MasukAroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.
Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.
Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.
Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akibat rok mini dan kerah seragamnya yang terlalu rendah. Setiap langkahnya terasa berat, terutama karena ia tahu sepasang mata elang itu kini telah beralih dari laptop dan langsung mengunci pergerakannya.
"Kopi Anda, Pak. Dan ini berkas laporan proyek Aditama yang Anda minta," ucap Anya dengan suara selembut mungkin, seraya meletakkan cangkir kopi dan tumpukan berkas di sisi meja yang kosong.
Tama tidak langsung menyentuh kopinya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja premium miliknya, menautkan jemari tangannya di depan dada, dan menatap Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu begitu intens, seolah sedang menelanjangi sisa-sisa pertahanan diri yang Anya miliki.
"Kamu terlambat tiga puluh detik," ucap Tama dingin, melirik jam tangan Rolex emas yang melingkar di pergelangan tangannya.
Anya tersentak kecil, ia langsung menundukkan kepala. "Maaf, Pak. Saya masih harus menyesuaikan diri dengan tata letak kubikel sekretaris di luar."
"Aku tidak suka alasan," potong Tama cepat. Ia bangkit dari kursinya secara perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi tegap seketika mengintimidasi Anya, membuat atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa semakin mencekam dan menyesakkan.
Tama melangkah memutari meja kerjanya, berjalan pelan ke arah Anya. Langkah kakinya yang tenang justru terdengar seperti ketukan palu hakim di telinga Anya. Insting Anya berteriak untuk mundur, namun kakinya seolah terkunci di atas karpet tebal ruangan itu.
"Sebagai sekretaris pribadiku, tugas utamamu bukan hanya menjadi pintar, Anya," ujar Tama, suaranya kini terdengar lebih rendah dan serak saat ia berhenti tepat di hadapan Anya. Jarak mereka begitu dekat, hingga Anya bisa menghirup aroma parfum maskulin yang kuat bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh bosnya.
"Lalu... apa tugas saya yang lain, Pak?" tanya Anya memberanikan diri, meski matanya enggan menatap langsung manik mata Tama yang kelam.
Tama tidak segera menjawab. Alih-alih, tangan kanannya terangkat perlahan. Anya memejamkan mata, bersiap untuk hal terburuk, namun yang ia rasakan kemudian adalah sentuhan seringan bulu di bahunya yang terbuka. Jemari Tama yang panjang dan terasa dingin mulai bergerak pelan, menelusuri tulang selangka Anya yang menonjol.
Anya refleks menahan napas. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut yang aneh ke seluruh tubuhnya. Kulitnya meremang seketika.
"Tugasmu adalah membuatku nyaman," bisik Tama, wajahnya kini mendekat ke arah telinga Anya. "Dan penampilanmu hari ini... cukup menarik perhatianku."
Jari-jari Tama terus bergerak turun, merayap perlahan dari tulang selangka menuju batas kain seragam Anya yang berpotongan sangat rendah. Anya bisa merasakan ujung jari pria itu menyentuh kulit bagian atas dadanya yang terekspos. Sentuhan itu tidak kasar, justru sangat perlahan dan penuh penekanan, seolah Tama sedang mengklaim kepemilikan atas apa yang sedang disentuhnya.
"P-Pak Tama..." cicit Anya, suaranya nyaris habis. Tangannya yang bebas kini meremas pinggiran roknya sendiri dengan sangat kencang hingga kukunya memutih. Ada pertarungan hebat di dalam batinnya. Sisi moralnya menolak keras perlakuan ini, namun bayangan wajah Arka yang membutuhkan biaya pengobatan bulanan yang sangat besar mendadak melintas di benaknya, mengunci lidah Anya untuk memprotes lebih jauh.
Tama terkekeh pelan melihat reaksi tubuh Anya yang menegang namun tidak menolak secara fisik. Baginya, kepolosan dan ketakutan yang terpancar dari tubuh Anya adalah sebuah hidangan pembuka yang sangat memikat. Telapak tangan Tama kini sepenuhnya menempel di dada bagian atas Anya, tepat di atas detak jantung gadis itu yang berpacu luar biasa cepat seperti genderang perang.
"Jantungmu berdetak sangat kencang, Anya. Takut?" tanya Tama, matanya menatap lekat-lekat wajah Anya yang kini memerah sempurna, entah karena malu atau karena sensasi asing yang menjalar di tubuhnya.
"Saya... saya hanya belum terbiasa, Pak," jawab Anya dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menjaga agar air matanya tidak jatuh. Ia merasa sangat rapuh saat ini. Sentuhan tangan Tama di dadanya terasa begitu mendominasi, seolah-olah pria ini memiliki kendali penuh atas hidup dan matinya.
Tama mempertahankan posisinya selama beberapa detik, membiarkan telapak tangannya merasakan kehangatan kulit Anya dan detak jantung yang liar itu, sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali secara perlahan. Kehangatan yang tiba-tiba hilang itu anehnya membuat Anya merasa sedikit hampa sekaligus lega yang luar biasa.
Tama berjalan kembali ke balik mejanya, seolah-olah interaksi intim yang baru saja terjadi tidak berarti apa-apa baginya. Ia kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan profesional dalam sekejap mata.
"Ambil berkas di sebelah kananmu, bawa ke ruang rapat utama. Kita memiliki waktu sepuluh menit sebelum presentasi dimulai," perintah Tama tanpa beban, matanya kembali tertuju pada layar laptopnya.
Anya mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat melayang. Ia menarik napas dalam-dalam, membetulkan posisi kerah seragamnya yang sedikit berantakan akibat sentuhan tadi, lalu mengambil berkas yang dimaksud dengan tangan yang masih gemetar.
"Baik, Pak. Saya permisi untuk menyiapkannya terlebih dahulu," ucap Anya lirih.
Sebelum Anya mencapai pintu, suara Tama kembali menghentikan langkahnya.
"Anya."
Anya menoleh perlahan. "Ya, Pak?"
Tama mendongak, memberikan senyuman tipis yang terlihat sangat misterius namun penuh kepuasan. "Ini baru awal. Aku berharap performamu di ruang rapat sama bagusnya dengan caramu menerimaku tadi."
Anya hanya bisa mengangguk kaku, lalu segera keluar dari ruangan tersebut. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, Anya bersandar pada dinding lorong yang sepi. Ia menyentuh dadanya sendiri, tempat di mana tangan Tama baru saja bertengger.
Kulitnya masih terasa hangat dan berdesir. Anya memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa dalam hati agar ia diberikan kekuatan untuk melewati hari-hari ke depan yang tampaknya akan menjadi jauh lebih menantang dan berbahaya bagi harga dirinya.
Proses pengecekan proyek pembangunan resort bertingkat itu menjadi sebuah siksaan neraka jahanam bagi Anya. Di bawah rintik hujan gerimis yang mulai membasahi bumi Bogor, Anya dipaksa berjalan selangkah di belakang Tama, melintasi jalanan tanah yang becek, menaiki tangga-tangga beton bangunan yang belum selesai, dan berdiri di tengah-tengah kepungan belasan pria paruh baya berseragam kontraktor dan arsitek.Setiap kali Anya melangkah, getaran dari alat di dalam dirinya bergesekan dengan dinding-dinding intimnya yang sensitif, menciptakan gelombang panas yang terus-menerus memacu adrenalin dan gairahnya. Sentuhan itu terasa sangat intens, lambat namun memberikan tekanan yang konstan tepat di titik paling peka miliknya. Anya merasakan sensasi panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kedua kakinya gemetar hebat di dalam sepatu hak tingginya."Bagaimana dengan progres area lobby utama, Pak Hadi?" tanya Tama dengan suara baritonnya yang sangat berwibawa dan tenang, seolah
Ketika mobil mewah itu akhirnya memasuki area proyek pembangunan resort eksklusif di kawasan perbukitan Bogor, awan hitam mulai bergelayut manja di langit, membawa hawa sejuk yang menusuk tulang. Namun, hawa dingin dari luar sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana di dalam kabin mobil. Sebaliknya, udara di sekitar Anya justru terasa semakin mencekam setelah Pak Tama menepikan kendaraan di area parkir khusus direksi yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk para pekerja konstruksi.Tama tidak segera mematikan mesin mobil. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Anya. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat-lekat ke arah sekretarisnya, tidak lagi memancarkan kemarahan yang meluap-luap seperti saat menerima telepon dari ayahnya tadi, melainkan sebuah ketenangan yang jauh lebih berbahaya ketenangan seorang predator yang telah menemukan jalan keluar dari sudut yang menjepitnya."Anya," panggil Tama, suaranya terdengar sangat rendah dan berat, berge
Perjalanan menuju proyek pembangunan resort di Bogor siang itu berlangsung dalam keheningan yang sangat mencekam. Di dalam kabin mobil mewah yang kedap suara, Anya duduk kaku di kursi penumpang depan, tepat di samping Pak Tama yang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi namun stabil. Amplop putih tebal yang kini tersimpan rapat di dalam tas kerjanya terasa seperti sebongkah batu besar yang terus-menerus menghimpit nuraninya. Setiap kali ia melirik ke arah tasnya, rasa bersalah dan kilasan memori tentang apa yang terjadi di ruangan rahasia tadi siang kembali berputar, membuat dadanya terasa sesak. Namun, fokus Anya teralihkan ketika ia menyadari perubahan drastis pada atmosfer di dalam mobil.Rahang pria di sebelahnya tampak mengeras dengan sangat kokoh, sepasang matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan dengan tatapan yang luar biasa dingin. Aura di sekitar Tama mendadak berubah menjadi jauh lebih pekat, kelam, dan mengintimidasi daripada biasanya. Pria itu tampak seda
Keheningan yang pekat kembali menguasai ruangan rahasia bernuansa merah redup itu. Di atas tempat tidur besar berseprai sutra hitam, deru napas yang berkejaran perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa ketegangan yang mendalam. Anya masih terlentang dengan kedua tangan yang terkunci pada jeruji besi di atas kepalanya. Kulitnya yang polos tampak berkilat oleh keringat tipis, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan yang gelap. Sensasi pelepasan dahsyat yang baru saja dilaluinya menyisakan rasa lemas yang luar biasa, berbaur dengan rasa hampa yang perlahan-lahan menggerogoti dinding kesadarannya. Tama bergerak perlahan, mengangkat tubuh tegapnya dari atas tubuh Anya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu turun dari tempat tidur yang berderit halus. Kehangatan tubuh yang mendadak hilang itu membuat Anya refleks bergidik kedinginan, merasakan kontras yang tajam antara udara ruangan ber-AC dengan panas kulit mereka yang baru saja bersentuhan.Klik
Napas Anya berkejaran dengan dengung alat yang masih aktif di dalam dirinya. Tubuhnya yang terborgol di tiang besi berguncang pelan, sepenuhnya dikuasai oleh intensitas rangsangan ganda yang diberikan Tama dari belakang. Setiap hisapan di leher dan remasan kuat di payudaranya membuat kesadaran Anya kian menipis. Ia berada di titik di mana penolakan sudah tidak lagi memiliki arti atau kekuatan.Tama bisa merasakan kehangatan dan getaran hebat dari tubuh Anya yang menempel pada dadanya. Kilat gairah di matanya semakin menggelap, dipicu oleh kepasrahan mutlak dari wanita polos yang kini berada di bawah kendalinya. Tak berniat menahan diri lebih lama, Tama mengulurkan tangannya ke atas, memutar kunci borgol dengan cepat hingga pergelangan tangan Anya terbebas dari tiang besi yang dingin itu.Sebelum Anya sempat ambruk ke lantai karena lemas, Tama dengan sigap menyangga tubuh polos itu dengan lengan kekarnya. Dengan gerakan yang penuh dominasi, ia membalikkan tubuh Anya dan langsung mengge
Pertahanan Anya akhirnya runtuh berkeping-keping. Di bawah siksaan, tubuhnya tidak lagi mampu mematuhi perintah otaknya untuk bertahan. Dengan satu hentakan kaku yang membuat seluruh tubuhnya melengkung menempel pada dinginnya dinding kaca, Anya mencapai puncak pelepasan yang teramat hebat. Air mata kepasrahan mengalir deras, membasahi kaca di depannya saat desahan panjang yang tersengal-sengal akhirnya lolos dari bibirnya yang terluka. Ia telah gagal dalam ujian yang diberikan Tama.Napas Anya memburu pendek-pendek, tubuhnya melosot lemas dan hampir jatuh ke lantai jika tangan kekar Tama tidak segera menahan pinggangnya dari belakang. Tama mematikan alat di tangannya, lalu membalikkan tubuh lemas Anya agar menghadap ke arahnya. Tatapan mata pria itu tidak lagi sekadar dingin ada kilat gairah dan kepuasan yang pekat terpancar dari manik matanya melihat sekretarisnya tak berdaya."Kamu gagal dalam ujian pertamamu, Anya," bisik Tama dengan nada rendah yang berbahaya. "Dan kegagalan di h







