LOGINLobi utama Aditama Group tampak seperti sebuah kuil kemegahan yang dingin. Tangan Anya yang menggenggam tumpukan berkas sedikit gemetar. Ia terus menarik bagian bawah roknya yang sangat pendek, mencoba menutupi pangkal pahanya yang terpampang jelas.
Namun, setiap gerakannya hanya membuatnya semakin sadar betapa tidak nyamannya pakaian ini. Kainnya tipis, transparan di beberapa bagian, dan didesain bukan untuk bekerja, melainkan untuk dipajang.
“Jangan ditarik terus, An. Nanti malah kelihatan aneh,” bisik Bulan yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya datar, namun ada peringatan keras di sana.
Anya menoleh, menatap sahabatnya itu dengan mata yang memohon pengertian. “Gue merasa telanjang, Bul. Ini kantor, bukan tempat tidur.”
Bulan mendesah pelan, ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar. “Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai desainer idealis dan mulai berpikir sebagai aset. Pak Tama tidak membayar sekretaris untuk merapikan dokumen saja. Dia membayar untuk estetika.”
Anya menunduk. Kata aset terasa seperti tamparan keras. Ia merasa harga dirinya perlahan luruh, digantikan oleh rasa putus asa yang kian pekat. Ia teringat wajah Arka, adiknya yang pucat di ranjang rumah sakit, yang selalu tersenyum meski menahan sakit. Bayangan itu cukup untuk membuat Anya menelan ludah, menekan ego dan rasa malunya jauh ke lubang terdalam di dadanya.
Suasana lobi mendadak berubah. Obrolan para staf yang tadinya terdengar samar, tiba-tiba berhenti total. Semua orang yang tadi berlalu-lalang dengan santai, kini mendadak berdiri tegak dengan posisi sempurna. Suara dentuman sepatu kulit di atas lantai marmer terdengar ritmis, semakin mendekat dari arah pintu masuk utama.
Anya menahan napas. Ia tahu siapa yang datang.
Dari kejauhan, sosok pria dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya terlihat berjalan dengan langkah lebar. Di belakangnya, dua pria berbadan besar dengan kacamata hitam mengikuti seperti bayang-bayang. Itu adalah Aditama Saputra.
Energi di lobi seakan tersedot habis oleh kehadiran pria itu. Tama memiliki aura yang menekan, dingin, tajam, dan mutlak. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan sorot matanya yang tajam menyapu lobi seperti radar. Ia tidak menoleh pada siapa pun, namun semua orang menunduk hormat seolah sedang memberikan penghormatan pada seorang raja.
Anya membeku. Jantungnya berdegup kencang, nyaris melompat dari kerongkongannya. Ia ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di lantai. Langkah kaki Tama terhenti tepat beberapa meter di depan meja resepsionis, di mana Anya dan Bulan berdiri.
Pria itu sedikit memutar kepalanya, dan matanya terkunci pada sosok Anya. Tatapan itu bukan tatapan bos kepada karyawan baru, melainkan tatapan predator yang menemukan mangsa segar di tengah kerumunan.
Anya merasakan tengkuknya meremang. Tatapan Tama seolah menelanjangi dirinya, mengukur, menilai, dan menghakimi setiap inci tubuhnya.
“Siapa?” suara Tama terdengar berat, dalam, dan serak. Suara yang memikat namun mematikan.
Seorang staf senior yang sedari tadi mendampingi Anya segera melangkah maju, membungkuk dalam. “Selamat pagi, Pak Tama. Ini Anya, sekretaris baru yang disiapkan oleh tim personalia untuk agenda rapat hari ini.”
Tama tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Jaraknya dengan Anya kini hanya tersisa setengah meter. Anya bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria itu. Ia harus mendongak untuk menatap wajah Tama yang tampan namun terlihat sangat arogan.
Tama memicingkan mata, menyapu pandangan dari wajah Anya turun ke bawah, memperhatikan seragam yang melekat di tubuh gadis itu dengan detail yang membuat Anya ingin menangis karena merasa terhina.
“Sekretaris?” tanya Tama dengan nada mengejek. Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Wajahnya terlalu polos untuk pekerjaan ini. Apa dia tahu apa yang harus dia lakukan?”
Anya merasakan panas di pipinya. Ia berusaha mempertahankan harga dirinya meski suaranya sedikit bergetar. “Saya... saya siap belajar, Pak.”
Tama terkekeh pelan, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya. Ia kemudian menjentikkan jarinya, dan salah satu ajudannya segera memberikan sebuah tablet kepadanya. Tanpa menoleh pada Anya lagi, Tama berjalan melewati mereka.
“Ikut aku,” perintahnya singkat tanpa menoleh.
Anya terdiam sesaat, bingung harus berbuat apa. Bulan segera menyenggol lengan Anya, memberi kode agar ia segera mengejar.
“Cepat, An!” bisik Bulan dengan nada mendesak.
Anya segera melangkah, setengah berlari untuk menyamakan langkah panjang Tama menuju lift khusus eksekutif. Ketika mereka masuk ke dalam lift, suasana menjadi jauh lebih mencekam. Hanya ada mereka berdua. Pintu lift tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar.
Tama berdiri membelakangi Anya, menatap angka lantai yang terus berganti. Anya meremas berkas di tangannya hingga kertasnya sedikit terlipat.
“Aku tidak suka dengan sekretaris yang tidak kompeten,” ucap Tama tiba-tiba tanpa menoleh. “Dan aku lebih tidak suka dengan sekretaris yang merasa dirinya lebih suci dari pekerjaannya.”
Anya menahan napas. “Saya mengerti, Pak.”
Tama memutar tubuhnya perlahan. Ia kini berdiri tepat di hadapan Anya, memojokkan gadis itu ke dinding lift yang terbuat dari cermin. Ia meletakkan satu tangannya di dinding, mengunci pergerakan Anya. Jarak mereka begitu dekat hingga Anya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulit wajahnya.
Tama menatap Anya dengan intens, matanya menelusuri wajah Anya yang ketakutan. “Kamu cantik. Itu nilai tambah. Tapi di kantor ini, kecantikan hanya berlaku jika kamu bisa menurut. Mengerti?”
Anya mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. “Mengerti, Pak.”
“Bagus,” bisik Tama.
Tangan Tama terulur, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh dagu Anya, memaksa gadis itu untuk menatap matanya lebih dalam. Anya merasa seolah sedang terseret ke dalam lubang hitam yang dalam. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Ia telah menjual kenyamanan dan ketenangannya demi uang, demi Arka.
Pintu lift terbuka dengan denting halus di lantai tiga puluh, ruang kerja pribadi Tama.
“Siapkan kopi hitam tanpa gula dan berkas laporan proyek Aditama di mejaku dalam lima menit,” perintah Tama seraya melepaskan sentuhannya dan berjalan keluar dari lift dengan angkuh.
Anya terdiam di dalam lift sejenak, membiarkan detak jantungnya yang tidak beraturan kembali stabil. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang, dan menatap pantulan dirinya di cermin lift. Gadis di cermin itu terlihat rapuh, namun matanya menyiratkan tekad yang keras.
“Demi Arka,” gumamnya lirih.
Anya pun melangkah keluar dari lift, memasuki ruang kerja bosnya yang luas dan dingin, memulai babak baru dalam hidupnya yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lupakan, atau sesuatu yang akan mengubahnya selamanya.
Sensasi air hangat yang membasahi area sensitif mereka, berpadu dengan gesekan kulit yang teramat intim di bawah air, menciptakan sebuah rangsangan baru yang luar biasa berbeda dan jauh lebih intens daripada sebelumnya. Tekanan air memberikan sensasi gesekan yang terasa tebal dan padat. Menariknya, Tama tidak menggerakkan pinggulnya sendiri kali ini ia justru menahan tangannya di pinggul Anya, mengunci posisi wanita itu dan memberikan kendali penuh atas ritme gerakan tersebut kepada sekretaris pribadinya."Gesekkan sendiri tubuhmu, Anya. Cari ritmemu dan buat dirimu sendiri merasa nyaman di atasku," perintah Tama dengan nada suara parau yang menuntut kepatuhan mutlak. Ia ingin melihat sejauh mana sekretarisnya akan menyerah pada insting hewani yang telah ia bangkitkan.Didorong oleh rasa hangat yang memabukkan dari air lavender, serta memori kenikmatan dahsyat yang belum sepenuhnya menguap dari kepalanya, Anya perlahan-lahan mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun secara ritmis.
Sisa-sisa badai kenikmatan yang baru saja melanda di atas tempat tidur besar berseprai sutra hitam itu perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang berat di dalam suite room. Namun, atmosfer di dalam kamar mewah itu sama sekali tidak melonggar atau melunak. Ketegangan yang pekat masih menggantung di udara, seolah menegaskan bahwa permainan kekuasaan ini belum benar-benar mencapai titik akhir.Tama bergerak perlahan, mengurai tubuh tegapnya dari kungkungan tubuh Anya yang masih terengah-engah. Ia bangkit dari atas kasur tanpa memedulikan sisa-sisa keintiman yang baru saja mereka bagi, menampilkan siluet tubuhnya yang atletis, kokoh, dan penuh urat menonjol di bawah temaram lampu kamar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dengan langkah kaki yang tenang dan penuh wibawa, ia melangkah menuju kamar mandi mewah yang dibatasi oleh dinding kaca buram di sudut ruangan.Tak lama kemudian, suara gemericik air hangat yang mengalir deras mulai terdengar memenuhi ruangan, memecah kesunyian malam
Anya tersentak hebat ketika jari telunjuk Tama yang kasar bersentuhan langsung dengan permukaan klitorisnya yang sudah meradang akibat getaran mesin selama berjam-jam. Sensasi sentuhan kulit manusia yang mentah itu terasa ribuan kali lebih intens dan mengejutkan daripada simulasi mekanis sebelumnya."Ahhh! Pak Tama... mmpff!" Anya memekik, mencoba merapatkan kedua pahanya secara refleks untuk melindungi dirinya, namun kekuatan fisik Tama jauh lebih unggul. Pria itu menggunakan lututnya sendiri untuk mengganjal paha Anya tetap terbuka lebar di atas karpet tebal kamar hotel.Tama tidak memberikan kelembutan yang biasa diberikan oleh seorang kekasih. Sentuhannya sangat menuntut, mekanis, dan penuh perhitungan untuk memberikan rangsangan maksimal sekaligus siksaan rasa sakit yang samar. Jari tengahnya yang panjang mulai mendorong masuk ke dalam liang intim Anya yang sempit, bergerak maju-mundur dengan ritme yang cepat dan menekan dinding-dinding bagian dalam yang masih perawan."Nnnghh...
Kamar suite itu sangat luas, berudara hangat dengan pencahayaan temaram berwarna kuning keemasan yang memberikan kesan intim sekaligus intimidatif. Kamar ini begitu mewah, namun bagi Anya, tempat ini terasa seperti sebuah altar pemujaan baru di mana ia akan mengorbankan sisa harga dirinya. Suasana di dalam kamar ini sangat kontras dengan badai hujan yang menderu keras di luar jendela kaca besar, dan juga kontras dengan badai gairah yang berkecamuk hebat di dalam rongga dadanya.Tama melangkah masuk ke tengah ruangan tanpa ketergesaan. Ia melepaskan jas abu-abu gelapnya yang sedikit basah oleh rintik hujan, melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke atas sofa kulit dengan gerakan yang sangat santai seolah ia sedang berada di rumahnya sendiri. Pria itu kemudian membalikkan tubuh tegapnya, berjalan perlahan kembali ke arah pintu masuk, dan berdiri menjulang tepat di depan Anya yang masih bersimpuh dengan tubuh yang gemetar hebat di atas karpet.Tama menatap ke
Rintik gerimis di perbukitan Bogor perlahan-lahan berubah menjadi hujan lebat yang menderu deras, menghantam atap beton dan membungkus balkon lantai tiga proyek resort itu dengan tirai air yang sangat tebal. Angin gunung yang berembus masuk membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menciptakan kabut tipis di sekitar koridor yang sepi. Namun, dinginnya embun malam itu sama sekali tidak mampu memadamkan api yang tengah membakar seluruh sistem saraf Anya. Tubuhnya masih bersandar lemas pada dinding beton yang kasar dan lembap, sementara getaran konstan dari alat nirkabel yang tertanam di dalam dirinya terus memompa gelombang rangsangan tanpa ampun, mengabaikan fakta bahwa ia sedang berada di tempat terbuka.Otot-otot pahanya berkedut lembut secara refleks, dan cairan alami tubuhnya kini terasa mengalir hangat, membasahi kain celana dalam hingga terasa begitu lengket, panas, dan menyiksa setiap kali ia mencoba bergeser. Setiap tarikan napasnya terasa berat dan terputus-putus. Keadaan ini b
Proses pengecekan proyek pembangunan resort bertingkat itu menjadi sebuah siksaan neraka jahanam bagi Anya. Di bawah rintik hujan gerimis yang mulai membasahi bumi Bogor, Anya dipaksa berjalan selangkah di belakang Tama, melintasi jalanan tanah yang becek, menaiki tangga-tangga beton bangunan yang belum selesai, dan berdiri di tengah-tengah kepungan belasan pria paruh baya berseragam kontraktor dan arsitek.Setiap kali Anya melangkah, getaran dari alat di dalam dirinya bergesekan dengan dinding-dinding intimnya yang sensitif, menciptakan gelombang panas yang terus-menerus memacu adrenalin dan gairahnya. Sentuhan itu terasa sangat intens, lambat namun memberikan tekanan yang konstan tepat di titik paling peka miliknya. Anya merasakan sensasi panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kedua kakinya gemetar hebat di dalam sepatu hak tingginya."Bagaimana dengan progres area lobby utama, Pak Hadi?" tanya Tama dengan suara baritonnya yang sangat berwibawa dan tenang, seolah







