Share

MANEKIN

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2025-12-11 23:46:58

"Maaf, Mas. Aku diminta juragan Ginanjar bersihin kamar Mas Rama," ujarku pada lelaki yang baru keluar kamar itu. Sedari tadi menunggu, akhirnya dia keluar juga dari persembunyian. Laki-laki itu melirikku sekilas lalu mendengkus kesal.

"Nggak perlu. Aku bisa membersihkannya sendiri."

"Pakaian kotornya, Mas. Biar aku cuci dan setrika."

"Nggak, aku bisa bawa ke laundry," ujarnya lagi sembari melangkah menjauh.

"Mas, makan dulu kalau gitu. Aku masakin rawon sama perkedel." Laki-laki itu menghentikan langkah tepat di tengah tangga. Tanpa menoleh, kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah.

Ya Allah, benar-benar monster ajaib. Dingin dan kaku seperti manekin. Aku harus cari cara supaya dia mau menerima bantuanku, kalau terus begini, aku nggak mungkin makan gaji buta di sini.

"Ngapain, Ri?" Pertanyaan Mas Hanif dari tangga menghenyakkanku.

"Nggak, Mas. Cuma heran saja itu orang kenapa kaku banget kaya manekin hidup." Mas Hanif terbahak mendengar ucapanku.

"Tapi kamu sudah termasuk lumayan loh, Ri."

"Maksudnya lumayan gimana, Mas?" Dahiku mengernyit. Tak paham apa maksud Mas Hanif barusan.

"Iya, lumayan. Tiap kamu tanya dia sering jawab kan? Asisten yang lain, mana pernah begitu. Dia tak memberi respons apapun. Makanya banyak yang keluar. Kalaupun membalas biasanya dengan bentakan."

"Ohya? Ngeri banget itu orang. Kesambet apa sampai bersikap begitu. Heran," cerocosku lagi.

"Sabar saja, kali nanti bisa mencair." 

Aku hanya tersenyum tipis membalas ucapan Mas Hanif.

"Kalau dikasih senyummu tiap hari, mungkin lama-lama lunak, Ri. Senyummu manis." Mas Hanif melangkah ke kamar Razqa begitu saja meninggalkanku di tepi tangga.

Sepertinya ada yang salah di telingaku. Benarkah yang kudengar tadi? Mas Hanif memuji senyumku yang manis? Benarkah? Sekadar dipuji manis olehnya saja mendadak senyum-senyum sendiri. Dasar eror.

Meski aku tak secantik Sesil ataupun Latifa, tapi kata Emak aku memang cantik. Senyumku manis dengan dua lesung pipit, alisku tebal dan hitam, hidungku mungil dan tinggi.

Aku juga tak terlalu kurus pun tak terlalu gemuk, ideal dengan tinggi 160 sentimeter dan berat 54 kilo. Hanya saja wajahku mungkin tak seglowing mereka. Secara dari segi isi dompet pun berbeda.

Ah sudahlah. Kenapa aku senorak ini sih? Memuji-muji diri sendiri hanya karena mendapat pujian manis dari seorang lelaki. Padahal pujian seperti itu wajar diucapkan siapapun dan untuk siapapun.

"Ngapain senyum-senyum segala? Kamu mulai gila ya?" Suara bariton itu kembali membuatku tersentak. Aku pun mendadak melengos dan tak menanggapi tudingannya.

"Mas, kalau rawonnya nggak mau, aku kasih ke Tifa atau Mas Hanif saja ya? Sayang kalau nggak kemakan. Mubadzir. Dosa." 

Langkahnya kembali terhenti. Lagi-lagi tanpa menoleh dia hanya melambaikan tangannya begitu saja.

"Mas Rama, kalau butuh sesuatu bilang saja ya. Aku mau sholat dulu sudah adzan soalnya. Mas Rama nggak ke masjid?" tanyaku lagi.

"Cerewet. Berisik. Bawel!" Hanya itu yang dia ucapkan sebelum menutup pintunya dengan kasar. 

Sabar, sabar, sabar. Aku memang harus punya stok sabar yang melimpah supaya nggak gampang nyerah.

Aku yakin lama-lama dia akan luluh jika terus kuajak bicara dan kuperhatikan kebutuhannya. Meski dianggap burung beo, biarlah. Yang penting usaha dulu sesuai pesan Juragan Ginanjar.

Akan aku luluhkan dia dengan doa di tiap sujud dan sepertiga malam. Allah pasti mempermudah jalanku jika doaku tak pernah putus. Aku pun yakin jika Emak dan bapak akan terus mendoakanku.

Ada sebongkah harapan yang mereka gantungkan di pundakku, tak mungkin aku menyerah begitu saja apalagi baru setengah hari aku berasa di rumah ini.

"Rama ... kamu sudah makan?" Suara Bu Farida terdengar dari samping kamar Mas Rama. Tak ada sahutan dari dalam. Aku pun buru-buru melipat mukena dan memasukkannya kembali ke lemari.

Setelah menengadahkan tangan dan melantunkan beragam doa, semoga Allah membuka sedikit demi sedikit kekakuan hati laki-laki itu. Jika tak bisa ditaklukkan dengan sikapku, akan aku taklukkan dengan doa.

"Rama ...." Pintu kembali diketuk.

"Bu ... saya sudah masak rawon, perkedel sama tempe goreng buat Mas Rama, tapi sepertinya beliau menolak. Jadi–”

"Jadi apa, Ri?" Ibu Farida memintaku melanjutkan kalimatku yang terjeda.

"Jadi, saya mau kasih ke Mbak Tifa saja. Sepertinya dia menyukai rawon buatan saya," balasku kemudian. "Sayang kalau dibuang, saya masak lumayan banyak tadi, Bu." 

Bu Farida mengusap lenganku pelan lalu mengajakku ke dapur.

Dia mencicipi rawon buatanku lalu seperti kedua anaknya, dia pun memuji rasanya yang enak di lidah.

"Bapak suka rawon juga, Ri. Yang di panci bawa ke bawah saja ya? Punya Rama biar di sini. Barangkali dia nanti mau makan." Aku pun menuruti perintah Bu Farida untuk membawa rawon dan beberapa perkedel ke meja makan di lantai bawah.

Jika memang Mas Rama nggak mau masakanku, setidaknya anggota keluarga yang lain menyukainya. Jadi, aku pun tak merasa sia-sia memasak.

Kembali ke lantai atas, hanya hening yang kurasa. Bingung mau ngapain sebab Mas Rama belum minta bantuan apapun. Jarum jam menunjuk angka satu siang, tapi yang kulakukan hanya melamun di samping pintu kamar. Aku sendiri belum makan, rasanya benar-benar kenyang menghadapi kekakuan laki-laki itu.

Dering handphone sedikit mengagetkanku. Nama bapak muncul di layar. Hatiku mendadak berdebar tak karuan saat tahu siapa yang meneleponku detik ini. Bapak dan Emak pasti tak tenang dan sangat mengkhawatirkanku. Gegas Kututup pintu agar bisa leluasa ngobrol dengan bapak dan suara tak terlalu terdengar dari luar.

"Asalamualaikum, Pak. Ada apa?" tanyaku setelah menekan tombol hijau di layarnya.

"Wa'alaikumsalam, Nduk. Sudah sholat?" tanya bapak setelah mendengar suaraku.

"Alhamdulillah, Ana sudah sholat, Pak. Bapak sama Emak baik-baik saja kan? Apa sudah makan?"

"Alhamdulillah baik, Nduk. Baru saja kelar makan. Kamu sendiri sudah makan?" tanya bapak kemudian.

"Masih kenyang, Pak. Kalau nanti lapar, Ana juga akan makan."

"Apa juragan Ginanjar nggak bersikap baik sama kamu, Nduk? Kalau memang nggak betah, pulang saja. Kerja di sini, bantu-bantu warung Bu Ayu juga bisa. Berapapun gajinya yang penting halal daripada nggak betah tapi dipaksakan." Bapak mulai terdengar cemas dan aku harus meyakinkannya jika di sini baik-baik saja.

"Semua anggota di rumah ini baik kok, Pak. Mereka sangat menghargai Riana. Insyaallah Riana betah. Ohya, tadi dikasih bonus satu juta sama juragan, sore ini bapak ambil saja ke sini. Lumayan bisa buat bayar kontrakan dua bulan, Pak. Upah dari budhe Umayah kemarin kan nggak seberapa. Kasihan Emak sama bapak, tenaga sudah terkuras, dicaci maki, tapi upah nggak sesuai dengan apa yang dikorbankan." Mataku kembali memanas tiap kali mengingat tiap kejadian di rumah megah budhe. Rasanya ingin membalas perlakuan mereka yang semena-mena itu agar tak lagi memandang orang lain sebelah mata.

"MasyaAllah, belum apa-apa kok sudah dapat bonus, Nduk. Baik banget majikanmu itu."

"Iya, Pak. Alhamdulillah semua baik. Kerjanya juga nggak berat, InsyaAllah Ana betah di sini. Bapak sama Emak nggak usah khawatir ya? Kalau Ana kerja di sini, Emak nggak usah kerja bantu-bantu di rumah Budhe lagi. Ana nggak rela lihat Emak dibentak-bentak dan dihina keluarganya sendiri," ujarku dengan suara serak.

"Soal itu nggak usah dipikir pusing, Nduk. Dari dulu upah dari budhemu kan memang begitu. Nggak apa sedikit, asalkan berkah." Bapak kembali terkekeh. Selalu begitu, berusaha meredam gejolak amarah yang kembali merayap kalbuku.

"Bapak sama Emak jangan terlalu sabar menghadapi mereka. Lama-lama ngelunjak, Pak. Pokoknya mulai sekarang Emak nggak boleh bantu-bantu di rumah Budhe atau bibi lagi. Biar Ana yang cari duit buat bayar kontrakan dan nabung buat beli rumah. Bapak sama Emak kerja seadanya buat makan sehari-hari ya?" Sudah berusaha semaksimal mungkin agar tak menangis, tapi tiap kali mendengar suara bapak atau emak, rasa sesak itu pun muncul lagi dan lagi. Wajah sendu mereka membuatku kembali nelangsa.

"Kok malah nangis, Nduk. Yang sabar, InsyaAllah roda itu akan terus berputar. Kalau begitu nanti sore bapak ke sana ya? Kebetulan tadi Bu Hajah datang tanya uang kontrakan. Maafkan bapak yang masih terus merepotkanmu ya, Nduk. Bapak memang bukan bapak yang baik buat kalian berdua."

"Ya Allah, Pak. Jangan begitu. Bapak adalah lelaki terhebat dan terbaik yang Ana punya. Bapak selalu istimewa buat Ana dan Lia. Nanti uangnya Ana titipkan ke satpam ya, Pak. Soalnya kamar Ana di lantai atas, takutnya masih sibuk dan Ana nggak dengar telepon dari bapak."

"Iya, Nduk. Bapak mau keliling dulu ya, sudah jam setengah dua. Agak mendung juga takut keburu hujan nanti. Kamu hati-hati di sana. Jaga diri, jangan lupa sholat dan makan." Aku mengiyakan semua pesan bapak. Tak selang lama, bapak pun mengucap salam dan aku pun membalas salamnya dengan derai air mata.

Uang itu sengaja akan kutitipkan pada satpam. Bukan tanpa sebab, aku takut tak bisa membendung tangisku jika melihat kedatangan bapak. Lebih baik aku tak melihatnya. Minggu besok aku akan ambil cuti yang ditawarkan juragan Ginanjar. Aku akan memberi kejutan buat bapak, Emak dan Liana saat aku pulang.

Praaangggg. Suara benda yang terjatuh membuatku terlonjak seketika. Aku menajamkan pendengaran. Sepertinya dari area dapur. Kedua mataku bergerak-gerak. Mungkinkah ada tikus di rumah juragan Ginanjar yang mewah ini? Rasanya nggak mungkin, lantas siapa yang menjatuhkan benda di dapur tadi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Listy
Ditunggu kelanjuranx Thor,,,,,,, Penasaran nie ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kiriman Foto

    Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kontrakan Baru

    Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya.​"Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.​Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Balasan Menohok

    Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Pertemuan Keluarga

    Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.​Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya.​"Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. ​Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Penyelidikan

    Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk.​"Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Membalas Ancaman

    Hanif baru saja hendak menutup pintu kemudi setelah memastikan Rafqa yang terlelap tidak terbangun, namun sebuah tangan dengan kuku merah menyala menahan pintu mobil itu dengan kasar.​BRAK!​"Mas Hanif! Kamu bener-bener keterlaluan!" teriak Laura. Napasnya memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal itu kini tampak berantakan karena emosi. ​Hanif menghela napas panjang, dia keluar dari mobil dan berdiri menjulang di depan Laura. Sorot matanya sedingin es. "Apa lagi, Laura? Belum cukup kamu mempermalukan diri sendiri di dalam tadi?"​Laura tertawa sumbang, matanya melirik tajam ke arah Dea yang duduk tegang di kursi penumpang depan.​"Aku yang malu? Harusnya kamu yang malu, Mas! Lihat perempuan itu!" Laura menunjuk wajah Dea dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia itu cuma perempuan kelas teri! Guru TK yang gajinya nggak seberapa. Dia pasti sengaja deketin kamu buat numpang hidup dan sengaja biar naik kasta!" cicit Laura begitu sengit. ​"Mbak Laura, tolong jaga bicara Mbak ...." Dea m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status