Share

Bagian 5

Acara pernikahan yang dilangsungkan di daerah Jakarta Pusat berakhir baik. Setelah menginap satu hari di hotel. Dua keluarga yang kini resmi menjadi keluarga besar berkumpul di lobi. Linda dan suaminya Ahmad nampak serasi dengan baju batik berwarna coklat tua. Sementara orang tua Adzriel tampak lebih formal dikarenakan setelah ini mereka harus terbang ke luar kota.

Dua keluarga ini tengah mengobrol ringan sambil menunggu kedatangan Embun. Pengantin baru yang baru saja menikah kemarin siang. Orang pertama yang melihat kedatangan Embun adalah sang ayah mertua, Sebastian. Pria paruh baya berpostur tubuh tinggi tegap seperti putranya. Meski sudah berumur hampir lima puluh tahun, kerutan tanda penuaan di wajah nampak samar. Membuatnya sering dikira lebih muda sepuluh tahun. 

“Selamat pagi menantu ayah,” sapa Sebastian ramah. 

Embun membungkuk sedikit dan membalas sapaan ayah mertuanya. “Pagi juga, ayah. Ibu, Mama dan Papa yakin mau pulang sekarang? Tidak mau nunggu, Kak Adzriel?”

“Tidak usah. Anak itu kalau sudah dapat panggilan darurat bisa lama pulangnya.” Giselle, ibu dari Adzriel menjawab. Wajahnya terlihat sedih saat menyentuh pelan lengan menantunya. “Kamu yakin tidak mau pulang ke rumah orang tuamu dulu? Ibu tidak tega, masa pengantin baru pulang ke rumah sendirian.”

“Benar, Nak. Kamu ikut pulang ke rumah Mama saja dulu. Nanti tinggal telpon suamimu minta dijemput.” Linda ikut menambahkan. 

Sebenarnya tawaran dari orang tuanya cukup menggoda. Namun dengan berat hati, Embun menolak. Ia ingin secepatnya pulang ke rumah miliknya dan Adzriel. Sudah tidak sabar ia mengurus rumah tersebut, mendekornya sesuai selera, kemudian membuatkan makan malam dan menunggu kepulangan sang suami. Memikirkannya saja sudah membuat hatinya bergetar gembira. 

“Embun baik-baik saja, Mah, Bu. Ini juga bukan kemauan Kak Adzriel, namanya juga panggilan tugas.” demi menenangkan dua hati perempuan di depannya, Embun merangkul mereka dan memeluknya erat. “Mama, Ibu, Papa dan Ayah tidak usah khawatir. Kalian pulangnya hati-hati dan jangan lupa kabarin kalau sudah sampai di grup keluarga.”

Menyadari keputusan putri mereka sudah bulat. Linda dan Giselle hanya bisa membalas pelukan Embun dan mengusap punggungnya menguatkan. Embun melepas pelukannya, kali ini memberi kecupan singkat di pipi Ahmad dan mencium tangan ayah mertua.

“Jaga diri baik-baik, Nak. Kalau lagi masak jangan suka ditinggalin seperti kebiasaanmu di rumah.” Sekali lagi Linda mengingatkan. Rupanya wanita paruh baya itu belum sepenuhnya mempercayai putrinya mengurus rumah sendiri. “Atau Mama menginap saja di rumahmu? Temani kamu sampai suamimu pulang.”

“Ih, Mama mau ganggu malam pertama pengantin baru?” Embun malah meledek, walau kenyataannya malam indah itu telah dilalui semalam. “Embun bukan anak kecil lagi. Embun sekarang istrinya Kak Adriel. Embun juga tidak akan meninggalkan kompor menyala, janji!”

Setelah agak lama membujuk, akhirnya para orang tua luluh juga. Embun segera mengantar mereka ke depan pintu masuk lobi utama. Mobil pajero hitam sudah menunggu suami istri keluarga Adhva. Sementara di belakangnya mobil biru juga siap menjemput keluarga Embun. Mereka saling melambaikan tangan ke arah Embun ketika masing-masing kendaraan besi hendak melaju. 

Usai memastikan kedua mobil telah hilang dari pandangan. Embun kembali memasuki hotel untuk bersiap-siap check out. Kamar inapnya berada di lantai empat. Kondisi kamar pagi ini sedikit berantakan terutama di bagian petiduran. Manik hitamnya melirik sekilas namun ingatan malam pertama membuat wajahnya memanas. Embun mengipas wajah sambil sesekali memegang pipi. Semburat merah muncul saat mengingat kembali sentuhan Adzriel di tubuhnya. 

“Lupakan, Embun! Ini masih pagi, jangan mikirin hal tidak senonoh, deh!” gerutunya sendiri. 

Matahari di luar sudah semakin terik saat akhirnya Embun selesai packing. Ia menarik satu koper besar berwarna putih dan menjinjing tas kain. Gadis itu kembali turun ke lobi hotel, membalas sapaan staff hotel sambil menuju ke arah pintu masuk. Di sana taksi sudah menunggunya. Dibantu pegawai laki-laki, Embun segera naik ke kursi penumpang di bagian belakang tanpa harus susah-susah menaruh barang bawaannya. 

Setelah memberitahu alamat tujuan, Embun mengeluarkan ponsel. Ia mengetuk layar touchscreen dan membuka aplikasi hijau untuk mengirim pesan pada suaminya. Meski hubungan mereka berdua masih canggung. Ia tidak akan semudah itu menyerah untuk memenangkan hati pria bernama lengkap Adzriel Adhva Rafandra. 

Kak Adzriel, ayah dan ibu sudah berangkat ke bandara. Mama dan papa juga sudah pulang ke rumah. Aku lagi dalam perjalanan pulang ke rumah kita. Kak Adzriel kira-kira kapan pulangnya? —terkirim. 

Selesai mengirim pesan, Embun menaruh kembali ponselnya. Ia tidak menunggu jawaban. Embun tahu betul bahwa pesannya akan lama mendapatkan balasan—atau mungkin malah tidak dibalas. 

.

.

.

Continue…

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status