisi meja yang kosong.

Tama tidak langsung menyentuh kopinya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja premium miliknya, menautkan jemari tangannya di depan dada, dan menatap Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu begitu intens, seolah sedang menelanjangi sisa-sisa pertahanan diri yang Anya miliki.

"Kamu terlambat tiga puluh detik," ucap Tama dingin, melirik jam tangan Rolex emas yang melingkar di pergelangan tangannya.

Anya tersentak kecil, ia langsung menundukkan kepala. "Maaf, Pak. Saya masih harus menyesuaikan diri dengan tata letak kubikel sekretaris di luar."

"Aku tidak suka alasan," potong Tama cepat. Ia bangkit dari kursinya secara perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi tegap seketika mengintimidasi Anya, membuat atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa semakin mencekam dan menyesakkan.

Tama melangkah memutari meja kerjanya, berjalan pelan ke arah Anya. Langkah kakinya yang tenang justru terdengar seperti ketukan palu hakim di telinga Anya. Insting Anya berteriak untuk mundur, namun kakinya seolah terkunci di atas karpet tebal ruangan itu.

"Sebagai sekretaris pribadiku, tugas utamamu bukan hanya menjadi pintar, Anya," ujar Tama, suaranya kini terdengar lebih rendah dan serak saat ia berhenti tepat di hadapan Anya. Jarak mereka begitu dekat, hingga Anya bisa menghirup aroma parfum maskulin yang kuat bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh bosnya.

"Lalu... apa tugas saya yang lain, Pak?" tanya Anya memberanikan diri, meski matanya enggan menatap langsung manik mata Tama yang kelam.

Tama tidak segera menjawab. Alih-alih, tangan kanannya terangkat perlahan. Anya memejamkan mata, bersiap untuk hal terburuk, namun yang ia rasakan kemudian adalah sentuhan seringan bulu di bahunya yang terbuka. Jemari Tama yang panjang dan terasa dingin mulai bergerak pelan, menelusuri tulang selangka Anya yang menonjol.

Anya refleks menahan napas. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut yang aneh ke seluruh tubuhnya. Kulitnya meremang seketika.

"Tugasmu adalah membuatku nyaman," bisik Tama, wajahnya kini mendekat ke arah telinga Anya. "Dan penampilanmu hari ini... cukup menarik perhatianku."

Jari-jari Tama terus bergerak turun, merayap perlahan dari tulang selangka menuju batas kain seragam Anya yang berpotongan sangat rendah. Anya bisa merasakan ujung jari pria itu menyentuh kulit bagian atas dadanya yang terekspos. Sentuhan itu tidak kasar, justru sangat perlahan dan penuh penekanan, seolah Tama sedang mengklaim kepemilikan atas apa yang sedang disentuhnya.

"P-Pak Tama..." cicit Anya, suaranya nyaris habis. Tangannya yang bebas kini meremas pinggiran roknya sendiri dengan sangat kencang hingga kukunya memutih. Ada pertarungan hebat di dalam batinnya. Sisi moralnya menolak keras perlakuan ini, namun bayangan wajah Arka yang membutuhkan biaya pengobatan bulanan yang sangat besar mendadak melintas di benaknya, mengunci lidah Anya untuk memprotes lebih jauh.

Tama terkekeh pelan melihat reaksi tubuh Anya yang menegang namun tidak menolak secara fisik. Baginya, kepolosan dan ketakutan yang terpancar dari tubuh Anya adalah sebuah hidangan pembuka yang sangat memikat. Telapak tangan Tama kini sepenuhnya menempel di dada bagian atas Anya, tepat di atas detak jantung gadis itu yang berpacu luar biasa cepat seperti genderang perang.

"Jantungmu berdetak sangat kencang, Anya. Takut?" tanya Tama, matanya menatap lekat-lekat wajah Anya yang kini memerah sempurna, entah karena malu atau karena sensasi asing yang menjalar di tubuhnya.

"Saya... saya hanya belum terbiasa, Pak," jawab Anya dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menjaga agar air matanya tidak jatuh. Ia merasa sangat rapuh saat ini. Sentuhan tangan Tama di dadanya terasa begitu mendominasi, seolah-olah pria ini memiliki kendali penuh atas hidup dan matinya.

Tama mempertahankan posisinya selama beberapa detik, membiarkan telapak tangannya merasakan kehangatan kulit Anya dan detak jantung yang liar itu, sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali secara perlahan. Kehangatan yang tiba-tiba hilang itu anehnya membuat Anya merasa sedikit hampa sekaligus lega yang luar biasa.

Tama berjalan kembali ke balik mejanya, seolah-olah interaksi intim yang baru saja terjadi tidak berarti apa-apa baginya. Ia kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan profesional dalam sekejap mata.

"Ambil berkas di sebelah kananmu, bawa ke ruang rapat utama. Kita memiliki waktu sepuluh menit sebelum presentasi dimulai," perintah Tama tanpa beban, matanya kembali tertuju pada layar laptopnya.

Anya mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat melayang. Ia menarik napas dalam-dalam, membetulkan posisi kerah seragamnya yang sedikit berantakan akibat sentuhan tadi, lalu mengambil berkas yang dimaksud dengan tangan yang masih gemetar.

"Baik, Pak. Saya permisi untuk menyiapkannya terlebih dahulu," ucap Anya lirih.

Sebelum Anya mencapai pintu, suara Tama kembali menghentikan langkahnya.

"Anya."

Anya menoleh perlahan. "Ya, Pak?"

Tama mendongak, memberikan senyuman tipis yang terlihat sangat misterius namun penuh kepuasan. "Ini baru awal. Aku berharap performamu di ruang rapat sama bagusnya dengan caramu menerimaku tadi."

Anya hanya bisa mengangguk kaku, lalu segera keluar dari ruangan tersebut. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, Anya bersandar pada dinding lorong yang sepi. Ia menyentuh dadanya sendiri, tempat di mana tangan Tama baru saja bertengger.

Kulitnya masih terasa hangat dan berdesir. Anya memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa dalam hati agar ia diberikan kekuatan untuk melewati hari-hari ke depan yang tampaknya akan menjadi jauh lebih menantang dan berbahaya bagi harga dirinya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB IX : CANDU

    Dengung halus dari benda silinder di genggaman Anya terasa seirama dengan detak jantungnya yang kian berpacu cepat. Di dalam kesunyian kamarnya, di hadapan cermin besar yang memantulkan setiap jengkal tubuh polosnya, Anya merasa seolah sedang melihat sosok asing. Gadis di dalam cermin itu tampak begitu rapuh, hancur, namun sepasang matanya yang sayu menyiratkan dahaga yang amat dalam akan sensasi yang baru saja dikenalkan padanya siang tadi. Logikanya berteriak bahwa ini adalah kesalahan besar, bahwa benda di tangannya adalah simbol kehinaan dan kendali mutlak Pak Tama atas dirinya. Namun, dirinya menolak untuk patuh pada moralitas yang selama ini ia agungkan.Anya menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin menembus pori-pori kulitnya, memenuhi dadanya yang naik-turun tak beraturan. Perlahan, dengan jemari yang masih sedikit gemetar akibat sisa ketakutan, ia menaikkan intensitas getaran pada alat tersebut melalui tombol di pangkalnya. Dengung rendah yang tadinya sam

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VIII : PERASAAN ANEH

    Rasa hangat dan getaran konstan dari benda yang tertanam di dalam dirinya akhirnya mencapai batas yang bisa ditanggung oleh kesadaran Anya. Di atas pangkuan Tama, dengan kedua putingnya yang terus dipelintir dan diremas secara ritmis dari belakang, Anya merasa seluruh tubuhnya seperti dialiri arus listrik yang membakar. Napasnya memburu, putus-putus, dan bibirnya digigit begitu erat hingga memucat demi menahan suara yang terus mendesak ingin keluar. Tama, yang bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh Anya mulai menegang hebat di atas pangkuannya, tahu bahwa sekretaris pribadinya ini sudah berada di tepi jurang pelepasan untuk kedua kalinya hari ini. Dengan seringai tipis yang penuh kepuasan, Tama menekan tombol pada kendali nirkabel di tangannya, menaikkan intensitas getaran ke tingkat maksimal tepat saat jemarinya memberikan remasan kuat yang serempak pada kedua dada Anya. "Ahhh... P-Pak Tama...!" Anya tidak bisa lagi menahannya. Pekikan pasrah itu lolos begitu saja dari tenggorok

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VII : PELAJARAN PERTAMA

    Sepuluh menit waktu istirahat yang diberikan terasa berjalan begitu cepat. Berkat sisa-sisa fokus yang dipaksakan di tengah debaran jantung yang belum sepenuhnya mereda, Anya berhasil memulihkan folder dokumen yang rusak tepat waktu. Sesi kedua rapat koordinasi berjalan tanpa gangguan teknis berarti. Selama sisa presentasi tersebut, Tama kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan berwibawa, sementara Anya hanya menunduk, memfokuskan seluruh perhatiannya pada papan ketik demi menyembunyikan sisa rona merah di wajahnya.Ketika panggilan video akhirnya diputuskan secara permanen oleh operator pusat, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruang kerja yang luas itu.Anya perlahan menutup laptopnya. Ia berniat untuk segera berdiri dan kembali ke kubikalnya di luar, namun suara berat Tama memecah kesunyian sebelum ia sempat beranjak dari kursinya."Pekerjaanmu merapikan data di sesi kedua cukup baik," ucap Tama datar seraya menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. "Tapi itu hanya memp

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VI : KESALAHAN FATAL

    Sebagai seorang yang memiliki latar belakang di dunia desain, tumpukan laporan keuangan, jadwal investasi, dan penyusunan agenda korporat adalah labirin rumit yang kerap membuatnya pusing tujuh keliling. Namun, demi Arka dan pasokan obat-obatannya yang mahal, Anya memaksakan otaknya untuk bekerja dua kali lebih keras.Pagi itu, suasana di lantai tiga puluh terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pak Tama dijadwalkan untuk memimpin rapat koordinasi tahunan bersama para investor asing melalui video conference skala besar. Semua berkas materi presentasi dan data analitik seharusnya sudah selesai diperiksa dan diunggah ke sistem utama oleh Anya sejak tiga puluh menit yang lalu."Kenapa file-nya bisa rusak? Sial, kenapa data yang ini belum masuk?!" gumam Anya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari bahwa ada satu folder berisi grafik audit eksternal yang salah ia format, membuat seluruh sistem presentasi tidak bisa membaca data tersebut.Sebelum Anya sempat memperbaiki

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB V : KEJUJURAN atau KEBOHONGAN?

    Anya masih bisa merasakan bagaimana dadanya berdesir hebat. Di balik pintu ruang kerja Pak Tama yang baru saja ia tutup dengan rapat, ia bersandar pada dinding lorong lantai tiga puluh yang sepi. Ia memejamkan mata erat-erat, dan berharap dalam hati agar diberikan kekuatan untuk melewati hari pertama ini.Hari itu pun berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Jam demi jam ia habiskan dengan mengabaikan pandangan-pandangan penuh arti dari staf lain, membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan berkas komersial hingga matahari terbenam dan digantikan oleh pekatnya malam.Malam telah larut ketika Anya akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Bayangan tatapan predator Pak Tama dan sentuhan berani pria itu di ruang kerjanya terus berputar-putar di kepala, menyisakan rasa bersalah dan kehampaan yang mendalam.Ia merasa kotor. Ia merasa menandatangani kontrak tak tertulis u

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB IV : SENTUHAN PERTAMA

    Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali."Masuk," terdengar suara berat dari dalam.Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akiba

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status