LOGINSetelah memastikan Regan ditemukan dalam keadaan hidup dan kini berada di bawah pengawasan dokter, Arbian dan Arrana kembali mendatangi kantor kepolisian bersama pengacara. Kedatangan mereka kali ini bukan sekadar untuk memberikan kabar, tetapi juga membawa laporan tambahan mengenai kondisi Regan sekaligus meminta agar proses hukum terhadap kasus tersebut ditunda sementara waktu. Mereka ingin memberikan kesempatan kepada Regan untuk pulih agar keterangannya dapat menjadi petunjuk penting bagi penyidik dalam mengungkap siapa saja yang sebenarnya terlibat dalam penculikan tersebut.“Namun, Pak Septa sudah memberikan keterangan bahwa tidak ada pihak lain yang terlibat selain anak buahnya,” ujar salah satu penyidik setelah membaca laporan tambahan yang diserahkan pengacara Arbian.Pengacara itu mengangguk tenang. “Kami memahami keterangan tersebut, Pak. Namun, untuk membuktikan keraguan klien kami sekaligus memastikan seluruh fakta terungkap, sebaiknya kita menunggu sampai kondisi Regan s
Sesampainya di Jakarta, kedatangan Bu Ningrum dan Pak Hamid disambut langsung oleh Randu. Lelaki itu bahkan menyempatkan diri menghampiri keduanya dan menyambut mereka dengan penuh hormat. Tidak ada sedikit pun sikap merendahkan meski ia tahu pasangan paruh baya tersebut berasal dari keluarga yang sangat sederhana.Randu menundukkan kepalanya sejenak sebelum berbicara dengan suara berat. "Maaf atas semua kejadian ini. Saya sangat menyesal sudah mengizinkan Alana pulang. Seandainya saya tahu akan terjadi seperti ini, saya tidak akan pernah membiarkannya pergi."Bu Ningrum menggeleng pelan. Meski wajahnya tampak lelah setelah perjalanan panjang, perempuan itu masih berusaha tersenyum."Ini musibah, Tuan Randu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita berdoa saja semoga Alana segera disadarkan."Pak Hamid ikut mengangguk. Tatapannya terlihat penuh rasa terima kkasih "Iya, Tuan. Justru kami yang sangat berterima kasih karena Tuan sudah membawa Alana ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih
Pasangan paruh baya itu tampak tergesa-gesa menutup pintu rumah sederhana mereka. Bu Ningrum bahkan sudah memastikan pintu terkunci sebelum berbalik hendak menyusul suaminya. Namun, suara deru sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah membuat langkah keduanya terhenti. Pak Hamid dan Bu Ningrum saling berpandangan. Belum sempat mereka bertanya siapa yang datang, kaca jendela mobil diturunkan. Seorang lelaki yang sudah sangat mereka kenal menyembulkan kepalanya dari balik kemudi. "Pak, Bu, mau ke mana?" tanyanya dengan nada mengejek. Bu Ningrum menahan napas saat menyadari kalau lelaki itu adalah Aksa. "Kami mau pergi." Namun, sebelum perempuan itu sempat melangkah, Aksa kembali membuka mulut. "Oh... mau nyusul anaknya yang jadi pelacur di kota, ya?" Kalimat itu membuat Bu Ningrum spontan mengusap dadanya. Wajahnya langsung pucat, sementara Pak Hamid membeku di tempat. Pak Hamid menatap Aksa dengan mata memerah. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di
Alana masih berada dalam kondisi yang sama. Tubuhnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan kedua mata terpejam. Wajahnya tampak pucat, sementara suara monitor dan alat-alat medis di sekelilingnya terdengar teratur, menciptakan irama menegangkan yang terus memenuhi ruangan.Randu masih menggenggam tangannya. Lelaki itu bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napas, berharap perempuan di hadapannya segera membuka mata."Oh, Tuhan..." gumamnya lirih.Randu mengusap wajahnya dengan tangan yang lain, lalu kembali menatap Alana."Aku pikir dia sudah bangun, tapi ternyata hanya perasaanku saja."Tadi ia sempat merasa seolah Alana membuka mata dan menyentuh kepalanya. Namun, setelah sadar sepenuhnya, ia kembali menemukan perempuan itu masih terbaring tanpa memberikan respons apa pun.Dalam diam, Randu terus memohon agar Alana segera bangun dari tidur panjangnya. Ia ingin mendengar suara perempuan itu lagi. Ia ingin melihat tatapan penuh luka yang dulu sering membuatnya
"Alana!"Suara Randu terdengar panik ketika ia melihat tubuh Alana terbaring diam di atas ranjang rumah sakit. Perempuan itu sama sekali tidak memberikan respons. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya terasa dingin, tetapi napasnya masih teratur seperti seseorang yang sedang tertidur lelap.Randu segera mendekat dan menggenggam tangan Alana yang terasa begitu dingin di telapak tangannya."Tolong bangun, Alana..."Ia menundukkan kepala, lalu mengecup punggung tangan perempuan itu dengan penuh kecemasan."Alana, dengar aku. Tolong buka matamu!"Tidak ada jawaban.Beberapa jam sebelumnya, Randu menerima telepon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa kondisi Alana tiba-tiba memburuk dan perempuan itu kehilangan kesadaran. Tanpa berpikir panjang, Randu langsung meninggalkan semua urusannya dan bergegas menuju rumah sakit. Namun, begitu tiba, ia justru mendapatkan kabar yang jauh lebih mengejutkan.Dokter menemukan adanya kandungan obat dalam tubuh Alana dengan dosis yang cukup tinggi.
"Kamu harus lihat ini, Sayang!"Suara Antoni memecah keheningan apartemen yang kini ditempati Arletha. Lelaki itu berjalan mendekat sambil mengulurkan ponselnya dengan senyum yang sulit diartikan. Sejak siang tadi ia terus mengikuti pemberitaan yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.Arletha yang semula duduk santai di sofa menoleh malas. Namun, begitu melihat layar ponsel yang disodorkan Antoni, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.Berita mengenai kecelakaan yang menimpa Alana telah tersebar luas. Tak hanya itu, nama Randu juga ikut terseret karena mobil yang mengalami kecelakaan merupakan kendaraan miliknya. Beberapa media bahkan menuliskan dugaan bahwa kecelakaan itu melibatkan sopir pribadi Randu dan seorang perempuan yang belakangan disebut-sebut sebagai saksi penting dalam persidangan perceraian mereka.Arletha menggeser layar ponsel itu beberapa kali. Foto mobil yang ringsek, ambulans, hingga gambar Alana yang dibawa menggunakan tandu membuat s







