Share

KENA 'PELET'

Penulis: NawankWulan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-12 22:52:02

Suara berisik di area dapur membuatku buru-buru menyambar hijab di tepi ranjang lalu gegas mencari sumbernya. Nggak ada apapun di dapur, hanya saja rawon yang kusiapkan untuk Mas Rama di atas kulkas entah mengapa bisa tumpah ke lantai, padahal jelas tadi kuletakkan di tengah-tengah nggak mungkin tumpah kalau nggak ada yang nyenggol.

"Ngapain kamu celingukan di situ?" Lagi, suara Mas Rama cukup mengagetkanku. Entah dari mana dia tiba-tiba muncul di belakang.

"Nyari kucing, Mas. Rawonnya ditumpahin kucing," balasku tanpa menoleh.

"Oh, kucing doyan rawon juga ternyata."

"Iya, kucing milenial doyan rawon, steak, soto sama seblak." Aku mendongak, tak sengaja bersirobok dengannya yang berdiri tiga langkah saja dari tempatku jongkok.

Mendadak pengin senyum, tapi kutahan. Bagaimana tidak? Kulihat bibirnya yang menghitam itu sedikit mengkilat bekas minyak. Kaos coklatnya kena cipratan rawon, aku yakin itu. Hanya saja dia nggak sadar kalau ada sisa rawon di kaosnya.

"Ngapain senyum-senyum begitu? Mulai gila kamu ya?" tuduhnya lagi tanpa filter sedikitpun dalam kalimatnya.

"Senyum aja sih, Mas. Soalnya kata orang-orang senyumku manis." Kuperlihatkan senyumku padanya, sengaja biar dia lihat.

"Norak! Udik banget sih kamu. Bisa-bisanya papa dapat asisten udik macam kamu."

"Biarpun udik dan norak, saya pinter masak loh, Mas. Rawonku enak."

"Mana kutahu, nggak doyan masakanmu."

"Serius?" Aku sengaja menaik turunkan alis saat tak sengaja saling tatap dengannya.

"Seriuslah. Ngapain bohong sama orang udik macam kamu. Nggak penting dan nggak guna. Kapan kamu balik? Jangan sok sabar dan sok menjadi pahlawan kesiangan di rumah ini. Kalau nggak mau makin sakit hati, lebih baik kamu pulang cepat ke kampungmu sana." Mas Rama menatapku sinis.

"Kamu ngusir aku, Mas?"

"Memangnya belum jelas juga kalimat panjang yang aku ucapkan tadi?"

"Belum tuh. Jelasin lagi dong." Aku mengedipkan mata sembari meringis kecil. Pura-pura tak paham dengan ucapannya.

"Bod*h!" umpatnya lagi. Kulihat dia pergi begitu saja menuju kamarnya yang tak jauh dari area dapur.

Aku pun membalikkan badan, kembali mengelap lantai bekas ceceran rawon. Tak kuasa menahan kesal sembari mengoceh pelan.

"Dasar manekin hidup. Monster tak punya hati. Sok nggak mau masakanku, padahal ketagihan. Masih saja belagu, sok jual mahal. Lihat saja nanti kalau kena pelet karena makan rawonku, biar tahu rasa!"

"Ngomong apa kamu?!" Tiba-tiba suara itu kembali. Kedua mataku melebar seketika. Bisa-bisanya dia balik lagi, mau apa coba? Dasar jelangkung, tiba-tiba muncul tiba-tiba menghilang.

"Ngomong apa sih, Mas?! Nggak ada ngomong aneh-aneh kok," sahutku tanpa menoleh. Pura-pura fokus dengan apa yang kulakukan detik ini, ngelap lantai dengan tisu sebelum aku pel nanti.

"Ngapain balik lagi sih, Mas? Ngagetin aja."

"Kamu bilang rawonmu ada peletnya?" Lagi-lagi aku tercekat. Sepertinya dia benar-benar mendengar ocehanku barusan.

"Iya. Mas Rama bilang begitu kan? Biar saja nanti kucingnya kena pelet. Ngeselin, rawonku dimakan hampir habis begini. Masa yang tumpah dikit kok di mangkuk sudah nggak ada. Aneh nggak sih?" Aku mendongak, menatapnya yang masih terlihat cuek.

"Pikir saja sendiri. Kenapa tanya sama aku?!" sahutnya sembari mengambil handphonenya yang tertinggal di atas meja.

Lagi-lagi aku tersenyum geli. Ketahuan kan dia yang makan rawon, jelas handphonenya tertinggal di sini, pakai acara ngelak segala. Dasar monster ajaib!

***

Malam ini adalah malam pertamaku tidur di rumah orang tanpa Emak atau bapak. Mata rasanya sulit sekali terpejam. Berulang kali baca doa tidur, berulang kali pula kembali terjaga.

Jarum jam mulai merambat naik. Kulirik angka yang tertera di layar handphone jadulku, jam sebelas malam. Suasana mulai sunyi meski di bawah masih terdengar suara televisi.

Mungkin juragan Rahmat dan ibu Farida masih ngobrol di ruang keluarga seperti satu jam lalu saat aku diminta Latifa mengambilkan beberapa camilannya di kulkas bawah untukku.

Tak lama kemudian terdengar deru mobil memasuki garasi. Aku kembali menajamkan pendengaran. Siapa yang baru pulang selarut ini? Mas Hanif sudah di kamar bersama anak lelakinya sejak dua jam yang lalu. Apa dia Mas Hisyam? Aku belum melihatnya sejak pagi, atau justru Mas Rama?

Laki-laki misterius itu benar-benar ajaib. Aku tak tahu apakah dia di kamar atau justru sudah pergi sebab tak melihat dia keluar dari kamarnya sejak bakda maghrib tadi. Bahkan kopi yang kuseduh dan kuletakkan di atas meja makan lengkap dengan note untuk namanya pun dibiarkan dingin tak tersentuh.

"Pulang malam lagi kamu, Rama! Mabuk lagi? Judi lagi? Mau jadi apa kalau tiap malam keluyuran begini, hah?!" Suara juragan Ginanjar terdengar sampai lantai atas. Aku tercekat seketika. Ternyata dugaanku benar, jika itu memang Mas Rama.

Kupikir dia masih di kamar, ternyata sudah pergi tanpa kusadari. Mungkin dia pergi saat aku di toilet sebelum shalat maghrib tadi.

"Baru jam sebelas, Pa. Biasanya jam dua pagi," sahut laki-laki itu datar.

"Lihat kakak dan adikmu itu, mana ada yang sebandel kamu! Selalu membantah dan menjawab tiap kali dinasehati orang tua."

"Terus saja bandingkan aku dengan aku dengan mereka. Seperti papa yang selalu membandingkan almarhum mama dengan perempuan itu. Kami sama-sama tak ada harganya di mata papa!" Derap langkah kaki semakin cepat menaiki tangga. Aku gugup saat tiba-tiba Mas Rama sudah berdiri di tengah tangga sembari menatapku tajam.

"Ngapain kamu di situ? Mau nguping obrolan orang? Minggir!" sentaknya sembari mendorongku kasar hingga nyaris terjungkal di anak tangga.

"Astaghfirullah!" pekikku seketika saat kakiku mundur selangkah. Hampir saja jatuh jika tangan kekar itu tak menggapai lenganku dan menariknya ke atas dengan tergesa.

"Alhamdulillah. Makas–”

"Lain kali jangan ikut campur urusan orang," ucapnya ketus dengan tatapan nyalang. Aku benar-benar takut melihat tatapan tajamnya itu. Apalagi saat kusadar mulutnya bau alkohol, rasanya perutku mual dan mau muntah seketika.

Ternyata cerita juragan Ginanjar memang benar jika Mas Rama doyan mabuk dan pulang malam. Mungkin jam sebelas belum malam baginya, tapi tadi sempat kudengar jika biasanya dia pulang jam dua pagi. Itu artinya apa yang dikatakan juragan tak salah. Mas Rama memang sebandel itu.

"Maaf, Mas. Nggak bermaksud mencampuri, cuma nggak bisa tidur makanya cari angin di luar kamar. Maaf kalau merasa terganggu," ujarku lirih. Aku tak peduli dia meyakini alasanku atau tidak, yang penting aku sudah berusaha jujur.

Sebenarnya tadi mau minum kopi di dapur, hanya saja memang penasaran dengan keributan di bawah. Cerobohnya aku nggak langsung pergi saat mendengar derap langkah Mas Rama menaiki anak tangga, jadi ketahuan kan sekarang. Duh!

"Bikinkan kopi. Jangan dikasih pelet," balasnya pendek tanpa menoleh.

Ingin sekali tertawa mendengar kata pelet dari bibirnya, hanya saja kutahan sedemikian rupa agar dia tak tersinggung lagi. Tumben sekali dia menyuruhku kan? Biasanya aku rayu supaya dia minta bantuanku saja jual mahal.

"Nggak mau?!" tanyanya lagi setelah melihatku tak beranjak dari tepi tangga.

"Eh, mau, Mas. Sebentar ya," ujarku buru-buru ke dapur.

Laki-laki itu pun masuk kamar begitu saja setelah melirikku setengah berlari menuju dapur. Tugasku saat ini menyeduhkan kopi sesuai perintahnya.

Sebenarnya aku ingin bertanya padanya bagaimana takaran kopi dan gula yang dia inginkan, hanya saja aku tak berani mengetuk pintu kamarnya. Mungkin aku samakan saja dengan takaran yang sering kubuat untuk Pakde Rudy dan Paklek Gino. Mereka pecandu kopi dan aku sering diminta membuatkannya saat acara kumpul keluarga. Semoga saja cocok.

Pakde Rudy bilang aku pintar menyeduh kopi, pas rasanya. Tak paham apakah itu sekadar memuji supaya aku senang membuatkannya kopi atau memang kopi buatanku benar-benar enak.

Cukup lama menunggu, pintu kamar itu belum juga terbuka. Sedari tadi aku hanya mondar-mandir nggak jelas di dapur, ingin mengetuk kamarnya atau membiarkan kopi itu dingin seperti sebelumnya.

Nyaris satu jam menunggu, laki-laki itu belum juga keluar kamar. Akhirnya mau tak mau aku kembali ke kamar dan menuliskan memo seperti sebelumnya. Tak mungkin menunggu laki-laki itu keluar kamar dan mengambil secangkir kopinya bukan? Aku tak tahu jam berapa dia bakal keluar, nggak mungkin kutunggu sampai pagi.

[Silakan dinikmati kopinya, Mas. Kalau sudah dingin, besok pagi saja kubuatkan lagi. Maaf aku takut di dapur sendirian, mau tidur dulu] Kuletakkan memo kecil itu di bawah cangkir.

Kedua mataku terasa semakin berat. Entah jam berapa aku terlelap, tapi yang pasti aku kembali terjaga saat alarm handphone berdering dan begitu berisik di samping telinga. Jam tiga pagi, waktunya untuk bersimpuh di hadapanNya dan memanjatkan doa-doa.

Seperti rencanaku sebelumnya, akan kutaklukkan monster tampan itu dengan doa di sepertiga malam. Semoga saja dia mau menerimaku sebagai asisten supaya juragan Ginanjar tak memecatku dari pekerjaan ini.

Baru selesai mengambil wudhu, kudengar suara berisik dari kamar sebelah. Sepertinya Mas Rama sudah bangun, atau dia memang belum tidur sedari tadi. Entah. Ingin mengintip apa yang terjadi di luar sana, tapi urung kulakukan. Aku nggak mau ketahuan lagi hingga membuatnya marah seperti tadi.

Suara pintu tertutup. Terdengar langkah kaki menuju dapur. Sepertinya Mas Rama memang keluar kamar. Mungkin dia teringat dengan kopi yang dia minta padaku beberapa jam lalu. Cukup penasaran, aku pun mengintip dari balik gorden.

Benar dugaanku, laki-laki itu kini duduk di kursi makan. Tepat di depan dia cangkir kopi yang menantinya hingga dingin. Perlahan dia mengambil kertas yang kuselipkan di bawah cangkir. Kulihat senyum tipis terlukis di bibirnya yang tadi bau alkohol. Aku tak yakin dengan mataku sendiri.

Benarkah dia tersenyum atau ini hanya halusinasiku belaka?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kiriman Foto

    Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kontrakan Baru

    Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya.​"Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.​Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Balasan Menohok

    Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Pertemuan Keluarga

    Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.​Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya.​"Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. ​Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Penyelidikan

    Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk.​"Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Membalas Ancaman

    Hanif baru saja hendak menutup pintu kemudi setelah memastikan Rafqa yang terlelap tidak terbangun, namun sebuah tangan dengan kuku merah menyala menahan pintu mobil itu dengan kasar.​BRAK!​"Mas Hanif! Kamu bener-bener keterlaluan!" teriak Laura. Napasnya memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal itu kini tampak berantakan karena emosi. ​Hanif menghela napas panjang, dia keluar dari mobil dan berdiri menjulang di depan Laura. Sorot matanya sedingin es. "Apa lagi, Laura? Belum cukup kamu mempermalukan diri sendiri di dalam tadi?"​Laura tertawa sumbang, matanya melirik tajam ke arah Dea yang duduk tegang di kursi penumpang depan.​"Aku yang malu? Harusnya kamu yang malu, Mas! Lihat perempuan itu!" Laura menunjuk wajah Dea dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia itu cuma perempuan kelas teri! Guru TK yang gajinya nggak seberapa. Dia pasti sengaja deketin kamu buat numpang hidup dan sengaja biar naik kasta!" cicit Laura begitu sengit. ​"Mbak Laura, tolong jaga bicara Mbak ...." Dea m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status