Home / Romansa / SENTUHAN YANG SALAH / BAB III : PERTEMUAN PERTAMA

Share

BAB III : PERTEMUAN PERTAMA

Author: Rara
last update publish date: 2026-07-01 09:09:07

Lobi utama Aditama Group tampak seperti sebuah kuil kemegahan yang dingin. Tangan Anya yang menggenggam tumpukan berkas sedikit gemetar. Ia terus menarik bagian bawah roknya yang sangat pendek, mencoba menutupi pangkal pahanya yang terpampang jelas.

Namun, setiap gerakannya hanya membuatnya semakin sadar betapa tidak nyamannya pakaian ini. Kainnya tipis, transparan di beberapa bagian, dan didesain bukan untuk bekerja, melainkan untuk dipajang.

“Jangan ditarik terus, An. Nanti malah kelihatan aneh,” bisik Bulan yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya datar, namun ada peringatan keras di sana.

Anya menoleh, menatap sahabatnya itu dengan mata yang memohon pengertian. “Gue merasa telanjang, Bul. Ini kantor, bukan tempat tidur.”

Bulan mendesah pelan, ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar. “Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai desainer idealis dan mulai berpikir sebagai aset. Pak Tama tidak membayar sekretaris untuk merapikan dokumen saja. Dia membayar untuk estetika.”

Anya menunduk. Kata aset terasa seperti tamparan keras. Ia merasa harga dirinya perlahan luruh, digantikan oleh rasa putus asa yang kian pekat. Ia teringat wajah Arka, adiknya yang pucat di ranjang rumah sakit, yang selalu tersenyum meski menahan sakit. Bayangan itu cukup untuk membuat Anya menelan ludah, menekan ego dan rasa malunya jauh ke lubang terdalam di dadanya.

Suasana lobi mendadak berubah. Obrolan para staf yang tadinya terdengar samar, tiba-tiba berhenti total. Semua orang yang tadi berlalu-lalang dengan santai, kini mendadak berdiri tegak dengan posisi sempurna. Suara dentuman sepatu kulit di atas lantai marmer terdengar ritmis, semakin mendekat dari arah pintu masuk utama.

Anya menahan napas. Ia tahu siapa yang datang.

Dari kejauhan, sosok pria dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya terlihat berjalan dengan langkah lebar. Di belakangnya, dua pria berbadan besar dengan kacamata hitam mengikuti seperti bayang-bayang. Itu adalah Aditama Saputra.

Energi di lobi seakan tersedot habis oleh kehadiran pria itu. Tama memiliki aura yang menekan, dingin, tajam, dan mutlak. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan sorot matanya yang tajam menyapu lobi seperti radar. Ia tidak menoleh pada siapa pun, namun semua orang menunduk hormat seolah sedang memberikan penghormatan pada seorang raja.

Anya membeku. Jantungnya berdegup kencang, nyaris melompat dari kerongkongannya. Ia ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di lantai. Langkah kaki Tama terhenti tepat beberapa meter di depan meja resepsionis, di mana Anya dan Bulan berdiri.

Pria itu sedikit memutar kepalanya, dan matanya terkunci pada sosok Anya. Tatapan itu bukan tatapan bos kepada karyawan baru, melainkan tatapan predator yang menemukan mangsa segar di tengah kerumunan.

Anya merasakan tengkuknya meremang. Tatapan Tama seolah menelanjangi dirinya, mengukur, menilai, dan menghakimi setiap inci tubuhnya.

“Siapa?” suara Tama terdengar berat, dalam, dan serak. Suara yang memikat namun mematikan.

Seorang staf senior yang sedari tadi mendampingi Anya segera melangkah maju, membungkuk dalam. “Selamat pagi, Pak Tama. Ini Anya, sekretaris baru yang disiapkan oleh tim personalia untuk agenda rapat hari ini.”

Tama tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Jaraknya dengan Anya kini hanya tersisa setengah meter. Anya bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria itu. Ia harus mendongak untuk menatap wajah Tama yang tampan namun terlihat sangat arogan.

Tama memicingkan mata, menyapu pandangan dari wajah Anya turun ke bawah, memperhatikan seragam yang melekat di tubuh gadis itu dengan detail yang membuat Anya ingin menangis karena merasa terhina.

“Sekretaris?” tanya Tama dengan nada mengejek. Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Wajahnya terlalu polos untuk pekerjaan ini. Apa dia tahu apa yang harus dia lakukan?”

Anya merasakan panas di pipinya. Ia berusaha mempertahankan harga dirinya meski suaranya sedikit bergetar. “Saya... saya siap belajar, Pak.”

Tama terkekeh pelan, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya. Ia kemudian menjentikkan jarinya, dan salah satu ajudannya segera memberikan sebuah tablet kepadanya. Tanpa menoleh pada Anya lagi, Tama berjalan melewati mereka.

“Ikut aku,” perintahnya singkat tanpa menoleh.

Anya terdiam sesaat, bingung harus berbuat apa. Bulan segera menyenggol lengan Anya, memberi kode agar ia segera mengejar.

“Cepat, An!” bisik Bulan dengan nada mendesak.

Anya segera melangkah, setengah berlari untuk menyamakan langkah panjang Tama menuju lift khusus eksekutif. Ketika mereka masuk ke dalam lift, suasana menjadi jauh lebih mencekam. Hanya ada mereka berdua. Pintu lift tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar.

Tama berdiri membelakangi Anya, menatap angka lantai yang terus berganti. Anya meremas berkas di tangannya hingga kertasnya sedikit terlipat.

“Aku tidak suka dengan sekretaris yang tidak kompeten,” ucap Tama tiba-tiba tanpa menoleh. “Dan aku lebih tidak suka dengan sekretaris yang merasa dirinya lebih suci dari pekerjaannya.”

Anya menahan napas. “Saya mengerti, Pak.”

Tama memutar tubuhnya perlahan. Ia kini berdiri tepat di hadapan Anya, memojokkan gadis itu ke dinding lift yang terbuat dari cermin. Ia meletakkan satu tangannya di dinding, mengunci pergerakan Anya. Jarak mereka begitu dekat hingga Anya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulit wajahnya.

Tama menatap Anya dengan intens, matanya menelusuri wajah Anya yang ketakutan. “Kamu cantik. Itu nilai tambah. Tapi di kantor ini, kecantikan hanya berlaku jika kamu bisa menurut. Mengerti?”

Anya mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. “Mengerti, Pak.”

“Bagus,” bisik Tama.

Tangan Tama terulur, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh dagu Anya, memaksa gadis itu untuk menatap matanya lebih dalam. Anya merasa seolah sedang terseret ke dalam lubang hitam yang dalam. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Ia telah menjual kenyamanan dan ketenangannya demi uang, demi Arka.

Pintu lift terbuka dengan denting halus di lantai tiga puluh, ruang kerja pribadi Tama.

“Siapkan kopi hitam tanpa gula dan berkas laporan proyek Aditama di mejaku dalam lima menit,” perintah Tama seraya melepaskan sentuhannya dan berjalan keluar dari lift dengan angkuh.

Anya terdiam di dalam lift sejenak, membiarkan detak jantungnya yang tidak beraturan kembali stabil. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang, dan menatap pantulan dirinya di cermin lift. Gadis di cermin itu terlihat rapuh, namun matanya menyiratkan tekad yang keras.

“Demi Arka,” gumamnya lirih.

Anya pun melangkah keluar dari lift, memasuki ruang kerja bosnya yang luas dan dingin, memulai babak baru dalam hidupnya yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lupakan, atau sesuatu yang akan mengubahnya selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB VI : KESALAHAN FATAL

    Sebagai seorang yang memiliki latar belakang di dunia desain, tumpukan laporan keuangan, jadwal investasi, dan penyusunan agenda korporat adalah labirin rumit yang kerap membuatnya pusing tujuh keliling. Namun, demi Arka dan pasokan obat-obatannya yang mahal, Anya memaksakan otaknya untuk bekerja dua kali lebih keras.Pagi itu, suasana di lantai tiga puluh terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pak Tama dijadwalkan untuk memimpin rapat koordinasi tahunan bersama para investor asing melalui video conference skala besar. Semua berkas materi presentasi dan data analitik seharusnya sudah selesai diperiksa dan diunggah ke sistem utama oleh Anya sejak tiga puluh menit yang lalu."Kenapa file-nya bisa rusak? Sial, kenapa data yang ini belum masuk?!" gumam Anya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari bahwa ada satu folder berisi grafik audit eksternal yang salah ia format, membuat seluruh sistem presentasi tidak bisa membaca data tersebut.Sebelum Anya sempat memperbaiki

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB V : KEJUJURAN atau KEBOHONGAN?

    Anya masih bisa merasakan bagaimana dadanya berdesir hebat. Di balik pintu ruang kerja Pak Tama yang baru saja ia tutup dengan rapat, ia bersandar pada dinding lorong lantai tiga puluh yang sepi. Ia memejamkan mata erat-erat, dan berharap dalam hati agar diberikan kekuatan untuk melewati hari pertama ini.Hari itu pun berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Jam demi jam ia habiskan dengan mengabaikan pandangan-pandangan penuh arti dari staf lain, membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan berkas komersial hingga matahari terbenam dan digantikan oleh pekatnya malam.Malam telah larut ketika Anya akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Bayangan tatapan predator Pak Tama dan sentuhan berani pria itu di ruang kerjanya terus berputar-putar di kepala, menyisakan rasa bersalah dan kehampaan yang mendalam.Ia merasa kotor. Ia merasa menandatangani kontrak tak tertulis u

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB IV : SENTUHAN PERTAMA

    Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali."Masuk," terdengar suara berat dari dalam.Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akiba

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB III : PERTEMUAN PERTAMA

    Lobi utama Aditama Group tampak seperti sebuah kuil kemegahan yang dingin. Tangan Anya yang menggenggam tumpukan berkas sedikit gemetar. Ia terus menarik bagian bawah roknya yang sangat pendek, mencoba menutupi pangkal pahanya yang terpampang jelas. Namun, setiap gerakannya hanya membuatnya semakin sadar betapa tidak nyamannya pakaian ini. Kainnya tipis, transparan di beberapa bagian, dan didesain bukan untuk bekerja, melainkan untuk dipajang.“Jangan ditarik terus, An. Nanti malah kelihatan aneh,” bisik Bulan yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya datar, namun ada peringatan keras di sana.Anya menoleh, menatap sahabatnya itu dengan mata yang memohon pengertian. “Gue merasa telanjang, Bul. Ini kantor, bukan tempat tidur.”Bulan mendesah pelan, ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar. “Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai de

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB II : MAJU atau MUNDUR?

    Keesokan paginya, Anya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan dan bekal sang adik dikejutkan oleh usapan kecil dari belakang. Ia pun refleks berteriak."Astaga! Dek, jangan ngagetin Kakak ih. Kalau Kakak jantungan gimana? Nakal banget sih. Udah sana kamu sarapan dulu, ini bekalnya udah Kakak siapin. Kakak mau siap-siap dulu," ucap Anya sambil memegang dada yang berdebar.Arka yang mendengar ucapan sang kakak pun mengerutkan keningnya."Kakak mau siap-siap ke mana? Seneng banget kayaknya," tanya Arka sembari menghabiskan sarapannya.Anya yang mendengar ucapan sang adik pun membalikkan badannya, menatap Arka dengan tatapan mengejek. "Kakak bakal kerja di tempat yang bagus. Bentar lagi si Bul nganterin seragamnya. Habis ini tiap Kakak gajian, kita bakal makan enak," jawab Anya bangga.Setelah mendengar ucapan sang kakak, Arka pun berdiri dan bersiap pergi ke sekolah. Ia menghampiri Anya sembari membawa bekal di tangannya, kemudian memeluk sang kakak dengan erat."Maafin adek ya, Kak. Maaf adek cu

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB I : PERMULAAN

    Anya Redisa adalah seorang perempuan muda yang memiliki bakat dalam mendesain sebuah karya, namun latar belakang yang dimilikinya sangat menyedihkan. Anya hidup tanpa kedua orang tua yang telah lama hilang, meninggalkan ia dan seorang adiknya, Arka Rahendra. Arka adalah satu-satunya kerabat yang Anya miliki.Sayangnya, Arka tidak dapat tumbuh seperti anak laki-laki pada umumnya. Ia harus bergantung pada obat-obatan yang menunjang hidupnya. Namun lambat laun, Anya mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan obat tersebut."Huft... Obat adek hanya cukup untuk satu bulan. Bagaimana untuk bulan berikutnya? Aku harus mencari pekerjaan yang bergaji tinggi supaya bisa beli obat buat adek. Mana stok makanan sudah mulai menipis. Jangan-jangan beras juga habis, astaga!" Anya menggerutu pelan, lalu bergegas menuju tempat penyimpanan beras.Setelah mengecek persediaan, Anya dapat bernapas sedikit lega karena persediaan beras yang ia miliki setidaknya cukup untuk menopang kehidupan mereka beberapa wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status